You Are My Regret

You Are My Regret
Alasan


__ADS_3

qiran mendekat ke arah Lensi yang tersenyum kepadanya "kau apa kabar lensi " tanya qiran yang penasaran bagaimana keadaan lensi sahabatnya


Lensi tersenyum hangat ke arah qiran yang kini sudah duduk di kursi tepat di sebelah ranjangnya "kabarku baik, aku hanya merasa aneh di sini" balas Lensi mengarahkan pandangannya ke arah Lain


"lensi" panggil qiran dengan suara lirih


lensi menoleh kearah qiran  "iya qiran, ada apa" tanya lensi


"benarkah kamu gak ingat kalau sudah menikah dan memiliki anak" tanya qiran


lensi menggeleng "tidak, aku merasa asing dengan mereka, aku juga gak tahu kenapa bisa dekat dengan ayahku dan juga mika" balas lensi


"sampai mana ingatanmu" tanya qiran ingin memastikan sesuatu


lensi mulai menceritakan ingatan yang ada di kepalanya dengan qiran. sedangkan qiran hanya diam dan mengangguk saat mendengar setiap penuturan lensi tentang apa yang ia ingat dulu


"ngomong-ngomong kau sudah menikah qiran" tanya lensi yang sempat di ceritak oleh ibunya bahwa qiran sudah menikah dan memiliki anak


"sudah, bahkan anak kami sudah berusia satu tahun sekarang" balas qiran


"lalu kenapa kamu tidak membawanya ke sini, anakmu dan Jay pasti tampan atau cantik sepertimu" ungkap lensi dengan senyuman


qiran mengernyitkan dahinya memandangi wajah lensi penuh dengan tanda tanya "lensi" panggil qiran lagi


"apa yang kau sembunyikan dariku" tanya qiran


"apa emang" heran lensi mendengar pertanyaan qiran


qiran beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu "ceklek" qiran mengunci pintu ruang rawat lensi dan berjalan kembali ke kursi di samping ranjang


qiran menatap lekat lensi "apa yang mau coba kau sembunyikan dariku" tanya qiran dengan tatapan tajam


lensi menelan salivanya kasar "apa maksudmu qiran" tanya lensi

__ADS_1


"kau tidak berbakat untuk berbohong lensi, aku mengenalmu sejak 8 tahun lalu, aku juga tahu kondisi keluargamu karena kau langsung menceritakannya dulu, kau tidak pernah memakai kata ayah untuk ayahmu dulu. Aku masih ingat dengan jelas kau memakai kata pria itu sedangkan untuk mika, kau sangat membencinya saat itu karena baru merebut kekasihmu di tambah kau ingat dengan nama suamiku padahal sampai saat aku meresmikan hubunganku dengan jay, kamu gak tau sama sekali tentang jay" jelas qiran yang tahu kebohongan lensi dengan sangat gampang


lensi tersenyum kecut ke arah qiran "ternyata aku memang tidak berbakat berbohong "lensi berdecak karena langsung ketahuan berbohong oleh qiran padahal baru setengah jam yang lalu dirinya bertemu dengan qiran


"kenapa kamu ngelakuin ini lensi, kamu gak kasihan sama tara dan anak kamu" tanya qiran


mata lensi sudah berkaca-kaca "aku takut qiran, sangat takut" kelih lensi


qiran langsung memeluk lensi dengan erat "takut apa lensi" tanya qiran


"aku takut dia akan meninggalkanku" dan air mata itu sudah turun dengan bebasnya dari sudut mata lensi


"siapa maksudmu" tanya qiran


"mas tara..." lensi menatap lekat ke arah qiran " aku takut dia meninggalkanku jika dia tahu aku sehat. perjanjian pernikahan kita hanya sampai aku melahirkan dan aku sudah melahirkan sekarang" balas lensi yang begitu sedih memikirkan tara akan meninggalkannya


"tara gak akan meninggalkanmu lensi, dia itu cinta banget sama kamu" sahut qiran


lensi menggelengkan kepalanya "dia gak cinta aku qiran, dia cintanya sama pram" balas lensi


"benarkah" tanya lensi memastikan


"benar lensi" qiran duduk di tepi ranjang berhadapan dengan lensi "kamu gak tahu sekacau apa tara selama dua bulan ini. dia hanya menunggumu di sini, tanpa ingin meninggalkanmu walaupun sebentar saja, bahkan untuk menemui anak kalian saja tidak" qiran mengusap punggung tangan lensi "lihat jenggot dan kumisnya saat kau membuka mata, itu bukti seberapa tak perduli dengan dirinya karena terllau memikirkanmu" jelas qiran


lensi kembali mengingat penampilan tara saat ia pertama membuka mata dan memang benar bahwa terlihat kacau dan seperti tak terurus, jenggotnya tumbuh cup lebat dan juga kumisnya


"benarkah" tanya lensi tak percaya bahwa tara terus menungguinya selama lensi koma


"tentu saja" balas qiran meyakinkan lensi bahwa tara terus ada di samping lensi selama lensi terbaring tidur


lensi menyunggingkan senyumnya " berarti mas tara mencintaiku dan gak akan meninggalkanku" tanya lensi lagi


"tentu, kamu adalah separuh hidupnya jadi tak mungkin dia akan meninggalkanmu" balas qiran

__ADS_1


qiran beranjak dari duduknya "ya sudah, aku kasih tahu semuanya ya kalau kamu gak hilang ingatan" qiran ingin memberitahu kabar ini pada tara dan juga keluarga lensi


lensi menahan tangan qiran "jangan qiran aku mohon" pinta lensi


qiran menautkan kedua alisnya "kenapa" tanya qiran


"aku ingin lihat usaha mas tara untuk membuatku ingat, katanya dia akan menciptakan kenangan yang bisa membuatku ingat tentangnya" jelas lensi


lensi menghela nafas lega, tentu dia sedikit mengerti perasaan lensi, sebab dia juga tahu dulu bagaimana hubungan tara dan pram yang tentu ibu bisa membuat ragu dalam benak seseorang "baiklah kalau itu mau kamu" balas qiran


***


tara sedang merapihkan barang yang ad di rumah sakit untuk di bawa pulang ke rumah karena lensi sudah di izinkan untuk pulang ke rumah karena hasil pemeriksaam lensi cukup bagus "kau bercukur" tanya lensi


tara menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah lensi, tara memegang dagunya "iya aku mencukurnya, dulu kau paling tidak suka jika aku berantakan jadi aku mencukurnya " balas tara


lensi mengangguk "seperti ini jauh lebih baik" balas lensi


"apa kau mengingatnya" tanya tara untuk kesekian kalinya


"tidak, cuma aku pikir lebih baik karena kemarin kau terlihat mengerikan saat memiliki jenggot dan kumis yang begitu tebal" balas lensi


tara menyunggingkan senyumnya "aku seperti itu karena kau tak memperhatikannya, dulu apapun harus selalu kau ingatkan dan saat itu kau tak mengingtakanku" balas tara


lensi sebenarnya merasa tak tega pada tara tapi ia coba menguatkan hatinya yang ingin melihat kesungguhan hati lensi yang ingin memperjuangkannya


setelah selesai mengepak barangnya tara memanggil anak buahnya untuk membawa semua barang miliknya pulang ke rumah


tara menarik tangan lensi untuk di gandengnya "ayok pulang"ajak tara


lensi menerima gandengan tangan tara "ayok" balas lensi


tara dan lensi bergandengan tangan sepanjang lorong "boleh kitta mampir dulu sebelum pulang ke rumah" tanya tara meminta persetujuan lensi

__ADS_1


"emang mau kemana, bukannya orang-orang sudah menunggu di rumah" balas lensi


"ingin menikmati momen berdua dengan kamu" tara menghentikan langkahnya dan menatap lensi dengan seutas senyuman "aku ingin mengajak istriku kencan" ucap tara


__ADS_2