
Tara terus merengek meminta bantuan pada qiran dan Jay, karena menurutnya mereka lah yang bisa membantunya saat ini "Pokooknya kalian harus bantu aku, aku gak mau kehilangan pram dan aku juga gak mau di paksa nikah dengan orang lain. kalian kan tahu kami sudah menikah ya walaupun gak surat nikah tapi bukan berarti kita gak nikah beneran" kata-kata itu terus terlintas di benak qiran dan Jay
"kita harus apa jay" qiran sendiri bingung harus berbuat apa walaupun ia mengiyakan untuk membantu tara
"kita ketemu orang tua mereka dulu. kamu ketemu ibunya pram dan aku yang ketemu ayahnya tara sekalian jemput ayahnya tara di bandara" balas Jay
"ya sudah, nanti aku mampir ke rumah ibunya pram saat pulang ngantor" ucap qiran
"kita berusaha semampu kita saja untuk membantu mereka tapi juga jangan terlalu memaksa karena ini masalah hati orang tua, kita kan juga akan jadi orang tua jadi jangan memaksakan cara berpikir kita pada orang tua lain" nasehat Jay
"iya jay" balas qiran
***
qiran di temani jonathan dan sekar datang ke rumah bergaya minimalis dengan halaman yang cukup luas "tok tok tok" jonathan membantu mengetuk pintu dan sekar membantu membawa buah dan kue
tak lama di ketuk, pintu pun terbuka menampilkan sang pemilik rumah "qiran" tante kanaya tersenyum bahagia bisa melihat qiran dan langsung memeluk qiran
"sudah lama kayanya tante gak lihat kamu" ucap tante kanaya
"gak selama itu tan, terakhir kan saat pemberkatan pernikahanku dengan Jay" balas qiran mengurai pelukannya
"itu kan sudah empat bulanan qiran, jadi sudah lama" tante kanaya melirik perut qiran "perutmu saja sudah sebesar ini" keluh tante kanaya mencebikkan bibirnya
"tante gak ajak masuk dulu apa, capek nih qiran"qiran sedikit menghentakan kakinya agar di persilahkan masuk ke dalam rumah karena memang dirinya sudah agak lelah berdiri
"ya ampun sampai lupa tante, ayok masuk" qiran dan tante kanaya masuk dalam rumah begitupun jonathan dan sekar
"mau minum apa qiran, jo, dan sekar" tanya tante kanaya pada ketiga tamunya
"saya air putih saja tan" balas qiran
"saya pengen yang dingin, boleh tan" tanya jonathan
"saya juga yang dingin tan" sahut sekar dengan semangat
__ADS_1
"ya sudah, tunggu bentar ya" tante kanaya memanggil pekerja di rumahnya untuk membuatkan minuman
"tante apa kabar" tanya qiran membuka obrolan
"ya gini-gini aja qiran" balas tante kanaya
tante kanaya mengusap perut qiran "orang tua kamu pasti senang sekali menyambut calon cucu mereka" ucap tante kanaya
mulutnya serasa tercekat saat melihat raut wajah tante kanaya saat berucap perihal cucu. karena tentu qiran sadar berapa besar orang tuanya bahagia menyambut kedatangan anggota baru di keluarga besarnya bahkan orang tuanya memutuskan akan tinggal di Indonesia selama beberapa bulan untuk menyambut kelahiran anaknya yang biasanya orang tua qiran hanya akan singgah di suatu negara urusan pekerjaan tidak lebih dari dua bulan
tante kanaya mendongak ke arah qiran "tante tahu tujuan kamu ke sini qiran" ungkap tante kanaya dengan tatapan mata sendu
"maaf tante" kata itu saja yang bisa terlontar dari bibir mungil qiran
"tante tahu mereka adalah sahabatmu dan tante juga tahu kamu sangat menyayangi mereka dan ingin membantu mereka tapi kamu juga calon ibu" tante kanaya mengusap perut qiran "kamu mungkin mulai sedikit paham bagaimana perasaan orang tua" ungkap tante kanaya
"iya tante, qiran paham tapi mungkin tante juga tahu posisiku. mereka sama-sama sahabatku tan" balas qiran
"tante tahu itu qiran" tante kanaya menatap dinding rumahnya dengan tatapan kosong
melihat keputusasaan tante kanaya dengan jalan terakhir yang sedang di usahakannya, mana mungkin qiran akan bicara pada tante kanaya untuk menyetujui saja hubungan antara kedua sahabatnya yang jelas di mata dunia adalah salah
"lalu apa rencana tante" tanya qiran
"tante akan menikahkan pram dengan seseorang dan jika setelah mereka punya anak dan tetap kekeh ingin bercerai dan kembali bersama dengan pria itu, tante tidak akan memaksa lagi setidaknya tante sudah punya cucu tante sendiri" balas tante kanaya
"tapi tan, saat tante menikahkan pram dengan seseorang, tante harus menjelaskan keadaan pram pada wanita itu. jangan karena keinginan tante itu malah melukai hati yang lain" ucap qiran mengingatkan tante kanaya
tante kanaya menampilkan senyum tipisnya "tante sudah menceritakan permasalahan pram padanya dan tentang pilihan bercerai jika mereka tidak cocok setelah mereka memiliki anak" balas tante kanaya
"tante sudah menemukan orangnya" tanya qiran
"sudah" tante kanaya menggenggam tangan qiran "jadi bantu tante meyakinkan anak tante kalau ini adalah jalan terakhir tante dan tante gak akan memaksa lagi jika ini tetap gak berhasil" pinta tante kanaya
qiran nampak berpikir keras antara menerima atau tidak menerima permintaan tante kanaya padanya
__ADS_1
***
Sekitar jam makan siang jay izin pulang lebih cepat dari rumah sakit. tujuannya kali ini adalah ke bandara
"om" jay merentangkan tangannya kala melihat orang yang ingin di temuinya
orang yang di panggil itu balas memeluk jay "wah dokter kita yang datang menjemput" Revandra Dirgantara, ayah dari tara itu menepuk pelan punggung jay
jay mengurai pelukannya dan bergantian memeluk wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik di sebelah om revandra
"apa kabar jay" tanya Clarissa evelyn, istri dari uncle revandra sekaligus ibu tiri dari Tara
"baik tan" jay mengurai pelukannya dan beralih memeluk adik-adik tara secara bergantian
jay melirik ke adik kecil tara " kau bolos kuliah damian, kok ikut kemari" tanya jay saat melihat damian ternyata juga ikut ke Indonesia
"tidak lah kak, sekarang kan sedang liburan semester jadi sekalian ikut. aku kan juga ingin lihat tanah kelahiran ayah yang belum pernah aku injak sejak aku lahir" balas damian dengan mengerucutkan bibirnya
jay mengusap kasar kepala damian dan beralih pada adik tertua tara "apa kabar adik kakak" tanya jay pada Kassy dirgantara yang sudah jay anggap sebagai adik sendiri itu
"baik kak, kassy mau kerja di negara ini loh biar bisa nemenin kak tara" balas kassy dengan semangat dan di balas senyuman oleh jay
"ya sudah ayok pulang, pasti kalian capek habis perjalanan jauh" jay membantu membawa koper milik tante clarissa
"kita nanti tinggal dimana kak selama di Indonesia" tanya damian
"di rumah kakak lah, emang mau di mana lagi" balas jay dengan kekehan
"kali aja, kakak nyediakan rumah lain buat kita. secara rumah kak qiran kan banyak" balas damian
"gak lah, lagian kakak juga kangen pengen ngobrol dengan kalian kita kan sudah jarang ngobrol semenjak kakak tinggal di london terus pindah ke sini jadi kakak pengen banyak ngehabisin waktu dengan kalian" jay mengusap kepala damian "lagian rumah kakak besar kok, kamarnya banyak jadi gak akan bingung kamar deh" balas jay sedikit menyombongkan rumahnya
"rumahmu sudah jadi Jay" tanya om revandra
"sudah om, sudah mulai di tinggali beberapa minggu belakangan" balas jay
__ADS_1