You Are My Regret

You Are My Regret
Tidak bisa ikut campur


__ADS_3

Nidya berjalan masuk ke ruangan Aiden tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan itu membuat Aiden begitu kesal karena tak menyadari siapa yang masuk "sudah saya bilang kalau masuk, ketuk pintu dulu!" teriak Aiden mendongakkan kepalanya menatap lurus ke arah pintu yang terdengar suara pintu terbuka tapi tak ada yang mengetuk pintu sebelumnya


"sayang" Aiden langsung merubah raut wajahnya yang awalnya begitu sangar menjadi begitu hangat saat mendapati istrinya lah yang datang, Aiden menghampiri Nidya dan langsung memeluknya


"kok gak bilang kalau mau kesini sayang, kakak pikir tadi Leona yang masuk" Aiden mencebikkan bibirnya sebal karena hampir saja marah-marah besar pada Nidya


Nidya mengerutkan keningnya "emang kenapa kalau Leona yang masuk" tanya Nidya terheran


"mau kakak pecat lah, dia susah 3 kali masuk ruangan kakak tanpa mengetuk terlebih dulu jadi itu sudah batas terakhirnya " balas Aiden dengan santai


Aiden membawa Nidya duduk di sofa agar lebih nyaman berbicara "cuma karena lupa ngetuk pintu di pecat kak" tanya Nidya tak percaya saat tidak mengetuk pintu bisa juga di pecat


"ini bukan sekedar mengetuk pintu sayang, tapi sebagai sekertaris pimpinan tertinggi suatu perusahaan tentu ia harus mempelajari instruksi yang di arahkan seorang atasan dengan cepat dan juga harus tahu menjaga attitude dengan baik, kalau mengetuk pintu saja tidak bisa padahal sudah beberapa kali di ingatkan terus buat apa juga dia kerja jadi sekertaris kakak" jelas Aiden


"terus karena Nidya yang gak ngetuk pintu kakak mau kasih surat peringatan dan kalau sudah tiga kali kakak mau kasih surat cerai gitu" todong Nidya dengan wajah sebalnya


"kok gitu sih sayang" Aiden memeluk tubuh Nidya dengan cukup erat "mikirnya jangan kejauhan dong sayang" pinta Aiden dengan nada suara memelas


"kirain" balas Nidya dengan entengnya


Aiden mengurai pelukannya dan menatap wajah cantik istrinya "ngomong-ngomong tumben amat ke ruangan kakak, biasanya juga paling malas ke sini, dan selalu beralasan gak pengen di ketahuilah orang kantor kalau kamu istri kakak" tanya Aiden


Nidya menepuk keningnya cukup keras "gara-gara panik jadi lupa kalau masih pengen menyembunyikan status Nidya" gumam Nidya menyadari kesalahannya yang langsung ke ruangan suaminya tadi

__ADS_1


Aiden mencebikkan bibirnya "segitunya kamu gak mau ngakuin kakak sebagai suami" sebal Aiden


"loh" Nidya merasa suaminya tersinggung akan ucapannya dan tentu membuatnya tak enak hati "bukan gak mau ngakuin kak, Nidya kan masih pengen main kak selagi belum isi, nanti kan banyakin di rumahnya kalau Nidya sudah hamil" jelas Nidya membuat raut wajah Aiden menjadi cerah kembali saat mendengar kalau Nidya akan hamil anaknya


"terus ada apa sayang" tanya Aiden


"kakak tahu gak kalau Christian mepetin Kellin terus" tanya Aiden


Aiden mengerutkan keningnya "enggak, emang iya tah, kok kakak gak pernah tahu" Aiden memang tidak tahu hal itu karena kini jarang ikut kumpul bersama teman-temannya dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama Nidya di rumah seusai bekerja


"coba telpon kak Alex atau kak Christian nya langsung geh terus tanyain, Nidya gak mau teman nidya di bawa-bawa sama kak christian buat batalin pernikahannya" titah Nidya


"ya sudah kakak telpon dulu ya" Aiden langsung menghubungi Alex untuk memastikan apa yang di bicarakan Nidya dan itu berlangsung cukup lama dan Nidya bisa tahu kalau pembicaraan mereka kurang baik melihat raut wajah Aiden yang di tekuk dan meminta untuk mereka bertiga bertemu


"gimana kak" tanya Nidya  setelah Aiden selesai berbincang


"wah gila tuh laki" Nidya menyingsing lengan bajunya ke atas seperti akan mengajak perang "minta di hajar kali ya, dia mah enak kalau berantem sama tunangannya itu cuma kena tampol doang, kalau Kellin biasa mati dia secara gak ada yang lindungi dia, dia cuma dari kalangan bawah kak" kesal Nidya akan pemikiran Christian yang tidak memikirkan keselamatan Kellin sama sekali saat mendekati Kellin


"jangan terlalu ikut campur ya sayang, christian sudah janji akan lindungi Kellin kok, lagian kamu lupa ya kalau di keluarga besar macam Christian memiliki lebih dari satu wanita itu masih di maklumi, selagi tidak di publikasikan" jelas Aiden


terlihat wajah tidak suka dari Nidya, mengingat memang seperti itu lah pola pikir keluarga konglomerat, punya lebih dari satu wanita tak masalah, selagi tidak mencoba menggeser kedudukan pasangan sah " terus kakak mau ikutin kak Christian buat punya lebih dari satu wanita" ketus Nidya


"ya enggak lah sayang, kakak kan cintanya cuma sama kamu seorang" Aiden tersenyum simpul ke arah istrinya "kakak mohon jangan ikut campur ya sama masalah Christian, dia itu teman kakak jadi kakak mohon pengertian kamu, nanti kalau dia keterlaluan pasti kakak tegur kok" pinta Aiden dengan nada memohon

__ADS_1


"ah Nidya bete sama kakak" Nidya beranjak dari duduknya dan menatap tajam aiden


"karena Nidya lagi kesal sama kakak, gak usah minta jatah malam ini" tukas Nidya memberi hukuman pada Aiden karena membuatnya sebal


"loh kok jadi kakak yang kena" Aiden mengejar Nidya yang sedang merajuk "jangan gitu geh sayang" pinta Aiden dengan memohon


seketika wajah Bram dan Leona melongo saat Aiden sedang mengejar Nidya dengan wajah memohonnya tak mencerminkan kesehariannya sama sekali


"ternyata benar mereka pasangan toh" gumam Leona menyadari Nidya memang pasangan Nidya sebab tingkah Aiden yang begitu kekanakan saat mengejar Nidya menunjukan bahwa Aiden begitu mencintai Nidya


"percaya kan kamu sekarang" sahut Bram masih melirik ke arah Nidya dan Aiden tanpa minat


Leona melirik ke arah Bram "percaya" balas Leona tanpa berpikir panjang


"sayang" Aiden terus mengikuti Nidya sampai di depan pintu lift


"apa sih" Nidya menjauh dari Aiden seolah jijik dengan sentuhan Aiden


"jangan marah geh, kakak tahu kamu peduli sama teman kamu tapi kita gak bisa dong ikut campur itu urusan pribadi mereka. Mereka kan sudah dewasa bisa mengambil keputusan sendiri kita itu cuma teman jada jangan terlalu ikut campur sayang, biar mereka yang menyelesaikannya " jelas Aiden


sejenak Nidya terdiam dan memikirkan ucapan Aiden "iya sih kak" Nidya merasa ucapan Aiden benar, dirinya tidak boleh terlalu ikut campur urusan orang lain apalagi posisi mereka hanyalah teman, teman itu posisinya mendukung dan mengingatkan tapi tidak boleh mendikte


"benar kan sayang apa yang kakak ucapkan, jadi jangan hukum kakak ya" pinta Aiden dengan memelas

__ADS_1


Nidya memandangi Aiden "ya sudah deh gak jadi Nidya hukum, cepat balik ke atas gih jangan biarin orang kantor tahu ya kak kalau Nidya istri kakak" Nidya mencium pipi Aiden dan bergegas keluar lift saat pintu lift terbuka


Aiden mengusap pipinya yang baru saja di kecup Nidya "masih saja terus jatuh cinta dengannya padahal sudah sering dapat lebih " gumam Aiden merasa begitu bahagia di cium oleh Nidya


__ADS_2