
"dia bukan ayahku" seru Lensi dengan suara lantang
Tara menatap bingung lensi yang dengan tegas mengatakan pria di sampingnya bukan ayahnya tapi pria itu mengatakan dia adalah ayah Lensi
"kenapa kamu gak mau mengakui ayah lensi" tanya tuan adnan tak menyangka lensi masih saja mengelak dirinya sebagai ayah kandung Lensi
"dari saya lahir sampai sebesar ini, gak ada pria yang nemani saya tidur ataupun mengambil rapot saya di sekolah jadi kenapa anda merasa bahwa anda ayah saya" tanya lensi yang memang tak mau mengakui ayah kandungnya yang jelas tidak pernah menemani tumbuh kembangnya sejak ia di lahirkan
" kamu kan tahu kondisi ayah lensi" sahut tuan adnan yang berkali-kali menjelaskan bahwa dirinya sudah menikah sehingga pernikahan tuan adnan dan ibu lensi di batalkan karena pihak istri pertama tidak menyetujui pernikahan tuan adnan dan ibu lensi sehingga lensi lahir di luar status pernikahan dan di dalam akta kelahirannya hanya tercatat nama ibunya saja
"ya sudah, urus saja keluarga bahagia anda itu dan jangan pernah mengusik hidup saya ataupun ibu saya lagi" balas lensi
sedikit banyak tara bisa memahami siapa pria yang sedang bicara dengan lensi ini "maaf" tara menggeser tubuh lensi ke belakang tubuhnya "istri saya bilang kalau anda bukan ayahnya jadi tolong jangan ganggu istri saya" ucap tara dengan nada tegas
tuan adnan mengernyitkan dahinya "kapan kamu menikah" tuan adnan melirik lensi yanga da di belakang tubuh tara "kenapa tak memberitahu ayah" tanya tuan adnan tak percaya bahwa lensi sudah menikah dan itu tanpa memberitahunya
tara terkekeh "anda bilang kalau anda ayahnya tapi anda gak tahu kalau anak anda sudah menikah" tanya tara dengan nada mengejek
"bagaimana bisa saya tahu kalau lensi tidak memberitahu saya" balas tuan adnan tak suka dengan tara yang tiba-tiba datang dan langsung mengejeknya
"anda gak punya TV di rumah ya" tanya tara dengan sarkas
"apa hubungannya TV sama pernikahan lensi" tanya tuan adnan
"tentu ada hubungannya, karena pernikahanku di gelar dengan cukup meriah dan besar-besaran, pernikahan kami juga banyak di muat di majalah bahkan beberapa TV menayangkan cuplikan janji pernikahan kami. sekarang pun kalau anda mencari di internet akan terlihat jelas proses pernikahan kami" jelas tara
__ADS_1
tuan adnan tak percaya akan ucapan tara tapi dia langsung memeriksa ponselnya dan benar saja kalau lensi menikah dengan cukup meriah dan banyak di siarkan oleh surat kabar bahkan stasiun TV banyak yang meliput pernikahan putrinya. tapi kenapa bisa ia tak menyadarinya
"kenapa ayah gak tahu kamu menikah" tanya tuan adnan menatap iba pada lensi
lensi menggeser tubuh tara "itu karena anda hanya peduli dengan istri tercinta anda dan juga anak kesayangan anda itu" ucap lensi ingin bergegas meninggalkan orang yang paling ia benci dalam hidupnya
"oh ternyata kamu menikah dengan dia" listia berdecak kala melihat lensi dan tara "kalian cocok bersama karena sama-sama sampah dan cocok di buang" ucap listia menatap tajam tara dan lensi
"jangan semabarangan bicara kau!" teriak lensi
tangan tara bergetar, ia berpegang kuat pada tangan lensi. Dia tak menyangka wanita itu ada di hadapannya sekarang "kenapa kau ada di sini" tanya tara
tuan adnan melihat raut wajah tara yang terlihat tidak nyaman saat melihat istrinya "kau mengenal istriku" tanya tuan adnan
kali ini tara tahu bagaimana hubungan lensi dan wanita di depannya karena tara pernah menyelidiki hal ini dengan bantuan qiran tentunya.
kenapa tara menyelidiki hal ini karena listia maheswari adalah ibu kandung tara, ibu yang meninggalkannya sejak ia masih berusia beberapa bulan saja.
ya salah satu tujuan dirinya datang dan menetap di Indonesia adalah ingin mengetahui tentang ibu kandung, tentang orang tua yang tega meninggalkan anaknya sejak kecil, dalam pikiran tara dulu mungkin ada kesalahpahaman jadi tara ingin memastikan secara langsung kenapa ibunya meninggalkan diriny di saat dia masih bayi
listia mengenali tara karena mereka pernah bertemu, dan jelas tara tahu kalau memang nyonya listia lah yang meninggalkannya bukan karena ayahnya dari mulut wanita itu sendiri, wanita itu memilih meninggalkannya dan tak menganggap tara anak hanya karena nyonya listia membenci ayah tara yang memaksanya bersama dulu
nyonya listia melipat tangannya sebatas dada "tapi memang benar kan kalau kalian berdua sampah " nyonya listia menunjuk lensi "kau di buang ayah kandungmu" nyonya listia beralih menunjuk tara "dan dia di buang ibu kandungnya" seru nyonya listia dengan nada penuh cibiran
tara memejamkan matanya "cukup!" bentak tara menunjuk nyonya listia menatap nyalang perempuan yang tak lagi muda itu
__ADS_1
entah kenapa rasa hormat yang tersisa untuk wanita itu hilang begitu saja akibat ucapan kejam yang terus terlonta saat mereka bertemu apalagi ini di tambah dengan istrinya yang juga ikut di hina
tara menatap tajam nyonya listia "aku sangat bersyukur wanita ****** itu membuangku, jadi aku mempunyai keluarga yang begitu menyayangiku tanpa banyak bacot" teriak tara
"tanpa ibu kandungku aku masih bisa hidup dengan baik dan juga sukses. aku juga punya kehidupan yang sangat baik tanpa kekurangan kasih sayang sedikitpun" ucap tara menceritakan dirinya baik-baik saja tanpa adanya ibu kandung yang melahirkannya dalam hidupnya itu
"alah, bilang saja kau tak terima di buang" balas nyonya listia mencebikkan bibirnya
"cukup!" bentak tara mengeratkan rahangnya "cukup jangan kembali berucap dan jangan coba mengungkitnya kembali" tara paling benci di ingatkan kembali jika dirinya di buang ibu kandungnya
"aku tidak punya ibu kandung, aku hanya lahir dari batu dan aku juga hanya punya satu ibu dan itu hanya Clarissa evelyn " seru tara dengan tatapan tajam
tuan adnan jadi bingung dengan pembahasan suami putrinya dan juga istrinya karena menurutnya sedikit tidak nyambung, tapi dia tak berani menyela istrinya bicara karena memang istrinya itu punya tempramen yang kurang baik
lensi bingung sendiri kenapa tara semarah itu dengan wanita di hadapannya tapi lensi memilih diam agar tak menambah kemarahan tara
tara memegang tangan lensi dengan erat "kami berdua tidak butuh orang tua yang kejam seperti kalian" seru tara menarik tangan lensi menjauh dari sana
lensi diam saja membiarkan tangan tara membawanya menjauh karena memang dirinya juga ingin cepat pergi dari sana
saat sudah dalam mobil tara langsung memeluk lensi "kamu kenapa sih mas" lensi ingin mendorong tubuh tara menjauh tapi di tahan tara
"tolong sebentar saja " tara makin mengeratkan pelukannya "biarkan ini sebentar saja" pinta tara
lensi jadi diam mematung karena masih bingung dengan reaksi tara
__ADS_1