
Acara pernikahan Reagen dan Zahira berjalan cukup lancar. Kini semua para tamu undangan sudah pamit pulang tinggal hanya Reagen dan keluarga Zahira saja yang ada di tempat pesta karena memang mereka mengadakan pesta di halaman rumah ayah Arman
"gak papa mas kita nginep di sini" tanya Zahira merasa tidak enak dengan Reagen karena harus menginap di rumah ayahnya setelah resmi menikah
"gak masalah Zahira, toh ini rumah orang tua istri mas jadi sama sekali tidak masalah jika kita menginap di sini semalam" balas Reagen
Zahira mencebikkan bibirnya kesal "andai nenek Larasati gak ngerengek buat zahira nginep sini, pasti Zahira lebih milih nginep di apartemen " jujur Zahira
"sudah lah Zahira" Reagen memeluk erat tubuh istrinya
"mau di manapun asal ada kamu sudah membuat mas bahagia, jadi jangan pikirkan yang tidak-tidak" Reagen mencoba menenangkan hati Zahira agar tidak berpikiran buruk
Zahira membalas pelukan Reagen dengan begitu erat "Zahira gak suka ada wanita itu mas" rengek Zahira
"sabar ya sayang" bisik Reagen
Reagen melirik jam dinding di kamar Zahira yang sudah menunjukan pukul 7 malam "kita bebersih dulu, shalat terus makan malam yuk" ajak Reagen
"iya mas" Zahira patuh saja dengan ajakan Reagen
***
"kita ke kamar dulu ya nek" pamit Zahira pada sang nenek sebab waktu sudah menunjukan pukul 9 malam
"ya ampun, nenek sampai lupa kalau kalian tuh pengantin baru " Nenek larasati terkekeh akan kelakuanya yang sedari tadi menahan Reagen dan Zahira untuk beristirahat dengan alasan ingin mengobrol banyak hal dengan cucu mantunya
"itu nenek tahu" Zahira mencebikkan bibirnya sebal pada sang nenek
"ya sudah istirahat gih" balas Nenek Larasti
Zahira menarik tangan Reagen menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah ayahnya "maafin nenek aku ya mas" ucap Zahira
Reagen mengerutkan keningnya "maaf untuk apa" bingung Reagen
"dari tadi nenek nahan kamu buat masuk kamar" balas Zahira
__ADS_1
reagen melingkarkan tangannya di pinggang Zahira "mas gak papa kok Zahira, mas tahu betul kalau nenek kamu tuh pengen lebih kenal sama mas agar lebih yakin melepaskan kamu sama mas" balas Reagen
Zahira membuka pintu kamar dan mengajak Reagen masuk kamar, tak lupa ia mengunci pintu "Terima kasih ya mas" Zahira langsung memeluk Reagen untuk menyampaikan rasa Terima kasihnya pada Reagen
Reagen mengusap punggung Zahira dengan lembut "sekarang sudah nyamanlah ya peluk-peluk mas, dulu kalau kelupaan meluk kebanyakan istighfarnya" sindir Reagen
Zahira terkekeh ringan "ya kan dulu kita belum sah mas, beda sama sekarang " Zahira mengurai pelukannya dan menatap lekat wajah pria yang kini sudah sah menjadi suaminya
"sekarang Zahira milik mas sepenuhnya, begitupun sebaliknya, mas milik Zahira sepenuhnya " Zahira membentuk pola abstrak di dada reagen
Reagen menyinggingkan senyumnya "kenapa rasanya beda banget ya saat kamu belum sah jadi milik mas" Reagen menangkap satu tangan Zahira dan mengecup telapak tangannya
"beda dong, kalau dulu kan harus jaga pandangan dan jaga tindakan" Zahira mengusap pipi Reagen dengan gerakan perlahan "sekarang gak perlu jaga apapun" ucap Zahira dengan beraninya
darah Reagen serasa berdesir hebat "kamu bikin mas gak tahan" Reagen mengangkat tubuh Zahira di atas ranjang untuk menunaikan salah satu ibadahnya dalam membahagiakan sangat istri
***
Reagen dan Zahira saling berpandangan mata setelah pergulatan panasanya yang berlangsung cukup lama dan masih tanpa busana hanya tertutup selimut tebal saja " Terima kasih sudah menjadikan mas yang pertama menyentuh kamu" ucap Reagen dengan tulus
"oh ya Zahira" Reagen menarik tubuh Zahira ke dalam pelukannya "kamu kan baru mau masuk kuliah, mau menunda dulu untuk punya anak atau tidak" tanya Reagen
" gak perlu mas, sedikasihnya saja sama Allah, jangan menunda. Kalau angsung di kasih ya syukur kalau gak juga gak papa" balas Zahira
"emang kamu nanti gak kerepotan kuliah sambil punya anak" tanya Reagen
"gak lah, uang mas kan banyak kalau nanti beneran hamil dan punya anak tinggal sewa baby sitter aja untuk bantu jagain jadi Zahira masih bisa kuliah,tapi itu jika di izinin mas sih" balas Zahira
"kalau kita punya anak cepat, mas masih izinin kamu kuliah tapi saat kamu hamil lihat kondisi kamu dulu kalau dokter gak ngizinin kamu kecapean mas tetap akan minta kamu cuti tapi ya setelah anak kita lahir masih boleh kok lanjut kuliah" jelas Reagen
"makasih ya mas" Zahira memeluk erat Reagen dengan erat
"kamu mancing mas ya" ucap Reagen dengan suara seraknya
zahira mengerutkan keningnya "mancinga apa mas" bingung Zahira
__ADS_1
Reagen menutup tubuh mereka dengan selimut "aaaakhh!" teriak Zahira yang tak di perdulikan oleh Reagen
***
"sudah beres sayang" tanya Reagen
"sudah mas" balas Zahira
Zahira memeluk nenek larasati "pamit ya nek" ucap Zahira
"sehat-sehat ya Zahira, dan sering-sering hubungi nenek, kamu kan cucu nenek satu-satunya" balas nenek Larasati
"iya nek" Zahira beralih menyium punggung tangan Ayah Arman
"semoga ayah bisa jaga kesehatan, dan saat suami wanita itu memintanya kembali jangan pernah mencoba menghalangi" ucap zahira dengan suara lirih
Ayah Arman membelalakan matanya lebar "dari mana kamu tahu" Ayah arman menoleh ke arah ibunya menuntut jawaban
"bukan ibu ya man" ketus nenek Larasati
"aku pernah lihat sendiri dengan mata kepala Zahira saat mereka sekeluarga berkumpul bersama dan untuk memastikan Zahira bertanya pada pihak Catatan sipil, dan sudah pasti jawabannya apa" balas Zahira dengan muka datar
"zahira" lirih ayah arman
"jangan pernah merusak kebahagiaan seorang anak jika ayah tidak ingin kebahagiaan anak anda ada yang merusaknya" ucap Zahira menjadikan dirinya sebagai balasan akan tindakan ayahnya jika sampai merusak pernikahan orang lain
'ayah bisa jelasi in, Zahira" ucap Ayah Arman
Zahira mengangkat tangannya menandakan tak ingin membahasnya lagi "aku sama sekali tidak peduli dengan penjelasan ayah, yang aku lihat adalah kenyataan, dan kenyataannya ayah bersalah sudah hadir di tengah pernikahan orang lain " Zahira menatap sinis Sari yang berdiri di samping Ayahnya "ayah salah tak perduli, jika sebenarnya wanita itu yang mengemis pada ayah" Zahira kembali menatap urus ayahnya "ayah salah karena sudah masuk ke dalam pernikahan orang lain" Zahira menghela nafas panjang
"awalnya aku kira tak boleh ikut campur karena hubungan kalian sudahlah suami istri tapi pada kenyataannya hubungan ayah dan dia tidak sah sebab dia masih menyandang status istri orang yang itu artinya ayah sudah berzinah, zinah ayah .... jadi segera akhiri dan bertaubat" Zahira memilih pergi meninggalkan ayahnya dengan penuh kekecewaan
Reagen ikut berpamitan dan segera mengejar Zahira yang sudah masuk dalam mobil "sayang" panggil Reagen
"maafin Zahira ya mas, tanyanya nanti dulu, pasti Zahira jelasin kok tapi tidak seakrang, zahira butuh nafas dulu dan tidur" pinta Zahira
__ADS_1
"iya sayang" Reagen memilih melajukan mobilnya meninggalkan kediaman mertuanya