
"Brak" terdengar suara pintu di buka dengan kasar
seorang pria berbadan tegap, berkulit putih itu menghampiri sang pemilik ruangan yang dibuka secara kasar
"di mana uncle" tanya pria tersebut dengan tatapan nyalang pada sang pemilik ruangan
adrian sebagai pemilik ruangan yang di buka dengan kasar menatap tak suka pada pria yang berani menerobos masuk ke ruangannya "apa-apaan ini?" tanya adrian tak suka akan tingkah pria yang menerobos masuk ke ruangannya
"aku harus bertemu uncle sekarang" teriak pria bernama Adam Barnett
Adam Barnet adalah anak dari saudara tiri daddy El bernama Jhonson Barnett.
Ayah dari daddy el memiliki dua istri yaitu mendiang ibu dari daddy el dan Tamara Caitlin, ibu dari Jhonson.
adrian meletakan penanya dan menatap dengan dingin ke arah adam "kalau kau bertanya pada seseorang gunakan etiket yang benar" bentak adrian
adam melipat tangannya di dada "ngapain juga aku harus sopan dengan anak angkat sepertimu" sahut adam dengan pongahnya
adrian berdiri dan menatap tajam pada adam "jangan lupa adam, aku masih memegang kendali penuh atas keuangan keluarga kalian. kalau aku mau aku bisa menutup akses keuangan kalian kapanpun dan daddy gak akan menolong kalian" ucap adrian dengan nada penuh ancaman
"kau" adam menunjuk tak suka ke arah Adrian
"dengar ya adrian, aku butuh bicara dengan uncle karena nenek bilang, daddy sudah menyerahkan semua asetnya pada seseorang dan aku mau tahu siapa itu" tanya adam dengan nada kesal
adrian tersenyum miring "rupanya kau kebakaran jenggot karena kau pikir harta keluarga barnett jatuh ke tanganmu tapi malah jatuh pada orang lain " sahut adrian dengan nada penuh cibiran
"jangan asal berucap ya adrian, harusnya kau juga kesal karena kau gak kebagian harta uncle" sahut adam mencoba mengompori Adrian
"aku bukan kau yang gila harta. aku di sini bekerja dan mendapatkan hasil dari kerja kerasku bukan menuntut seperti dirimu dan tak mau bekerja" sahut Adrian
"aku harus bicara dengannya adrian" ucap adam
adrian kembali duduk dengan santainya "bukankah nenekmu punya mata-mata banyak. silahkan cari tahu di mana daddy berada, dan kau bisa bicara dengannya" balas Adrian kembali mengerjakan pekerjaannya
"dasar nyebelin" gumam adam meninggalkan ruangan adrian
__ADS_1
"brak" adam membanting pintu dengan kasar
adrian hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan keponakan daddy angkatnya
"drrrtt" ponsel adrian bergetar
adrian pun melihat siapa yang menelpon " ngapain lagi ini" adrian kembali meletakan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya
ponsel adrian tak berhenti bergetar dan itu membuat adrian kesal "kalau mau tahu daddy di mana, cari saja sendiri, anda kan punya banyak mata-mata jangan terus menganggu pekerjaanku" ucap adrian yang langsung berucap saaat tahu siapa yang terus menelponnya
"kamu berani sekarang ya" wanita di seberang sana begitu kesal "jangan lupa kamu bisa seperti sekarang karena uang keluargaku" sahut wanita paruh baya bernama Tamara Caitlin
"anda juga jangan lupa, walaupun saya memakai nama belakang Barnett saya tidak mendapat semua apa yang saya punya sekarang hanya dengan menengadahkan tangan pada orang-orang. saya bekerja keras untuk itu dan jangan karena daddy memiliki janji dengan kakek Mike untuk menjaga anda, anda jadi kurang ajar pada saya. ingat nyonya tamara yang pinya janji adalah daddy bukan saya" adrian langsung menutup panggilannya
adrian mengatur nafasnya yang begitu emosi karena hari ini dia harus menghadapai dua orang menyebalkan "dasar keluarga pengacau, gak, nenek, ayah, dan anak itu bikin aku pusing" adrian memijit keningnya saking lelahnya mengurus keluarga tiri daddy el
sebelum kedatangan adam dan telpon tamara, adrian harus mengurus jhonson, adik tiri dari daddy el yang bermain dengan seorang wanita tapi berakhir di ambil semua barang-barangnya, dan di tinggalkan begitu saja di kamar hotel
Adrian mengambil ponselnya untuk menghubungi daddy el "kapan daddy pulang" tanya adrian saat panggilannya tersambung
"perkiraannya kan masih lama dad, qiran kan masih hamil empat bulan lagian Jay juga gak mau ngakuin daddy kan jadi pulanglah dulu dad" pinta adrian dengan nada suara yang masih kesal
"mereka bikin ulah lagi ya" tebak daddy el
"mereka bikin pusing dad" adu adrian
"maaf adrian, daddy hanya ingin melihat anak daddy jauh lebih lama. 29 tahun daddy gak melihatnya dan itu betul-betul membuat daddy merasa bersalah" balas daddy el
adrian menghela nafas panjang "harusnya daddy kalau merasa bersalah pada jay, selesaikan dulu masalah daddy dengan keluarga pengacau itu jangan cuma mengambangnya tak jelas. dulu saja mereka bisa mencoba membunuhnya saat dia masih bayi bagaimana dengan sekarang yang daddy berikan semua aset yang daddy punya padanya" balas adrian
"mereka sudah tahu itu" tanya daddy el
"iya, makanya mereka membuat keributan" balas adrian
"ya sudah, nanti daddy akan pikirkan" balas daddy el
__ADS_1
"melindungi, bukan berarti tak memberikan hukuman pada orang yang bersalah dad. jangan sampai daddy menyesal lagi jika daddy kehilangan anak daddy untuk yang kedua kalinya" ucap adrian memperingatkan
***
"tok tok tok" pintu di ketuk dan orang yang mengetuk pintu masuk dalam ruangan
"nona, ada tuan tara datang" ucap sekar memberitahu qiran kedatangan tamu
"ya sudah, suruh dia masuk" pinta qiran
qiran tetap fokus dengan pekerjaannya
"qiran bantu aku" tara masuk dengan heboh
qiran mendongak, menatap sahabatnya itu "ada apa lagi tar" tanya qiran
"ayahku akan datang ke sini dengan membawa calon istri untukku" ungkap tara dengan hebohnya
qiran mengernyitkan dahinya "bukankah ayahmu bilang gak akan ganggu hubunganmu dengan pram" balas qiran
"dia memang gak nyuruh aku pisah sama pram tapi dia tetap kekek minta aku nikah dengan wanita agar punya anak" tara mulai berjalan bolak-balik tak jelas " gimana coba" tara menggigit kuku jarinya
"pram bisa marah kalau aku dengan wanita itu tapi ayahku gak akan kehabisan akal untuk memaksaku menikah dengan wanita itu" ungkap tara dengan penuh kekhawatiran
"tenang dulu tara" qiran berdiri dan berjalan menghamipri tara
qiran membawa tara duduk di sofa "kamu sudah bicarakan ini dengan pram" tanya qiran
"gimana mau bicara? ibunya juga gencar mencarikan wanita untuknya dan bilang sama dengan yang ayah ucapkan. mereka gak akan melarang pram berhubungan denganku asala kami mau menikah dengan wanita pilihan mereka dan memberikan mereka cucu" balas tara
"kok bisa kompakan gitu" tanya qiran
tara menggelengkan kepalanya "aku gak tahu qiran" tara terlihat begitu panik dengan apa yang akan menimpa hubungannya dengan pramudia
"gimana ya" qiran jadi bingung harus apa. di satu sisi ia menghormati pilihan sahabatnya tapi di sisi lain ia juga mengerti dengan kekhawatiran orang tua sahabatnya
__ADS_1