You Are My Regret

You Are My Regret
Mencari cara untuk bertemu


__ADS_3

Lucas terus memandangi Laptop di pangkuannya, mata nya seolah tak bisa beralih dari sana seakan ada magnet berlainan kutub di keduanya yang tak bisa membuatnya berjauhan


entah apa yang di cari Lucas dengan menatap pantulan gambar satelit tersebut. tangan yang lainnya juga terus mengamati ponselnya, bolak-balik secara teratur sembari melihat jam di pergelangan tangannya


"dapat! " gumam Lucas bersorak gembira saat mendapatkan apa yang di inginkannya


Lucas menyunggingkan senyumnya dengan begitu misterius "akhirnya" gumam Lucas


di lain tempat ada yang terus memohon maaf dan pengertian akan sesuatu yang tak berjalan sesuai kehendaknya "gimana sayang, penerbangan ayah dan mamah di hentikan, sepertinya kami akan tertunda kepulangannya " ucap Ayah Tara yang terus meminta maaf pada Nidya sebab tidak bisa langsung pulang padahal ia berjanji sorenya akan langsung pulang tapi entah kenapa penerbangannya tiba-tiba berhenti


"gak papa ayah, Nidya kan sama Raymond di rumah ada pengawal yang di siapin ayah untuk jaga Nidya" balas Nidya menenangkan ayahnya agar tidak terus khawatir padanya


"tapi Raymond kan gak tahu kapan pulangnya, Kinasih juga lagi sibuk di kantor ayahnya kamu jadi sendirian cuma sama bodyguard aja yang jelas gak bisa ajak kamu ngobrol" keluh Ayah Tara


"tidak apa Ayah, lagian Ayah terhenti di bandara kan bukan salah Ayah" balas Nidya


Ayah Tara hanya bisa menghela nafas panjang "ayah telpon lagi setelah bicara sama pihak penerbangan ya" ayah tara mengakhiri panggilannya dan akan kembali bicara pada pihak penerbangan perihal rencana penerbangan yang bisa tertunda secara tiba-tiba


ayah tara kini berada di Singapura untuk menghadiri acara bisnis, dekat sebenarnya jika naik pesawat bisa pulang pergi dalam sehari tapi karena penundaan penerbangan mereka harus tertahan di negara orang tersebut


Nidya memilih menelpon adiknya untuk menanyakan kapan pulang "Ray kapan pulang" tanya Nidya saat panggilannya sudah tersambung


"ini masih macet kak, jadi gak tahu kapan nyampai rumahnya" terdengar suara klakson yang saling bersahutan dari arah seberang telpon


Nidya mencoba mengerti bahwa Jakarta memang terkenal macet dan tak ayal membuat antrian panjang untuk mengakses tujuannya "ya sudah" Nidya memilih mengakhiri panggilannya


kali ini barulah ia merasa bosan sendirian di rumah, walaupun ada banyak pengawal di rumah tapi ia tak kenal jadi sama saja sendirian karena tidak ada yang menemaninya mengobrol


"ngobrol sama kak Aiden saja kali ya" Nidya memilih mengobrol dengan Aiden saja sebab pria itu akan selalu meluangkan waktu untuk walau sesibuk apapun kondisinya


Nidya kini sering mengobrol bersama dengan Aiden perihal obrolan biasa membuat Nidya nyaman untuk mengajak Aiden bicara sebab Aiden tak pernah menyinggung Lucas ataupun perasaan Aiden pada Lucas

__ADS_1


Berawal dari ayah Tara yang meminta Video CCTV di rumahnya, Aiden jadi tahu ada masalah dengan Nidya dan Lucas. Saat itu Aiden ingin tahu lebih lanjut tapi Nidya seolah tak ingin membicarakannya jadi Aiden hanya mengobrol ringan saja dengan Nidya


dan karena memang Nidya yang mudah bosan, apalagi dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar akhirnya Nidya dan Aiden sering berbicara melalui panggilan telpon


"halo kak" Nidya melambaikan tangannya saat layar ponselnya sudah muncul wajah pria yang selalu menghiburnya saat ia harus terus berada di atas ranjang sendirian


"Hai Nidya " balas Aiden melambaikan tangannya ke arah Nidya


"mas lagi sibuk ya" Nidya sadar sudah salah menelpon Aiden sebab bisa ia lihat Aiden sedang duduk di sebuah ruangan yang bisa di lihat itu adalah sebuah kantor atau lebih tepatnya ruang rapat


"gak kok Nidya, kakak cuma tinggal ambil keputusan finalnya, tunggu bentar ya" Lucas meletakan ponselnya sembari tetap mengarahkan layarnya pada wajahnya agar Nidya masih bisa melihatnya


dapat Nidya lihat begitu berwibawanya Aiden saat memberikan pengarahan sebelum memulai kerjasama mereka dan benar saja 10 menit berlalu, rapat langsung di akhiri dan Aiden kembali berbicara pada Nidya


"sudah selesai, kamu gimana kabarnya" tanya Aiden


"hanya bosan kak, gak ada teman" balas Nidya


"yang lain kemana" tanya Aiden


. "jadi kamu sendirian di rumah" tanya Aiden


"iya kak, ngomong-ngomong kakak lagi di mana" Nidya tahu kalau Aiden sering bepergian ke berbagai negara untuk memeriksa setiap usaha miliknya yang tersebar di berbagai negara


"kali ini dekat sama Indonesia, kakak lagi di Malaysia, kamu mau kakak jenguk" tawar Aiden


Aiden melangkahkan kakinya keluar ruangan sembari tetap mengobrol bersama Nidya sepanjang jalan


"pengen sih di jenguk kakak tapi gak enak soalnya proses perceraian Nidya dan Lucas masih belum ketok palu, ya walaupun di sidang akhir sudah terlihat jelas kalau hasil akhir pasti hakim menyetujui gugatan Nidya" jelas Aiden


"kakak tahu kamu kuat Nidya, fokus saja untuk menyambut kelahiran anak kamu dan jangan berpikiran macam-macam" pinta Aiden

__ADS_1


" iya kak, kakak jalan terus mau kemana kak, ganggu ya Nidya" tanya Nidya


"enggak kok Nidya, kakak mau ke bandara, kakak harus balik ke Inggris lagi soalnya" Aiden naik ke atas mobil dan duduk santai di kursi penumpang


"asyik ya jadi kak Aiden jalan-jalan terus" sindir Nidya


Aiden terkekeh "kamu mau" tawar Aiden "tawaran kakak buat jadiin kamu sekertaris pribadi masih berlaku loh" balas Aiden dengan nada bercanda


Nidya mengerucutkan bibirnya sebal "gimana mau jadi sekretaris kak, setelah anak aku lahir nanti, Nidya mau fokus urus anak Nidya gak mau membagi waktunya dengan pekerjaan " Nidya memang berniat akan melimpahkan kasih sayang penuh untuk anaknya nanti dan tak terlalu memikirkan pekerjaan toh tanpa bekerja pun, ayahnya sudah menyiapkan tabungan hidup untuk Nidya walau tidak bekerja


"iya sih, gak usah cemberut gitu" ledek Aiden tertawa begitu lepas saat mengobrol dengan Nidya


Bahkan tawa Aiden saja membuat asisten Aiden bernama Bram saja begitu heran melihat tawa bosnya yang jarang terjadi


"tuh kulkas banyak pintu ketawanya bisa gitu ya, padahal gak pernah loh aku lihat dia senyum" batin Bram melihat bosnya yang tak henti tertawa


"kakak sudah sampai bandara ya, aku matiin saja ya kak" ucap Nidya tak ingin menunda keberangkatan Aiden


"tunggu saja sampai Raymond pulang, kakak juga masih nunggu pesawat kakak siap terbang dulu" balas Aiden


Bram yang mendengar itu hanya menatap sinis ke arah Aiden "tadi saja teriak-teriak harus segera beres dan langsung terbang saat sampai bandara, ini malah ngomong lain" gerutu Bram yang hanya bisa ia ucapkan dalam hatinya saja


"Braakkk! " terdengar suara keras dari lantai bawah sebab kamar Nidya terbuka lebar jadi suara itu terdengar dengan jelas


"apa itu Nidya" tanya Aiden saat mendengar suara keras dari seberang sana


"gak tahu kak" Nidya berjalan ke arah pintu dan mengintip di balik celah pintu kalau ada banyak orang di bawah sana dan membuat dia ketakutan


Nidya langsung mengunci pintu dan berjalan kembali ke arah ranjangnya


Nidya mengangkat layarnya dengan mata yang sudah berair "tolong aku kak, Lucas ada di bawah dan sedang melawan pengawal di rumah ini, pasti dia bentar lagu sampai sini" adu Nidya dengan begitu panik saat tahu Lucas ada di lantai bawah dan sedang menghajar para pengawal yang di siapkan ayahnya untuk menjaga dirinya

__ADS_1


"tenang Nidya, kakak akan ke sana, kamu jangan keluar ya, kakak akan segera ke sana" Aiden langsung mengakhiri panggilannya dan segera berlari ke arah jet pribadinya


iya akan langsung merubah rute penerbangannya, tak perduli ia harus keluar uang banyak sebab mengganti rute penerbangan secara tiba-tiba


__ADS_2