
Hari yang di nanti Zahira selama tiga tahun akhirnya tiba juga, kini ia sudah resmi lulus dan menyelesaikan pendidikan Sekolah Mengenah Atasnya dan ia juga akan melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, di tambah seetlah usianya genap 18 tahun nanti semua harta warisan mendiang mamahnya akan kembali padanya dan ayahnya tidak akan bisa menahannya terlalu lama lagi
Semua teman-teman Zahira mencorat-coret pakaiannya dengan spidol permanen dan pilox sebagai kenang-kenangan berupa tanda tangan atau sekedar tulisan ataupun gambar tapi itu tidak berlaku untuk Zahira yang tidak ingin pakainnya ada coretan
"Zahira" panggil Rani
"iya Rani" balas Zahira
"kok pakaian kamu bersih sendiri sih" protes Rani pada ZAhira yang tidak ikut mencorat-coret pakaian sekolahnya seperti teman yang lain
"tidak Ran, lagian sayang bajunya mending di sumbangkan bagi orang yang kesulitan ekonomi ketimbang di corat-coret seperti itu" balas ZAhira
"kamu ngeledek aku" tanya Rani dengan kesal
"bukan seperti itu Rani, kalau kamu mau nyoret pakaian SMA kamu ya itu hak kamu tapi aku juga punya hak untuk tidak mencoretnya kan, itu namanya saling menghormati pilihan" jelas Zahira
"iya deh" Rani memang akan selalu kalah berdebat dengan Zahira jadi leih baik menyudahinya saja
"jadi kuliah di kampus Nusa Bangsa" tanya Rani
"jadi dong, aku sudah daftar dan tinggal ikut tesnya nanti" balas Zahira
"pengen bareng lagi sebenarnya tapi aku di suruh mama kuliah di Inggris, kenapa kamu gak ikutan kuliah aja ke Inggris sih" rajuk Rani
"kamu lupa ya kalau ayahku nahan semua uang aku jadi mana bisa aku bayar kuliah di luar negeri, tokoku cuma cukup buat makan sehari-hari saja" balas Zahira
Rani mengerucutkan bibirnya kesal "lagian ayah kamu tuh tega banget sih sama kamu, masa dia nahan harta warisan mama kamu" cibir Rani
"dia punya jalan pikirannya sendiri Ran, dan aku juga punya jalan pikiranku sendiri" ZAhira tak mau terlalu ambil using dengan keadaannya saat ini
__ADS_1
***
Zahira datang ke toko kue yang ia bangun buka satu setengah tahun lalu saat ia duduk di kelas dua dan akan naik kelas tiga "sore mbak, mas" sapa Zahira pada tiga orang pegawainya yang terdiri dari dua wanita dan satu orang wanita
"sore non Zahira" balas Ketiga pegawainya dengan serempak
"gimana dengan penjualan kita hari ini " tanya Zahira pada pegawainya
"penjualan kita hari ini berjalan cukup lancar nona, bahkan tadi ada pesanan kue cukup banyak buat lusa" sahut ana yang bertugar sebagai kasir dan mencatat semua pesanan yang masuk di toko
Zahira melirik ke arah Ria yang bertugas sebagai koki "mba Ria sanggup gak dengan jumlah pesanannya, kalau sekiranya gak sanggup saya akan minta pekerja lepas untuk bantu kerjaan kamu, soalnya saya lagi sibuk urus pendaftaran kuliah beberapa hari ini" tanya Zahira
"kayanya sih butuh bantuan non, soalnya Ana bilang pesanan kuenya 300 box, dan kalau lusa, kayanya saya gak sanggup non" balas Ria
"ya sudah nanti saya hubungan para pekerja yang biasa bantu kita saat pesanan banyak" Zahira menoleh ke arah Ditto yang biasanya bertugas untuk mengantar pesanan kue
"iya non terima " Ditto berterima kasih akan kepedulian gadis berusia 18 tahun itu pada para pegawainya
Zahira melirik etalase yang tinggal sedikit kue tersisa "Zahira lihat kuenya tinggal sedikit, kita tutup setengah jam lagi saja biar mas sama mba bisa istirahat lebih cepat dan lanjut bikin kue besok" Zahira ingin membuat para pekerjanya nyaman kerja di tempatnya
"iya nona" balas ketiganya serempak
"triiing" terdengar suara bel di depan pintu berbunyi tanda ada pelanggan masuk
"selamat datang ke toko Zart" Zahira berbalik menampilkan senyum terbaiknya pada pelanggan yang berkunjung
Zahira lngsung menyurutkan senyum di wajahnya tatkala melihat siapa ang datang ke toko "sore Zahira" sapa seorang wanita kisaran 30 tahunan
Zahira menatap sinis ke arah wanita tersebut "untuk apa anda datang kemari" tanya Zahira dengan anda tak bersahabat
__ADS_1
Wanita tersebut tersenyum ramah ke arah Zahira "kamu pasti tahu alasan saya datang untuk apa" balas wanita tersebut dengan santainya
"dan anda juga pasti tahu jawaban saya apa akan kedatangan anda" balas Zahira
wanita tersebut menghela nafas panjang "ayolah Zahira, ini sudah hampir dua tahun kamu tidak pulang ke rumah, jangan terus siksa ayah kamu dengan keangkuhan kamu itu" ucap wanita tersebut
"seperti ayah saya yang lebih memilih kamu ketimbang saya yang sedang dalam kondisi berduka saat itu, saya juga bisa memilih hal yang menurut saya benar. Jangan lupa tante kalau saya tidak mengusik pernikahan anda, saya hanya tidak sudih tinggal serumah dengan wanita bermuka dua macam anda" balas Zahira dengan sangat lantang
para pegawai Zahira saja sampai terkejut kalau bos mereka bisa marah, sebab selama satu tahun mereka bekerja, belum pernah mereka mendengar Zahiraa berbicara keras
"tante Sari tidak merebut ayah kamu dari mama kamu Zahira, kenapa kamu sebenci itu sama tante padahal dulu kamu baik banget sama tante" tanya wanita bernama Sari yang kini jadi istri ayah kandung Zahira
"itu dulu saat aku kira kalau tante itu sahabat mama aku" balas Zahira
"tante gak berselingkuh dari mama kamu Zahira" kesal Sari
"bulshit!" teriak Zahira lantang "kalau kamu tak main belakang sama dengan ayah saya saat mama saya hidup mana mungkin kalian menikah dua minggu setelah mama saya meninggal, setidaknya kalau bukan karena kalau kalian sudah tidak sabar menunggu kematian mama saya untuk bersama, kalian bisa menunggu setidaknya sampai masa berkabungku berakhir, aku masih begitu sedih akan kematian mamahku, tapi aku melihat ayahku bermesraan dengan wanita lain dengan jarak dua minggu saja, dua minggu tante!" teriak Zahira meluapkan amarahnya
"tapi kami saling mencintai Zahira" protes Sari
"tapi setidaknya kamu bisa menunggu paling tidak sampai 40 harian mamaku!" teriak Zahira dengan suara lantang
"maaf Zahira, aku hanya terlalu mencintai ayahmu" ucap Sari dengan wajah sendunya
"itu urusanmu, terserah kamu mau apa dengan ayahku, aku tidak akan ikut campur, dan kamu harus ingat kalau ayahku harus mengembalikan semua milikku 2 bulan lagi, dia tidak bisa menahanku" ungkap Zahira
"apa kamu tidak bisa menjenguk ayahmu sebentar saja" pinta Sari
"untuk saat ini tidak bisa, hatiku terlalu sakit setiap ingat kalian bermesraan hanya dengan jarak dua minggu dari hari kematian mamahku, saat kuburannya saja masih basah, kalian sudah bertukar peluh di atas ranjang mamahku" Zahira masih ingat sekali bagaimana cara ia tahu pernikahan ayahnya saat itu yang benar-benar membuatnya begitu kecewa
__ADS_1