
"ah ON" teriak lensi girang dengan usahanya yang membuahkan hasil memuaskan
tara mengarahkan matanya ke arah benda keramat miliknya yang bisa hidup karena ulah istri barunya itu "beneran itu, padahal dulu pernah nyoba tapi gagal loh" sahut tara masih tak percaya dengan apa yang dia lihat
"mumpung sudah hidup, ayok langsung aja" ajak lensi merebahkan tubuhnya di ranjang
"aku ini yang kerja" tanya tara
"ya kamu jangan gila mas, aku kan masih perawan masa aku yang di suruh gerak duluan, sudah cepat" lensi menarik tubuh tara untuk ada di atas tubuhnya
akhirnya dengan sedikit perjuangan yang tak terlalu besar untuk menghidupkan benda keramat itu tara mulai melancarkan aksinya dengan usaha yang cukup sulit karena benda yang masih tersegel kuat itu begitu sulit untuk di tembus
"susah amat sih len, dari tadi gak masuk-masuk" tanya tara yang masih terus berusaha membuka segel lensi
"namanya masih segel, sudah usaha terus sampai berhasil, aku aja berusaha nahan sakitnya sekuat tenaga" balas lensi berusaha menahan sakit yang ia rasakan
akhirnya dengan usaha yang berulang kali gagal, tara bisa membuka segel itu sekarang.
awalnya mungkin kaku tapi lama kelamaan mereka hanyut dalam permainan mereka yang begitu memabukan
"huuhhh" tara mengehela nafas dan sedikit berteriak setelah mendapat pelepasan untuk yang kesekian kalinya
"gak nyangka bisa begini rasanya " tara jadi girang sendiri karena tak menyangka bahwa bisa senikmat itu,nikmat yang tak pernah ia bayangkan sama sekali
bahkan tara sudah meminta tiga kali tanpa henti pada lensi
"kali ini kasih jeda aku dulu loh mas, ini sudah tiga kali nanti bisa tambah remuk tubuh aku gara-gara ulah kamu" ucap lensi yang masih berusaha keras mengatur nafasnya selepaa penyatuan mereka
tara melirik jam dinding kamarnya yang sudah menunjukan pukul 2 dini hari,
begitu lama ternyata, padahal mereka pulang ke apartemen dari jam 8 malam. kalau sekitar jam 9 mereka mulai, berarti cukup lama permainan 3 ronde yang mereka lakukan
"oke kita jeda dulu sebentar biar bisa lanjut lagi" balas tara dengan entengnya
__ADS_1
"hah" lensi menatap tak percaya ke arah tara " kamu gak salah mas" tanya lensi langsug duduk dan menatap tak percaya ke arah tara
"mau istirahat sekarang, atau kita langsung lanjut saja" balas tara melirik penuh hasrat pada tubuh lensi yang tak sengaja tak tertutupi karena selimut lensi jatuh begitu saja
mendengar itu lensi menutup tubuh polosnya dengan selimut dan lensi langsung bersiap tidur, karena tak mau di hajar lagi oleh tara yang sepertinya tidak mengenal lelah
***
mata lensi mulai mengerjap karena cahaya matahari yang begitu menusuk matanya "ughhh" lensi menggeliatkan tubuhnya saking pegal dan remuknya itu
"jam berapa ya" gumam lensi mulai membawa dirinya ke kesadaran setelah bangun tidur
tara berjalan masuk ke arah kamar dan menghampiri lensi "sudah bangun, yuk makan" ajak tara membawakan sarapan untuk lensi dan di letakannya di atas nakas
"jam berapa ini mas" tanya lensi yang seakan tak sanggup untuk bangun dan hanya rebahan di atas ranjang
"jam 12" balas tara dengan entengnya
"hah" lensi begitu terkejut melewatkan waktu sarapannya apalagi ini sampai di jam makan siang
"ya kamu, di bangunin sudah kaya kebo dan gak bangun-bangun ya sudah, mas biarin aja" balas tara dengan entengnya
lensi menatap tajam tara "ya ini gara-gara siapa, mas yang garap aku terus, jam dua baru berjenti terus mas gangguin aku lagi jam empat dan itu berhenti di jam 7. siapa coba yang kuat bangun untuk sarapan" tanya lensi dengan raut kesal
tara sadar memang dia sudah agak kelewatan pada lensi karena terus meminta itu pada lensi "iya sih maaf, ya sudah yuk makan" ajak tara lagi
"gak bisa bangun" rengek lensi merasa dirinya tak kuat untuk duduk
"terus harus gimana, katanya lapar" balas tara tak tahu harus apa
"suapin" pinta lensi dengan nada manja
dengan terpaksa tara menyuapi makan lensi karena kondisi lensi yang lemas juga karena salahnya
__ADS_1
"oh ya, kamu katanya mau tetap berangkat hari ini, tapi ini sudah jam 12 lewat" tanya tara tentang jadwal lensi
"ya mas gila aja, kalau aku berangkat dengan keadaan seperti, lihat deh" lensi membuka selimut dan memperlihat tubuh kuning langsatnya yang sudah begitu banyak tanda kepemilikan yang tentu di buat oleh tara "kayanya sudah gak ada tempat yang terlewat karena kelakuan kamu mas" keluh lensi merasa tanda di tubuhnya terlalu banyak, bahkan kaki saja tak terlewat oleh tara
tara menggaruk tengkuknya yang tak gatal "maaf" kekeh tara
"lanjutin suapinnya, laper nih" pinta lensi lagi
"tapi rencananya aku mau ke kantor, nanti kalau di tungguin gimana? padahal rencananya jam 10 tadi berangkat tapi karena nungguin kamu bangun jadi ketunda deh" balas tara
"lagian semua orang juga tahu kali mas kalau kita baru nikah hari kemarin, jadi kalau hari ini gak berangkat sehari juga ngerti mereka "sahut lensi dengan raut wajahnya yang kesal
"iya deh" tara kembali melanjutkan menyuapi lensi
alhasil, mereka berdua menghabiskan waktu di apartemen saja seharian, karena lensi yang benar-benar tak kuat untuk melakukan apapun dan tara yang harus terpaksa membantu lensi untuk beraktifitas
***
tara dan lensi sedang menonton film bersama di ruang tengah apartemen tara "lensi" panggil tara dengan suara lirih
"apa" balas lensi dengan ketus
"sekali lagi boleh" tanya tara dengan muka memelas
lensi menatap tajam tara "ya ampun mas, sore tadi kan udah, istirahat dulu kenapa, capek tahu mas" rajuk lensi
"ya gimana, itu sudah bangun lagi karena nonton itu sama kamu" tunjuk tara pada area selangkangannya
"ya ampun mas" lensi benar-benar tak percaya dengan tara
bukannya tara bilang dengan wanita dia akan sangat sulit ON, di awal juga ia merasakan cukup lama ia harus memancing tara tapi kenapa sekarang begitu mudah benda keramat itu bangun padahal lensi tidak melakukan apa-apa. bahkan lensi terbilang memakai pakaian yang cukup tertutup karena sedang tak nyaman melihat tubuhnya yang penuh dengan tanda merah khas percintaan itu
awalnya lensi menolak keras, tapi tara yang terus memohon dan tangannya yang terus menggerayang di tubuh lensi, membuat lensi akhirnya menyerah dengan tara
__ADS_1
tara mungkin memang yang terus aktif berkerja tapi tetap saja, ******* demi ******* terus keluar dari bibir mungil milik lensi yang membuat tara makin semangat untuk memompa tubuh lensi