
Lucas berjalan dengan langkah lesu ke arah rumahnya di mana semua keluarga besarnya sudah berkumpul sebab mereka akan langsung terbang ke Inggris untuk menghadiri pemakaman kakek. Akhtar
"kamu lama amat sih Lucas" teriak Daddy Jay berkacak pinggang ke arah anak sulungnya yang sedang malas-malasan melangkah
"Lucas mau mandi dulu dad" balas Lucas
"mandi di pesawat saja, kelamaan kalau nunggu kami, semua sudah menunggu" tolak Daddy Jay
"iya Lucas mandi di pesawat saja" sahut ayah Tara membenarkan ucapan Daddy Jay
Lucas melirik ke arah mommy Qiran yang masih belum bersiap "itu mommy belum siap-siap" tunjuk Lucas pada mommy Qiran
"mommy gak ikut syang, adik kamu sedang hamil dan gak bisa bepergian jauh, Jonathan akan mewakili Edeline dan daddy mewakili mommy untuk ke sana" balas Mommy Qiran
"kalau gitu Lucas di sini saja, semua keluarga kan ke sana. om Adrian dan semua anaknya juga ikut" tunjuk Lucas pada keluarga Adrian dan Mika beserta ketiga anak mereka yang ikut pergi juga
"ya sudah kakak gak usah saja, kan kak Nidya bisa mewakili kakak" sahut Raymond begitu kesal akan kelakuan kakak iparnya padahal yang meninggal adalah kerabat Lucas
"gak bisa dong" sahut Lucas dengan tatapan tajamnya
"sudahlah ayo cepat" titah Daddy Jay sebab jet pribadi mereka sudah bersiap untuk mengantar mereka semua terbang ke Inggris
***
Nidya duduk di dekat jendela melihat gumpalan awan yang mengambang di dekatnya berbatasan dengan badan pesawat
"sayang" panggil Lucas
"hmm" balas Nidya
"kamu masih marah sama mas" tm tanya Lucas
"maafin Nidya mas, untuk saat ini jangan bahas hal ini. kita akan bahas setelah acara pemakaman" pinta Nidya
Lucas makin frustasi saja saat Nidya masih mengabaikannya padahal ini sudah satu bulan berlalu. ya walaupun Lucas sudah bisa meminta haknya pada Nidya tapi sikap Nidya masih lah begitu dingin padanya
Nidya hanya akan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri tapi untuk berbicara manis masih urung di lakukan Nidya saat Mereka berdua tapi Nidya akan bersikap mesra saat ada orang yang memperhatikan mereka
***
keluarga besar Lucas sudah sampai di kediaman Ghazanfer yang ada di Inggris
__ADS_1
mereka mengikuti jalannya pemakaman dengan khidmat. semua orang yang mengenal kakek akhtar tentu begitu bersedih akan kematian kakek Akhtar sebab kakek akhtar di kenal sebagai pribadi yang baik dan suka membantu orang lain
kakek Attaf memeluk erat Aiden " om ikut berduka akan meninggalnya ayahmu" ucap kakek Attaf
"om juga tak kalah sedih denganku" balas Aiden
"jangan merasa sendiri ya Aiden, om Attaf akan tetap jadi bagian keluargamu" ucap Kakek Attaf
"iya om" balas Aiden
yang lain ikut mengucapkan bela sungkawa pada Aiden sampai tiba saat Nidya mengucapkan bela sungkawa "yang sabar ya kak" Nidya memeluk Aiden dan memberi pelan
"Terima kasih Nidya" Aiden balas memeluk Nidya
"kurang ajar" Lucas tentu tidak Terima Nidya berpelukan dengan Aiden dan ingin segera melepasnya
"jangan berulah Lucas " daddy Jay menahan tangan Lucas agar tidak menghampiri Nidya dan Aiden "Aiden sedang berduka jadi jangan keterlaluan kamu" tegas Daddy Jay
Kinasih, Hedi dan Raymond hanya berdecak akan kelakuan Lucas yang belum berubah sama sekali
"kenapa sepupu kita masih gitu ya hedi padahal Nidya sudah sah jadi istrinya loh" ucap Kinasih merasa rasa cemburu Lucas masih sama seperti dulu dan tak berubah sedikitpun
"kok bisa ya kakaku masih kuat hadapin kak Lucas sama bertahun-tahun" sahut Raymond
kinasih dan Hedi menoleh ke arah Raymond "itu karena cinta... cinta.. " balas kakak beradik itu dengan serempak
"cih.. sok tahu banget kaya kalian sudah ngerasain aja" kesal Raymond
"memang belum, sama kaya kamu yang belum juga" balas Kinasih
Aiden menoleh ke arah semua yang ada di ruang tamu rumahnya "Aiden sudah siapkan kamar untuk kalian silahkan istirahat kalian pasti lelah dari Indonesia langsung ikut acara pemakaman" ucap Aiden
"Terima kasih Aiden" balas Daddy Jay
"iya kak, Sama-sama " balas Aiden
Lucas berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya dan mendengus sebal "harus ya kamu meluk om Aiden " tanya Lucas dengan kesal
Nidya hanya menanggapi biasa saja, kak Aiden sedang berduka mas dan Nidya cuma menyampaikan rasa bela sungkawa saja, jadi tolong jangan berlebihan mas" balas Nidya
"tapi mas gak suka ya" balas Lucas masih kesal dengan hal itu
__ADS_1
"terus mau mas Lucas gimana hah, mau Nidya acuh padahal yang sedang berduka adalah saudara mas Lucas, om nya mas Lucas" balas Nidya
"apa kamu gak bisa hargain perasaan mas Nidya, kamu kan tahu kalau mas gak suka dia dekat sama kamu, dia itu suka sama kamu" balas Lucas
"emangnya Nidya bisa ngatur perasaan orang mas, Nidya itu jadi istri mas, kurang apa aku mas, selama ini sama kamu dan kamu masih gak percaya sama aku" Nidya mungkin sudah di ambang batasnya karena rasa cemburu Lucas yang begitu berlebihan
"harusnya mas Lucas tahu kalau kak Aiden jauh lebih segalanya di banding mas Lucas, dia tidak pernah membentak atau membohongiku, dia selalu menghargai aku apapun yang jadi keputusan termasuk aku yang memilihmu. aku memilihmu karena aku mencintaimu tapi rasanya itu masih kurang saja" Nidya beranjak dari duduknya dan mengambil pisau buah yang berada di atas nakas "bunuh saja aku mas, biar aku jadi milik mas seutuhnya dan aku gak perlu bersentuhan dengan orang lain selain mas Lucas" kesal Nidya
Lucas jadi gelagapan sendiri saat baru pertama kali ia melihat istrinya semarah itu "Nidya " Lucas begitu terkejut istrinya yang begitu penyabar memarahinya dengan begitu meluap
"prang" Nidya melempar kasar pisau ke arah lantai "aku mau tidur sendiri" Nidya berlalu pergi meninggalkan Lucas begitu saja
Nidya mencari pelayanan untuk menyiapkan satu kamar kosong untuknya, beruntung rumah Aiden memiliki cukup banyak kamar jadi ia tak perlu kerepotan
Daddy Jay yang melihat Nidya sedang menghampiri pelayan datang menghampiri Nidya "kamu minta kamar terpisah" tanya Daddy Jay
"Nidya butuh bernafas Dad, masalah kemarin masih terus membayangiku jadi Nidya mohon jangan tanya ya dad" mohon Nidya berlalu pergi
Daddy Jay menuju kamar yang di tempati Lucas dan ia mendapati Lucas sedangkan berdiri menatap pisau yang teronggok di lantai dalam diam
"Lucas" panggil Daddy Jay
Lucas tersadar dari lamunanya "dad" balas Lucas
daddy Lucas menghela nafas kasar "kamu pasti marah-marah sama Nidya yang meluk Aiden" tanya Daddy Jay
Lucas menunduk lesu "iya dad" balas Lucas
"daddy kan sudah bilang, jaga perilaku kamu, Nidya itu masih dalam posisi kecewa sama perbuatanmu yang sudah membohongi Nidya kemarin ini malah kamu tambah lagi" kesal Daddy Jay pada otak bebal anaknya
"aku cemburu dad" balas Lucas
"halo Lucas, lihat posisinya saat ini. Aiden baru kehilangan dan aiden itu om kamu jangan lupa itu" tegur daddy Jay
"maaf dad" sesal Lucas
"Daddy sudah peringatkan kamu kalau Nidya itu sebagai kunci kamu tetap memilikinya, selagi Nidya menolak Aiden, Aiden tidak akan bisa berbuat apapun Lucas... tapi kalau kamu membuat Nidya menjauh, daddy jamin Aiden akan langsung merebut Nidya dari kamu, karena daddy tahu sebesar apa rasa cinta Aiden untuk Nidya " jelas Daddy Jay
"maaf Dad, rasa cemburuku emang sulit aku kontrol " balas Lucas
"makanya jangan ngeyel sama daddy untuk kamu rutin ketempat dokter sam" tukas Daddy Jay mengingatkan kembali pengobatan Lucas yang harus di jalani secara rutin tapi selalu di abaikan oleh Lucas
__ADS_1