
***
Lensi menatap tak suka ke arah tara “ngapain malah ikut sih mas” rajuk lensi yang kini satu mobil dengan tara menuju rumah ibunya
“ya kamu aneh, kita kan sudah nikah kalau gak datang bareng ya pasti di Tanya sama ibu kamu lah” balas tara
“aku bisa alesan mas sibuk sama ibu, gak usah datang lah” kesal lensi kenapa tara malah ikut dengannya padahal biasanya juga ia datang sendiri
“ngapasih lensi kalau aku mau ikut ke rumah kamu selalu kaya gini” Tanya tara merasa curiga
“jangan-jangan di sana ada yang suka sama kamu ya” tebak tara
“apaan sih mas” lensi kembali duduk dengan benar dan menatap jalanan
Hari ini adalah akhir pekan, biasanya lensi memang selalu pulang ke rumah ibunya bahkan
menginap di sana, tapi setiap menginap di sana lensi selalu tak mengajak tara padahal tara dengan suakarela ingin ikut. Karena biar gimanapun dia selalu ingin menghormati ibu dhira yang kini jadi ibu mertuanya
satu jam perjalanan, mereka sampai di rumah lensi “wah halaman rumah kamu luas juga ya”
takjub tara saat tara menurunkan barang bawaannya dan menatap takjub rumah lensi yang terbilang
memiliki halaman begitu luasnya walaupun bangunan rumahnya terbilang kecil yang berisi tiga kamar saja
Bagaimana tidak memiliki halaman luas karena tanah rumah milik lensi memang seluas 10 hektar yang hanya berisi satu bangunan di tanah seluas itu.
Untuk sampai ke rumah dari gerbang rumahnya saja membutuhkan waktu yang cukup lama jika berjalan kaki
“sudah yuk masuk” ajak lensi membawakan barang yang ringan dan berjalan masuk lebih dulu
Lensi berjalan masuk dengan santainya “ibu” panggil lensi
Ibu dhira berjalan keluar dengan cepat “kamu sudah sampai lensi” Tanya ibu dhira
“iya bu” lensi langsung memeluk erat ibunya
“ibu apa kabar” Tanya lensi
“baik, kamu sama siapa nak” Tanya ibu dhira
“ibu” sapa tara meletakan barang bawaan yang begitu banyak di lantai
“wah, kamu juga ikut datang” ibu dhira langsung menyambut tara dan mengabaikan lensi
“kok gak bilang mau ke sini sih, kalau bilang ibu akan masak yang banyak” ibu dhira melirik lensi “kok gak bilang sih sama ibu kalau suami kamu datang” Tanya ibu
dhira
__ADS_1
tara tersenyum bahagia saat dirinya begitu di sambut ibu mertuanya “jangan salahin lensi bu, biasanya kan emang tara sibuk tapi kali ini gak terlalu sibuk jadi bisa nyempetin buat jenguk ibu” ucap tara yang tak ingin lensi di salahkan ibunya
Ibu dhira tersenyum pada tara “maafin anak ibu ya nak kalau anak ibu kelakuannya bikin kamu marah atau kesal” ucap ibu dhira
“enggak kok bu, kelakuannya sama sekali gak bikin tara marah” balas tara
Ibu dhira melirik lensi “ayo bantu ibu masak” ibu dhira langsung menarik tangan lensi ke arah dapur tanpa meminta persetujuan
Saat lensi sedang memasak tara memutuskan jalan-jalan di sekitaran halaman luas milik
lensi “wah halamannya luas banget, bisa di bikin lapangan olahraga ini” tara terus berkeliling di sekitaran halaman, di sana banyak tanaman besar dan
beberapa tanaman bunga dan juga sayuran yang berjejer rapih
“bisa ya ibu ngurus halaman luas ini sendiri” tara begitu takjub akan halaman luas ibu dhira yang ada tanaman sayurannya
Tara melanjutkan langkahnya ke arah kolam besar di bagian tengah “wah ada kolamnya, ikannya gede
kali ya” gumam tara melihat kolam yang jelas itu adalah kolam ikan karena terlihat ada tanaman enceng gondok di sana dan seperti ada mulut ikan yang menyembul keluar
Setelah cukup puas berkeliling tara kembali ke dalam rumah untuk melihat apakah istri dan mertuanya sudah selesai masak “ibu halamannya luas banget ya” celetuk tara saat ibunya dan sang istri merapihkan masakan yang sudah matang ke dalam piring
“iya nak, warisan dari kakek lensi, katanya gak boleh di jual hanya boleh untuk anak-anak. Kebetulan ibu hanya anak tunggal dan ibu hanya hanya punya lensi jadi ini
semua buat lensi” balas ibu dhira
Tara mengangguk “emang ibu gak capek ngurus rumah sendiri” Tanya tara lagi
“bukan itu maksud tara bu, kalau rumah mah emang terlihat gampang ngurusnya. Halaman ibu
loh yang tara maksud. Tadi tara lihat ada macam-macam sayuran sama ada kolam juga. Itu pasti capek kalau di urus sendiri” Tanya tara lagi
“dulu sudah pernah mau lensi kasih orang buat bantu ibu di rumah tapi ngeyel dia mas” sahut lensi yang sedang meletakan piring di meja makan
“buat apa lah, ibu juga masih sehat mending uangnya di tabung buat kamu gak usah buat ibu” balas ibu dhira
“bayar pembantu gak buat lensi miskin kali bu, lensi kan masih punya penghasilan lain di luar dari kantor” balas lensi
“kalau gitu biar tara saja yang bayar pekerja di rumah, uang tara banyak kok bu jadi gak akan habis kalau hanya bayar lima atau enam orang buat kerja bantu ibu” sahut
tara dengan santainya
Ibu dhira membelalakan matanya lebar “lima atau enam orang itu banyak banget tara” ucap ibu dhira
“kanhalaman ibu luas, biar di bagi kerjaannya, biar sekalian ibu ada teman juga, kata lensi kosannya kan ada yang dekat rumah ini, jadi nanti pekerjanya tinggal di kosan aja biar ibu gak keganggu sama mereka ” usul tara
“kalau mantu ibu yang ngomong ya sudah deh, ibu nurut saja” balas ibu dhira ikut dengan usulan tara tanpa banyak protes
__ADS_1
Lensi tersenyum haru melihat suaminya perhatian dengan ibunya “ya sudah makan yuk mas” ajak
lensi
“iya” tara duduk di dekat lensi dan mulai membuka piring yang sudah di siapkan lensi di depan tempat duduknya
Ibu dhira menatap tajam lensi “suami kamu di biarin ambil makan sendiri lensi” tegur ibu dhira
Melihat tatapan ibunya lensi jadi ngeri sendiri “iya bu, lensi yang ambilin” lensi mengambil piring tara dan mengambilkannya makanan untuk tara dengan lengkap
Tara melirik lensi yang sedang mengambil makanan untuknya “tara gak masalah kok bu kalau
ambil sendiri makanannya” ucap tara tak ingin mertuanya menyalahkan lensi
“kalau di Negara tempat tinggal kamu dulu mungkin emang gitu caranya, tapi gak di Negara kami
nak, istri harus melayani suaminya dan lensi istri kamu jadi dia harus melayani semua kebutuhan kamu karena itu semua kewajibannya” balas ibu dhira dengan nada tegas
“gitu ya bu” Tanya tara menggaruk tengkuknya yang tak gatal
“iya nak, pokoknya kalau nanti lensi malas-malasan ngurus kamu dengan alasan kerja bilang sama ibu biar ibu yang marahin dia” ucap ibu dhira
“apaan sih bu, mas tara kan sudah gede gak juga harus aku yang urus semua keperluandia”sahut lensi dengan kesal karena ibunya malah mementingkan tara
“harus dong lensi, dia kan suami kamu jadi kamu harus urus dia dengan baik” balas ibu dhira dengan tegas
“iya” setelah menyerahkan makanan tara lensi mengambilkan minum untuk tara
“makan mas” lensi mempersilahkan tara untuk makan
Tara mulai menyendokan makanan ke mulutnya dan merasa takjub dengan rasa yang menggoyang lidahnya “ini masakan ibu apa masakan lensi bu” Tanya tara penasaran
Ibu dhira mengernyitkan dahinya “kamu belum pernah makan masakan lensi apa nak, kok gak
tahu itu masakan siapa” Tanya ibu dhira dan bukannya menjawab pertanyaan tara
“lensi kan terlalu sibuk bu di kantor lagian mas tara juga berangkatnya pagi betul pulangnya juga malam jadi gak sempat masakin buat mas tara” sahut lensi segera membela diri sebelum di salahkan sang ibu
“kalian kan sekantor lensi, kalau gak sempat sarapan ya di bawain bekal dong, jangan lepas tanggung jawab gitu ah” ucap ibu dhira menyalahkan lensi yang kurang kreatif
“iya ibu” balas lensi menunduk sambil mencebikkan bibirnya karena berkali-kali di salahkan sangat ibu
Ibu dhira melirik ke arah tara “ini semua masakan lensi nak tara, tadi ibu Cuma bantu potong sayur sama ngaduk masakan aja” ibu dhira menjawab pertanyaan tara yang belum sempat di jawab oleh ibu dhira
“ternyata enak ya bu masakan lensi” ucap tara dengan jujur karena saat lensi di marahi tara yang suka masakan lensi makan saja tak perduli dengan lensi yang sedang di marahi ibunya
“bagus deh kalau kamu suka masakan anak ibu” ibu dhira melirik ke arah lensi “pokoknya
__ADS_1
bilang sama ibu ya kalau lensi malas masakin kamu, nanti ibu yang marahin dia” ucap ibu dhira dengan nada ancaman pada lensi
“iya bu “ balas tara