You Are My Regret

You Are My Regret
Hal kecil yang membuat nyaman


__ADS_3

Reagen dan Zahira makan di atas sofa sembari menonton film melalui Smart TV milik Reagen "baru tahu loh kalau makan di depan TV gini juga enak" ecap Reagen di sela kegiatan makannya


"itu karena mas Reagen belum ngerasain aja, dulu mamahku saat hidup sering gini tahu mas, kita ngobrol banyak hal sambil makan dan nonton acara kesukaan kita" balas Zahira dengan senyum getirnya


Reagen bisa melihat raut wajah Zahira yang tentu ia tahu sedang bersedih saat menceritakan kebiasaan mamanya yang sudah meninggal "sudah jangan terus bersedih, kan sekarang sudah ada mas Reagen yang nemenin kamu" Reagen berucap sambil mengusap punggung Zahira dengan lembut


"terima kasih ya mas, setidaknya dengan ucapan kamu yang entah benar atau gak, hati zahira jadi tidak terlalu bersedih lagi " Zahira berterima kasih dengan cara Reagen yang mencoba menghiburnya


"mas Reagen akan nemenin zahira ngobrol kok selagi gak sibuk kerja sih, mas itu gak pernah bohong loh" sahut Reagen ingin Zahira tahu kalau dirinya tidak berbohong dengan zahira


"iya mas, terima kasih" balas Zahira


zahira dan Reagen bercerita banyak hal, mulai dari keluarga dan kegiatan sehari-hari mereka, entah kenapa walaupun mereka baru saja kenal, rasanya begitu nyaman untuk bercerita tanpa ada beban sedikitpun atau ada rasa tak nyaman pada mereka. Obrolan itu mengalir begitu saja tanpa ada beban


seusai makan malam, mereka memutuskan tetap menonton TV sambil mengobrol "kegiatan mas di hari minggu ngapain" tanya zahira


"belum tahu, biasanya mas main ke rumah mommy sih, tapi lagi males ah soalnya ada suami mommy jadi sepertinya di rumah saja


"hubungan mas sama ayah tirinya mas gak baik ya" Zahira jadi penasaran dengan hubungan Reagen dan ayah tirinya


"pria itu cuma suami mommy bukan ayah mas, jadi tolong jangan bilang dia ayah tiri mas, karena biar jadi ayah tiri pun mas gak ingin itu" jelas Reagen


"kalau mas gak suka dengan orang itu kenapa izinin mereka menikah dulu" tanya zahira


Reagen diam sejenak dan mulai mengenang masa lalu "dulu saat mereka menikah, mas juga gak suka hal itu bahkan sempat tidak mau bertemu dengan mommy tapi setelah dewasa mas baru sadar bahwa kadang kita juga tidak boleh egois sebagai anak. Mereka juga punya kehidupan percintaan sendiri yang tidak bisa untuk kita ikut campur seenaknya " Reagen menoleh ke arah Zahira dan tersenyum hangat ke arah zahira "jadi asal mommy bisa bahagia, mas tak masalah dengan hubungan mereka, cuma ya mas gak bisa aja baik sama pria itu atau ramah dengannya" jelas Reagen


Zahira jadi ikut memikirkan pernikahan ayahnya yang tiba-tiba "apa aku juga salah sama ayahku ya mas" tanya Zahira

__ADS_1


"kalau itu mas gak berhak memutuskan kamu salah atau tidak, lagian mas kan gak kenal siapa ayahmu, karakternya bagaimana dan kenapa dia bisa mengambil keputusan menikah dengan cepat padahal mama kamu baru meninggal" balas Reagen


"iya sih mas, sudahlah Zahira juga malas mikirinnya, yang penting zahira mikirin soal sekolah zahira saja" putus zahira yang tak ingin larut dalam memikirkan kehidupannya


"ngomong-ngomong ayah kamu gak nyariin kamu" Reagen jadi penasaran dengan ayah zahira apakah mencari putrinya atau tidak sebab Zahira masih anteng-anteng saja, tidak membahas perihal ayahnya yang mencari dirinya


"mungkin dia terlalu sibuk dengan istri barunya sampai lupa punya anak" kelakar Zahira


"ayahmu beneran gak nyari" ulang Reage


Zahira mengedikkan bahunya "enggak mas" balas Zahira


"ya sudah kalau gitu, kamu tinggal di sini saja. Mas malah seneng ada teman gak kesepian lagi kalau pulang kerja" ungkap Reagen dengan senyum mengembangnya


Zahira terkekeh "makanya mas itu punya istri jadi ada temennya, salah sendiri gak nikah sih"ledek Zahira


"mana Zahira tahu itu mas, Zahira kan belum pernah nyari pasangan" balas Zahira


"kalau enggak, kamu aja yang istri mas Reagen, mau" celetuk Reagen


"Zahira masih di bawah umur mas, gak boleh sembarangan di nikahi, masih juga kelas 2 SMA. Lagian ya mas, agama kita beda jadi gak boleh nikah" Zahira memandang lelat Reagen " Zahira gak mau ya nanti punya suami yang gak bisa imamin Zahira sholat, kan Zahira kalau nikah nanti pengennya suami Zahira yang selalu imamin Zahira Shalat" balas Zahira dengan santainya tanpa ada beban


Reagen terkekeh akan balasan Zahira "mas Reagen bercanda kali, seserius itu kamu jawabnya" ucap Reagen yang masih tidak bisa menghentikan tawanya


"Zahira tahu kok kalau mas bercanda, tapi Zahira cuma ngomong di awal saja takut nanti mas jatuh  cinta sama Zahira dan patah hati gara-gara iman kita yang beda jadi Zahira pengen jelasin hal itu sebab Zahira akan konsisten dengan pilihan pasangan Zahira nanti yang harus seiman" jelas Zahira


"iya" Reagen mengacak rambut Zahira dengan kasar sebab begitu gemas dengan Zahira

__ADS_1


"oh ya mas" Zahira menghadap ke arah Reagen dengan tatapan mata gemasnya


"boleh gak kalau teman Zahira kapan-kapan main ke sini" tanya Zahira meminta izin pada Reagen


"teman kamu perempuan atau laki-laki" tanya Reagen


"perempuan lah mas, kalau laki-laki ya malas juga nerimanya" kesal Zahira


"ya kali kamu mau bawa laki-laki, mas kan gak tahu" kelakar Reagen


"enggak lah mas, sahabat baik Zahira perempuan kok" balas Zahira


"boleh saja sih asal jangan sampai nginep ya, mas nanti gak nyaman kalau ada perempuan asing di sini" Reagen tidak mau ada orang lain yang sampai menginap di apartemennya padahal ada Zahira yang bukan siapa-siapanya


"iya mas" Zahira patuh saja sebab ini adalah apartemen Reagen jadi tentu ia harus mengikuti aturan sang pemilik


Zahira melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam "ini sudah waktu tidurnya Zahira, Zahira tidur ya mas " pamit Zahira ingin tidur terlebih dahulu


"ya sudah sana tidur, mas Reagen nanti dulu tidurnya" balas Reagen


"ya sudah,selamat malam" Zahira segera saja berjalan masuk kamarnya untuk bersiap tidur


Reagen kembali fokus ke layar TV yang ada di hadapannya  "kenapa rasanya nyaman sekali setelah berbincang dengannya ya, apa selama ini aku tidak bahagia" gumam Reagen


saat Reagen di Inggris, ia  memang selalu menghabiskan waktu bersama keluarga besarnya, sekedar berbincang ataupun bercanda gurau bersama orang tua dan kedua adiknya tapi entah kenapa rasanya tak senyaman ini padahal tawa Reagen dulu lebih kencang saat berkumpul bersama dengan keluarga besarnya tapi perasaan yang Reagen seolah sulit untuk di jelaskan bahwa dia merasa begitu nyaman mengobrol bersama Zahira


"mikir apa aku, dia masih bocah" Reagen berusaha menyingkirkan pikiran aneh di otaknya dan kembali menonton film dari layar TV miliknya

__ADS_1


__ADS_2