
Sesuai hal yang di sepakati Zahira dan Reagen, kini mereka datang ke rumah ayah Arman untuk bertemu dengan nenek Larasati yang sudah menunggu kedatang cucu kesayangannya itu sedari tadi
"yuk mas" Zahira menggandeng tangan suaminya dengan mesra memasuki rumah orang tua dari Zahira
"iya sayang" Reagen mengikuti langkah Zahira memasuki kediaman mertuanya mencari keberadaan neneknya
"nenek" panggil Zahira menghampiri neneknya dan langsung memeluk nenek Larasati saat sudah mendapati nenek Larasati ada di ruang santai
"cucu nenek" Nenek Larasati begitu bahagia saat Zahira datang menemuinya
Zahira duduk di sebelah nenek Larasati "gimana ceritanya nenek sekarang mau tinggal sama ayah" tanya Zahira ingin tahu alasan neneknya berubah pikiran untuk tinggal bersama ayah Arman
nenek Larasati menceritakan perihal alasan utama dirinya memilih untuk tinggal bersama ayah arman mulai dari awal sampai akhir
"jadi ayah mutusin buat pisah sama wanita itu" tanya Zahira memastikan apakah yang di dengarnya suatu kebenaran
"iya, tuh barangnya semua sudah di pak dalam kardus dan tinggal di angkut saja" tunjuk Nenek Larasati dengan ekor matanya sebuah kamar yang jarang di tempati dan kadang di jadikan kamar tamu jika banyak orang datang bertamu ke rumah itu
"ayah ada masalah sama wanita itu apa nek" pikir Zahira tentang ayahnya yang tiba-tiba memutuskan untuk berpisah "padahal kemarin-kemarin Zahira ingetin ayah saja gak mau loh" tanya Zahira masih tak percaya ayahnya memilih berpisah
nenek Larasati mengedikkan bahunya "entahlah, ayah kamu gak cerita secara detil perihal keputusannya, nenek cuma bersyukur ayah kamu sadar sebelum makin terlambat" balas Nenek Larasati
"Zahira juga bersyukur untuk itu" sahut Zahira
Nenek Larasati menoleh ke arah Reagen "ngomong-ngomong kemarin nenek dengar kamu ke Inggris" tanya nenek Larasati
"iya nek, ada kerjaan di sana jadi Reagen ke sana" balas Reagen
nenek Larasati menggenggam tangan Zahira "sekarang kan sudah tidak ada wanita itu di rumah ini, jadi kalau suami kamu ke Inggris lagi, nginep sini ya buat temenin nenek" pinta Nenek Larasati
"iya nek" balas Zahira
"boleh kan Reagen" tanya nenek Larasati meminta persetujuan dari suami cucunya
"tentu saja boleh" balas Reagen
tak lama berselang, ayah Arman pulang ke rumah "wah Zahira dan Reagen datang" senyum cerah langsung terbit dari bibir Ayah Arman mendapati anaknya berkunjung ke rumah
Zahira beranjak dari duduknya dan menghampiri Ayahnya dan memeluknya erat "Terima kasih sudah sadar akan kesalahan ayah" ucap Zahira begitu bersyukur ayahnya tak melanjutkan hubungannya dengan Sari
ayah Arman balas memeluk Zahira dengan erat "maafin ayah yang sudah berbuat dosa, tak mencerminkan seorang ayah yang patut untuk di contoh anaknya " sesal Ayah Arman yang sudah menyadari kesalahannya
Zahira melerai pelukannya dan menatap ayahnya lekat "Wanita itu mau melepaskan ayah" tanya Zahira ingin tahu lebih perihal hubungan ayahnya
__ADS_1
Ayah Arman menggelengkan kepalanya "belum tahu" balas Ayah Arman
Zahira mengernyitkan keningnya "kok belum tahu" heran Zahira
Ayah Arman mengajak Zahira duduk agar lebih nyaman bercerita "ayah belum bicara dengannya, sebab Sari masih pulang ke rumah suaminya, ayah akan bicara dengannya setelah dia kemari" balas Ayah Arman
Zahira menatap tajam Ayahnya "ayah serius gak untuk mengakhiri hubungan kalian? " tanya Zahira dengan ketus
"tentu saja, ayah sudah berpikir lama dan sudah mulai mengemas semua barang-barang Sari, ayah hanya mau mengurus kamu dan calon cucu ayah nanti " Ayah Arman sudah memikirkan akan menghabiskan masa tuanya mengurus Zahira dan calon anaknya nanti
"oke kalau gitu biar Zahira yang bicara dengannya, dan ayah jangan ikut campur cukup Zahira yang mengakhirinya" ucap Zahira
"ayah bisa kok bicara dengannya" tolak Ayah Arman
Zahira menggelengkan kepalanya "enggak, aku gak percaya sama ayah, kalau wanita itu kasih selangkangannya, ayah pasti akan luluh lagi" balas Zahira dengan bahasa Frontal nya
"Zahira" tegur Reagen akan ucapan istrinya yang kurang sopan di dengar
Zahira menatap memelas ke arah suaminya "aku cuma gak mau ayahku tergoda lagi dan kembali ke lembah dosa" tutur Zahira meminta pengertian suaminya
"iya mas tahu itu, tapi gak gitu cara ngomongnya" tegur Zahira
"iya, maaf mas" balas Zahira
***
Zahira tengah mengatur orang-orang untuk menaikan barang-barang ke mobil boks khas pindahan rumah
"gimana mang, sudah" tanya Zahira pada pria yang dari penampilannya adalah tukang angkut barang
"sudah semua non, tinggal jalan saja" balas pria tersebut
"ya sudah mang, nanti mamang ikutin saya dari belakang" pinta Zahira
nenek Larasati menghampiri Zahira "kamu mau sapa siapa ke sananya, jangan sendiri ya" terlihat nenek Larasati yang begitu khawatir dengan Zahira yang akan menemui Sari
"Sama teman aku nek, dia punya bodyguard banyak jadi bisa lindungi aku, aku juga gak asal nek secara aku tahu tabiat suami Si Sari itu agak tempramental" balas Zahira
Nenek Larasati bernafas lega "syukurlah kalau begitu" balas Nenek Larasati
"itu teman aku nek" Zahira melirik ke arah rombongan mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya
Zahira menghampiri Sahabatnya yang mulai turun dari mobil "Zahira" panggil Mila
__ADS_1
"duh makasih banget ya Mila" Zahira langsung memeluk sahabatnya yang mau saja menuruti keinginannya untuk menemui Sari
"tentu saja mau, kamu kan sahabat aku" balas Mila
Mila menghampiri nenek Larasati dan mencium punggung tangan Nenek Larasati "nenek Larasati ya" tebak Mila ingin mencoba akrab dengan nenek sahabatnya
"iya, kamu sahabatnya Zahira" tanya balik Nenek Larasati
"iya nek, namaku Mila teman satu jurusan Zahira" balas Mila
"maaf sudah merepotkan kamu ya, padahal ini bukan masalah keluarga kamu, eh malah kamu harus ikutan repot" ucap Nenek Larasati merasa tidak enak pada Mila
"gak papa kok nek, Zahira kan sahabat aku, jadi ini sama sekali gak masalah kalau hanya menemani Zahira toh bodyguard ku banyak" balas Mila dengan kekehan
Nenek Larasati melirik ke arah kumpulan pria berbadan tegap dan memakai seragam lengkap dan serempak berwarna hitam
"bodyguard mu sebanyak itu" tunjuk Nenek Larasati pada kumpulan pria berjumlah 9 orang
Mila. sekilas menoleh ke belakang "itu bodyguard papah sih, yang di tugaskan buat jaga Mila" sahut Mila
"oh" nenek Larasati mengangguk mengiyakan saja apa yang di sampaikan Mila
"sudah yuk Mil, sekarang saja kita berangkatnya biar gak kesiangan" ajak Zahira
"kamu sudah tahu alamatnya di mana" tanya Mila
"sudah dong" balas Zahira
Zahira dan Mila berada dalam satu mobil Milik Mila yang di kendarai oleh salah satu anak buah Mila
Zahira sudah menceritakan pada Mila kemana tujuannya dan untuk apa, sebab menurut Zahira ia tak perlu malu menceritakan hal ini pada Mila, toh Zahira juga sudah di ceritakan hal terburuk dari keluarga Mila jadi mereka sama-sama punya kelemahan masing-masing dan tak akan mungkin mengumbar aib keluarga mereka di depan orang lain karena mereka bisa saling membalas dengan telak jika itu terjadi
Zahira dan Mila sampai di komplek perumahan mewah milik keluarga besar Aryasatya
saat mobil mereka masuk ke pekarangan rumah Jordan Aryasatya, Mila mengerutkan keningnya "beneran ini rumahnya" tanya Mila tak percaya
Zahira menautkan kedua alisnya "iya, kenapa? kamu kenal dengan pemilik rumah ini" tanya Zahira penasaran
Mila sempat terdiam sampai suara seseorang menginstruksi keduanya "sudah sampai nona" ucap sopir Mila
"iya bang" Mila turun bersama Zahira dengan langkah ragu
Zahira menoleh ke arah Mila dan melihat raut wajah Mila yang kurang nyaman "kalau kamu merasa tidak nyaman, jangan ikut masuk aku bisa sendiri" Zahira tak ingin melibatkan sahabatnya terlalu jauh jika ia merasa kurang nyaman
__ADS_1
"tidak kok" Mila memaksakan senyumnya di depan Zahira