You Are My Regret

You Are My Regret
Ragu akan perjanjian awal


__ADS_3

Lensi berperang dengan pikirannya sendiri “apa aku terlalu takut seperti yang qiran ucapkan” batin lensi


Qiran melihat raut wajah lensi dan jadi merasa bersalah “maaf lensi jika aku bikin kamu gak nyaman, aku hanya peduli padamu bukan bermaksud ingin mengguruimu” jelas qiran


“it’s oke “ balas lensi memaksakan senyumnya


“ya sudah yuk ke dapur kata kamu pengen makan, pecel buatan aku” ajak lensi


“oke” qiran jadi tersenyum bahagia mendengar nama makanan itu


Qiran memang sedang menginginkannya saat meminta lensi datang , maka dari itu para pelayan di rumahnya sudah menyiapkan semua bahanyya, lensi tinggal mengolahnya saja


Waktu sore mereka di habiskan dengan saling bercanda dan bertukar cerita tentang banyak hal. Ya walaupun lebih sering membahas tentang suami mereka


“qiran sudah sore, aku pulang ya soalnya mau belanja bulanan dulu” pamit lensi


“iya, terima kasih sudah repot-repot masakin aku loh” balas qiran


“gak repot kok” lensi memeluk qiran dan segera berjalan ke arah halaman


Saat di depan rumah qiran, ia berpapasan dengan jay “hai jay”sapa lensi


“hai lensi” jay tersenyum ramah pada lensi “abis nemenin qiran ya” Tanya jay


“iya, tadi dia minta di buatin pecel. Buatan pelayan di rumah kamu kurang katanya jadi dia minta aku untuk buatin” balas lensi


“ oh gitu, terima kasih ya lensi sudah repot-repot memberikan waktu untuk membuatkan


istriku makanan yang dia suka” ucap jay


“gak masalah . kalau gitu aku pamit ya” ucap lensi segera masuk dalam mobilnya


Jay berjalan ke arah istrinya yang sedang menselonjorkan kakinya di sofa “apa bengkak lagi” jay mulai menggantikan tangan qiran yang sedang memijit pelan kakinya


“jangan jay, kamu kan lagi capek baru pulang kerja” tolak qiran sedikit menggeser tangan jay


“gak masalah sayang, mijit kaki kamu gak akan bikin aku pingsan karena kelelahan” balas jay terus memijit kaki qiran


Qiran menatap penuh haru suaminya yang begitu mencintainya “I love you” ungkap qiran


“I love you more my wife” balas jay


***


Lensi sibuk memilih barang-barang yang ia butuhkan di rumah dan aneka sayuran dan juga buah serta daging untuk keperluan memasaknya


“semua belanjaannya mau gimana nona” Tanya kasir yang sudah selesai memproses pembayaran lensi

__ADS_1


“bisa minta tolong kirim ke apartemen saya tidak, soalnya gak mungkin mobil saya muat kalau bawa sebanyak itu” balas lensi


Lensi membeli gila-gilaan kebutuhan dapur, segala peralatan yang tidak ada di apartemen tara ia beli semua, bahkan kulkas yang menurut lensi terlalu kecil,


lensi beli yang jauh lebih besar agar lebih bisa menyimpan makanan lebih banyak


“bisa nona, nanti tulisin saja alamatnya dan petugas kami yang akan mengirimkannya “ balas kasir


“terima kasih” balas lensi segera kembali menyimpan kartunya kembali dalam tas


Baru beberapa langkah ia berjalan dari meja kasir, langkahnya harus terhenti karena berpapasan


dengan orang paling menyebalkan menurutnya “cih, seneng banget belanja banyak ya” ledek nyonya listia yang ternyata juga sedang berbelanja


Lensi tersenyum simpul “tentu bahagia, suamiku kan sangat menyayangiku dan memanjakanku jadi apapun yang aku inginkan pasti di berikan olehnya ” balas lensi dengan bangga


“kalian memang cocok, sama-sama anak buangan” umpat nyonya listia


“terima kasih atas pujiannya” lensi sedikit membungkukan kepalanya pada nyonya listia


Secepat kilat ia mendongak dan menatap tajam wanita di hadapannya “walaupun kami berdua di buang karena dirimu, bukan berarti aku dan suamiku akan sedih, tentu tidak” ucap lensi dengan tegas


“kami malah bersyukur, sangat bersyukur anda membuang kami, jadi kami tidak perlu melihat wajah tidak mengenakan anda setiap hari” balas lensi dengan nada penuh hinaan


“dasar sampah!” teriak nyonya listia saat lensi sudah berjalan menjauh darinya


***


Lensi sedang sibuk merapihkan barang-barang dan mulai memasukan semua belanjaan makanan di dalam kulkas barunya


tara masuk ke dalam apartemen tanpa di sadari lensi yang sedang sibuk di dapur “emang gak salah kalau kamu bilang suka lupa diri kalau belanja “ gumam tara yang


masih bisa di dengar lensi


Lensi menoleh dengan cepat ke a rah tara “gak terima kalau aku habisin uang 70 juta dalam sehari” Tanya lensi dengan ketus


“gak gitu juga lensi” tara menghampiri lensi dan mengusap kedua lengan lensi “Cuma tadi rada


kaget aja dapat notifikasi di ponsel kamu beli di satu tempat sebanyak itu. Tapi setelah melihat apa yang kamu beli aku baru paham kenapa sebanyak itu nominal yang habis” jelas tara saat melihat apa saja yang di beli lensi


“ya abis semua barang di dapur ini jelek, aku mau ganti yang lebih bagus biar lebih mudah di gunain” lensi mencebikkan bibirnya sambil tetap memasukan sayuran yang


sudah ia kemas dalam wadah ke dalam kulkas


“mas gak marah kok, kamu bebas membeli apapun yang kamu mau dari kartu itu” jelas tara


“terima kasih mas” senyum lensi kembali terbit dan langsung melanjutkan pekerjaannya

__ADS_1


“oh ya mas sudah makan belum, kalau belum aku siapin makan buat mas” Tanya lensi


“sudah tadi saat ketemu klien” balas tara


“ya sudah kalau gitu, mandi dulu sana mas, tadi pakaian mas lensi taro di sofa ya” ucap lensi masih sambil menyelesaikan pekerjaannya bebenah


Saat masuk kamar benar saja tara melihat pakaian yang sudah di siapkan lensi “beneran mau jadi istri yang baik dia” gumam tara melihat lensi yang benar-benar berperan sebagai seorang istri


Tara berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri


***


Tara dan lensi sedang di atas ranjang dengan posisi lensi yang memeluk tubuh tara yang sedang duduk di sandaran ranjangnya sambil memainkan ponselnya “mas” panggil lensi


“ya” balas tara masih sibuk dengan ponselnya


“pernah engga mikirin kalau pernikahan kita bisa bertahan sampai kita tua” Tanya lensi


dengan suara lirih


Tara meletakan ponselnya dan menatap lensi membuat manik mata mereka saling bertemu “kenapa kamu Tanya kaya gitu” heran tara


“tadi waktu ketemu qiran kita sempat bahas banyak hal, katanya jangan menjudges kalau semua orang itu sama jadi jangan terlalu takut menghadapi kenyataan” lensi


makin mengeratkan pelukannya “gara-gara obrolan itu aku sempat mikir, apa bisa kita bertahan sampai tua bersama” jelas lensi


Tara ikut memeluk tubuh lensi “mas juga pernah sempat mikir kaya gitu” balas tara


Lensi mendongak dan manik mata mereka saling bertabrakan “apa bisa pernikahan kita bertahan sampai kita tua nanti” tambah tara


“terus menurut mas gimana” Tanya lensi


“mas gak mau menjanjikan hal yang kita gak tahu kedepannya karena itu akan jadi janji omong kosong nantinya. Kita jalani saja yang ada sekarang dan semoga kita bisa menemukan yang terbaik untuk hidup kita nanti” balas tara


“iya mas” lensi makin mendusel di tubuh tara


“jangan banyak gerak ya lensi” tara seakan menahan sesuatu yang memberontak di bawah sana


“emang ngapain aku mas” Tanya lensi pura-pura bodoh


“kamu buat dia bangun, kan aku yang jadi kesusahan” geram tara menahan hasratnya


Lensi tersenyum manis pada tara “siklusku tidak lama kok mas, hanya empat hari saja biasanya” lensi mengedipkan matanya genit pada tara


tara mengingat hari ini sudah hari kelima dari waktu tamu bulanan lensi “kenapa gak bilang dari tadi” tara langsung membawa lensi masuk dalam selimut


Dan kalian pasti tahu lah apa lanjutannya……

__ADS_1


__ADS_2