You Are My Regret

You Are My Regret
Tidak tahu


__ADS_3

qiran menidurkan lucas dalam boks tidurnya "selamat tidur anak mommy" qiran mengecup kening lucas lalu menyelimutinya


qiran berjalan ke arah lensi yang duduk di tepi ranjang kamarnya "apa kamu senang dengan kehamilanmu" tanya qiran


lensi menautkan kedua alisnya "kenapa kamu bertanya seperti itu? tentu aku senang dengan kehamilanku, ini kan yang aku inginkan saat menikah dengan mas tara" balas Lensi


qiran menggenggam tangan lensi "aku tuh kenal kamu dengan baik lensi, aku tahu betul raut wajahmu saat sedih maupun senang dan jelas kau tidak bahagia dengan kehamilanmu" balas qiran


mata lensi mulai mengembun, dia tidak menyangka qiran akan tahu apa yang ia coba sembunyikan "aku gak tahu qiran, aku gak tahu" ucap lensi yang tiba-tiba saja menangis karena pertanyaan qiran


qiran memeluk lensi "jangan menangis lensi" qiran mengusap punggung lensi degan gerakan lembut


"aku tahu kehamilanku adalah suatu hal yang membahagiakan, aku juga sebenarnya bahagia bahwa ada satu nyawa yang tumbuh dalam rahimku, tapi kali ini aku benar-benar ketakutan qiran, aku merasa takut setiap malam, aku takut pria yang menemaniku tidur setiap malam akan hilang saat aku melahirkan nanti seperti apa yag sudah kita sepakati sebelum menikah" qiran terus mengusap punggung lensi "di tambah lagi aku lihat di story pria itu kalau istrinya akan segera melahirkan, aku takut sekali qiran" ungkap lensi dengan linangan air mata


"jangan terlalu banyak berpikir lensi, itu tidak baik untuk kehamilanmu" ucap qiran


"tapi aku benar-benar takut" balas lensi


qiran mengurai pelukannya dan menatap lensi dengan lekat "apa kau sudah mulai mencintai tara" tanya qiran memastikan perasaan lensi


"aku gak tahu qiran, aku hanya merasa takut setiap ahri jika dia akan menghilang dari pandanganku nanti. aku selalu khawatir jika dia tidak mengabariku atau tidak ada di dekatku" balas lensi


qiran menghela nafas panjang "kau sudah jatuh cinta pada tara begitupun sebaliknya tapi kalian hanya takut untuk mengungkapkannya" qiran menggenggam kedua tangan lensi "jangan sepertiku lensi" ucap qiran dengan suara lirih "aku dulu tidak sadar terlalu mencintai jay saat bersamanya dan saat kami terpisah selama empat tahun itu bagaikan neraka untukku, aku kesulitan untuk bernafas dan tidak bisa tidur, dan kau tahu itu kan" ucap qiran


"tapi aku tidak yakin mas tara cinta sama aku" lensi begitu pesimis bahwa tara mencintainya karena dulu dia bersama pramudia selama 8 tahun dan lensi tahu tara tidak pernah jatuh hati pada orang lain selain bersama pramudia


"kalau kamu gak yakin tara mencintaimu, buat dia jatuh cinta denganmu lagi dan lagi" ucap qiran


"bagaimana caranya" tanya lensi

__ADS_1


qiran mengusap perut lensi "dengan ini, ini adalah bukti cinta kalian, jadikan dia ikatan kalian yang tidak bisa putus" ucap qiran penuh dengan hal tersirat


"bagaimana" bingung lensi


***


5 bulan kemudian


Lensi sedang melingkarkan tangannya di lengan tara "syukur ya mas, kalau anak kita sehat" ungkap lensi


"iya, mas juga bersyukur putri kita sehat" balas tara mengusap perut lensi yang sudah terlihat membesar itu


lensi dan tara baru saja memeriksakan kehamilannya di konter kandungan, kini kondisi kandungan lensi sudah menginjak usia 7 bulan dan berjenis kelamin perempuan yang itu artinya bahwa sebentar lagi mereka akan menimang anak dari pernikahan mereka


"mas tadi Mika telpon, katanya mau nginep di rumah, terus biasa dia minta bantuan mas buat hadepin mama mertua" ucap lensi


"iya, nanti biar mas yang akan mengatasi mama" balas tara


tara membantu Lensi duduk di meja makan bersama kedua adiknya yang sudah lebih dulu duduk di sana "gimana keadaan keponakan kami kak" tanya Mika dengan semangat


"baik, kondisinya baik-baik saja" balas lensi


"oh ya, gimana kerjaan kamu lancar kan" tanya lensi pada Mika yang kini baru berganti posisi yang awalanya hanya staff biasa berubah jadi sekertaris pribadi adrian


"baik kok" balas mika memaksakan senyumnya


Lensi raut wajah adiknya yang mencoba menutupi sesuatu "kalau ada sesuatu bilang saja sama kakak, jangan memendam sendiri" ucap lensi


"ini hanya masalah pekerjaan saja kak, jadi Mika akan mengurusnya sendiri" mika melirik kassy yang sedang sibuk menyantap makanannya "kassy saja yang dulu selalu kalah sama kak jonatahan sekarang kak jonathan gak bisa ngomong banyak sama kassy karena melihat kinerja kassy

__ADS_1


kassy memaksakan senyumnya "tapi itu bukan perkara mudah tahu untuk bisa melawan ucapan pria nyebelin itu sekarang" balas kassy


"walau dengan perjuangan besar, aku juga pasti bisa mengatasinya, lagian baru juga tiga bulan kerja jadi ini belum apa-apa" balas Mika


Lensi tersenyum hangat saat adiknya kini sudah mulai dewasa dalam menyikapi masalah dan tak lagi merengek seperti dulu "kakak senang kamu sekarang jauh lebih dewasa dalam menyikapi masalah, tapi jika kamu gak kerasan kerja di sana gak masalah kok mika, toh kakak juga sudah ambil alih perusahaan ayah dan nantinya akan kakak berikan ke kamu jadi jangan cemas akan kelangsungan hidup kamu nanti" ucap lensi dengan bersungguh-sungguh


mika berdecak "perusahaan itu adalah milik kita kak, jangan hanya memberikan itu sama mika nanti" mika tak suka jika lensi selalu mengatakan akan memberikan perusahaan ayahnya pada mika


"kakak juga gak butuh-butuh amat" lensi melirik tara "kakak kan punya suami yang bakal nurutin apapun yang kakak mau tanpa repot bekerja" ucap lensi dengan senyum mengembang


tara mengusap kepala lensi "iya, apapun akan mas kasih untuk istri tercinta mas" balas tara


"hoeeek" mika dan kassy serempak ingin muntah dengan tingkah kakaknya yang selalu bertingkah mesra dengan dua orang adiknya yang jelas masih jomblo


Lensi dan tara sudah mengungkapkan cinta mereka masing-masing setelah dorongan qiran yang ingin mereka sama-sama jujur akan perasaan mereka  dan ternyata memang mereka sudah saling jatuh cinta tapi terlalu takut untuk mengakuinya


***


Lensi sedang tidur bersandarkan dada bidang tara  dan terus mengusap dada bidang tara "mas" paggil lensi


"iya sayang" balas tara


"dia menghubungiku, dan ingin bertemu denganmu" ucap lensi dengan suara lirih


tara mengernyitkan dahinya "dia? dia siapa maksudmu" tanya tara


"pria di masa lalu mas, dia ingin bertemu mas" lensi duduk dan menatap tara dengan mata berkaca-kaca "apa mas akan meninggalkanku dan kembali padanya setelah anak kita lahir" tanya lensi


mereka mungkin memang sudah saling menyatakan cinta, tapi tara tidak pernah membahas pembatalan perjanjian mereka dan itu masih menjadi momok menakutkan untuk lensi

__ADS_1


"apa mas akan kembali padanya jika dia meminta mas kembali padanya" tanya lensi dengan tatapan penuh luka dan ras frustasi


tara tak bisa menjawab pertanyaan lensi dan hanya bisa diam menatap lensi dengan berjuta pikiran yang berkecamuk di dadanya


__ADS_2