
***
Qiran tengah sibuk mengepak barang-barangnya, untuk menginap di maldives menghadiri acara janji suci sahabatnya
“tit tit tit” terdengar pin pintu apartemen qiran berbunyi menandakan ada yang memencet sandi apartemennya untuk bisa masuk ke dalam
tanpa melihat siapa yang datang qiran sudah rahu siapa yang datang karena hanya satu orang yang tahu sandi apartemennya selain dirinya “sudah beres semua belum?” Tara berjalan dengan santai memasuki apartemen qiran
seperti memasuki rumahnya sendiri
qiran memasukan barang terakhir dan menutup kopernya “sudah selesai, tinggal bawa saja” qiran tersenyum ke arah sahabatnya
Pria tinggi dengan kulit sawo matangnya ikut berjalan masuk, Pramudia muncul dari balik punggung tara menyapa qiran
"hai qiran" sapa pramudia
"hai pram" balas qiran dengan ramah
“pakaian yang aku buat untukmu kamu bawa kan?” Tanya pramudia tersenyum ramah pada qiran
pramudia dan qiran terbilang cukup akrab karena mereka sudah mengenal selama hampir 8 tahun, perkenalannya terjalin sebelum jalinan asmara tara dan pramudia
mereka saling mengenal sewaktu pramudia mengikuti kontes desain di Inggris dan di sana qiran juga mengikuti kontes tersebut. perbedaannya qiran hanya mengikuti secara iseng sedangkan pramudia mengikuti kontes tersebut karena kecintaaannya pada dunia fashion
“tentu aku bawa “ qiran menepuk kopernya "terima kasih gaunnya, gaun itu indah sekali" ucap qiran
"terima kasih pujiannya, aku membuatnya khusus untukmu agar acaraku lebih berwarna, jangan hanya pakaian pria yang ada di acara kami" pramudia melingkarkan tangannya di pinggang tara
tara menoleh ke arah pramudia "aku bisa memakai pakaian itu jika kau mau" tawar tara
"plak" pramudia memukul gemas kekasihnya itu
"aku tak ingin kau kehilangan sisi maskulinmu, hanya untuk memakaia pakaian itu" pramudia mencebikkan bibirnya ke arah tara membuat tara begitu gemas dan mencubit gemas pipi pramudia
"cih" qiran berdecih ke arah dua pria di hadapannya
__ADS_1
"kalau mau mesra-mesraan balik saja ke kamar, tak usah pergi" kesal qiran dengan nada bercanda
pramudia mengurai genggamannya, berjalan menuju qiran dan langsung menggandeng tangan qiran “ya
sudah ayok jalan, biar kopermu tara yang bawa” pramudia dan qiran berjalan mendahului tara
tara menatap kesal kekasihnya yang meninggalkannya begitu saja dan menggandeng tangan sahabatnya “kok
jadi aku yang bawa sih sayang, biar qiran bawa sendiri, dia kana wanita kuat” teriak tara mengikuti langkah qiran dan pramudia kekasihnya
Tara melirik koper qiran yang ada di genggamannya dengan malas “nyebelin” gumam tara tetapi tetap membawa koper qiran menuju parkiran. Untuk kopernya dan pramudia sudah terlebih dahulu ia minta tolong petugas apartemen untuk di masukan dalam mobilnya
***
qiran, tara dan pramudia menuju bandara. Selagi menunggu jadwal pesawat mereka landas, mereka menunggu di kursi tunggu
"oh ya pram, mama kamu tahu rencanamu ini?" tanya qiran membuka obrolan
qiran cukup mengenal baik mama pramudia bahkan mama pramudia sempat meminta qiran yang jadi calon istri pramudia saja tapi tentu saja qiran dan pramudia menolak keras karena mereka mencintai orang lain. namanya cinta kan tak bisa di paksakan
"iya mama tahu" balas pramudia
"lalu bagaimana reaksi beliau?" tanya qiran
"awalnya tentu mama menolak keras keinginanku tapi tentu dia tidak bisa berbuat banyak" pramudia menatap qiran dengan sejuta luka yang ia tahan "tapi tujuh tahun perlawananya mungkin membuatnya sedikit lelah. dia hanya bilang kalau aku pasti akan sadar nanti saat aku ingin memiliki anak" balas pramudia
"lalu apakah nanti kau akan menyesal?" tanya qiran
pramudia mengarahkan tatapan matanya pada tara yang duduk tak jauh darinya dan sibuk memainkan ponselnya
"aku tak akan menyesal, dia adalah kebahagiaanku" pramudia kembali menoleh ke arah qiran "jika mungkin nanti kami akan berpisah dan sudah sama lelah maka kami akan berpisah secara baik-baik. untuk saat ini aku akan meraih cintaku karena dia kebahagiaanku" balas pramudia
qiran menarik sudut bibirnya ke atas "aku bangga dengan keberanian kalian mengambil keputusan sulit ini" qiran tersenyum miris "karena aku tak sanggup berani seperti kalian" ucap qiran dengan bersungguh-sungguh
pramudia mengusap bahu qiran pelan "aku dengar sedikit ceritamu dari tara, dan itu terdengar begitu sulit" ungkap pramudia
__ADS_1
"ya sulit memang, sulit sekali untuk tidak berlari ke arahnya tapi aku juga tak sanggup jika terlalu jauh darinya" balas qiran
"siapa sebenarnya pria itu, apa aku mengenalnya?" tanya pramudia
qiran hanya tersenyum ke arah pramudia "maaf pram, ada beberapa hal yang tak ingin aku beritahukan" balas qiran
"aku mengerti jika kau ingin menyimpannya" balas pramudia dengan tersenyum hangat ke arah qiran
"penerbangan dengan tujuan Maladewa akan segera landas, silahkan para penumpang menuju pesawat" bunyi pengumuman bandara
"itu sudah ada pengumuman masuk, ayo ke sana" ajak pramudia
"ayok" qiran menoleh ke arah tara " yok tar" ajak qiran
tara bangun, dan menenteng koper mereka bertiga untuk naik dalam pesawat
***
setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam, akhirnya ketiga muda-mudi itu sampai di maldives. kota tujuan mereka untuk melaksanakan janji suci dua muda-mudi pramudia Darmawan dan Kennedy Dirgantara
Qiran, pramudia dan tara sampai di hotel yang mereka sudah pesan jauh-jauh hari untuk tinggal selama di maldives
Tara berjalan menemani qiran menuju kamarnya yang berada di lantai paling atas, kamar yang memiliki view paling bagus. tara menyiapkan kamar tersebut karena qiran tinggal sendiri jadi tara ingin memberikan kamar terbaik untuk qiran, dan yang terpenting karena qiran adalah penopang utama keuangan mereka, bukannya tara dan pramudia tak punya uang, tentu mereka punya tapi qiran yang notabene adalah bos tara dan juga sahabat tara, tentu qiran ingin memberikan kado untuk keduanya dan kado yang qiran berikan adalah menopang semua pengeluaran selama di maldives
“qiran, nih kuncinya, nanti teman pram langsung bertemu kita di tempat makan” ucap tara menyerahkan kunci kamar qiran
"mereka sudah sampai?" tanya qiran
"belum, tapi sih katanya bentar lagi, mereka baru turun dari pesawat, jadi mereka sampai sini bertepatan dengan waktu kita makan malam" tara meninggalkan qiran menuju kamarnya dan sang kekasih hati
“oke kalau begitu” qiran berjalan memasuki kamarnya
Qiran meletakkan kopernya disudut kamar, berjalan ke arah balkon kamarnya “pinter juga tara
pilihin kamar buat aku” gumam qiran melihat pemandangan dari arah balkon yang terlihat jelas di sana hamparan pantai biru
__ADS_1
qiran mengamati pemandangan di sana yang terlihat warna jingga pertanda senja segera datang “melihat laut, aku merindukanmu” gumam qiran tersenyum namun matanya menyimpan banyak kepedihan dan sejuta kenangan akan seseroang