
Nidya beranjak dari duduknya dengan susah payah "kamu harus kuat nak" ucap Nidya mengusap perutnya yang terasa di putar dan begitu sakit
Lucas menahan tangan Nidya agar tidak keluar kamar "tunggu sayang, sebentar lagi dia akan keluar dan sakitnya akan hilang" Nidya berusaha melepas tangan Lucas dengan kasar
"Lepas! " teriak Nidya mendorong Lucas dengan sisa tenaganya
Nidya keluar kamarnya dengan tertatih-tatih "tolong" ucap Nidya dengan sisa tenaganya
keningnya sudah banjir keringat dan begitu lemas tapi ia tetap berusaha kuat untuk melangkah agar bisa menyelamatkan anaknya
"tolong" cicit Nidya berusaha meminta bantuan sekuat tenaganya
Nidya akan meraih pegangan menuju anak tangga "tunggu Nidya" Lucas menahan tubuh Nidya agar tidak melanjutkan langkahnya kembali
"kita masih bisa punya anak lagi nanti sayang, jangan ngeyel ya sayang, tunggu saja sebentar lagi, kamu gak akan kenapa-napa kok" Lucas menenangkan Nidya agar mau diam saja dan menunggu bayi dalam kandungan Nidya gugur
"ini anak kamu mas" rengek Nidya "dia anak kita, aku gak pernah selingkuh dari kamu mas, tolong selamatkan anak kita" mohon Nidya meminta pengertian Lucas
"itu bukan anak mas, mas itu belum sembuh jadi bagaimana mungkin itu anak mas" elak Lucas
"ya ampun mas" Nidya berusaha melepaskan genggaman tangan Lucas tapi kali ini Nidya tidak punya tenaga untuk melawan Lucas yang jelas memiliki tenaga lebih besar darinya apalagi kini Nidya sedang tidak baik-baik saja
"ayo masuk lagi ya sayang" Lucas mencoba meraih tangan Nidya tapi Nidya sekuat tenaga berpegangan pada Pegangan tangga
"ayo Nidya" paksa Lucas
"engga mau" Nidya masih memegang pegangan Tangga dengan sisa tenaganya
"Tuhan tolong lah aku, aku mohon" pinta Nidya dalam hatinya ingin siapapun bisa menolongnya agar anaknya bisa selamat
"ayo Nidya, jangan bantah mas, biasanya kamu selalu patuh sama mas" ucap Lucas
"aku gak mau mas, aku harus menyelamatkan anak kita " Nidya terus memohon dengan isak tangis agar Lucas mau melepaskannya
"jangan membantah mas" Lucas mengangkat tubuh Nidya dengan sekali geraka
"enggak mas" Nidya terus meronta dengan sisa tenaganya
"tolong" teriak Nidya dengan sisa tenaganya
"brak" Lucas membuka pintu dengan kasar
"apa-apaan ini! " suara bariton seorang pria menggema dengan begitu kuatnya
Lucas membalik tubuhnya, matanya membelalak lebar "ayah" beo Lucas begitu gugup mendapati ayah mertuanya ada di hadapannya
__ADS_1
Nidya begitu bahagia bisa melihat ayahnya "ayah tolong Nidya" pinta Nidya dengan suara tercekat menahan sakit di tubuhnya
melihat Keadaan anaknya, ayah Tara melangkah lebar ke arah Lucas "ada apa sayang" tanya Ayah Tara
Nidya menengadahkan tangannya "tolong Nidya yah, tolong anak Nidya " Pinta Nidya dengan suara serak
Ayah tara melihat kondisi putrinya dan juga ada darah di pangkal pahanya "sayang" Ayah tara berniat mengambil Nidya
"gak yah, dia istriku. Ayah gak boleh mengambilnya " tolak Lucas
"kamu gak lihat dia kesakitan" teriak ayah Tara
"dia akan baik-baik saja" balas Lucas
"ayah akan bawa dia ke rumah sakit" ayah Tara berusaha mengambil nidya tapi masih saja di tahan Lucas
"enggak yah" tolak Lucas
"berani kamu Lucas" bentak Ayah Tara
"sakit yah" rengek Nidya dengan wajah memelasnya
"Raymond! " teriak Ayah Tara dengan suara lantang
"panggil Raymond ke sini sekarang mah" titah Ayah Tara dengan suara lantangnya yang masih berusaha menarik tubuh Nidya tapi masih di tahan oleh Lucas
Raymond yang di panggil ayahnya berlarian dengan kencang menghampiri ayahnya "ada apa ayah" tanya Raymond dengan suara terengah-engah
"ambil kakak kamu biar ayah tahan Lucas " titah Ayah Tara
"hah" Raymond terbengong -bengong akan perintah ayahnya
"cepat! " teriak ayah tara
"iya yah" Raymond mengikuti saja perintah ayahnya dan berdiri di posisi ayahnya untuk mengambil tubuh Nidya dari gendongan Lucas
"kakak" Raymond jadi panik melihat kondisi kakaknya yang sedang menahan sakit dan ada darah di area pangkal pahanya
"tolong kakak ray" pinta Nidya
"iya kak" Raymond akan mengambil tubuh Nidya tapi masih di tahan oleh Lucas
"lepas kak" pinta Raymond dengan nada tidak bersahabat
"enggak" balas Lucas
__ADS_1
ayah tara menoleh ke arah istrinya "bantu ayah mah" titah Ayah Tara
"iya yah" mama Lensi membantu ayah Tara mencekal tangan Lucas
"Nidya itu istri aku, kalian gak ada hak misahin kita" elak Lucas berusaha terus memegangi tubuh Nidya dengan kuat
dengan mengeluarkan tenaga sekuatnya ayah Tara dan mamah Lensi akhirnya bisa memegang tubuh Lucas "Nidya " teriak Lucas saat Nidya sudah berada dalam gendongan Raymond
"segera bawa kakakmu ke rumah sakit, ayah akan urus orang ini dulu" titah Ayah Tara
"iya yah" Raymond begegas turun ke lantai bawah untuk menolong kakaknya yang sedang kesakitan
"sabar kak, Raymond akan bawa kakak ke rumah sakit" ucap Raymond yang begitu khawatir dengan keadaan Nidya
"ada apa Raymond" tanya Daddy Jay saat melihat Raymond berlari dengan membawa Nidya dalam gendongannya
"tanya ayah saja, aku mau bawa kakak ke rumah sakit" balas Raymond masih dalam keadaan berlari
"biar om yang nyetir " Jonathan berlarian mengejar Raymond agar bisa membantu sebab dengan keadaan Raymond yang panik itu akan sangat berbahaya saat membawa mobil ke rumah sakit
"ada apa ini dad" Mommy Qiran nampak khawatir dengan keadaan Nidya tapi ia bingung sendiri harus apa
"kita ke atas mom, tanya sama tara" ajak Daddy Jay
"iya dad" daddy Jay dan mommy Qiran melangkah naik ke lantai atas di ikuti kakek Attaf, nenek Tasmirah dan Juga edeline
mereka sampai melupakan kalau punya lift dan memilih baik tangga secara manual
"bugh bugh" ayah tara menghajar Lucas habis-habisan sampai wajah Lucas sudah tak berbentuk
"apa kamu gila Lucas!" teriak ayah Tara dengan tatapan nyalangnya
mamah Lensi hanya menutup mulutnya melihat suaminya sedang mengamuk
"Nidya akan baik-baik saja setelah ini yah" balas Lucas
"kamu gak lihat tadi kalau dia sedang berdarah hah" ayah Tara kembali menghajar Lucas saking kesalnya dengan pria yang katanya sangat mencintai putrinya tapi malah bilang kalau putrinya akan baik-baik saja padahal Lucas juga melihat kalau Nidya mengeluarkan darah di area selangkangannya
"stop tara! " Daddy Jay menahan tubuh Tara agar tidak terus menghajar puteranya
"lepas Jay, aku mau hajar anak kurang ajarmu itu" teriak ayah tara meronta agar daddy Jay melepaskannya
"kita bicarakan baik-baik ya tara, jangan emosi" pinta Daddy Jay masih memegang kuat tubuh ayah Tara
ayah tara melepas pegangan Daddy Jay dengan kasar "anak kamu" ayah Tara menunjuk ke arah Daddy Jay " ingin membunuh anakku, cucu kita! " teriak Ayah Tara dengan suara lantang
__ADS_1