You Are My Regret

You Are My Regret
Satu sekolah


__ADS_3

***


Setelah pertemuan pertamanya dengan jay, qiran makin sering bersisipan dengan jay, dimanapun. Mulai dari sekolah, mall, perpustakaan dan tempat-tempat yang lain yang dikunjungi qiran.


banyaknya pertemuan mereka karena setiap tempat yang di kunjungi qiran ternyata adalah tempat kerja paruh watu jay


Hal ini bukan karena jay sengaja berada di hadapan qiran tetapi karena jay yang menjalani berbagai macam pekerjaan paruh waktu untuk membantu kepala panti mencari uang untuk makan penghuni panti. Dan walaupun qiran sering berpapasan dengan jay, mereka tak pernah saling bertegur sapa seolah tak saling mengenal


satu sama lain. Tapi walaupun seperti itu qiran sering memperhatikan jay dari jauh bahkan qiran memberi sumbangan ke panti tempat jay tinggal dengan nama anonym.


***


Tak terasa 2 tahun terlewati, qiran dan tara kini sudah memasuki bangku SMA, mereka masih bersekolah di sekolah yang sama karena yayasan sekolah mereka menyediakan pendidikan dasar sampai tingkat SMA'


Qiran dan tara Nampak jalan bersama memasuki sekolah mereka “kita sekelas lagi gak sih qiran?” Tanya tara


Qiran memutar jengah matanya “malas banget, sekelas denganmu semenjak kita TK, sekarang di tambah SMA kita bareng lagi” balas qiran yang sebenarnya bosan selalu satu kelas dengan tara semenjak mereka masuk taman kanak-kanak


“jangan khawatir qiran, setelah aku lulus aku mau kuliah di luar negeri, jadi kau tak perlu takut melihat wajahku lagi” balas tara


“beneran ya?” tunjuk qiran pada tara


Tara menangkap tangan qiran “iya, ayok jalan” tara merangkul bahu qiran untuk masuk dalam kelas


Semua teman sekelas qiran duduk untuk memulai kelas yang baru, tapi kebanyakan dari mereka satu sekolah semenjak mereka SD, walaupun tidak semua dari mereka satu kelas seperti tara dan qiran yang selalau bersama


“pagi” sapa guru yang menjadi wali kelas mereka


“pagi pak” sapa balik murid kelas 1 a, kelas dimana qiran dan tara berada


“ah, bagiamana kabar liburan kalian?” Tanya pak guru


“baik pak, kami semua baik” balas kim Dohyoon ketua kelas qiran semasa SMP yang kebetulan kembali sekelas dengan qiran lagi


“kalian mungkin sudah tak asing lagi dengan teman sekelas kalian karena kebetulan banyak dari kalian yang berasal dari SMP yang sama dan bahkan mungkin SD yang sama. Jadi kali ini bapak hanya akan

__ADS_1


mengenakan orang baru saja disini” ucap pak guru bernama Do Baekhyun wali kelas qiran


“harusnya sebelum murid kenalan, gurunya yang kenalan” seru tara menyela pembicaraan pak baekhyun


Pak baekhyun tersenyum “oh ya, benar juga” pak baekhyun membenarkan posisinya “nama saya Do baekhyun guru matematika dan akan menjadi wali kelas kalian selama kalian menempuh pendidikan SMA” ucap pak baekhyun memperkenalkan dirinya


“haaaa?” ucap heran satu kelas 1 a


“apa gak salah pak? 3 tahun? Kita gak ganti wali kelas gitu?” Tanya dohyoon


“tidak, ini kebijakan sekolah untuk mendapampingi kalian sampai kalian lulus dan menempuh pendidikan selanjutnya” balas pak baekhyun


“ok, jay silahkan maju untuk memperkenalkan diri” pinta pak baekhyun melirik jay yang duduk di kursi paling belakang


Qiran menengok kebelakang,  matanya membelalak lebar dengan adanya jay di kelasnya, sejak kapan ada jay di sana kenapa dirinya tak menyadari keberadaan jay di sana.  Sedangkan jay hanya melangkahkan kakinya dengan tatapan biasa saja seolah tak ada apapun yang bisa memperngaruhinya


Jay berdiri menghadap teman barunya “namaku jay handerson, salam kenal” jay membungkuk memberi hormat salam perkenalan di kelas


“kau bukannya dulu sekolah  di sebelah?” Tanya tara yang cukup familiar dengan wajah jay karena setiap tara menghampiri qiran entah kenapa ia juga bersisipan dengan jay


Jay tersenyum kecut ke arah rachel  “iya sekolah orang tak mampu itu, aku bersekolah disini bukan karena aku mampu tapi karena aku mendapat beasiswa” balas jay tak merasa malu sedikitpun perihal dirinya yang orang miskin


“ih, gak level banget” seru Rachel menatap remeh jay


“Rachel!” teriak pak baekhyun tak suka nada sindiran muridnya itu


“maaf kalau kalian kecewa jika aku mengotori kelas kalian dengan adanya orang miskin dan yatim piatu sepertiku” balas jay membungkuk kembali pada teman sekelasnya


“kalau tahu mengotori, lebih baik jangan bersekolah disini” balas Rachel dengan nada mengejek


“Rachel! Diam!” bentak qiran membuat Rachel langsung diam dengan mengatupkan bibirnya rapat


Qiran memang tak pernah banyak bicara, tapi di sekolah qiran tak ada yang berani membantah ataupun membuat masalah dengan qiran karena qiran di kenal sebagai anak orang paling kaya di seoul dan jago taekwondo, tentu membuat orang tak ada yang berani mengganggu atau menyinggungnya


Dia langsung membenarkan posisi duduknya menatap qiran “iya qiran, aku diam” balas Rachel

__ADS_1


“ya sudah duduk kembali” ucap pak baekhyun mempersilahkan jay duduk kembali ke kursi yang tadi ia duduki


Jay kembali ke kursinya, dan membuka tasnya untuk mengambil buku untuk mulai belajar


Semua orang belajar dengan serius mendengar arahan dari guru


“triiiing”terdengar suara bel sekolah pertanda istirahat


“ke kantin yuk qiran” ajak tara


“males, mau tidur” balas qiran


“kau pasti habis latihan semalam”ucap tara yang tahu hari minggu adalah hari latihan taekwondo qiran “ya sudah aku belikan makanan nanti” tara langsung berlari keluar menyusul teman-teman yang lain


Qiran menyandarkan kepalanya di meja menatap ke arah jendela di sampingnya “apa kau masih


mengingatku?” Tanya jay yang masih betah duduk di kursinya, kelasnya yang kosong jadi qiran bisa mendengar suara jay dengan jelas


Qiran yang berada di barisan nomor dua berjarak 3 meja dari  jay yang ada di belakangnya menoleh kearah jay


dan hanya terdiam “ah mingkin kau lupa” kekeh jay melihat raut wajah qiran ang sepertinya sedang mengingat siapa dirinya


“aku ingat, kau jay kan” balas qiran


Jay tersenyum ”ah, ku kira kau melupakanku” sahut jay


“aku bukan orang yang mudah melupakan orang” balas qiran


“ah tadi kau bilang mau tidur ya, lanjutkan saja” ucap jay


“hmmm”balas qiran kembali menyandarkan kepalanya “kenapa kau tak ke kantin?” Tanya qiran dengan posisi yang sama menyandarkan kepalanya di atas meja


“aku tak punya uang membayar makanan di kantin, kau tahu sendiri disini makanan mahal dan makanan di kantin tak masuk beasiswa ku” balas jay dengan jujur


“oh” balas qiran kembali memejamkan matanya sembari menikmati hembusan angin dari jendela di sampingnya yag sengaja ia buka

__ADS_1


Jay ikut menyandarkan kepalanya di meja seperti qiran menatap langit dari balik jendela, di mana qiran tepat 3 meja di depannya


__ADS_2