
***
Qiran berjalan menuju ke kantornya dengan membawa pot bunga di tangannya
Pak satpam melirik pot yang ada di tangan qiran saat memasuki kantor “non rissa tumben sekali bawa bunga?” Tanya pak satpam menunjuk ke arah pot bunga di tangan qiran dengan lirikan matanya
Qiran melirik pot bunga yang ada di tangannya “oh ini" qiran sedikit mengangkat bungan tersebut "hanya pengen ganti suasana di kantor saja” balas qiran tersenyum ramah pada pak satpam yang rutin menyapanya setiap pagi
pak satpam menganggukan kepalanya “oh ya nona, tadi ada kiriman dari pak tara untuk nona, tadi saya sudah taruh di ruangan nona” ucap pak satpam
“iya pak tadi tara sudah kirim pesan ke saya untuk kasih tahu itu . terima kasih” balas qiran kembali melanjutkan langkahnya
Qiran berjalan ke ruangannya dan langsung rebahan di karpet bulu yang ada di ruangannya “ah capek” gumam qiran yang memang tak tidur sejak kemarin
qiran hanya ingin sekedar merebahkan tubuhnya yang lelah untuk sesaat
Qiran menoleh ke arah kotak besar di sampingya “bawa apaan sih tara?” gumam qiran membuka kotak tersebut
“gaun” gumam qiran mengangkat gaun yang ada dalam boks berwarna biru laut, warna kesukaan Qiran
Qiran langsung menghubungi tara “ada apa kau memberikanku gaun sebagus ini?” Tanya qiran memindai gaun tersebut yang nampak begitu indah
“ah itu buatan kekasihku, dia memberikannya untukmu agar bisa datang ke acara janji cinta kami” balas tara tersenyum bahagia
Qiran tersenyum ikut bahagia dengan kebahagiaan sahabatnya “apa sekarang kekasihmu sudah mau hidup berdua denganmu tanpa perduli anggapan orang lain?” Tanya qiran
“iya, akhirnya Pramudia mau menghabiskan sisa hidup kami berdua tanpa ragu dan malu lagi dengan anggapan orang lain” balas tara tersenyum bahagia
“apa dia sudah tak peduli celotehan mamanya?” Tanya qiran lagi
“tentu saja dia peduli, tapi pramudia bilang padaku lebih takut kehilanganku dari pada di marahi mamanya” balas tara terkekeh
__ADS_1
“terserah kalian saja” balas qiran tak ingin terlalu menanggapi masalah sahabatnya
bagi qiran menjalin hubungan adalah antara dua orang, bukan tentang orang lain di sekitarnya jadi dia sama sekali tak mempermasalahkan pilihan sahabatnya yang memilih menyukai pria.
menyukai sesama jenis mungkin adalah menyimpang di sekitar dan mungkin dengan menyukai pria dia tak akan mungkin punya keturunan dalam hubungannya tapi bukankah cinta dan hidup bersama tak melulu harus ada keturunana, karena saat mencintai seseorang yang kita cintai adalah orang itu bukan karena adanya makhluk lain dalam kehidupan mereka
cinta datang dari diri masing-masing, bukan karena apa yang di berikan atau kita terima tapi lebih ke hati kita yang merasakannya
“kosongkan jadwalmu kamis sampai sabtu, karena kita mengadakannya di maldives” ucap tara
“jauh amat?” keluh qiran merasa maldives begitu jauh untuknya
“iya jauh sih, soalnya sekalian liburan di sana” balas tara
“berapa orang yang kamu ajak” Tanya qiran
“aku hanya mengajak kau saja dan pramudia mengajak 2 orang, aku belum tanya siapa sih ke dia” balas tara
“oke kalau gitu, aku akan hadir di acara bahagiamu” balas qiran
“iya aku ngerti tara, aku pasti datang. Aku juga tahu kalau kau hidup sampai detik ini karena ayahmu tak sanggup mengusikku” balas qiran mengakhiri panggilannya
***
Qiran menyelesaikan acara menulisnya sampai jadwal ia pulang kantor seperti biasa, dan dia akan berjalan pulang setiap jam 9 malam di saat kantor sudah sepi dan hanya ada beberapa orang saja yang kadang sedang lembur, tapi kadang juga hanya tinggal dia sendiri yang berada di kantor
“ah selesai juga” gumam qiran meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena sehaian berada di depan laptopnya
Qiran merapihkan tempat kerjanya, memakai masker dan kacamata tebalnya berjalan keluar ruangan dengan langkah santai
“sudah selesai kerjanya” Tanya seorang pria mengagetkan qiran
Qiran menoleh ke arah sumber suara “kamu” gumam qiran mengelus dadanya yang terkejut, ia melihat jay yang berdiri dan menyandarkan tubuhnya di dekat pintu ruang kerjanya
__ADS_1
“aku akan mengantarmu pulang” ucap jay
qiran mengernyitkan dahinya “untuk apa kau mengantarku pulang?” Tanya qiran
Jay menautkan alisnya “ kenapa? Aku tak boleh mengantarmu?” Tanya jay balik
“aku tak ingin kau antar, aku bisa pulang sendiri” qiran berjalam mendahului jay
Jay berlari dan menahan tangan qiran “ bukannya kita sudah lebih akrab?” Tanya jay memastikan kedekatan dirinya dan qiran yang jay pikir mulai berkembang karena kemarin mereka sempat bicara tentang cinta pertama mereka
Qiran menaikkan sebelah alisnya “ sejak kapan? sejak kapan kita dekat” Tanya qiran
“kemarin kan kita sudah mengobrol jauh lebih bebas, kita bahkan bercerita tentang hal cukup privasi” balas jay
“maaf, sepertinya kau salah paham tentang obrolan kita kemarin. aku tak merasa akrab denganmu” balas qiran
menghempas tangan jay agar tak menyentuh tangannya dan kembali melanjutkan langkahnya
Jay melihat punggung qiran yang makin jauh “sebenarnya kau orang seperti apa?” gumam jay bertanya pada dirinya sendiri melihat punggung makin menjauh
qiran buru-buru masuk dalam lift, menekan angka satu untuk turun ke bawah
"ting" pintu tertutup, qiran dengan jelas melihat jay yang menatap dirinya dengan tatapan kecewa dan tak pecaya qiran yang mengabaikan jay
"brak" qiran sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tak terjatuh saat pintu lift tertutup
qiran menoleh ke arah tangannya, matanya mengembun melihat arah tangan yang di pegang jay tadi "aku merindukanmu dan ingin memelukmu jay" tangis qiran dalan hatinya, kata yang hanya bisa ia ucapkan dalam hatinya tanpa bisa terlontar dari bibi mungilnya
ingin sekali dirinya mengatakan kata-kata manis untuk jay, tapi beralih menjadi kata ketus karena tak ingin diketahui identitasnya oleh jay
"ini cerita karangan jadi jangan terlalu di ambil hati perihal ada tokoh yang suka lawan jenis. ini murni khayalan saya dalam membuat cerita ini , saya hanya ingin benar-benar mengekspreksikan apa yang ada dalam benak saya dalam membuat cerita ini tanpa di batasi.
saya bilang di awal karena takut ada berekspetasi kurang baik karena kita tinggal di negara yang tak memakai paham itu.
__ADS_1
tapi dalam menulis saya tetap akan berusaha agar tidak terlalu mendramatisir hubungan tara dan pramudia terlalu dalam agar tidak menyinggung pihak manapun"