
***
Di semester awal kuliah, jay dan qiran sibuk dengan urusannya masing-masing membuat itensitas pertemuan mereka menjadi
berkurang, apalagi qiran yang mengambil 2 jurusan dan selalu ingin cepat pulang.agar bisa menemani nenek alaya
“nenek” qiran sedang bermanja
pada nenek alaya dengan tidur di menyandarkan kepalanya di pangkuan nenek alaya
Nenek alaya mengusap kepala qiran yang sedang tidur di pangkuan sang nenek “ada apa cucu nenek?” Tanya nenek alaya
“nenek selalu sehat ya” ucap
qiran
Nenek alaya tersenyum hangat
“jika tuhan menghendaki nenek sehat terus pasti nenek akan selalu sehat” balas nenek alaya
“nek” qiran mendongak menatap
neneknya “gimana caranya bisa sabar menghadapi daddy yang keras kaya batu itu?” Tanya qiran meminta pendapat pada neneknya yang bisa selalu sabar menghadapi daddy attaf
“dia daddy kamu qiran” ucap nenek
alaya memperingati cara bertutur kata pada orang tuanya
“qiran tahu nek kalau daddy itu orang tua qiran, tapi entah
kenapa setiap kami bicara kami selalu beda pendapat” balas qiran menyampaikan keluh kesahnya pada sangat nenek
nenek alaya terus mengusap kepala qiran “sikap keras daddy kamu mungkin ada andil kakek kamu yang dulu terlalu memanjakan attaf sejak kecil, dulu dia selalu mendapatkan apa yang di inginkan tapi saat adiknya lahir" nenek alaya menatap manik mata qiran " yaitu akhtar uncle kamu, kakekmu jadi mulai sadar terlalu memanjakan attaf” nenek alaya menerawang kejadian masa lalu
“kakekmu ingin daddy mu bisa jadi lebih baik dan membuatnya harus berusaha keras terlebih dulu jika ingin sesuatu tapi tanpa sadar sikap itu membuat daddy
mu selalu iri pada akhtar yang mendapatkan apa yang ia inginkan” jelas nenek alaya
Qiran duduk menatap nenek alaya
“apa kakek pilih kasih pada uncle akhtar?” Tanya qiran
Nenek alaya menggelengkan
kepalanya “tentu saja tidak, sikap kakek yang selalu memberikan sesuatu pada anak-anaknya berdasarkan usaha juga berlaku untuk uncle kamu. Tapi uncle mu memang terlahir dengan kesabaran dan otak yang cerdas sehingga selalu bisa mengalahkan daddy kamu dari segi manapun walaupun sebenarnya mungkin uncle kamu tak ada niat
untuk menyaingi daddy kamu” balas nenek alaya
Qiran mengangguk “kadang aku juga kesal dengan diriku sendiri kenapa sikap keras dan tak mau mengalah daddy turun kepadaku, kadang aku sadar itu tak baik tapi tetap secara naluriah itu seperti
sudah tak bisa di buang” kesal qiran
“belajarlah memahami kesulitan
orang lain qiran. dengan.emahami kesulitan orang lain kita bisa belajar bahwa kadang tidak semua hal yang kita inginkan bisa di dapatkan. mungkin sikap keras itu akan perlahan pergi” nasehat nenek alaya
“iya nek” balas qiran
***
Jay sedang sibuk bekerja paruh
waktu di salah satu rumah sakit besar di London sebagai perawat
“hai jay” qiran menepuk punggung
jay pelan
Jay menoleh “hei kau di sini?’
Tanya jay
“iya, abis nemenin nenek chek up”
balas qiran
“ah nenekmu periksa di sini?”
Tanya jay
Qiran mengangguk “kamu kerja
disini sejak kapan” qiran melirik pakaian jay yang sedang memakai seragam perawat
“baru dua bulan, lumayan lah buat
tambahan makan sehari-hari” balas jay
Qiran mengangguk paham “jay, kamu minggu sibuk tidak?” Tanya qiran
“tidak, kebetulan aku mengambil
libur di hari minggu, kenapa?” Tanya jay
“pengen jalan-jalan tapi gak ada
teman. Selama di sini aku belum sempat kemana-mana jadi pengen jalan-jalan mumpung uncle gak ada kerjaan dan bisa menemani nenek” balas qiran
“ya sudah, ayok jalan” balas jay
“ya sudah, jam 10 aku ke
apartemen jemput kamu ya” ucap qiran
“oke” balas jay
“ya sudah, aku samperin nenek
dulu ya” qiran melambaikan tangannya meninggalkan jay menuju kamar neneknya yang
sedang menjalani medical check up
***
Pagi ini qiran sedang sarapan
bersama uncle akhtar dan nenek alaya “kamu rapih amat qiran? Bukannya minggu gak ada kuliah ya?” Tanya uncle akhtar
“pengen jalan sama teman qiran
__ADS_1
uncle, kan selama satu semester ini belum kemana-mana. Jadi mau jalan-jalan biar refres otaknya, kan senin mau UAS” balas qiran
“maaf ya qiran, kamu terlalu
sibuk menemani nenek sampai gak sempat main” ucap nenek alaya dengan nada penyesalan
“gak papa nek, qiran senang kok
bisa menemani nenek” balas qiran
“emang kamu mau pergi sama
siapa?” Tanya uncle akhtar
“sama jay uncle” balas qiran
“temanmu yang dari korea itu?”
Tanya uncle akhtar
“iya uncle, dari kemarin kami
sibuk sama urusan masing-masing jadi pengen ajak jalan sahabat qiran” balasnqiran
“ya sudah, yang penting hati-hati
di jalan” balas uncle akhtar
“oh ya uncle, minta pengawal
jangan ikutin qiran ya, jay orangnya jeli banget, nanti dia jadi gak nyaman kalau ada pengawal yang ikutin qiran” pinta qiran
“iya, nanti uncle suruh mereka
buat jangan ikutin kamu hari ini” balas uncle akhtar
“terima kasih uncle” balas qiran mencium pipi uncle akhtar
*
Qiran berjalan santai ke arah
apartemen miliknya yang jadi tempat tinggal jay. Apartemen yang letaknya di lantai 12 kamar 42
“ganti password gak ya” gumam
qiran mencoba menekan pin pintu apartemen
“tit tit tit” pintu apartemen
terbuka
“ternyata tidak di rubah” qiran
berjalan masuk apartemen dan memindai apartemennya yang terlihat rapih dan bersih, tak ada yang di rubah jay sedikitpun dari apartemen qiran. Bahkan cat
berwarna ungu itu masih sama seperti dulu saat qiran datang untuk merenovasi apartemenya
Jay yang sedang memakai handuk
yang diliitkan diperut dan mengusap kepalanya dengan handuk kecil berjalan santai tanpa menyadari keberadaan qiran
“wauuuwwww” cicit qiran melihat
Jay melirik qiran dan melihat
arah mata qiran yang tertuju pada dada dan perutnya yang terpampang polos itu
“qiran!” teriak jay buru—buru
menutupi dadanya dengan handuk kecil yang ia pegang walaupun tak sampai
menutupi seluruhnya
Qiran terkekeh "biasa aja kali
jay” sahut qiran dengan entengnya
Jay berlari masuk kamarnya untuk
berpakaian “kamu kok gak bilang kalau sudah sampai sih” teriak jay dari dalam kamarnya
Qiran duduk santai di sofa “kayanya kemarin aku bilang jam sepuluh jemput kamu deh” ucap qiran dengan santainya
“jay melirik jam dinding di
kamarnya “ini masih jam 9.25 qiran” kesal jay
Qiran ikut melirik jam tangannya
“oooops sorry” ucap qiran kembali terkekeh
Jay keluar dengan wajah
memberengut “jangan kebiasaan masuk seenaknya qiran, kita itu lawan jenis. Bagaimana nanti kalau kita khilaf” ucap jay
Qiran bangun dan menghampiri jay
“memang kenapa kalau khilaf” qiran mendekatkan wajahnya ke telinga jay untuk berbisik ”kau
takut jatuh cinta padaku ya” ledek qiran
“deg” hati jay serasa ketar-ketir
ingin segera lompat dari dadanya karena berdetak terlalu cepat membuat dia diam mematung
Qiran menarik tubuhnya kembali
dan menepuk pelan dada jay “jangan terlalu banyak berpikir” tawa qiran pecah melihat jay yang gugup
“qiran!” kesal jay
“ayo jalan” ajak qiran
menggandeng lengan jay, bergandengan layaknya sepasang kekasih membuat jantung jay makin tak karuan
“masa iya, aku tertarik sama
qiran” batin jay berontak menayakan apa iya dia menaruh hati pada seseorang yang sudah di kenalnya selama hampir 5 tahun
__ADS_1
“kita mau kemana ya jay” Tanya
qiran
“ah” jay tersadar dari lamunannya
Qiran menatap kesal jay “kita mau
kemana?” ulang qiran
“kamu maunya kemana?” Tanya jay
“emmmm” qiran Nampak berpikir
keras
“nanti saja kita pikirkan saat
jalan” qiran menggandeng lengan jay keluar pintu apartemen
*
Qiran menyetir mobilnya melihat
jalanan “kemana ya” gumam qiran
“gimana kalau kita nonton” ajak
jay
“boleh” qiran memutar mobilnya
menuju bisoskop yang ia tahu
“jay, kamu gak bikin SIM di
sini?” Tanya qiran
Jay mengernyitkan dahinya “buat
apa, punya mobil saja enggak. Kalau di korea kan karena aku yang selalu di suruh nyetir sama kamu dan tara” balas jay kesal karena dirinya yang berakhir jadi sopir tara dan qiran saat jay sudah cukup umur untuk mempunyai SIM
Qiran tersenyum penuh kemenangan “nah itu kamu ingat” sahut qiran
Jay menghela nafas, tahu akan
maksud pertanyaan qiran “nanti kalau aku gajian aku akan mengurus SIM di sini” balas jay
“kau pakai uangku saja dulu, nanti kau bisa mencicilnya saat gajian” balas qiran
Jay menatap tak suka pada qiran dan qiran bisa lihat itu
“aku malas di antar sopir jay” ucap qiran dengan tatapan memelas “aku melakukan ini untuk diriku, kalau menunggu kau gajian lama dong” tambah qiran
"baiklah, aku akan mengurusnya
saat waktu luang” balas jay pasrah pada keinginan qiran
"terima kasih” qiran tersenyum
bahagia maksud hatinya tersampaikan
Tak sampai 30 menit qiran dan jay
sampai di bioskop
Jay mengedarkan pandangan ke arah sekitar yang begitu sepi “kok sepi ya qiran?” Tanya jay melihat kursi penonton hanya ada mereka berdua
“ini kan masih jam 11 jay, masih
sepi lah. Biasanya mereka nonton di waktu sore atau malam” balas qiran
Jay dan qiran memilih film dengan
genre drama romantic “sepertinya kalau kau jadi actor akan cocok” qiran melirik postur tubuh jay dan wajah jay yang memang tampan itu
“kenapa kau bilang begitu?” Tanya
jay
“kau kan tampan” ucapan qiran
membuat pipi jay bersemu merah yang tak dapat qiran lihat secara jelas karenalampu bioskop yang gelap dan hanya terkena sorotan cahaya
“dan kau cukup jago acting”
tambah qiran
“tahu dari mana aku jago acting?”
Tanya jay
Qiran terkekeh "kamu lupa
kalau kita ikut pentas drama kemarin, dan kau kan jadi pemeran utamanya” ucap qiran mengingatkan jay
“berarti kamu juga jago acting,
kamu kan pemeran wanitanya” balas jay mengingatkan qiran bahwa dirinya dan qiran lah yang jadi pemeran utama
“tapi beneran loh jay, kalau kamu
jadi actor pasti kamu akan sukses” ucap qiran
“aku kan kuliah kedokteran karena
ingin jadi dokter” ungkap jay tak menginginkan jadi aktor sama sekali karena keinginannya yang jadi dokter
“kan bisa jadi dokter sekaligus
actor” qiran mulai membayangkannya “pasti kamu akan banyak di gemari orang”
sahut qiran
Jay hanya tersenyum simpul “nanti
aku pikirin lagi” balas jay
Mereka berdua kembali menatap layar untuk menonton drama romantic itu. Lebih tepatnya qiran yang konsen menonton, sedangkan jay hanya memandangi qiran “kenapa jantungku semakin berdegup kencang di dekatmu” jay memegang dadanya yang terus berdetak dengan cepat seakan sedang berlomba lari
__ADS_1
“apa boleh aku berharap” batin
jay masih menatap qiran