You Are My Regret

You Are My Regret
Awal muka keretakan hubungan saudara


__ADS_3

***


Di semester awal kuliah, jay dan qiran sibuk dengan urusannya masing-masing membuat itensitas pertemuan mereka menjadi


berkurang, apalagi qiran yang mengambil 2 jurusan dan selalu ingin cepat pulang.agar bisa menemani nenek alaya


“nenek” qiran sedang bermanja


pada nenek alaya dengan tidur di menyandarkan kepalanya di pangkuan nenek alaya


Nenek alaya mengusap kepala qiran yang sedang tidur di pangkuan sang nenek “ada apa cucu nenek?” Tanya nenek alaya


“nenek selalu sehat ya” ucap


qiran


Nenek alaya tersenyum hangat


“jika tuhan menghendaki nenek sehat terus pasti nenek akan selalu sehat” balas nenek alaya


“nek” qiran mendongak menatap


neneknya “gimana caranya bisa sabar menghadapi daddy yang keras kaya batu itu?” Tanya qiran meminta pendapat pada neneknya yang bisa selalu sabar menghadapi daddy attaf


“dia daddy kamu qiran” ucap nenek


alaya memperingati cara bertutur kata pada orang tuanya


“qiran tahu nek kalau daddy itu orang tua qiran, tapi entah


kenapa setiap kami bicara kami selalu beda pendapat” balas qiran menyampaikan keluh kesahnya pada sangat nenek


nenek alaya terus mengusap kepala qiran “sikap keras daddy kamu mungkin ada andil kakek kamu yang dulu terlalu memanjakan attaf sejak kecil, dulu dia selalu mendapatkan apa yang di inginkan tapi saat adiknya lahir" nenek alaya menatap manik mata qiran " yaitu akhtar uncle kamu, kakekmu jadi mulai sadar terlalu memanjakan attaf” nenek alaya menerawang kejadian masa lalu


“kakekmu ingin daddy mu bisa jadi lebih baik dan membuatnya harus berusaha keras terlebih dulu jika ingin sesuatu tapi tanpa sadar sikap itu membuat daddy


mu selalu iri pada akhtar yang mendapatkan apa yang ia inginkan” jelas nenek alaya


Qiran duduk menatap nenek alaya


“apa kakek pilih kasih pada uncle akhtar?” Tanya qiran


Nenek alaya menggelengkan


kepalanya “tentu saja tidak, sikap kakek yang selalu memberikan sesuatu pada anak-anaknya berdasarkan usaha juga berlaku untuk uncle kamu. Tapi uncle mu memang terlahir dengan kesabaran dan otak yang cerdas sehingga selalu bisa mengalahkan daddy kamu dari segi manapun walaupun sebenarnya mungkin uncle kamu tak ada niat


untuk menyaingi daddy kamu” balas nenek alaya


Qiran mengangguk “kadang aku juga kesal dengan diriku sendiri kenapa sikap keras dan tak mau mengalah daddy turun kepadaku, kadang aku sadar itu tak baik tapi tetap secara naluriah itu seperti


sudah tak bisa di buang” kesal qiran


“belajarlah memahami kesulitan


orang lain qiran. dengan.emahami kesulitan orang lain kita bisa belajar bahwa kadang tidak semua hal yang kita inginkan bisa di dapatkan. mungkin sikap keras itu akan perlahan pergi” nasehat nenek alaya


“iya nek” balas qiran


***


Jay sedang sibuk bekerja paruh


waktu di salah satu rumah sakit besar di London sebagai perawat


“hai jay” qiran menepuk punggung


jay pelan


Jay menoleh “hei kau di sini?’


Tanya jay


“iya, abis nemenin nenek chek up”


balas qiran


“ah nenekmu periksa di sini?”


Tanya jay


Qiran mengangguk “kamu kerja


disini sejak kapan” qiran melirik pakaian jay yang sedang memakai seragam perawat


“baru dua bulan, lumayan lah buat


tambahan makan sehari-hari” balas jay


Qiran mengangguk paham “jay, kamu minggu sibuk tidak?” Tanya qiran


“tidak, kebetulan aku mengambil


libur di hari minggu, kenapa?” Tanya jay


“pengen jalan-jalan tapi gak ada


teman. Selama di sini aku belum sempat kemana-mana jadi pengen jalan-jalan mumpung uncle gak ada kerjaan dan bisa menemani nenek” balas qiran


“ya sudah, ayok jalan” balas jay


“ya sudah, jam 10 aku ke


apartemen jemput kamu ya” ucap qiran


“oke” balas jay


“ya sudah, aku samperin nenek


dulu ya” qiran melambaikan tangannya meninggalkan jay menuju kamar neneknya yang


sedang menjalani medical check up


***


Pagi ini qiran sedang sarapan


bersama uncle akhtar dan nenek alaya “kamu rapih amat qiran? Bukannya minggu gak ada kuliah ya?” Tanya uncle akhtar


“pengen jalan sama teman qiran

__ADS_1


uncle, kan selama satu semester ini belum kemana-mana. Jadi mau jalan-jalan biar refres otaknya, kan senin mau UAS” balas qiran


“maaf ya qiran, kamu terlalu


sibuk menemani nenek sampai gak sempat main” ucap nenek alaya dengan nada penyesalan


“gak papa nek, qiran senang kok


bisa menemani nenek” balas qiran


“emang kamu mau pergi sama


siapa?” Tanya uncle akhtar


“sama jay uncle” balas qiran


“temanmu yang dari korea itu?”


Tanya uncle akhtar


“iya uncle, dari kemarin kami


sibuk sama urusan masing-masing jadi pengen ajak jalan sahabat qiran” balasnqiran


“ya sudah, yang penting hati-hati


di jalan” balas uncle akhtar


“oh ya uncle, minta pengawal


jangan ikutin qiran ya, jay orangnya jeli banget, nanti dia jadi gak nyaman kalau ada pengawal yang ikutin qiran” pinta qiran


“iya, nanti uncle suruh mereka


buat jangan ikutin kamu hari ini” balas uncle akhtar


“terima kasih uncle” balas qiran mencium pipi uncle akhtar


*


Qiran berjalan santai ke arah


apartemen miliknya yang jadi tempat tinggal jay. Apartemen yang letaknya di lantai 12 kamar 42


“ganti password gak ya” gumam


qiran mencoba menekan pin pintu apartemen


“tit tit tit” pintu apartemen


terbuka


“ternyata tidak di rubah” qiran


berjalan masuk apartemen dan memindai apartemennya yang terlihat rapih dan bersih, tak ada yang di rubah jay sedikitpun dari apartemen qiran. Bahkan cat


berwarna ungu itu masih sama seperti dulu saat qiran datang untuk merenovasi apartemenya


Jay yang sedang memakai handuk


yang diliitkan diperut dan mengusap kepalanya dengan handuk kecil berjalan santai tanpa menyadari keberadaan qiran


“wauuuwwww” cicit qiran melihat


Jay melirik qiran dan melihat


arah mata qiran yang tertuju pada dada dan perutnya yang terpampang polos itu


“qiran!” teriak jay buru—buru


menutupi dadanya dengan handuk kecil yang ia pegang walaupun tak sampai


menutupi seluruhnya


Qiran terkekeh "biasa aja kali


jay” sahut qiran dengan entengnya


Jay berlari masuk kamarnya untuk


berpakaian “kamu kok gak bilang kalau sudah sampai sih” teriak jay dari dalam kamarnya


Qiran duduk santai di sofa “kayanya kemarin aku bilang jam sepuluh jemput kamu deh” ucap qiran dengan santainya


“jay melirik jam dinding di


kamarnya “ini masih jam 9.25 qiran” kesal jay


Qiran ikut melirik jam tangannya


“oooops sorry” ucap qiran kembali terkekeh


Jay keluar dengan wajah


memberengut “jangan kebiasaan masuk seenaknya qiran, kita itu lawan jenis. Bagaimana nanti kalau kita khilaf” ucap jay


Qiran bangun dan menghampiri jay


“memang kenapa kalau khilaf” qiran mendekatkan wajahnya ke telinga jay untuk berbisik ”kau


takut jatuh cinta padaku ya” ledek qiran


“deg” hati jay serasa ketar-ketir


ingin segera lompat dari dadanya karena berdetak terlalu cepat membuat dia diam mematung


Qiran menarik tubuhnya kembali


dan menepuk pelan dada jay “jangan terlalu banyak berpikir” tawa qiran pecah melihat jay yang gugup


“qiran!” kesal jay


“ayo jalan” ajak qiran


menggandeng lengan jay, bergandengan layaknya sepasang kekasih membuat jantung jay makin tak karuan


“masa iya, aku tertarik sama


qiran” batin jay berontak menayakan apa iya dia menaruh hati pada seseorang yang sudah di kenalnya selama hampir 5 tahun

__ADS_1


“kita mau kemana ya jay” Tanya


qiran


“ah” jay tersadar dari lamunannya


Qiran menatap kesal jay “kita mau


kemana?” ulang qiran


“kamu maunya kemana?” Tanya jay


“emmmm” qiran Nampak berpikir


keras


“nanti saja kita pikirkan saat


jalan” qiran menggandeng lengan jay keluar pintu apartemen


*


Qiran menyetir mobilnya melihat


jalanan “kemana ya” gumam qiran


“gimana kalau kita nonton” ajak


jay


“boleh” qiran memutar mobilnya


menuju bisoskop yang ia tahu


“jay, kamu gak bikin SIM di


sini?” Tanya qiran


Jay mengernyitkan dahinya “buat


apa, punya mobil saja enggak. Kalau di korea kan karena aku yang selalu di suruh nyetir sama kamu dan tara” balas jay kesal karena dirinya yang berakhir jadi sopir tara dan qiran saat jay sudah cukup umur untuk mempunyai SIM


Qiran tersenyum penuh kemenangan “nah itu kamu ingat” sahut qiran


Jay menghela nafas, tahu akan


maksud pertanyaan qiran “nanti kalau aku gajian aku akan mengurus SIM di sini” balas jay


“kau pakai uangku saja dulu, nanti kau bisa mencicilnya saat gajian” balas qiran


Jay menatap tak suka pada qiran dan qiran bisa lihat itu


“aku malas di antar sopir jay” ucap qiran dengan tatapan memelas “aku melakukan ini untuk diriku, kalau menunggu kau gajian lama dong” tambah qiran


"baiklah, aku akan mengurusnya


saat waktu luang” balas jay pasrah pada keinginan qiran


"terima kasih” qiran tersenyum


bahagia maksud hatinya tersampaikan


Tak sampai 30 menit qiran dan jay


sampai di bioskop


Jay mengedarkan pandangan ke arah sekitar yang begitu sepi “kok sepi ya qiran?” Tanya jay melihat kursi penonton hanya ada mereka berdua


“ini kan masih jam 11 jay, masih


sepi lah. Biasanya mereka nonton di waktu sore atau malam” balas qiran


Jay dan qiran memilih film dengan


genre drama romantic “sepertinya kalau kau jadi actor akan cocok” qiran melirik postur tubuh jay dan wajah jay yang memang tampan itu


“kenapa kau bilang begitu?” Tanya


jay


“kau kan tampan” ucapan qiran


membuat pipi jay bersemu merah yang tak dapat qiran lihat secara jelas karenalampu bioskop yang gelap dan hanya terkena sorotan cahaya


“dan kau cukup jago acting”


tambah qiran


“tahu dari mana aku jago acting?”


Tanya jay


Qiran terkekeh "kamu lupa


kalau  kita ikut pentas drama kemarin, dan kau kan jadi pemeran utamanya” ucap qiran mengingatkan jay


“berarti kamu juga jago acting,


kamu kan pemeran wanitanya” balas jay mengingatkan qiran bahwa dirinya dan qiran lah yang jadi pemeran utama


“tapi beneran loh jay, kalau kamu


jadi actor pasti kamu akan sukses” ucap qiran


“aku kan kuliah kedokteran karena


ingin jadi dokter” ungkap jay tak menginginkan jadi aktor sama sekali karena keinginannya yang jadi dokter


“kan bisa jadi dokter sekaligus


actor” qiran mulai membayangkannya “pasti kamu akan banyak di gemari orang”


sahut qiran


Jay hanya tersenyum simpul “nanti


aku pikirin lagi” balas jay


Mereka berdua kembali menatap layar untuk menonton drama romantic itu. Lebih tepatnya qiran yang konsen menonton, sedangkan jay hanya memandangi qiran “kenapa jantungku semakin berdegup kencang di dekatmu” jay memegang dadanya yang terus berdetak dengan cepat seakan sedang berlomba lari

__ADS_1


“apa boleh aku berharap” batin


jay masih menatap qiran


__ADS_2