
"jangan lari Lucas" qiran mengejar anaknya yang sudah lebih dulu lari darinya
"aku mau cepat ketemu nidya mom" lucas terus saja berlari masuk ke dalam rumah Lensi demi bertemu nidya
"ya ampun anak itu" qiran merasa percuma mengejar anaknya dan akhirnya membiarkannya saja
"nidya" panggil Lucas
sang pemilik nama menoleh dengan senyum lebarnya "ucas " nidya ikut berlari menghampiri Lucas
"jangan lari sayang" lensi jadi melihat anaknya yang baru belajar berjalan itu berlari menghampiri Lucas
Lucas memeluk nidya "I miss you" ucap Lucas
"ucas... ucas" cicit nidya memanggil-manggil nama Lucas
"ya ampun nidya" Lensi langsung menggendong nidya "jangan bikin mama panik" ucap lensi
nidya menggerakan tubuhnya ke arah Lucas "ucas" rengek nidya ingin kembali berpelukan dengan Lucas
Qiran menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua balita itu "kalian sudah kaya pemain film India tau gak" qiran meraih tangan Lucas agar tetap ada di dekatnya
qiran melirik ke arah Lensi "maafkan kelakuan anakku Lensi, dia suka lupa diri kalau lihat nidya" tukas Qiran
"tak masalah Qiran" balas Lensi
qiran dan Lensi duduk di dekat tempat bermain nidya membiarkan nidya dan Lucas bermain berdua
"aku dengar mika hamil" ucap Lensi
"iya, dia gak sadar kalau kandungannya sudah jalan sebelas
minggu " balas Lensi
"aku senang deh kak Adrian dan mika cepat di beri momongan" ungkap qiran
__ADS_1
"aku juga senang, padahal dulu aku cukup lama menunamaggu untuk hamil tapi mereka langsung jadi" balas Lensi
"hei jangan lupa dengan aku yang sudah mencicil bertahun-tahun tapi baru dapat kabar hamil Lucas tiga tahun lalu" kekeh qiran
"iya bener itu" balas Lensi
"drrrrttt" ponsel qiran bergetar dan qiran langsung mengangkatnya
"ada apa" tanya qiran
qiran membelalakan matanya lebar tatkala mendengar ucapan dari seberang sana
"baiklah, saya akan ke kantor sekarang" Qiran mengakhiri panggilannya dan kembali menyimpan ponselnya
Qiran melirik ke arah Lensi " bisa nitip Lucas gak" tanya Qiran
"apa ada masalah di kantor" tanya Lensi
"iya ada sedikit masalah di sana, kalau aku bawa Lucas ke sana kayanya kurang nyaman deh" jelas Qiran
"ya sudah tinggal aja, toh lucas kalau main sama nidya kan paling susah di pisahinnya" balas Lensi
"ingat sayang apa yang mommy bilang" Qiran memegang kedua lengan Lucas sedang memberi pemahaman pada lucas
"tentu saja, tidak boleh merepotkan orang lain" tukas Lucas menyampaikan inti dari setiap ucapan Qiran
"oke, good boy" Qiran mengusap kepala Lucas dengan sayang dan bergegas menuju kantornya
Qiran mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi agar ceat sampai perusahaan untuk melihat masalah apa yang terjadi di perusahaannya sampai bawahannya bicara begitu panik di telpon
sampai di lobi perusahaannya qiran memarkirkan mobilnya di Lobi dan berjalan keluar, saat keluar dari ia langsung memberikan kunci mobilnya pada satpam agar posisi mobilnya di benarkan
Qiran melangkah lebar menuju lift dan menekan tombol angka lantai kantornya berada "ting" saat pintu lift terbuka Qiran berjalan ke arah ruangannya yang sudah berdiri dua orang yang dari perawakannya sudah cukup tua dan mungkin sudah di usia 60-70 tahun itu
Qiran berjalan dengan langkah tegap ke arah dua pasangan itu "ada apa kakek dan nenek ke sini? bukankah aku selalu mengirimi uang bulanan kakek dan nenek tepat waktu dan dengan jumlah yang sama" ucap qiran tanpa basa-basi terlebih dulu karena menurut Qiran tidak penting harus bersikap ramah pada orang yang jelas membuatnya tidak suka
__ADS_1
"kami ini masih keluargamu Qiran, kakek adalah adik satu-satunya kakek kamu" tukas pria tua bernama Darsa prabaswara, adik dari Kakek Bramantyo prabaswara
"saya tidak lupa itu kek, maka dari itu aku mau membantu kakek mengelola perusahaan kakek dan tetap memberikan 50% keuntungan perusahaan kakek pada kakek dan tidak memperhitungkan apapun pada kakek" balas Qiran
kakek Darsa mengerutkan keningnya "apa kau orang yang seperti ini Qiran?" tanya kakek Daksa masih tidak menyangka cucu perempuan kakaknya adalah orang yang sedingin itu
Qiran menatap lurus pria Bernama Daksa Prabaswara itu "saya memang orang seperti ini kek karena ini darah Daddy saya yang begitu kental" Qiran tersenyum mencibir ke arah kakeknya itu "aku bukan kak adrian yang sudah di buang dan di hina berkali-kali tapi masih bersikap sopan pada orang itu" tukas Qiran
"kau" kakek daksa menunjuk ke arah Qiran dengan tatapan nyalang
Qiran menurunkan tangan kakek Daksa "langsung saja beritahu ada apa kakek dan nenek yang sudah tua ini repot-repot datang?" tanya qiran ingin tahu alasan kedatangan kakek dan nenek adrian yang kebetulan juga masih kakek dan neneknya juga
"sudah pah" wanita di sebelahnya mengusap dada kakek daksa dengan tangan keriputnya
wanita lanjut usia itu menoleh ke arah Qiran "begini Qiran, kami dengar kakakmu tinggal di Indonesia sekarang?" tanya wanita yang menyandang status nenek adrian dan juga qiran, bernama Galuh Daniswara
Qiran tetap menatap datar pasangan itu "kenapa jika kak adrian tinggal di Indonesia? mau kakek larang hah!" Qiran menatap tidak suka ke arah kerbatnya itu "kak adrian hidup tanpa uang keluarga prabaswara sama sekali jadi tidak masalah jika kak Adrian tinggal di negara ini karena tidak ada larangannya" tukas Qiran
"bukan seperti itu Qiran" elak nenek galuh
"lalu apa?" tanya Qiran
"nenek ingin bertemu dengannya" balas nenek galuh
qiran mengernyitkan dahinya "untuk apa!" bentak Qiran
nenek galuh menundukan kepalanya "usia kami tidak tahu sampai kapan jadi kami ingin meminta maaf padanya" ucap nenek galuh dengan suara lirih
"untuk apa kalian minta maaf sekarang, lebih baik tidak usah jangan coba usik hidup kakak untuk mengurus kalian" Qiran tidak suka dengan ide kakek dan neneknya itu jika harus mengusik hidup adrian dan membuatnya mengingat luka di buang dari keluarga pada saat usianya masihlah sangat kecil padahal keluarganya bukanlah orang miskin "cukup aku yang mengurus kalian dan jangan coba melibatkan kakakku" tunjuk qiran pada nenek Galuh tak perduli ia akan di bilang tidak sopan
sejak kecil ia sudah berkali-kali melihat sikap angkuh kakek dan nenek Galuh saat menghina adrian yang jelas bukan pilihannya jika terlahir dari hubungan terlarang ibu dan ayahnya yang memilih membuatnya du saat mereka belum menikah tapi Kakek Daksa terus menghina adrian dulu saat setiap liburan sekolah berlibur untuk menemui kakek Bramantyo sama seperti dirinya dan Qiran tidak suka hal kejam itu di lakukan kakek tua itu semenjak Qiran mulai mengingat dan sampai kakeknya Bramantyo meninggal di saat usia Qiran duduk di bangku SMP masih saja seperti itu dan tak berubah sama sekali
"ingat, jangan coba menelpon mommy untuk meminta bantuan kalau kalian nekat maka aku akan memutus uang bulanan yang aku dapat" ancam Qiran
"apa kau harus setega itu dengan kami qiran" tanya kakek daksa
__ADS_1
"lalu apa kalian harus sekejam itu pada cucu kandung kalian padahal jelas kesalahan ada pada mendiang putri kakek dan ayah kandung kak adrian" balas Qiran
"ya sudah Qiran" nenek galuh menarik suaminya untuk menjauh dari sana karena percuma saja berdebat dengan Qiran yang keras itu, mungkin nasib mereka harus hidup menua sendiri tanpa keluarga lain