You Are My Regret

You Are My Regret
Menghabiskan waktu berdua


__ADS_3

jay nampak memarkirkan mobilnya di parkiran kampus


jay melirik jam tangannya "ah masih setengah jam lagi dia keluar" gumam jay melihat jam  tangannya yang menunjukkan pukul 06.30


jay melepaskan sabuk pengamannya memilih tidur sebentar sembari menunggu qiran, toh jay sudah mengabari qiran akan kedatangannya


tak lama jay terlelap qiran berjalan ke arah mobil dan membuka mobil yang kebetulan tak di kunci oleh jay


qiran memandangi wajah tidur jay "wajahmu begitu damai saat tertidur" gumam qiran menunggu jay terbangun


qiran tak ingin membangunkan jay karena memang waktu tidur jay begitu berkurang semenjak dia mulai menjalani koasnya


qiran memutuskan membuka laptopnya sembari menunggu jay terbangun dengan mengerjakan beberapa pekerjaan yang sedikit tertunda


"eeeeeuuuggghhhh" jay menggeliatkan tubuhnya yang kaku karena posisi tidurnya yang kurang nyaman


jay begitu terkejut mendapati qiran sudah ada di hadapannya "kamu sudah dari tadi" jay melihat jam tangannya dan membelalakan matanya lebar kala melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 8 malam


"kenapa tak membangunkanku" jay merasa tak enak pada qiran yang menunggunya sedari tadi


qiran menutup laptopnya dan menghadap ke arah jay " kamu begitu nyenyak tertidur tadi" balas qiran


"maaf qiran" jay merasa bersalah pada qiran


"ya sudah kita makan malam dulu ya" qiran menganggukan kepalanya menyetujui ajakan jay


jay menjalankan mobilnya membelah jalanan " kamu sejak kapan masuk? " tanya jay


"sekitar jam 7 tadi" balas qiran


"lain kali jangan membiarkanku tertidur, kau bisa membangunkanku kapanpun itu" balas jay


"tak masalah jay, toh aku tidak terburu-buru " qiran tak ingin jay merasa bersalah padanya


jay membawa qiran menuju restoran yang tak jauh dari kampusnya "kita makan malam dulu ya" ajak jay

__ADS_1


"iya" balas qiran


"kebetulan di dekat kampus ada makanan khas indonesia, aku ingin mencobanya" ucap jay


"kebetulan aku sedang kangen masakan nenek" balas qiran


selain memiliki nenek keturunan pakistan qiran juga mempunyai nenek keturunan Indonesia, yaitu  nenek naeswariibu dari mommy asmira yang kini sudah menghadap sang kuasa dan itu artinya qiran tak bisa merasakan lagi masakan neneknya yang begitu enak bagi qiran


jay membukakan pintu mobio untuk qiran, jay melingkarkan tangannya di pinggang qiran, dan berjalan masuk ke restoran khas masakan Indonesia. mereka memilih tempat duduk yang mengusung tema lesehan agar lebih nyaman untuk mengobrol


"kau mau pesan apa qiran, aku kurang akrab dengan masakan khas Indonesia" ucap jay


"ya sudah aku saja yang pilih" qiran mengambil buku menu dan mulai memilih makanan yang di rasa enak di lidah jay, yang terbiasa makan, makanan korea dan makanan barat


andai qiran bisa memasak mungkin dirinya akan memasak untuk jay agar bisa memberitahu cita rasa masakan indonesia yang begitu enak dan pas di lidah qiran. masakan korea enak, masakan pakistan juga enak tapi tetap saja menurut qiran masakan yang pas di lidah qiran adalah masakan khas indonesia


*


di meja makan sudah terdapat beberapa makanan khas indonesia yang begitu menggugah selera


"aku pesan banyak karena takut tidak sesuai seleramu, kamu bisa mencicipinya dan memilih mana yang kamu suka" ucap qiran


"nanti bisa di bungkus, di bawa pulang dan taro di kulkas agar bisa ku makan besok" balas qiran dengan enteng


"baiklah" jay mulai mencicipi makanan yang terdekat


"enak qiran" jay sedang mencicipi rendang dan berbagai masakan lain


"enak kan, makanan di sana yang paling aku sukai, makanya aku mau tinggal di sana berlama-lama jika mommy sedang kangen nenek" sahut qiran


jay mengangguk mengiyakan "iya enak, kapan-kapan ingin deh ke sana" celetuk jay


"boleh saja, kapan-kapan kita main ke sana. aku punya beberapa properti di sana, kita bisa singgah di sana" balas qiran


"oke" balas jay

__ADS_1


setelah menghabiskan makan malamnya, jay membawa bebrapa bungkus makanan yang sudah terlanjur di pesan qiran untuk di bawanya pulang


"kita mau pulang atau mau kemana dulu" tanya jay


"kita taro makanan ini di lemari pendingin dulu, dan habis itu kita jalan-jalan ya" qiran memandang lekat jay


"aku sedang ingin berjalan berdua denganmu" ungkap qiran


"baiklah" sesuai permintaan qiran jay meletakkan makanan di dalam apartemen dan mengajak qiran untuk berjalan-jalan


jay sedang melajukan mobilnya membelah jalananan "kamu ingin kemana?" tanya jay


"kamu besok ke rumah sakit tidak" qiran malah balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan jay


"kalau besok aku libur, aku kemarin menggantikan jadwal teman jadi besok aku dapat libur" balas jay


"kita pergi yang aga jauh ya" pinta qiran


"boleh saja" balas jay


qiran menyetal setelan navigasi di mobil jay, menuju tempat yang ingin di tuju qiran untuk berjalan-jalan


jay mengernyitkan dahinya melihay tujuan qiran "kamu gak salah ke tempat itu" jay melirik qiran dali balik spion


"aku ingin bicara denganmu, jadi tak ingin ada gangguan" balas qiran


qiran menyandarkan kepalanya di jendela memandangi jalanan yang di lewatinya. jay hanya diam sembari tetap fokus mengemudi. perjalanan mereka cukup jauh karena tempat yang di pilih qiran cukup terpencil dan di sana tidak terlalu banyak penerangan bahkan di sana kemungkinan besar akan susal sinyal karena tempat yang di pilih qiran adalah sebuah pegunungan yang biasa di gunakan untuk camping tapi posisinya yang jauh lebih dalam dari tempat yang biasa di gunakan camping


butuh waktu sekitar  jam perjalanan untuk mereka sampai di tempat yang di tuju karena kondisi jalanan yang memang gelap dan akses jalan yang cukup sulit


jay melepas sabuk pengamannya ketika sudah sampai, ia menatap qiran dalam "kenapa kau memilih bicara di tempat seperti ini bukankah kita bisa bicara di tempat lain? di tempat yang jauh lebih baik mungkin di apartemen atau bisa di kampus atau restoran mana" tanya jay dengan beruntun


"tolong diam sebentar jay" pinta qiran dengan memejamkan matanya


dirinya masih menyandarkan kepalanya di jendela seolah tempat itu begitu nyaman untuknya

__ADS_1


jay menuruti qiran, jay merasa ada hal yang di pendam qiran dan sepertinya itu hal yang cukup besar karena qiran memilih tempat tertutup seperti ini hanya untuk bicara dengannya


qiran membuka sabuk pengamannya dengan gerakan pelan, ia menghela nafas berulang kali dan berbalik menatap jay dengan wajah penuh kesedihan "larilah dariku selagi bisa jay, larilah sejauh mungkin dariku" ucap qiran dengan suara bergetar. ia memejamkan matanya dengan erat tapi ar matanya jatuh dengan derasnya membasahi pipi mulus qiran


__ADS_2