
Tara melajukan mobilnya untuk pulang ke apartemen miliknya
Lensi hanya memandangi tara dalam diam, ia seakan tak sanggup bicara dan hanya bisa menatap tara seolah bertanya dengan tatapan matanya yang jelas tak akan bisa di jawab oleh tara
karena tara yang sedang menyetir dan tak melihat tatapan Lensi padanya
Perjalanan 1 jam benar-benar terasa satu tahun lamanya karena waktu mereka yang di habiskan dalam diam padahal jelas orang yang ingin di tanyai tepat ada di hadapannya
Tara membuka pintu apartemen dan Lensi masih setia mengekor di belakang tara “apa mas gak mau bicara denganku” Tanya lensi pada akhirnya karena tak bisa menahan lagi rasa penasarannya
Tara menoleh kebelakang dengan tatapan sayunya saat menatap lensi “bisa bicara kan mas, biar aku sedikit paham apa yang terjadi” Tanya lensi lagi
Tara berjalan cepat ke arah lensi “cup” tara langsung melahap habis bibir ranum di hadapannya dengan tanpa aba-aba sama sekali membuat dirinya begitu terkejut dengan tindakan tara yang begitu mendadak
Lensi mendorong tubuh tara menjauh “aku sedang nanya sama mas loh, kok malah main sosor aja” kesal lensi mencebikkan bibirnya
Entah kenapa saat melihat raut wajah lensi yang sedang kesal dengannya, rasa sedih itu rasanya hilang seketika membuat tara terkekeh akan keabsurdan istrinya
“sekarang mas Tanya sama kamu, apa pria tadi ayahmu” Tanya tara
“bukan” balas lensi dengan tegas
“tapi dia bilang kamu anaknya loh” sahut tara
Lensi duduk di sofa dan tara mengikuti langkah lensi yang duduk di sofa “dia bukan ayahku
karena dia tidak pernah ada di hidupku semenjak aku dalam kandungan, hanya sayangnya tetap saja darahnya mengalir di darahku” balas lensi yang tak mau mengatakan kalau tuan adnan adalah ayah kandungnya
“oh” sekarang tara tahu jelas kalau tuan adnan adalah ayah yang tidak ingin di akui oleh lensi
Lensi menoleh ke arah tara “sekarang jelasin kenapa sikap mas kaya gitu sama perempuan sadis itu” Tanya lensi
Tara terkekekeh “wanita itu memang sadis “ tara mengusap pipi lensi dengan gerakan lembut menggunakan ibu jarinya
__ADS_1
Bisa lensi lihat tatapan terluka tara “ dia terlalu sadis sampai membuang anak kandungnya sendiri” ucap tara yang matanya sudah mulai mengembun
Lensi jadi teringat cerita om revandra tentang rasa bersalahnya pada tara yang harus hidup di buang oleh ibu kandungnya karena kesalahan om revandra di masalalu yang sempat memaksa ibu kandung tara untuk bersamanya
makanya om revandra selalu ingin yang terbaik untuk tara karena rasa bersalahnya pada tara “apa jangan-jangan.....” lensi menutup mulutnya menyadari sesuatu
Tara tersenyum miris “ternyata nasib kita sama, di buang begitu saja” sahut tara menyayangkan nasib dirinya dan juga lensi yang sama-sama tak di anggap dan tidak pernah di hargai sejak di lahirkan
“jadi dia ibunya mas” Tanya lensi memastikan dugannya benar
Air mata itu luruh begitu saja dari sudut mata tara “sayangnya dia ibu kandungku, walaupun sebenarnya aku hanya ingin ibu clarissa saja yang jadi ibu kandungku tapi Tuhan menggariskan aku lahir dari rahim perempuan itu” balas tara
Lensi memeluk tara erat, mencoba menyalurkan kekuatan untuk tara agar lebih kuat “apa tuhan mempermainkan kita lensi” tara balas memeluk lensi dengan eratnya “apa tuhan ingin mempermainkan kita sampai-sampai membuat orang yang membuat kita ada tapi juga ingin membuang kita ternyata hidup bersama” tambah tara dengan suara lirih
Lensi mengusap punggung tara dengan gerakan pelan “awalnya aku kira wanita itu sadis padaku karena aku anak dari suaminya dengan wanita lain, tapi ternyata dia memang benar-benar sadis karena buang anak setampan dan sebaik mas tara” ucap lensi mencoba menguatkan hati tara
Tara terkekeh “apa begitu” Tanya tara senang lensi memujinya
"karena air mata kita terlalu berharga untuk di buang hanya karena orang yang gak penting” lensi mengusap pipi tara lagi
Tara menangkap tangan lensi dan mengecup telapak tangan lensi uang ada tepat di wajahnya “terima kasih, kata-katamu benar-benar
bisa mengurangi sakit hatiku karena di buang” balas tara
“sama-sama mas” lensi kembali memeluk tara dengan erat
“mandi yuk, keringatan gini gak enak” celetuk tara setelah cukup puasa ia menangis dalam pelukann lensi
Lensi menatap tajam tara “ingat ya mas, aku masih datang bulan, gak boleh macam-macam” tukas lensi yang mengerti arti ajakan tara menjurus kemana
“kamu lihat ini gak” tara melirik ke arah selangkangannya “dia sudah tegang, bantu tidurin ya” pinta tara dengan tatatapan nakalnya
Lensi menelan salivanya kasar “kenapa juga dia bangun, aku kan gak ngapa-ngapain mas” balas lensi tak mengerti kenapa bendaka pusaka dan keramat itu sangat mudah untuk ON sekarang padahal dirinya tak pernah merayu tara lagi, hanya saat malam pertamanya saja
__ADS_1
“ayolah bantu mas ya” pinta tara
Karena rayuan demi rayuan yang di lontarkan tara akhirnya dengan terpaksa lensi membantu benda pusaka tara untuk kembali tidur
Lensi memandangi wajah tidur tara yang ada tepat di sebelahnya "jangan jatuh hatiku padaku mas" batin lensi menatap lekat wajah tara
"walaupun hatiku sedikit tergerak olehmu tapi aku benar-benar tak ingin bersamamu. aku benar-benar tak ingin terluka sama seperti ibuku yang menahan luka itu seorang diri demi pria yang jelas-jelas dari awal tak akan bisa jadi miliknya" lensi mengusap pipi tara dan menyampirkan poni tara ke samping
"aku gak akan jatuh hati pada orang yang jelas akan meninggalkanku" lensi mengecup bibir tara cukup dalam tapi sang empu tak terganggu sama sekali
Lensi memutuskan untuk tidur sambil memeluk tara
tak lama terdengar dengkuran halus dari bibir lensi
tara membuka matanya lebar "aku juga sama denganmu lensi, aku sama sekali tak ingin jatuh hati padamu" batin tara
malam itu tara tidak tidur semalaman, pikirannya terus berkelana ke mana-mana
saking banyak nya yang ia pikirkan, dia sendiri sampai bingung apa yang harusnya ia lakukan
***
tara menghadap ke samping melihat wajah tidur lensi "emmm" tubuh lensi menggeliat dan lensi membuka matanya perlahan
"astaga" lensi begitu terkejut saat membuka mata ia langsung bersitatap dengan manik mata tara
"pagi" sapa tara
"ya ampun mas, kaget tahu" lensi mengusap dadanya yang terkejut akan kelakuan tara
lensi bangun dari tidurnya dan ingin turun dari ranjang tapi tangannya di tahan tara "ikut ke rumah ibu ya" pinta tara
"apa" lensi terkejut akan permintaan tara yang begitu tiba-tiba
__ADS_1