
Pada hari itu juga Lucas dan Qia mendaftarkan pernikahan mereka di kantor catatan sipil Bandung barat. Tak lupa Lucas langsung mengurus dokumen pemindahan Lala dan Qia ke KK miliknya
beruntung Lucas hanya seorang diri di dalam KK miliknya karena dirinya yang sudah bercerai dengan Nidya membuatnya hanya satu orang saja dalam daftar KK miliknya, jika ia masih satu KK dengan orang tuanya pasti akan panjang jalan ceritanya
seusai mendaftarkan pernikahan tak lupa, Lucas dan Qia mampir ke salah satu restoran ternama di kota tempat mereka tinggal untuk memesan nasi kotak untuk di bagikan ke para tetangga sebagai tanda ia dan Qia sudah menikah walaupun mereka berdua masihlah menikah beda agama
"kita jemput Lala dulu baru kita bagikan nasi kotaknya untuk para tetangga ya" ucap Lucas saat baru keluar dari restoran setelah membayar pesanan nasi kotak mereka yang berjumlah 200 kotak
"iya mas" Qia ikut saja dengan apa yang di minta Lucas tanpa banyak bertanya ataupun membantah
Qia dan Lucas bersama-sama menjemput Lala ke sekolah "Lala" panggil Qia melambaikan tangannya ke arah Lala yang baru saja keluar dari kelasnya
Lala begitu girang dengan kehadiran sang ibu yang ikut datang menjemput "ibu" Lala berlari menghampiri Qia dan langsung memeluknya "tumben ibu datang jemput Lala" tanya Lala dengan girangnya saat melihat kehadiran ibunya di sekolah
"ibu tadi ada perlu sama om Lucas " balas Qia
"ayok masuk dulu, biar kita cepat pulang dan istirahat" ajak Lucas menggandeng tangan Lala untuk masuk ke dalam mobil
Lala duduk di pangkuan Qia di kursi depan samping kemudi, tepat bersebelahan dengan Lucas yang sedang mengemudi "belajar apa hari ini Lala" tanya Lucas seperti biasa ketika ia datang menjemput Lala dari sekolahnya
"tadi di ajarin untuk gosok gigi dengan benar om, dan juga nyuci wadah bekal kita sendiri" balas Lala menceritakan kegiatan di sekolahnya hari ini
"Lala" panggil Lucas
"iya om, ada apa" tanya Lala menoleh ke arah Lucas yang masih sibuk mengemudi
__ADS_1
"kalau misal Lala tinggal sama om mau enggak" tanya Lucas dengan hati-hati
"mau dong" Lala menjawab dengan girang pertanyaan Lucas "tapi kasihan ibu kalau di tinggal sendiri" terus Lala seketika itu merubah raut wajahnya jadi sedih
"kalau sama ibu juga mau" tanya Lucas lagi
"mau mau" Lala begitu semangat menjawab pertanyaan Lucas membuat Qia hanya tersenyum simpul
Lucas tersenyum ke arah Lala "mulai hari ini kita tinggal serumah ya sama ibu juga, karena mulai sekarang Ibu sama Lala sudah jadi tanggung jawab om. om Lucas sama ibu sudah menikah hari ini, om akan jadi ayah kamu mulai saat ini" ungkap Lucas
"wah om dan ibu sudah menikah berarti kalau Lala panggil ayah boleh berarti om" tanya Lala dengan polosnya
"tentu saja, mulai hari ini om Lucas jadi ayah Lala" balas Lucas dengan senyum cerahnya saat melihat wajah ceria Lala
setelah sampai rumah mereka, Lucas dan Qia segera berganti pakaian di rumah mereka masing-masing dan lanjut membagikan makanan ke para semua tetangga bersama-sama layaknya pasangan keluarga bahagia
para tetangga tak begitu terkejut Qia dan Lucas menikah karena mereka bisa lihat seberapa dekat Lucas dan Lala walau antara Lucas dan Qia tak terlihat begitu dekat, Tapi mereka semua sudah mengira pasti Lucas berniat menikahi Qia dengan menjalin kedekatan dengan Lala
Lucas membawa Qia dan Lala untuk istirahat di rumahnya, sebab rumah Qia tidak memiliki ranjang, hanya sebuah kasur busa yang di rentangkan dalam kamar, tentu itu akan membuat mereka kesusahan jika tidur di kamar yang Qia dan Lala pakai sehari-hari
"Lala tidur boleh om" tanya Lala sembari mengucek matanya yang sudah mengantuk karena ini adalah jadwal tidur siang Lala
"tidur saja di kamar ayah" Lucas menunjuk kamarnya yang sudah Lala tahu sebagai kamar Lucas " ayah masih mau bicara sama ibu dulu" Lucas mengusap kepala Lala dan mempersilahkan anak sambungnya untuk tidur siang
"iya yah" Lala berjalan masuk ke kamar Lucas dan akan tidur sendiri di sana
__ADS_1
"oh ya Qia, rumah kamu itu atas nama kamu atau menyewa" tanya Lucas perihal rumah yang Qia dan Lala tempati
"atas nama Qia sih mas karena dulu mas Reno beli dengan mengatasnamakan Qia, tapi belinya bukan Kes Langsung lunas tapi dengan cara angsuran dan angsurannya belum selesai dan masih ada sekitar lima tahun lagi lunasnya, dulu mas Reno belum selesai melunasi pembayaran rumah itu dan mas tahu sendiri buat makan saja Qia kesusahan jadi Qia hanya beberapa kali mencicil setelah kepergian mas Reno, kenapa mas" balas Qia
"mas sudah betah tinggal di lingkungan ini, tapi kalau memilih tinggal di rumah kamu atau rumah mas, kayanya terlalu sempit deh, jadi mas ada rencana buat gabungin bangunan rumah ini, biar sekalian kita juga punya garasi, itu kalau boleh sih" ucap Lucas menyampaikan rencananya
"boleh saja sih mas, tapi rumahnya belum lunas dulu bayarnya, setelah mas Reno meninggal Qia hanya bisa angsurannya saat ada uang saja jadi makin lama deh lunasnya " jelas Qia
"gampang itu, nanti biar mas yang urus. nanti saat semua pembayaran rumah itu sudah lunas kita tinggal di apartemen mas dulu ya selama pembangunan" ajak Lucas
Qia mengernyitkan dahinya heran "mas punya apartemen" tanya Qia
"ada" balas Lucas
"lah kalau mas ada apartemen kenapa malah tinggal di lingkungan ini" heran Qia
"ya gak papa, pengen saja" Lucas mengedikkan bahunya tak bisa menjawab dengan pasti alasannya memilih tinggal di lingkungan mereka tinggal saat ini
"kalau mas mau lunasin rumah dan bangun rumah, itu kan mengeluarkan biaya mahal apa gak ngeberatin mas, nanti orang tua mas Lucas gimana, Qia gak mau di bilang nguras harta suami di awal menikah mas" Qia takut Lucas akan mengeluarkan banyak biaya jika mau merenovasi rumah mereka apalagi rumah Qia belum lunas dan menurut Qia uang pelunasan rumah itu tergolong cukup besar
Lucas menautkan kedua alisnya "kenapa harus bawa orang tua mas Lucas, orang tua mas Lucas itu gak pernah mengusik uang mas Lucas mau buat apa loh, mereka mah menyerahkan semua keputusan pemakaian uang mas pada mas" jawab Lucas
"beneran ini mas" tanya Qia lagi
Mengenai pernikahan beda agama di sini, mohon di maklumi jika ada ketidaksesuaian dalam penulisan cerita dengan kenyataan aslinya, sebab penempatan latar cerita hanya sebatas fiktif belakang dan apa yang ada dalam pikiran penulis saja, tidak mengarah ke hal yang di luar dari kepentingan isi cerita
__ADS_1