
Lensi dan ibu dhira tengah sibuk menyiapkan sarapan di dapur dengan di bantu bik atun "duh maaf sekali gak bantu nyiapin sarapan, tadi kesiangan" ucap kassy yang nampak terburu-buru menghampiri istri kakaknya dan juga mertua kakaknya yang sedang sibuk memasak di dapur
"gak papa kassy, toh sudah siap juga sarapannya" balas lensi tak merasa keberatan sama sekali jika adik iparnya tak membantu di dapur
ibu dhira menoleh ke arah lensi "sudah kamu mandi sana, biar sekalian sarapan bareng" ucap ibu dhira pada lensi yang masih belum mandi
"iya bu, aku ke atas dulu ya" lensi bergegas ke kamarnya untuk bersiap ke kantor
"maaf ya tante" kassy jadi tidak enak karena baru pertama tinggal di rumah mertua kakaknya saja dia sudah bangun kesiangan
ibu dhira mengusap pelan pundak kassy "gak papa kassy, biasanya malah tante masak sendiri dan lensi tahunya ikut makan saja, sekarang saja karena ada kakak kamu yang suka masakannya jadi dia bangun lebih pagi untuk memasak" ibu dhira menuntun kassy untuk duduk di ruang keluarga sambil menunggu bik atun selesai menata meja makan
kassy duduk di sofa bersama ibu dhira, di mana sudah ada tara yang sedang menatap tab miliknya untuk memeriksa pekerjaannya "emang dulu kak lensi gak suka masak" tanya kassy jadi penasaran akan cerita ibu dhira
"kalau di bilang gak suka, gak gitu juga sih. lensi suka memasak tapi waktunya terlalu tersita untuk pekerjaannya jadi dia jarang ada waktu untuk memasak tapi sekarang kan beda kakakmu bekerja sampai jam 5 saja tidak seperti dulu yang kadang lembur di kantor sampai gak pulang jadi sekarang dia lebih punya banyak waktu luang jadi bisa masakin kakakmu" jelas ibu dhira
kassy menoleh pada tara yang masih sibuk dengan tab di tangannya "kakak emang gak boleh kasih kerjaan banyak buat kak lensi biar kak lensi bisa lebih urus kakak lebih baik " ucap kassy
"iya" balas tara
tara mendongakkan kepalanya "kamu jadi kerja di perusahaan qiran" tanya tara meletakkan tab miliknya di meja
"jadi kak kan aku sudah lamar kerja dari jauh ahri, dan aku juga wawancara dengan jalan biasa. Di sana aku kerja bantu asisten kak qiran dulu sampai kak qiran masuk kerja lagi baru nanti kak qiran nempatin aku di posisi yang sesuai setelah melihat hasil kinerjaku" balas kassy
"ya sudah kalau gitu, kerja yang benar dan jangan banyak tingkah ya" pinta tara tak ingin adiknya membuat malu dirinya
"kapan juga kassy banyak tingkah" tanya kassy dengan muka kesalnya karena di tuduh oleh kakaknya
__ADS_1
"kamu tuh biasanya terlalu menarik perhatian pria di sekeliling kamu dan itu akan jadi gak nyaman, apa lagi jonathan asisten qiran itu orangnya lurus banget gak suka belok-belok jadi jaga image kamu jangan kebiasaan terlalu baik dengan pria nanti kamu di cap wanita buruk oleh jonathan dan kamu nanti jadi susah kerjanya. Jonathan itu orang andalan qiran, bisa di depak kamu kalau kamu di tandai dia, kakak juga gak bisa berbuat apa-apa" ucap tara memperingati kassy bahwa jonathan nanti lah yang bisa memutuskan nasib pekerjaan kasssy di perusahaan qiran karena jonathan adalah asisten sekaligus orang kepercayaan qiran dan banyak mengambil keputusan penting untuk perusahaan qiran
"iya kak" kassy hanya diam mengangguk saja akan nasehat yang di berikan kakaknya
***
"mobilmu kan belum datang, jadi kamu pakai mobil kakak saja, biar kakak ikut kakakmu kan kita sekantor" ucap lensi menyerahkan kunci mobilnya pada kassy
kassy menerima kunci mobil kakak iparnya dengan ragu "kassy jadi ngerepotin kakak terus " ucap kassy tak enak hati dengan lensi
lensi mengusap lengan kassy "gak ngerepotin kok, lagian malah lumayan kan bisa gunain sopir pribadi yang tampan" balas lensi dengan gurauan
"terima kasih ya kak" balas kassy
lensi menoleh ke arah ibu dhira "bu lensi sudah bikin janji ke butik untuk baju ibu yanga akan di gunain buat acara pertemuan dengan keluarga om jovan, nanti ibu di antar sopir ya, janjinya jam 1" ucap lensi mengingatkan ibunya
ibu dhira melambaikan tangannya mengantar kepergian anak serta menantu dan juga adik dari menantunya yang akan berangkat kerja
"jalan-jalan pagi dulu kali ya" gumam ibu dhira memutuskan untuk berjalan-jalan sekitar halaman rumahnya yang luas
"baru kali ini lihat keadaan rumah dengan baik " ibu dhira melihat tatanan halaman luas rumahnya yang di ubah dengan cukup apik oleh tara
"ibu dhira memilih duduk di bangku dekat kolam ikan yang terletak di bawah pohon besar sehingga sungguh nyaman duduk di sana "dhira" suara seseorang memanggil nama ibu dhira
ibu dhira menoleh ke belakang "kamu" dhira mengerutkan keningnya melihat pria yang sangat tidak ingin ia lihat ada di hadapannya sekarang
"rumahmu sekarang sangat bagus" pria itu datang menghampiri ibu dhira dan duduk di sebelah dhira
__ADS_1
"kalau kamu mau ke sini untuk minta mencabut tuntutan atas istri kamu itu, silahkan temui menantu saya, karena saya tidak mau repot mengurusnya" ucap ibu dhira dengan nada tidak bersahabat
pria itu tersenyum kecut "sekarang bahkan kamu manggil dengan aku kamu, tidak dengan panggilan mas lagi" tanya tuan adnan
"selama ini aku masih menghormatimu sebagai ayah dari anakku, tapi rasa hormat itu sudah hilang karena lagi dan lagi kamu membuatku kecewa dengan sikap pembelaan pada istrimu yang jelas merugikan orang lain, padahal jelas sekali aku tidak pernah menaruh harap kembali padamu atau menerima pemberian dalam bentuk apapun darimu " balas ibu dhira
ada rasa sesak di hati tuan adnan saat ibu dhira, berkata dengan nada suara tidak bersahabat tak seperti dulu yang selalu bertutur kata lembut dalam keadaan apapun "aku dengar dari sinta kalau kamu akan menikah" tanya tuan adnan
saat tuan adnan menjenguk kedua orang tuanya, kebetulan ada adik bungsunya yang datang menjenguk kedua orang tuanya, langsung ia di beri kabar kalau ibu dhira akan menikah karena keluarga tuan adnan di undang untuk hadir ke pernikahan ibu dhira yanga akan di adakan pada awal bulan depan
ibu dhira tetap menatap kolam ikan dengan tatapan datarnya "iya aku akan menikah sebentar lagi" balas ibu dhira
"kau sudah melupakanku" tanya tuan adnan dengan nada lirih
ibu dhira mengerutkan keningnya "kenapa kamu tanyain itu " balas ibu dhira
tentu ibu dhira bingung dengan pertanyaan itu, bukankah mereka sudah tidak ada hubungan selama 25 tahun jadi kenapa tuan adnan mengatakan tentang suatu perasaan yang pasti jelas sudah mati karena sudah bertahun-tahun di lewati dengan kekecewaan
tuan adnan tersenyum miris "rasanya sedikit aneh, kau selalu ada di sekitaran keluargaku, tapi saat adik-adikku menertawakanku karena benar-benar kehilanganmu, ternyata rasanya cukup sakit" ucap tuan adnan dengan jujur
"aku akan menikah jadi hati calon suamiku tentu harus aku jaga dengan baik karena dia yang akan jadi fokus utamaku kedepannya " jelas ibu dhira
"iya aku tahu" tuan adnan menatap ibu dhira lekat "walaupun aku sedikit tidak rela kau menikah tapi aku turut bahagia dengan kebahagiaanmu yang akan kembali menikah" ucap tuan adnan
"bukan kembali menikah, tapi ini pernikahan untuk pertama kalinya, kamu lupa kalau di status KTP ku masih gadis" jelas ibu dhira dengan kekehan "gadis yang memiliki anak berusia 25 tahun" ucap ibu dhira meluruskan ucapan tuan adnan bahwa secara hukum ibu dhira masihlah gadis walaupun pada kenyataannya dia sudah memiliki anak
tuan adnan tersenyum miris "ya, jika secara negara kamu belum pernah menikah walaupun ada anak di antara kita" ucap tuan adnan begitu sesak dengan kenyataan itu
__ADS_1