
Nidya di tempatkan di kamar paling belakang dan berada di lantai teratas kediaman Aiden William Ghazanfer
jika di tanya kenapa Nidya mendapatkan kamar itu jawabannya adalah Nidya sendiri yang memilih kamar itu, ia ingin sendiri dan tidak terlalu dekat dengan yang lain sebab ia tak ingin pertengkarannya dengan Lucas di ketahui orang lain
"huuuuuuhhh" Nidya menghela nafas panjang mengingat amarahnya yang meluap tadi saat bersama Lucas seolah stok sabarnya sudah habis menghadapi suami pencemburu seperti Lucas yang tak tahu tempat
"kamu ada masalah" tanya seseorang menginterupsi lamunan Nidya
Nidya menoleh ke samping di mana suara itu terdengar jelas oleh Nidya "kak Aiden" beo Nidya
Aiden menangkap tatapan Nidya uang seolah mencurigai dirinya yang berada di balkon berdampingan dengan kamar yang di tempati Nidya "ini kamar kakak ya Nidya dari dulu, bukan kakak yang sengaja menempatkan kamar kamu dekat kakak.
Kakak sudah mengatur kamar kamu dan Lucas di bagian depan dan berada di lantai dua bukan lantai empat" jelas Aiden perihal kondisinya saat ini
"iya kak, aku tahu" balas Nidya
"kamu belum jawab pertanyaan kakak loh, ada masalah apa" tanya Aiden
"hanya kelelahan saja kak" balas Nidya tak mau menceritakan lebih pada pria yang jelas-jelas menaruh hati padanya
Aiden William Ghazanfer jatuh cinta pada Nidya saat mereka bertemu saat Nidya berulang tahun ke 15 dan kebetulan Kakek Akhtar sedang mengajak Aiden berkunjung ke Indonesia untuk melihat keluarga kakaknya dan sekaligus meninjau perusahaannya yang beroperasi di Indonesia
saat itu Aiden yang berusia 20 tahun langsung jatuh hati pada Nidya bahkan ia tak tanggung-tanggung mengatakan mencintai Nidya
Nidya yang masih remaja tentu dengan tegas menolak Aiden, dan harus di pertegas saat Nidya menerima cinta Lucas di acara ulang tahun Nidya yang ke 17
tak tanggung-tanggung Lucas mengajak bertunangan dan Nidya menerimanya. hancur hati Aiden saat itu tapi ia tetap berusaha keras untuk menarik perhatian Nidya agar memilihnya dan meninggalkan Lucas
tapi sialnya ayahnya menentang untuk merebut pasangan dari kerabatnya sebab masih banyak wanita di dunia ini jadi ayah dari Aiden meminta dengan tegas untuk tidak mendekati Nidya
alhasil pernikahan Lucas dan Nidya terjadi tanpa bisa Aiden cegah tapi Aiden mencoba berbesar hati untuk menerima pilihan Nidya, mungkin kebahagiaan Nidya bukan bersamanya
tapi satu hal yang ia yakini, bahwa ia akan mencintai satu wanita saja sama seperti ayahnya yang mencintai mendiang ibunya dan tak perduli tidak menikah seumur hidup pun, Aiden tak masalah karena cintanya hanya untuk Nidya Obelia Dirgantara
Aiden tersenyum simpul "baiklah, segera istirahat saja, saat makan malam nanti pelayan akan memanggilmu" ucap Aiden
__ADS_1
"iya kak" Nidya memilih masuk ke dalam kamarnya dan segera istirahat saja
Aiden menyandarkan tubuhnya di balkon kamarnya "aku ingin merebut mu darinya, tapi aku tahu kamu akan bersedih" gumam Aiden meratapi nasibnya yang gagal dalam percintaan di kisah cinta pertamanya
***
Aiden menyiapkan jamuan makan malam besar sebab penghuni di rumahnya sedang terdapat banyak orang dan itu semua adalah kerabat dekat serta keluarga dari ayahnya
"semoga kalian menikmati hidangan yang sudah di siapkan " ujar Aiden menyambut para keluarga ayahnya dan juga orang yang cukup dekat dengan ayahnya saat semasa hidup
"sekarang kerajaan bisnis Ghazanfer berarti resmi di pegang olehmu Aiden" tanya Ayah Adrian ingin tahu kelanjutan bisnis keluarga Ghazanfer yang cukup terkenal di mancanegara
"iya om, karena aku anak satu-satunya ayah jadi aku yang kini mengolahnya " kemudian Aiden menoleh ke arah kakek Attaf
"om tidak keberatan bukan" tanya Aiden dengan sopan
karena biar bagaiman pun kakek Attaf tetap bagian dari keluarga Ghazanfer
"tentu tidak Aiden, semua memang milikmu. ayahmu lah yang mengembangkan bisnis itu sampai. sebesar ini jadi semua tetap hak kamu. om kan punya bisnis sendiri yang sudah om serahkan pada Lucas semenjak om pensiun " balas Kakek Attaf
"Terima kasih om atas kepercayaannya" balas Aiden dengan sopan
Aiden menoleh ke arah Lucas "anak kakak juga hebat, dia jadi pebisnis muda yang cukup di kenal kehebatannya " Aiden balik memuji Lucas agar dirinya tidak terus di puji
"tetap saja aku gak bisa di bandingkan dengan kehebatan om Aiden" sahut Lucas memaksakan senyumnya ke arah Aiden
Aiden tersenyum simpul "menurutku kamu yang lebih hebat Lucas karena bisa mendapatkan hal yang paling aku inginkan" sarkas Aiden membuat keadaan tiba-tiba menjadi hening
terlihat Lucas yang mengepalkan tangannya erat karena tahu apa yang di maksud oleh Aiden
melihat itu Nidya langsung menggenggam tangan Lucas menenangkan suaminya agar tidak lepas kontrol di depan orang banyak apalagi di depan orang tuanya "mas Lucas dan kak Aiden punya kehebatannya masing-masing dan semua orang tentu akan bangga pada kalian" celetuk Nidya ingin menyudahi obrolan yang menurutnya akan membawa hasil tidak baik
Aiden kembali tersenyum "kamu benar Nidya " Aiden tentu paham kalau Nidya tidak ingin suasana menjadi tegang
"lebih baik kita lanjutkan makannya" ucap Nenek Tasmirah memecah keheningan
__ADS_1
seusai makan malam, semua orang masuk ke kamar mereka masing-masing sebab mereka akan kembali ke Indonesia keesokan paginya sebab mereka semua adalah orag sibuk yang mempunyai pekerjaan bertumpuk-tumpuk
Lucas mengejar Nidya yang akan naik ke lantai empat "kamu mau tidur pisah denganku" tanya Lucas dengan wajah memelas
Nidya menatap lurus ke arah Lucas "iya" balas Nidya
Lucas mencekal tangan Nidya "tapi aku menginginkanmu" mohon Lucas
Nidya menghela nafas kasar "baiklah" Nidya ke luar lift dan berjalan lebih dulu ke kamar Lucas
biar bagaimanapun Lucas tetaplah suaminya, semarah apapun Nidya pada Lucas, Nidya selalu mengutamakan untuk mengurus Lucas terlebih dulu ketimbang mengedepankan egonya
Lucas mengikuti langkah Nidya "Terima kasih sayang" Lucas melingkarkan tangannya di pinggang Nidya dan Nidya tidak mempermasalahkan itu
malam ini Nidya menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri walaupun dalam hatinya masih menaruh kekecewaan yang begitu besar pada Lucas
"eugghhh"Lucas menggeliat kan tubuhnya yang merasa terganggu dengan cahaya matahari dari balik celah gorden kamarnya
Lucas meletakan sebelah tangannya ke samping dan tidak mendapati siapapun di sana, dan koper miliknya juga ada di samping tempat tidur " semarah itu kamu sama aku Nidya " gumam Lucas tak mendapati istrinya tidur di dekatnya
sekitar jam 1 dini hari saat Lucas tertidur karena percintaan panasnya, Nidya memilih kembali ke kamar yang sempat ia tempati sore tadi dan hal itu sungguh membuat hati Lucas terluka
Lucas memilih masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk kepulangan mereka sebentar lagi
Lucas berjalan ke arah pintu lift untuk turun ke lantai dasar agar bisa sarapan bersama keluarga yang lain
"tring" pintu lift terbuka dan matanya langsung membelalak. lebar saat Nidya berada satu lift bersama Nidya
"kalian bareng" tanya Lucas dengan tatapan curiga
"kamar kami bersebelahan di lantai empat" celetuk Nidya tak ingin suaminya berpikir macam-macam
Lucas memicingkan matanya ke arah Aiden "kita di tunggu untuk sarapan " tegur Aiden
terpaksa Lucas berjalan masuk lift walaupun berjuta pikiran terus berkecamuk di pikirannya dan Aiden bisa melihat itu "jangan berpikiran picik Lucas, kami tahu batasan" tegur Aiden yang tahu isi pikiran Lucas
__ADS_1
Nidya menoleh ke arah Lucas "kamu curiga sama aku mas" tanya Nidya yak percaya
"tidak kok" Lucas menggeleng dengan cepat saat melihat tatapan Nidya, ia tak mau Nidya makin marah dengannya jika tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini