
lensi mengedarkan pandangannya ke sekitar, heran kenapa tara mengajaknya ke tempat ini. Bukankan tara ingin lensi mengingat kenangannya bersama dulu tapi membawanya ke tempat yang belum pernah mereka kunjungi
"kenapa kita ke sini" tanya lensi masih mengamati lingkungan temnpat mereka berada
tara hanya tersenyum sambil tetap memegang jemari lensi tanpa menjawab pertanyaan lensi yang terlihat begitu penasaran
"apa dulu kita sering ke sini" tanya lensi lagi karena masih kunjung belum mendapat jawaban
"tidak" balas tara dengan santai
"lalu kenapa kita ke sini, dan bukannya pulang ke rumah" tanya lensi yang heran kenapa tara membawanya ke pantai dan bukannya pulang ke rumah
"ingin berkencan denganmu" balas tara
lensi mengernyitkan dahinya "kencan" heran lensi
tara terkekeh pelan mengingat cerita kencannya bersama lensi "dulu kita sering kencan tapi lebih sering kita habiskan di atas ranjang" tara menoleh ke arah lensi dengan senyum tipisnya "kali ini aku ingin kencan berdua denganmu yang benar-benar kita habiskan untuk membangun quality time kita berdua" balas tara
"tapi bukankah kau ingin membuatku ingat tentang masa lalu kita" tanya lensi
tara menggelengkan kepalanya "aku tidak ingin kau mengingat masa lalu, tapi aku ingin membuatmu jatuh cinta lagi padaku" balas tara
lensi menghentikan langkahnya dan menatap lekat tara dan tara pun ikut memandangi wajah lensi yang heran dengannya "aku yakin masih bisa membuatmu jatuh cinta padaku lagi" tara mengusap pipi lensi dengan lembut
__ADS_1
"mungkin kenangan kita dulu terlalu menyakitkan sampai kau bisa melupakannya jadi aku ingin membangun ingatan yang membahagiakan untukmu" ucap tara
tara memeluk lensi dengan erat "jika kau tak bisa mengingat anak kita ya sudah jangan ingat, kalau mau mengasuhnya silahkan tapi kalau tidak, aku juga bisa menyewa pengasuh untuknya yang terpenting saat ini adalah kebahagiaanmu dan kenyamanan mu" jelas tara
"kenapa kau aneh sekali, bukannya meminta aku mengingat tentang pernikahan kita dan juga anak kita tapi kenapa malah kamu hanya ingin membuat aku kembali jatuh cinta denganmu" tanya lensi tak mengerti jalan pikiran tara
tara mengurai pelukannya dan membawa lensi duduk di bebatuan besar untuk memandang ombak di pantai "aku ingin menceritakan sebuah kisah dan jangan coba menghentikannya" pinta tara menoleh sekilas ke arah lensi dan setelah mendapat anggukan kepala dari lensi tara kembali menatap ombak yang ada di hadapannya
"dulu kita menikah karena ada kesepakatan" tara menggenggam erat tangan lensi "tujuan untuk memiliki anak dan setelah punya anak kita akan berpisah" tara diam sejenak sebelum lanjut bercerita
"aku pernah punya kekasih yang sudah bersamaku selama hampir 8 tahun tapi keluargaku maupun keluarganya menentang itu, maka itu mereka mencari seseorang yang bisa aku nikahi agar membuatku berubah pikiran yang kebetulan itu adalah kamu, dan kebetulan juga kamu tidak ingin menikah jadi kesepakatan dari orang tuaku kau Terima dengan baik karena kau ingin memberikan anak agar orang tuamu tidak terus memintamu menikah" tara membawa lensi ke dalam pelukannya
"di awal [ernikahan kita aku sungguh tidak yakin bisa berhubungan denganmu karena aku memiliki kelainan orientasi yang berbeda" tara terkekeh sejenak mengingatk keyakinannya dulu bahwa dia berbeda
"tapi ternyata aku bisa melakukannya denganmu, sungguh kau membuatku begitu candu saat itu" jelas tara akan lensi yang bisa mengubah kelainannya itu dan membuat begitu ketagihan dengan lensi
"kau lupa tadi aku bilang untuk tidak menyela pembicaraanku" ucap tara dengan nada tegas
"maaf" balas lensi merasa bersalah memotong pembicaraan tara
tara mengusap lengan lensi yang masih ada dalam pelukannya "sungguh aku merasa nyaman di dekatmu, aku akui di awal mungkin lebih ke arah kebutuhan biologis ku tapi sungguh lama kelamaan aku begitu nyaman di dekatmu, sungguh kau bisa membuatku bahagia dan tenang sekaligus"
tara menahan napasnya sejenak "waktu itu aku pernah ketakutan jika kau sampai hamil dan hubungan kita akan berakhir" tara mengurai pelukannya dan menatap manik mata lensi "maaf jika dulu aku sempat berusaha membuatmu tidak hamil dan mengeluarkannya di luar" lensi kembali mengingat bahwa pernah beberapa kali tara mengeluarkannya di luar tapi tidak pernah lensi perhatikan dengan baik karena terlalu sibuk menikmati eforia pelepasannya
__ADS_1
"tapi kenyataannya kau tetap saja hamil" tara tersenyum miris " aku sungguh ketakutan saat itu, aku takut kehilanganmu. saat itiu aku berdiam diri di depan ruangan IGD setelah tahu kamu hamil karena aku takut kehilanganmu" tara mengusap pipinya yang basah karena air matanya sudah tak sanggup untuk di bendung lagi
"tapi ketakutan itu seakan lenyap begitu saja karena kamu bilang mencintaiku, aku sungguh-sungguh sangat bahagia saat kau bilang itu padaku karena aku juga sangat mencintaimu sayang" tara mengecup kening lensi dalam-dalam
"aku terus memikirkan cara bagaimana lepas dari pram karena aku teringat janji kami dulu yang akan kembali bersama. sampai pada saat aku berusaha mencari cara ternyata dia mengajakku bertemu. Saat itu aku ingat perjanjiannya dengan ayah kalau bertemu saat anak-anak kita belum lahir maka perjanjian itu batal maka dari itu aku menemuinya dengan harapan dia melanggar perjanjian itu dan kita masih bisa terus bersama
tapi malah pertemuan ku dengannya membuatmu salah paham, sungguh aku memeluknya bukan karena merindukannya tapi aku bersyukur bahwa kami menemukan cinta kami masing-masing, dia mencintai istri dan anaknya" tara memegang kedua lengan lensi agar menghadapnya "dan aku juga mencintai istri dan anakku, aku ingin bersamamu dan anak kita. aku sungguh-sungguh mencintaimu" tara mengecup dalam bibir lensi
tara memandangi wajah lensi yang sudah mulai mendung dan bersiap akan turun hujan dari pelupuk matanya "duniaku serasa berhenti saat kau tertidur, aku tak sanggup berbuat apapun, karena separuh jiwaku menghilang. Aku teramat sangat mencintaimu istriku" ucap tara dengan sungguh-sungguh bahwa ia mencintai lensi
lensi tak kuasa menahan laju air matanya membuat pipinya basah "benarkah" tanya lensi dengan deraian air mata
"tentu saja aku sangat mencintaimu dan anak kita" ucap tara lagi
"bohong, mas bohong" balas lensi dengan ketus
"mas gak bohong lensi , mas itu cinta banget sama kamu" tara mengernyitkan dahinya merasa ada yang janggal dengan ucapannya barusan
"mas.. " tara jadi heran dengan sebutan lensi tadi bukankah lensi memanggil dengan sebutan aku kamu setelah ia sadar
"mas bohong bilang cinta sama anak kita buktinya mas mau kasih pengasuh buat urus dia, bahkan nama saja gak mas kasih padahal usianya sudah dua bulan" jelas lensi panjang lebar
"kamu ingat.. " tara langsung memeluk lensi dengan erat "kamu ingat dengan anak kita" tanya tara, yang itu tandanya lensi juga ingat dengannya dan ingat pernah mencintainya
__ADS_1
lensi membalas pelukan tara "maafin aku mas, aku bohong kalau hilang ingatan. aku cuma takut mas ninggalin aku kalau tahu aku sehat makanya aku bohong sama mas" ucap lensi penuh sesal
air mata tara makin deras turun "gak masalah sayang, gak masalah" nafas tara serasa tercekat karena menangis "aku bahkan sudah bersiap dengan kemarahan kamu saat kau sadar, jadi kebohonganmu ini gak sebanding dengan kau yang kembali sadar" tara mengecup kening lensi dalam-dalam "terima kasih sudah bangun dari tidur panjangmu sayang, mas mencintaimu" ungkap tara dengan deraian air mata