You Are My Regret

You Are My Regret
Aku Ayahnya


__ADS_3

2 bulan kemudian


setelah dua bulan tinggal di apartemen, kini Lucas beserta istri dan anaknya kembali ke lingkungan tempat tinggal mereka, tentunya dengan rumah baru yang sudah di bangun Lucas untuk keluarga kecil mereka


"bagus banget yah" Lala berteriak girang saat baru pertama kali melihat rumah mereka setelah dua bulan lamanya tak melihat rumah mereka


Lucas menoleh ke arah Qia "kamu suka rumahnya" tanya Lucas


"suka mas, rumah kita jadi kelihatan paling mewah di lingkungan ini" takjub Qia akan rumahnya yang baru


"syukurlah kalau kamu suka, ayo kita masuk" Lucas mengajak Qia dan Lala masuk ke dalam rumah baru mereka


"semua furniture rumahnya baru ya mas" Qia masih merasa tak nyaman saja saat Lucas menghabiskan banyak uang untuk suatu hal padahal Lucas selalu bilang tidak masalah karena uangnya masih ada


"tentu saja baru, ini kan rumah baru jadi semua furniture nya harus baru" balas Lucas dengan santainya


"Qia kan sudah bilang berkali-kali kalau mas Lucas itu jangan boros, tabungan mas nanti habis loh kalau kebiasaan suka ngehamburin uang kaya gini" nasehat Qia


Lucas melingkarkan tangannya di pinggang Qia "lebih baik kita lihat setiap sudut rumah kita" Lucas mengajak Qia melihat kamar mereka dan kamar Lala, tak lupa ia juga menunjukan beberapa ruangan, mulai dari dapur, ruang keluarga dan juga ruang tamu tak lupa di dalam rumahnya juga ada satu kamar tamu


"mas ngisi perabotan dapurnya lengkap banget" puji Qia saat melihat perabotan dapur yang lengkap bahan ada oven besar dan kulkas besar di sana


"ini biar kamu gak bosen di rumah, kamu bisa ngabisin waktu buat bikinin camilan buat kita saat kamu sendiri di rumah, atau kalau kamu mau lanjut sekolah juga boleh" balas Lucas


Qia mengernyitkan dahinya "lanjut sekolah gimana mas, sekarang Qia sudah 21 tahun dan cuma lulusan SMP, lanjutin sekolahnya gimana, kalau masuk SMA lagi di usia ini, malu lah mas" balas Qia


"bisa ikut paket C SMA nya nanti setelah selesai baru daftar kuliah" balas Lucas


Qia sempat tertarik akan ucapan Lucas tapi segera ia menggelengkan kepalanya " aku gak mau ngabisin uang mas Lucas" tolak Qia


Lucas menghela nafas kasar "sini duduk" Lucas mengajak Qia untuk duduk di sofa ruang keluarga


Lucas berteriak pada Lala yang akan keluar rumah setelah berlarian sepanjang jalan "mau kemana sayang" tanya Lucas


"mau main sama teman-teman Lala yah" balas Lala

__ADS_1


"jangan lama-lama ya" pinta Lucas


"iya ayah" Lala berlarian keluar rumah untuk menemui teman-temannya yang sudah tidak ia temui selama dua bulan


lucas mengeluarkan ponselnya dan membuka sesuatu dari dalam ponselnya lalu menyerahkannya pada Qia agar Qia bisa melihatnya "lihat isi rekening mas, biar kamu gak terus berpikir nyusahin mas" pinta Lucas


Qia mulai menghitung angka di dalam rekeningnya satu persatu dan itu jumlah yang cukup banyak untuknya atau bahkan terlalu banyak "ini uang mas semua" Qia begitu terkejut suaminya memilki banyak uang di dalam rekeningnya


padahal itu hanya salah satu rekening Lucas, coba kalau Qia melihat ke semua rekening Lucas, dia pasti bisa pingsan akan hal itu karena ia memang belum pernah melihat uang sebanyak itu dalam hidupnya


"tentu, kalau bukan mana mungkin mas bisa melihat akunnya dengan mudah" Lucas kembali menyimpan ponselnya dan menggenggam tangan Qia


"mau kamu kuliah sampai S3 pun, mas sanggup jadi jangan terlalu mencemaskan keuangan mas. Mas itu suami kamu jadi sudah tanggung jawab mas menafkahi kamu begitupun dengan Lala, jadi jangan terlalu banyak berpikir dan lakukan apa yang kamu inginkan sejak lama" Lucas tahu keinginan Qia untuk kuliah dari para tetangga yang sudah mengenal Qia cukup lama karena memang Qia adalah asli orang situ, tapi hidupnya cukup naas, di tinggal meninggal orangtuanya saat Qia usia 8 tahun, dan harus tinggal di panti asuhan sampai usia 15 tahun


Qia menyunggingkan senyumnya pada Lucas "Qia mau sekolah lagi mas" putus Qia


"nanti mas akan minta bantuan teman mas buat daftarin kamu ikut paket C, agar bisa segera daftar kuliah ya" ucap Lucas


"iya mas" balas Qia


***


"iya bu" Lala berjalan ke arah kulkas dan mengambilkan apa yang di minta oleh ibunya


"terima kasih sayang" Qia kembali melanjutkan aktivitasnya memasak sebab sebentar lagi Lucas akan pulang kerja


tak hentinya Qia mengembangkan senyumnya saat mengingat kalau dirinya akan kembali bersekolah, hal yang ia cita-citakan, bersekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi


"ah sudah siap semua" gumam Qia saat semua masakannya sudah siap dan tinggal ia tata saja di meja


"La, ibu mandi dulu ya, nanti kalau ayah pulang bukain pintu" Qia berjalan ke arah kamarnya untuk mandi


"iya bu" Lala mengiyakan saja perintah ibunya


Tak lama berselang terdengar suara bel berbunyi, Lala yang mendengar itu bergegas keluar untuk membuka pintu karena ia pikir itu adalah Lucas

__ADS_1


"ayah" seru Lala mengira itu adalah ayahnya tapi senyum itu langsung hilang saat menyadari kalau orang yang ada di hadapannya bukanlah ayahnya


"anda siapa, mau cari siapa" tanya Lala


"sayang" seorang wanita paruh baya langsung menghambur memeluk Lala membuat Lala ketakutan


"ibu!" teriak Lala dengan suara kencang


Qia yang mendengar suara teriakan Lala langsung berlari keluar dengan berlari "ada apa lala" Qia begitu panik mendengar teriakan anaknya


mata Qia membelalak lebar kala melihat siapa yang memeluk anaknya "jangan dekati anakku" Qia mendorong kasar wanita yangs edang memeluk Lala tak eprduli dengan tangisan Lala yang terus menolak untuk di peluk


melihat wanita paruh baya itu terjatuh karena dorongan Qia, pria paruh baya yanga da di sebelah wanita itu pun marah besar "berani kamu ya Qia!" teriak pria paruh baya tersebut


Qia langsung memeluk anaknya yang ketakutan karena perbuatan orang yang paling tidak ingin ia temui saat iniĀ  "saya gak akan berbuat seperti kalau anda tidak membuat putri saya ketakutan" tukas Qia tak berani memandang pasangan paruh baya yang ada di hadapannya


"dia itu cucu kami, jadi kami berhak atas dia, dan bukannya kamu yang cuma anak yatim piatu miskin" cecar wanita paruh baya bernama Sarah Amalia


Qia menatap tajam Sarah "tapi wanita miskin dan yatim piatu ini yang sudah mengandung dan melahirkan Lala jadi anda tidak bisa mengusik anak saya" balas Qia dengan berani


"kami bisa menjarain kamu ya, kalau kamu gak kasih Lala ke kami" ancam Reza Alvian, orang tua dari Reno, almarhum suami Qia


"saya gak takut, karena saya gak salah, Lala anak saya kadi gak ada yang bisa ambil dia, jika ada yang berhak selain saya hanyalah bapaknya, tapi sayangnya bapaknya sudah meninggal" balas Qia


Reza menoleh ke arah pria di belakanganya "kenapa kamu diam saja, bantu ayah ambil Lala" titah Reza pada pria yang tak lain adalah MAhardika Alvian, kakak dari Reno, almarhum suami Qia


"iya ayah" Mahardika langsung menarik tangan Lala dengan paksa dari Qia tapi tentu saja Qia melindunginya dengan sekuat tenaga


"kalian gak bisa ya berbuat seperti ini ke saya, saya bisa tuntut anda atas kasus penculikan" teriak Qia begitu panik melawan dua pria padahal ia hanya seorang wanita


"silahkan saja, kami tidak akut" Reza mencoba terus menarik Lala dari tangan Qia


"lala takut bu" teriak Lala karena tangannya terus di tarik oleh dua pria yang tak di kenalnya


"ada ibu sayang" balas Qia terus berusaha menahan Lala agar tetap dalam pelukannya

__ADS_1


"bebal juga ya kamu" Reza memukul Qia dengan sapu yang ada dekat pintu, tapi tak membuat Qia mau melepaskan pelukannya pada Lala sama sekali


"mas, tolong kami" batin Qia berharap Lucas segera pulang ke rumahnya


__ADS_2