
***
Qiran mampir ke apartemen tempat tinggal jay untuk
makan malam bersama jay
“jay, kamu pintar masak ya” ucap
qiran yang sedang serius memandangi kegiatan jay yang tengah memasak
Jay mendongak menatap qiran yang sedang duduk di hadapannya “mau belajar” tawar jay
Qiran langsung menggelengkan
kepalanya “tidak” qiran memandangi tangannya “aku hanya ingin menggunakannya
untuk menulis bukan untuk memasak” balas qiran tak ingin belajar memasak
“menulis bukan berarti tidak di
perbolehkan memasak qiran” sahut jay tak mengerti jalan pikiran qiran
Qiran terkekeh “aku malas memasak jay, lagian kan aku punya kamu, jadi gak perlu memasak” balas qiran datar
“untuk sekarang aku bisa saja
terus memasak untukmu, tapi kalau nanti aku punya pacar atau menikah nanti aku tak bisa memasak untukmu lagi, aku tak ingin istri atau kekasihku nanti
cemburu” balas jay
“kalau gitu jangan menikah” ucap
qiran tanpa berpikir
“ha?” mulut jay langsung menganga lebar
“jangan menikah, jadi kekasihku
saja atau menikah denganku saja” ucap qiran dengan polosnya
“uhuk uhuk uhuk” jay
terbatuk-batuk pendengar penuturan qiran
Jay langsung minum air mineral
yang ada di dekatnya dengan gerakan cepat “kamu sadar gak sih dengan ucapanmu itu?” kesal jay menatap kesal qiran setelah menghabiskan minumannya
Qiran menatap jay dengan muka
polosnya “kenapa? kita bisa menikah nanti” balas qiran tanpa berpikir
“emang kamu cinta sama aku?”
Tanya jay
“aku sayang kamu” balas qiran
Jay mulai mengerti maksud qiran
“maksudku bukan yang ada dalam pikiranmu qiran tapi sebagai kekasih” sahut jay
“aku malas mencintai seseorang”
qiran memilih duduk di sofa lalu menonton TV
Jay hanya menghela nafas kasar
akan kata abstrak sahabatnya
*
Qiran dan jay makan malam bersama dalam diam “tolong lain kali jangan sembarangan berucap seperti itu qiran” pinta jay
Qiran mengernyitkan dahinya
“apa?” bingung qiran
“jangan sembarang mengajak orang menikah ataupun pacaran” ulang jay
Qiran mengangguk “iya” qiran
melanjutkan makannya dengan lahap
Jay memandangi qiran “bagaimana ini, gara-gara kau, sepertinya jantung ini tak mau tenang” jay menatap lekat
qiran “fix aku jatuh hati padamu kali ini” batin jay menatap wajah cantik qiran yang sedang lahap makan
__ADS_1
***
Liburan semester di mulai, jay
mulai makin akrab dengan keluarga qiran yang berada di inggris bahkan jay sering di
minta untuk menjaga nenek alaya karena jay yang sudah cukup mahir merawat seseroang akibat bekerja lepas di rumah sakit sebagai perawat
“jay” panggil nenek alaya
“kamu gak pulang ke korea,
liburanmu kan cukup lama” tanya nenek alaya
“tidak nek, sayang uangnya” balas
jay dengan jujur
“kalau kamu mau, nenek bisa
membayar tiket kepulanganmu” tawar nenek alaya
“tidak nek, saya tidak mau
berhutang budi pada siapapun” balas jay
“bukan berhutang budi jay, ini bentuk rasa terima kasih nenek Karena kamu sering menjaga nenek” balas nenek alaya
“tidak perlu nek, lagian keluarga
di panti pasti tahu kesulitanku” balas jay
"Nenek salut padamu jay, karena
bisa berjuang keras untuk meraih cita-citamu. Kau pasti akan berhasil jadi dokter” ucap nenek alaya penuh pengharapan
“semoga nek” balas jay
“sayang sekali qiran harus ke
Indonesia karena neneknya meninggal” ucap nenek alaya menyayanhkan qiran yang tak di rumah padahal jay adalah sahabat qiran
“tak maslah nek, yang meninggal
kan neneknya jadi dia harus datang tentunya” balas jay
ikut, tapi akhtar tak mnegijinkan katanya takut nenek kelelahan” ucap nenek alaya
“tapi benar apa yang di ucapkan
uncle akhtar, nenek pasti akan kecapean kalau ke Indonesia, apalagi kondisi kesehatan nenek yang kurang baik” balas jay
Nenek alaya tersenyum hangat pada jay “ tapi nenek bersyukur ada kamu yang menemani nenek” ucap nenek alaya penuh
syukur bisa ada teman mengobrol seperti jay
*
Hari-hari liburan semester jay di
habiskan untuk menemani nenek alaya, sebenarnya untuk memandikan dan dan
memakaian baju ada suster perempuan yang bertugas, jay hanya bertugas untuk menemani nenek alaya makan dan mengajak mengobrol serta memastikan nenek alaya minum obat tepat waktu
***
Jay tengah duduk di ruang
keluarga sembari menemani nenek alaya berbincang-bincang
"nenek, mau tetap di sini atau mau ke kamar saja nek? " tanya jay
"di sini saja jay" balas nenek alaya
ponsel jay yang ada di atas meja berserjng. jay mengambilnya untuk melihat siapa yang memanggil
"qiran nek" jay menunjukan layar ponselnya pada nenek alaya
"angkat saja" ucap nenek alaya
“halo” sapa jay saat ia
mengangkat panggilan dari qiran
“hai jay” sapa balik qiran
“kamu kapan pulang?” Tanya jay tentang rencana kepulangan qiran, karena harusnya qiran sudah kembali
__ADS_1
“maafkan aku jay, mungkin aku di
sini lebih lama dari rencana, karena aku harus mengurus perihal perusahaan di sini. Daddy harus balik ke korea karena ada sedikit masalah, dan tentunya mommy
ikut daddy jadi aku terpaksa menghandel urusan disini” balas qiran
Jay mengernyitkan dahinya “kau
bisa mengurusnya?” jay tak percaya qiran mampu mengurus perusahaan di usia qiran yang masih terbilang muda
Qiran terkekeh “aku keturunan
ghazanfer jay. Kami selalu di latih sejak dini untuk mengatasi urusan
perusahaan. jadi tentu aku bisa” sahut qiran
“oh” jay hanya ber oh ria
“oh ya, uncle akhtar sudah pulang
belum?” Tanya qiran
“belum, beliau bilang ada urusan
di Belanda, jadi untuk sementara beliau di sana” balas jay
“maaf ya jay, ngerepotin kamu nemenin nenek” ucap qiran
“tidak masalah qiran, toh ini
bagian pekerjaanku” balas jay
“jay tolong serahin ponselnya
pada nenek aku ingin bicara” pinta qiran
“oke” jay menyerahkan ponselnya
pada nenek alaya
Setelah berbincang nenek alaya
menyerahkan ponsel jay
“sudah selesai nek” jay menerima
ponselnya
“sudah” jay langsung menyimpan
ponselnya di saku celananya
“nek, mau cobain kue bikinan jay
tidak? Tadi jay sempat coba bikin kue” Tanya jay
“kau bisa buat kue” nenek alaya
tak menyangka seorang pria bisa membuat kue
Jay tersenyum “tentu saja bisa,
bentar aku ambilin ya nek” jay berjalan ke arah dapur untuk mengambil kue yang
tadi siang sempat jay buat
“nih nek” jay menyerahkan kue
pada nenek
Nenek langsung mencobanya “emmm enak” gumam nenek alaya menyukai kue buatan jay
“tadi aku bikin pakai bahan-bahan
yang baik untuk kesehatan nenek” ungkap jay
“kau tidak ingin jalan-jalan
dengan temanmu jay?” Tanya nenek alaya di sela kegiatannya makan kue
“aku hanya mempunyai qiran
sebagai teman nek, aku kurang bisa bergaul. Dulu saja aku hanya bisa berteman dengan qiran dan tara” balas jay jujur
"belajarlah untuk lebih bergaul jay, itu akan membantumu nanti" nasehat nenek alaya
"iya nek" balas jay
__ADS_1