
Ara masih menatap malas ke arah Tio, sedangkan Tio menatap Ara dengan senyum cerahnya
"apa kau merindukanku Ara sampai datang kemari" tanya Tio yang begitu bahagia melihat Ara ada di kota tempat tinggalnya saat ini
Ara menatap malas ke arah Tio "aku gak nyusul kamu ya Tio, aku ke sini karena di pindahkan tugas ke kantor cabang yang ada di sini" sangkal Ara
Tio menatap Ara dengan binar penuh kebahagiaan "benarkah itu Ara, kamu akan tinggal di sini dan bekerja di kantor cabang" tanya Tio begitu bahagia wanita pujaan hatinya akan tinggal dekat dengannya
"sayangnya iya" balas Ara dengan ketus
"kamu tinggal di mana Ara" tanya Tio lagi
"kenapa aku harus ngasih tahu kamu" balas Ara
"karena aku kekasihmu Ara" balas Tio dengan begitu percaya dirinya
"kamu bukan kekasih aku ya Tio, itu hanya ucapan sepihak kamu yang jadiin aku pacar padahal aku gak mau pacaran sama kamu" kesal Ara karena Tio mengatakan mereka berpacaran secara sepihak padahal Ara sama sekali tidak ingin berpacaran dengan Tio sama sekali
"hubungan kita sudah sejauh ini kamu masih bilang kita gak pacaran" heran Tio dengan penolakan yang sama dari Ara untuk kesekian kali
padahal ini sudah enam bulan mereka makin dekat bahkan beberapa kali mereka bertukar peluh di atas ranjang saat kebetulan mereka bertemu entah di Jakarta, Semarang ataupun kota lainnya
"itu karena kamu yang maksa aku Tio" ketus Ara
"aku gak pernah maksa kamu ya Ara, kamu sendiri yang mau" bantah Tio tidak Terima jika di katakan dirinya yang memaksa Ara padahal dirinya sama sekali tidak pernah memaksa Ara walaupun memang awalnya Ara selalu menolak berhubungan badan dengannya tapi akibat kelincahan tangan Tio yang begitu menggoda dan sentuhan bibir yang sungguh memabukkan bagi Ara, akhirnya Ara tetap berkali-kali terjerat pesona dari Anantio Pradana Kusuma
Kali ini Ara tak bisa membantahnya sebab memang itulah kebenarannya "sudahlah" Ara memilih pergi saja dan melanjutkan acara belanjanya yang sempat tertunda karena bertemu dengan Tio
Tio langsung mengejar Ara dan mensejajarkan langkahnya dengan Ara "kamu tinggal di dekat sini" tanya Tio penasaran
"hmmmm" Ara hanya berdehem saja dan malah sibuk memasukan semua barang keperluannya yang ia butuhkan dalam troli belanjaannya
__ADS_1
Tio kini paham di mana Ara tinggal sebab di dekat sini hanya satu apartemen besar dan sudah bisa Tio tebak Ara pasti tinggal di sana
"pulang aku antar ya, pasti berat sekali bawaan kamu" tawar Tio
Ara menghentikan langkahnya dan menatap sinis ke arah Tio "gak usah modus deh Tio" kesal Ara dengan ajakan Tio
Tio Melirik ke Arah Troli milik Ara "aku cuma mau bantu kamu loh, kalau gak mau ya gak papa" balas Tio dengan santai
Ara ikut melirik ke arah troli miliknya dan benar saja jika troli Ara sangat penuh dan sudah pasti ia akan kesulitan membawanya seorang diri apalagi ia berjalan kaki saat datang berbelanja
"baiklah, terpaksa kebaikan hatimu ku Terima" putus Ara walaupun terpaksa
Tio langsung menyunggingkan senyumnya "Iya Ara, aku yang maksa buat bantu kamu kok" balas Tio tak ingin Ara menolak bantuannya kali ini
seusai acara belanjaannya selesai Ara di antar Tio ke unit apartemen Ara. Awalnya Ara menolak di antar oleh Tio sampai kamarnya tapi dengan cekatan Tio bisa menciptakan berbagai alasan yang terdengar masuk akal bagi Ara sehingga menyebabkan Tio kini bisa masuk unit apartemen yang di tinggali oleh Ara
Tio sudah menyimpan semua belanjaan persediaan makanan Ara di dalam kulkas "sudah semua masuk Ara" ucap Lucas saat menutup pintu kulkas
Tio mengerutkan keningnya "kamu langsung usir aku Ara, harusnya kamu persilahkan aku minum dulu atau istirahat gitu, aku baru bantu kamu bawa barang banyak loh" Tio tentu tidak ingin langsung pergi padahal ia susah bersusah payah mengantar Ara dan membawakan semua barang Ara ke unit apartemen milik Ara
Ara mengerutkan keningnya "terus kamu mau apa" tanya Ara sinis
"kasih minum dulu kek, haus loh aku ini" balas Tio
"ya sudah ambil sendiri" tunjuk Ara pada kulkas yang masih ada di hadapan Tio
Tio membuka kembali kulkas dan mengambil minuman kaleng yang di jadikan stok oleh Ara "kamu suka di sini" Tio menyesap minumannya sambil berjalan ke arah Ara
" belum tahu lah kan baru hari ini sampai" balas Ara mencebikkan bibirnya kesal
Tio hanya manggut-manggut mengiyakan saja apa yang di sampaikan oleh Ara " aku boleh sering main ke sini ya" tanya Tio lagi
__ADS_1
"sejak kapan kamu dengerin aku" balas Ara dengan ketus
sebab Ara tahu sekali menolak pun percuma sebab semakin Ara menolak maka Tio semakin punya berbagai cara untuk mendekati Ara
"belum pernah sih" kekeh Tio merasa ucapan Ara adalah suatu kebenaran
Tio memperhatikan Ara yang sedang fokus melihat acara di layar televisi milik Ara "cantik" gumam Tio menatap ke arah Ara
"apa" tanya Ara yang sayup-sayup mendengar suara Tio
"Cup" Tio langsung menyambar bibir ranum Ara "cantik" ulang Tio
melihat Ara yang hanya diam mematung, lantas membuat Tio kembali melancarkan aksinya untuk menikmati bibir ranum milik Ara
awalnya Ara hanya diam saja tapi lama kelamaan Ara membalas setiap hal yang di lakukan oleh Tio
tangan Ara melingkar di leher Tio membuat sudut bibir Tio menyinggung ke atas
"kamu tidak akan pernah bisa lepas dari aku Ara. sampai kapanpun kamu hanya milikku. Mulutmu memang bisa berkata tidak tapi tubuhmu sudah berkata kalau kamu juga menginginkanku" batin Tio bersorak gembira saat Ara tak bisa menolak pesonanya walau bibir Ara selalu berkata tidak tertarik
entah kapan terjadinya tubuh Ara dan Tio kini sudah sama-sama polos seperti bayi yang baru lahir
Tio mengangkat tubuh Ara yang melingkar di pinggangnya tanpa melepas pangutan mereka. Suara-suara indah yang begitu memabukkan terus keluar dari bibir Tio maupun ara membuat suasana kamar Ara makin memanas walaupun AC di kamar Ara masihlah menyala
entah sampai beberapa kali pergulatan panas itu terjadi, entahlah Tio tidak ingat, yang ia ingat hanya kenikmatan bercinta bersama pujaan hatinya
Tio memandangi wajah Ara yang tertidur lelap setelah kegiatan panas mereka yang berlangsung beberapa ronde membuat Ara tak sanggup membuka mata lagi
Ara memang selalu berkata tidak tapi pada nyatanya Ara selalu jatuh pada pesona milik Tio yang selalu membuat ia tak berdaya dan begitu puas dalam hal bercinta
Tio mengusap pipi Ara dengan lembut "kamu hanya milikku ara, gak akan aku biarin pria manapun memilikimu tak perduli bahwa itu Lucas, bos aku toh memang Lucas tidak akan pernah memilihmu karena Lucas hanya mencintai satu wanita dan itu tidak akan berubah" gumam Tio dengan senyum tipisnya memandangi wajah Ara yang masih betah terlelap usai sesi percintaan panas mereka yang menguras tenaga Ara dan juga Tio
__ADS_1
"Selamat tidur sayangku" bisik Tio ikut terlelap menyusul Ara ke dalam dunia mimpi