
Nidya melirik ke arah empat temannya yang sudah duduk manis di salah satu sofa panjang di ruang tamu miliknya "kalian ke sini bingung tidak" tanya Nidya pada ke empat temannya
"sempat bingung sih, tapi kebetulan ketemu sama teman tuan bos jadi gak jadi nyasar deh" kekeh Kellin yang merasa malu dirinya hampir tersesat karena ternyata lingkungan itu memiliki jarak yang cukup jauh, untung saja rumah yang di tempati Nidya dan Aiden tidak terlalu masuk ke dalam, walaupun tadi sempat memutar karena salah mengambil rute jalan
"rumah suami kamu besar banget sih, jadi kan kita bingung mana rumahnya jaraknya jauh-jauh banget" celetuk Arsy dengan polosnya saat di ceritakan gerbang yang mereka masuki adalah batas perumahan milik Aiden
"kamu saja yang kampungan, ini tuh kawasan milik Aiden tentu rumahnya jarang-jarang, itu tuh cuma paviliunnya saja" sinis Freya yang dari tadi hanya diam tapi jadi ingin berkoar saat teman-teman Nidya begitu kampungan pikirnya
"wajar lah kalau mereka bingung, kan mereka baru satu kali ke sini, aku saja kalau sendirian mungkin nyasar" bela Nidya pada ke empat temannya
"malu-maluin jika nyasar" balas Freya tanpa sadar dan langsung di hadiahi tatapan tajam oleh ke 7 orang yang ada di sana
Nidya tersenyum hangat ke arah Freya "kalau nyasar mungkin malu-maluin sih tapi jangan khawatir denganku Freya, karena aku tak mungkin nyasar sebab suamiku selalu menyiapkan sopir serta pengawal pribadi untukku kemanapun aku pergi, jadi saat aku akan nyasar pasti mereka akan berlari dan menghampiri aku agar itu tidak terjadi" balas Nidya dengan santainya
Freya langsung kicep diam saat mendengar penuturan Nidya yang secara tidak langsung menunjukan posisi Nidya di depan semua orang termasuk dirinya
"oh ya Nidya, kamu tahu kabar Reagen tidak? rasanya sulit sekali bertemu dengannya sekarang-sekarang ini" tanya Alex mencoba mengalihkan pembicaraan
"kabar kak Reagen baik, baru kemarin dia menghubungiku untuk memberi kabar kehamilan istrinya, jadi mungkin dia akan lebih lama stay di Indonesia ke timbang di sini" balas Nidya atas kabar yang baru saja ia dengar perihal kehamilan Zahira
"wah, dia duluan yang punya anak ternyata. Aku kira dia yang akan terakhir menikah dan punya anak karena tidak pernah pacaran sama sekali " sahut Fernando begitu terkejut sekaligus senang atas kabar kehamilan istri dari Reagen
Nidya mengerutkan keningnya "bukankah kalian semua seusia dengan kak Reagen, bukankah harusnya kalian sudah menikah sama seperti kak Reagen" tanah Nidya
__ADS_1
"kami belum ketemu yang cocok Nidya, tapi kalau tian sih mungkin bentar lagi menikah" sahut Fernando
"kak tian mau nikah" tanya Nidya
"belum tahu, masih abu-abu" balas Christian
Nidya melirik ke arah Fernando dan Alex "kalau kalian masih jomblo, bisa mencoba berkenalan dengan temanku" Nidya menunjuk ke arah Kellin dan Arsy "mereka jomblo, kalau dia yang lain sudah memiliki kekasih" tawar Nidya
"apaan sih Nidya, kita bukan dagangan ya" celetuk Arsy merasa kurang suka jika di jodohkan
Nidya terkekeh akan reaksi Arsy "aku hanya bercanda Arsy, kalau tidak suka ya sudah jangan kenalan" tukas Nidya
tak lama waktu berselang Aiden turun ke bawah dan menghampiri Nidya, mencium keningnya sebelum mereka duduk "jangan terlalu memperlihatkan kemesraan kalian di depan jomblo seperti kami ya" kesal Fernando melihat Aiden yang begitu mesra dengan Nidya
"karena kak Aiden sudah muncul, ayo kita makan. Aku sudah menyiapkan makanan yang spesial untuk kalian" ajak Nidya
Nidya dan Aiden berjalan ke arah taman belakang di mana sudah ada meja makan serta panggung kecil di sana lengkap dengan sound system serta piano
"kau menyiapkan ini semua hari ini Nidya" takjub Fernando akan dekorasi acara makan malam yang di siapkan Nidya padahal ia mendengar dari Aiden kalau Nidya kerja terlebih dahulu
"enggak kok kak, yang nyiapin semua ini tetap pelayan dan aku hanya mengarahkan mereka saja" jujur Nidya
"tapi tanpa pengarahan yang bagus dari orang yang sudah banyak pengalaman untuk ini tentu kamu tidak akan bisa menyiapkan semua ini dalam waktu singkat" sanggah Fernando
__ADS_1
"aku sih gak ragu lagi Nidya bisa menyiapkan ini, jangan lupa perusahaan ayahnya sudah menerbitkan banyak aktris ternama, tentu banyak acara istimewa yang sudah di siapkan Nidya" sahut Christian
"terima kasih kak atas pujiannya" ucap Nidya berterima kasih paada Christian
Nidya dan Aiden menyambut para tamunya dan begitu baik, bahkan ke empat teman Nidya yang hanya orang biasa saja tidak di pinggirkan dan di ajak berbaur bersama, beruntung teman-teman Aiden bukanlah orang yang memandang rendah status orang lain dan bisa menghormati tamu di tempat orang yang sedang mereka datangi sebagai tamu juga
Tapi tentu berbeda bagi Freya yang terus mengerutu dalam hati karena Nidya begitu anggunnya berbicara dengan teman-teman Aiden dan berbaur dengan cepatnya padahal dirinya harus bersusah payah untuk itu dan menunggu sampai ia jadi model papan atas yang membuatnya punya beberapa kerjasama dengan perusahaan, Aiden, Fernando, Christian maupun Ales
Apalagi dalam obrolan itu ia jadi tahu kalau Nidya bukanlah dari kalangan miskin seperti apa yang ada dalam pikirannya seblum ini. Nidya juga berasal dari kalangan atas bahkan terlihat jelas ada di atas keluarganya yang hanya punya perusahaan kecil terlihat dari obrolan seputar pekerjaan, dimana Nidya bisa begitu nyambung saat berbicara tanpa Aiden ikut membantu berbicara malah Aiden hanya diam memandangi Nidya saja saat berbicara seperti orang yang begitu takjub melihat Nidya berbicara padahal Aiden kan sudah melihatnya setiap hari
acara makan malam berlangsung dengan lancar sampai kesemua tamua Aiden dan Nidya pulang dan Aiden serta Nidya yang mengantar mereka sampai teras rumahnya
"terima kasih atas sambutannya, semoga kalian tak bosan-bosan menerima kami sebagai tamu" ucap Alex mewakili kesemua yang hadir untuk berterima kasih atas penyambutan Aiden dan Nidya
"sama-sama kak, Nidya malah senang banget kalian main ke sini hari ini, jadi gak berasa sepi di rumah" balas Nidya
"makanya kamu segera punya anak ya, biar rumah kalian ramai" ledek Fernando
mendengar itu Aiden langsung menggenggam tangan Nidya takut istrinya akan kembali bersedih "doakan saja" sahut Aiden
"kalau gitu kami pulang ya" pamit kesemua orang dan kini hanya tinggal aiden dan Nidya saja
Aiden melingkarkan tangannya di pinggang Nidya dan membawanya masuk ke dalam rumah "ayok kita istirahat" ajak Aiden melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewahnya
__ADS_1
sepanjang jalan Nidya hanya diam saja membuat Aiden ketar-ketir sendiri takut celetukan Fernando menyinggung perasaan Nidya