
Jay berjalan ke bawah dan menghampiri nenek alaya untuk berpamitan “nek aku pulang ya” jay beralih menatap uncle akhtar “aku pulang uncle” pamit jay
Tara melihat jelas wajah lelah jay, sebagai teman tentu tara tak tega pada jay “ kamu tak bisa menginap di sini saja jay, wajahmu terlihat lelah sekali” tara begitu khawatir dengan sahabatnya itu
“aku besok ada shift pagi tar” balas jay
“ya ampun jay, jarak apartemen ke rumah sakit dengan jarak rumah ini ke rumah sakit tentu jauh lebih dekat dari sini kali” protes tara akan jawaban jay
“tapi aku gak bawa baju ganti” sahut jay
“sepertinya pakaianmu masih ada yang di sini, nenek simpan di kamar qiran” ucap nenek alaya
tara mendekat ke arah Jay “gak ada alasan, kau begitu lelah jadi beristirahatlah di sini” ucap tara dengan nada paksaan dan tak ingin di tolak
“iya kau menginap saja jay” ucap nenek alaya
“baik lah nek” balas jay
tara melirik nenek alaya “aku ajak dia istirahat di kamarku ya nek” tara langsung menarik jay masuk dalam kamar tamu yang di tempati tara selama menginap di rumah uncle akhtar
Tara mendudukan jay dengan gerakan sedikit kasar “jangan terlalu sibuk sampai melupakan istirahatmu” ketus tara
“ya mau gimana, aku kan seorang dokter. Tugasku menyelamatkan orang-orang terkadang waktuku harus tersita saat menolong orang yang membutuhkan” balas jay
“ya sudah istirahat lah, setelah itu kita perlu bicara” ucap tara
Jay melepaskan mantelnya juga alas kakinya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang
Jay meletakkan satu tangnnya dengan posisi di tekuk ke atas keningnya “kenapa kau memilih menginap di sini?”
Tanya jay tanpa menatap tara
Tara mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan jay “memangnya kenapa?” bingung tara
__ADS_1
“dulu kan kamu selalu menginap bersamaku saat berlibur ke sini tapi setahun belakangan kau selalu memilih menginap di rumah uncle “ balas jay
“kau cemburu, karena aku lebih memilih qiran. Tersaingi gitu karena aku lebih dekat dengan qiran ketimbang
denganmu. Kamu rindu bisa mengobrol denganku” ledek tara dengan kekehan
Jay langsung melempar bantal yang ada di sampingnya pada tara “jangan asal kalau ngomong” ketus jay
Tara menghela nafas pendek “aku tahu yang kamu khawatirkan tapi persahabatanku dengan qiran tak akan lebih dari persahabatn. Mungkin kau ikut khawatir karena ada omongan tak ada yang namanya
persahabatan sejati antara wanita dan pria. Tapi aku berani jamin kalau aku dan qiran tak akan pernah lebih dari sahabat” jay menatap tara mencoba mencari kebohongan di mata jay tapi tak ia temukan
“aku jamin pakai garansi deh” sahut tara
“kamu kira panci pakai garansi” balas jay
Tara ikut merebahkan tubuhnya di samping jay “kau masih merasa qiran tidak mencintaimu” Tanya tara
Jay hanya terdiam “jangan terlalu takut akan suatu hal yang belum kamu hadapi jay. Harusnya bukan masalah qiran
Jay memejamkan matanya “aku tahu itu, bahkan aku bisa menebak akhir dari kami berdua. Tapi setidaknya aku ingin yakin bahwa setidaknya qiran mencintaiku” balas jay
“ya sudah bilang saja kalau kau mencintainya” balas tara
“sudah aku katakana padanya” balas jay
“lalu apa tanggapan qiran ?” Tanya tara
“dia bilang jangan mencintainya” balas jay dengan suara berat
“terus dia bilang cinta sama kamu enggak?” Tanya tara
“dia bilang menyayangiku “ balas jay
__ADS_1
“ih dasar wanita ngeselin, tinggal ngomong yang jelas kok susah amat. cinta ya cinta gak cinta ya gak. ” kesal tara menunjuk ke udara "emang plin plan tuh cewek satu" tambah tara
“makanya aku bingung harus apa” sahut jay
tara menatap tak tega akan sahabatnya itu, jelas ia tahu permasalahan utama hubungan kedua sahabatnya yang tentu akan sangat sulit penyelesainnya “kalau aku boleh usul lebih baik lepaskan saja qiran, toh kemungkinan hubungan kalian berhasil itu gak lebih dari 1 %. Latar belakangnya, orang tuanya tak mengizinkan kalian bersama” jay memicingkan matanya menatap tara
"bukan bermaksud menghinamu atau merendahkanmu jay" tara menatap lekat wajah sahabatnya "aku dan qiran tak pernah memandang status kekayaan seseorang. tapi aku tahu betul sifat daddy qiran, aku melihatnya dari kecil bagaimana kerasnya dia. dia itu sebelas duabelas dengan ayahku hanya saja kekuasaan ayahku tak sebesar daddy qiran" ungkap tara
tara menunjuk dirinya sendiri “aku saja yang memiliki latar belakang yang baik hanya di jadikan sebagai cadangan, bukan pilihan utama orang tuanya. Kalau bukan memandang ayahku yang punya kekuatan pengawalan yang kuat
mana mungkin daddy qiran mengizinkan aku dekat dengannya selama ini” jelas tara
“lalu aku harus bagaimana?” ada nada frustasi dari pertanyaan jay dan itu membuat tara makin tak enak dengan jay, tapi ia juga harus segera menyadarkan sahabatnya itu bahwa kemungkinan keberhasilan hubungan sahabatnya itu sangat kecil
llepaskan saja Qiran” balas tara dengan berat hati "lepaskan dia agar kau lebih bisa menjalani hidup" tambah tara
“aku tidak bisa” jay menggelengkan kepalanya tak sanggup dengan usulan yang tara berikan
“ya sudah nikmati saja sebisa mungkin hubungan kalian sekarang karena aku yakin orang tuanya akan memakai cara di luar nalar untuk memisahkan kalian pada saatnya ” tara harus mengingatkan jay akan kemungkinan terburuk agar jay tidak kaget dengan cara ekstrim yang akan di lakukan orang tua qiran
jay sadar apa yang di ucapkan tara adalah kebenaran, tapi ia sangat mencintai qiran jadi bagaimana dia bisa menyerah begitu saja “akan aku pikirkan nanti” balas jay
"semua keputusan ada di tanganmu jay, aku sebagai sahabatnya hanya bisa mendukung segala keputusanmu. aku hanya tak ingin kalian berseteru dan membuatku jauh darimu sahabatku. karena hanya kalian berdua lah sahabat yang aku miliki" ucap tara
jay memicingkan matanya "kenapa kamu bilang tak ingin jauh dariku" tanya jay
"karena saaat kalian bertengkar dan bermusuhan aku pasti akan lebih memilih qiran" balas tara dengan yakin
"segitunya kamu, mentingin qiran dari pada aku" kesal jay
"tentu saja ia, dia sahabatku sejak aku di lahirkan" tara menyunggingkan senyuman ke arah jay "kau lupa kalau dia lahir lebih cepat beberapa minggu dari menjadikannya di kakakku" ucapan tara tentu langsung di hadiahi pukulan di bagian kepala oleh jay
tara mengusap kepala belakangnya "kau jangan lupa seberapa besar sumbangsih dia akan hidupku jay, dan hal itu juga yang membuat ayahku bersumpah setia menjaga qiran walaupun mungkin harus melawan daddy qiran yang jelas punya keluasaan lebih di atas ayahku" ungkap tara
__ADS_1
jay tentu pernah mendengar kisah itu, mereka kan sudah bersahabat cukup lama jadi tentu saja qiran dan tara sudah pernah menceritakannya pada jay