
Jay menemani qiran yang sedang melakukan pemeriksaan rutin bulanannya di rumah sakit milik keluarga besar qiran yang kebetulan juga tempat ia bekerja
jay menggandeng tangan qiran untuk membantunya berjalan "kamu capek ya sayang " jay membawa qiran beristirahat di ruangan kerja miliknya agar bisa istirahat dengan lebih nyaman
qiran duduk di sofa dengan menyandarkan punggungnya di sofa dan menghela nafas panjang seolah telah menempuh jarak yang begitu jauh untuk berjalan "iya, sekarang makin susah buat jalan dan rasanya cepat lelah" adu kinan tentang apa yang di rasakannya sekarang di saat kehamilannya yang sudah semakin mendekati bulan lahirnya
"wajar sayang kalau cepat lelah, kan ini sudah masuk bulan ke delapan" balas jay yang tentu tahu perihal keluhaan tentang kehamilan karena jay yang memang berprofesi sebagai dokter
jay mengangkat kaki qiran, meletakannya di atas pangkuannya dan memijitnya perlahan "ini makanya aku bilang kamu mulai cuti" ucap jay
"ya kan sekarang aku sudah ambil cuti sayang" balas qiran
jay mencebikkan bibirnya "iya sekarang kamu sudah ambil cuti, tapi kemarin kan kamu selalu nunda saat aku minta kamu untuk segera cuti" balas jay mengingat qiran yang selalu menunda waktu cutinya dengan alasan banyak pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan dan dia alihkan pada jonathan, asisten qiran
qiran mengusap pipi jay menggunakan ibu jarinya dengan gerakan perlahan "maaf ya jay, aku salah, jangan marah ya" pinta qiran dengan nada manja
jay tersenyum simpul menatap wajah cantik istrinya yang tak berkurang sedikitpun walaupun bobot tubuh qiran bertambah banyak akibat kehamilannya, malahan menurut jay qiran makin cantik karena sedang hamil anak mereka "mana mungkin aku bisa marah denganmu sayang, aku hanya khawatir denganmu dan tak ingin kamu terlalu lelah sayang" balas Jay dengan senyum yang menghias di wajah tampannya
jay mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan hangat untuk qiran. Awalnya mungkin hanya kecupan singkat tapi lama kelamaan makin terlihat panas karena qiran menyambut pangutan jay dengan senang hati
"ceklek" pintu ruangan jay terbuka tanpa ada suara ketukan dan ada seseorang yang berdiri di depan pintu memandangi adegan yang terpampang nyata antara qiran dan jay
"ooopss sorry" tara berjalan tanpa dosa menuju sofa yang ada di ruangan jay tepat di hadapan qiran dan jay
__ADS_1
jay menatap kesal sahabatnya yang jelas mengganggu aktifitas dirinya bersama qiran "lain kali ketuk dulu napa" jay langsung menggeplak kepala belakang tara saking kesalnya karena mengganggu dirinya dan qiran yang sedang bermesraan
"salah sendiri maun main hal mesum di rumah sakit, kalau mau jenguk anak kamu mending di rumah saja jangan di rumah sakit" balas tara dengan tanpa dosa
qiran hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan antara suami dan sahabatnya "kamu tumben ke sini" tanya qiran
" lagi bete" balas tara mengerucutkan bibirnya dan mengambil bantal sofa lalu memeluknya
"bete kenapa sih" tanya qiran membenarkan posisi duduknya yang awalnya membaringkan kakinya di pangkuan jay menjadi turun ke bawah agar bisa menatap tara dengan lebih baik
"tadi bela-belain ngebut kerjanya biar cepat selesai, eh pas pulang ke rumah lensi lagi dapat tamu bulanan" tara menatap kesal ke arah jay dan qiran "nyebelin bukan" ucap tara menyampaikan alasan ia kesal sekarang
qiran dan jay tentu tahu maksud ucapan tara yang sedang kesal karena lensi sedang mendapat tamu bulanan yang itu artinya waktu membuat anak mereka jadi berkurang
jay yang awalnya menhan tawa langsung menyemburkannya begitu saja karena melihat raut wajah tara "hahahahaha" jay memegang perutnya yang begitu sakit karena merasa tara begitu lucu
tara memicingkan matanya ke arah jay "teman lagi susah malah di ketawain" kesal tara pada jay yang malah menertawakan dirinya
"ya kamu lucu aja tara, dulu kata kamu gak bisa ON" jay melirik ke arah ************ tara "kalau dekat dengan wanita manapun tapi ini apa, baru dua bulan kamu menikah dengannya gak bisa kalau lewat sebentar gak nyentuh istri kamu itu" kekeh jay
tara sedikit kelabakan "ya kan biar dia cepat hamil jadi perjanjian kita segera berakhir" balas tara mencoba mengelak dari anggapan jay
"yakin kamu cuma gara-gara ingin lensi pengen punya anak dan perjanjian kalian berakhir" tanya qiran penuh selidik
__ADS_1
tara menelan salivanya dengan susah payah"yakinlah" balas tara
jay masih ingin tertawa karena sahabatnya itu "sekarang kamu ketagihan kan?" tanya jay
tara menautkan kedua alisnya dengan pertanyaan jay "maksudnya " tanya tara seolah tak paham maksud pertanyaan jay
jay menatap lekat tara "sekarang kamu percaya kan sama aku, sekalinya nyoba pasti kamu bakal ketagihan" ulang jay
"jangan ngaco deh" sangkal tara akan anggapan jay
jay melingkarkan tangannya di pinggang qiran "awalnya aku saja dulu saking takutnya kaya gitu karena ingin menjaga qiran dengan baik sampai kita menikah, tapi sekalinya nyoba itu" jaymelepaskan tangan yang melingkar di pinggang qiran dan mendekatakan tubuh jay ke arah tara lalu mendekat ke telinga tara "bikin gak bisa berhenti" kekeh jay
sayup suara jay masih bisa di dengar oleh qiran dan itu membuat qiran langsung menatap tak suka dengan obrolan jay itu "jangan suka ngomong vulgar jay, jangan pernah bahas hubungan intim kita ke orang lain" ucap qiran nada penuh peringatan
jay mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V "maaf deh sayang, gak lagi-lagi deh" ungkap jay meminta maaf pada qiran
tara nampak berpikir apa iya dia jadi mulai ketagihan dan bukan karena ingin cepat mempunyai anak agar cepat terlepas dari lensi dan kembali pada pramudia, orang yang di cintainya
qiran menatap tara yang terlihat sedang berpikir "lebih baik kamu nikmati saja pernikahan kamu dengan nyaman sampai kalian punya anak, karena saat kalian sudah punya anak, itensitas bercintamu akan sangat berkurang loh" ucap qiran memberitahu tara akan konsekuensi saat lensi sudah hamil
"iya, kamu nanti hanya bisa jenguk anak kamu sesekali aja karena wanita hami kan gak boleh kelelahan" jay melirik tara sambil menaik turunkan alisnya "kamu tahu sendiri kan kalau bercinta itu mmebuat tenaga kita lebih cepat habis " tambah Jay
tara mengernyitkan dahinya "emang kalau hamil jadi jarang gitu" tanya tara
__ADS_1
"iya lah, emang kamu pikir gak bahayain anak kalau ke seringan, sesekali aja lah jenguknya" balas jay
tara jadi berpikir ulang untuk menunda memiliki anak. ada rasa tak rela di hatinya jika dirinya akan berkurang menyentuh istrinya jika istrinya sedang hamil