
Jika di Indonesia Lucas masih meratapi kesedihannya atas kehilangan anak dan juga istri secara bersamaan maka di negara lain Nidya kini mulai menjalani hari-hari seperti biasa. Walaupun kesedihan itu masih terasa begitu kental tapi setidaknya ia punya orang-orang yang menyayanginya dan selalu mendukung dirinya
"Nidya kami duluan ya " ucap wanita berpakaian kemeja cokelat dan rok spam serta di lehernya tergantung ID pengenal sebagai karyawan perusahaan ternama di Inggris
ya Kini Nidya bekerja di salah satu perusahaan milik keluarga Ghazanfer sebagai staf marketing yang baru satu 2 minggu ini mulai bekerja setelah ia resmi menjadi istri Aiden Ghazanfer dan tinggal di negara Inggris
di sana Nidya menyembunyikan identitasnya sebagai istri pemilik perusahaan, sebab ia ingin benar-benar bekerja sepeti orang pada umumnya dan tidak ingin di istimewakan sama sekali karena menyandang nama istri pemilik perusahaan
"duluan saja, aku masih mau menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu sebelum pulang" balas Nidya
"baiklah, aku duluan ya" rekan kerja Nidya pamit untuk pulang terlebih dahulu
Nidya melanjutkan pekerjaannya sampai alarmnya berbunyi menunjukan pukul 8 malam "ah waktunya kak Aiden pulang " Nidya mengemasi barang nya dan berniat pulang ke rumah sebab ia tak ingin jika dirinya sampai rumah setelah suaminya pulang walaupun sebenarnya Aiden juga tidak akan marah pada Nidya jika pulang telat karena bekerja
Nidya memilih berjalan kaki untuk pulang ke rumah sekalian melemaskan otot-ototnya yang kaku karena bekerja seharian di depan layar komputer dan hanya duduk di kursi saja
"grab" tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya membuat Nidya begitu terkejut akan hal itu
"astaga! kakak!"teriak Nidya memukul lengan pria yang sedang memukulnya
Aiden terkekeh akan reaksi Nidya "makanya jangan melamun jadi kamu gak sadar kalau kakak dari tadi ada di belakang kamu " ucap Aiden
"Nidya cuma capek aja kak, jadi gak terlalu merhatiin jalan, lagian biasanya kakak siapin pengawal bayangan buat jaga Nidya jadi Nidya gak terlalu khawatir jalan sendirian" balas Nidya
Aiden mencubit pangkal hidung Nidya dengan gemas "istri kakak pinter banget sih " puji Aiden
Nidya menyunggingkan senyumnya "pinter dong, masa bodoh" kekeh Nidya
Nidya melingkarkan tangannya di perut Aiden sembari menyandarkan kepalanya di dada Aiden saat berjalan pulang "kak boleh gak sih kalau Nidya minta liburan ke paris 3 hari" tanya Nidya meminta izin pada Aiden untuk liburan
"boleh dong, kamu mau ke sana kapan biar kakak kosongin jadwal kakak" Aiden tentu akan menuruti keinginan Nidya sebab ini adalah liburan pertamanya setelah mereka menikah
"Nidya pengennya pergi sendiri kak" sela Nidya
__ADS_1
Aiden menghentikan langkahnya dan menatap Nidya "kamu gak nyaman kalau pergi sama kakak" tanya Aiden
"bukan itu sih kak, cuma pengen healing seorang diri saja" jelas Nidya menundukkan kepalanya
Aiden menghembuskan nafasnya kasar "baiklah, tapi kakak akan tetap meminta orang suruhan kakak buat ngawasin kamu dan itu gak bisa di ganggu gugat" tegas Aiden
"terima kasih kak" Nidya mengecup pipi Aiden dan Aiden membalasnya dengan senyuman
***
Nidya kini sedang berjalan-jalan di kota paris, jalan-jalan yang entah untuk apa dan dengan tujuan apa Nidya ke sana sebab Nidya hanya sembarang berjalan dan dengan tatapan kosong saja. Nidya benar-benar jalan-jalan tanpa arah kali ini
kegiatan Nidya tentu saja sampai di telinga Aiden dan itu membuat hati Aiden begitu sedih "bagaimana aku bisa menghilangkan kesedihanmu itu sayang" gumam Aiden merasa begitu sedih dengan keadaan Nidya yang masih belum baik-baik saja tapi selalu bersikap seolah kuat di depan orang lain
dan mungkin tujuannya ke paris hanya sekedar menyalurkan kesedihannya agar tidak terlihat orang lain dan membuat sedih orang lain, memang terlalu baik hati Nidya dan itu membuat Aiden makin jatuh cinta saja pada wanita itu
"Bram kita adakan rapat sekarang " titah Aiden kembali melanjutkan pekerjaannya setelah melihat keadaan Nidya baik-baik saja walaupun hatinya masihlah belum baik-baik saja
***
"semoga dua garis " harap seorang wanita memejamkan matanya sesaat saat ia telah melakukan sesuatu di depan wastafel dan sedang menunggu hasilnya
"ah lama" wanita itu membuka mata dan hatinya melengos saat melihat hasilnya
"yah satu lagi" gerutu wanita itu berjalan keluar kamar mandi meninggalkan sebuah alat di atas wastafel begitu saja
wanita itu mengerucutkan bibirnya sebal karena ia masih belum mendapatkan hasil yang di inginkan "gagal lagi mas" adu wanita tersebut
pria yang di panggil itu menoleh sekilas "ya sudah nanti malam kita buat lagi" balas pria itu dengan entengnya
wanita itu berlari ke arah ranjang dan memukul pria itu dengan bantal "ngeselin banget sih mas jawabannya "kesal wanita tersebut
"terus mas Reagen harus apa Zahira, kita kan sudah buat setiap hari kalau belum di kasih ya sudah, buat lagi saja. toh dokter bilang kita baik-baik saja hanya belum rezekinya saja" balas Reagen
__ADS_1
Zahira dan Reagen memang sudah memeriksakan kesehatan reproduksi mereka agar tahu alasan mereka belum punya anak, agar nanti bisa mengatasi lebih awal jika memang ada masalah
"tapi Zahira pengen punya anak mas, cinta hamil langsung gak pakai jeda, nikah langsung dapat kita yang nikah sudah hampir satu tahun belum mas, jangan sampai ayah dan Mila yang nikah tahun depan duluin kita mas" Zahira bergidik ngeri akan keduluan lagi dengan orang lain apalagi ayahnya dan Mila akan menikah di awal tahun dan itu tinggal beberapa bulan lagi saja
"ya ampun sayang" Reagen membenarkan posisi duduknya, menatap Zahira dengan lekat dan menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya "kita baru mau setahun menikah sayang, kamu juga masih 19 tahun, jadi masih panjang jalannya jangan terlalu parno ah cuma gara-gara keduluan adik ipar kamu. Kamu gak ingat dulu Nidya nunggu hampir tiga tahun untuk hamil" sahut Reagen
Zahira jadi ingat usaha Nidya yang jauh lebih lama darinya dan ini belum lah apa-apa "iya tadi Zahira keliwat girang saja waktu sadar telat dua minggu, tapi ya sudah lah nanti malam kita buat lagi saat mas pulang dari kantor " balas Zahira menggerlingkan sebelah matanya membuat Reagen terkekeh
"kenapa kamu makin mesum sih sayang" tanya Reagen
"biarin, kan sama suami sendiri" Zahira langsung melahap bibir tebal sang suami tanpa permisi
Reagen membalas dengan begitu menggebu akan tingkah istri kecilnya itu "aaahhhh" Reagen menghirup nafas dalam-dalam saat pangutan panas itu berhenti
"jangan menggoda mas dong, mas ada rapat pagi ini" seru Reagen mengingatkan Zahira bahwa ia ada meeting di pagi hari
"apa mas izin gak ke kantor saja" usul Zahira dengan ide liciknya ingin suaminya berada di rumah saja dengannya
"yang ada Rasya ngegerutu seharian kalau gitu sayang" Reagen berjalan ke arah kamar mandi agar bisa segera membersihkan diri dan tidak terus di halau istrinya untuk ke kantor
Reagen mulai melepas pakaiannya sampai tak sengaja matanya melirik ke arah wastafel "ya ampun Zahira kebiasaan deh lupa buang sampah" teriak Reagen merutuki kebiasaan istrinya yang selalu lupa buang sampah
"hehehehe maaf mas, tolong buangin tadi terlanjur bete soalnya " balas Zahira setengah berteriak
Reagen berjalan ke arah wastafel mulai mengambil sampah yang di tinggalkan zahira. Reagen memicingkan matanya saat melihat alat tes yang di tinggalkan Zahira
"sayang kemarin kalau negatif garisnya berapa" tanya Reagen
"satu lah mas, kalau dua itu positif. Jangan di tanya lagi dong bikin kesel saja "balas Zahira masih setengah berteriak
"ceklek" pintu terbuka menampilkan Reagen yang bertelanjang dada "sayang!"teriak Reagen dengan histeris
"astaga mas!" Zahira berteriak sembari mengusap dadanya yang begitu terkejut akan teriakan Reagen yang begitu mengagetkannya
__ADS_1