You Are My Regret

You Are My Regret
Menikmati waktu bersama


__ADS_3

ucapan demi ucapan qiran dan jay terus teringiang di kepala tara bagai kaset rusak yang terus berulang "sebenarnya aku kenapa" tara menyadarkan dirinya dari lamunan yang tak bisa ia kendalikan


tara melajukan mobilnya untuk pulang ke apartemen miliknya "sebaiknya aku mampir beli makanan dulu" gumam tara


di apartemen memang lensi tidak pernah memasak, bukan karena lensi tak bisa memasak tapi karena lensi malas saja memasak, ia lebih suka beli dari luar atau tara yang akan memasak untuknya. alasanya sih terlihat aneh. tak ingin memasak karena takut tara akan jatuh cinta dengan masakannya dan jadi membatalkan perjanjian perceraian setelah melahirkan


terlihat mengada-ada mungkin bagi tara, tapi itu memang benar yang di anggap oleh lensi jika ia benar-benar memasak untuk tara


tara berjalan dengan santai sambil menenteng 2 kantong plastik berisi makanan yang sempat ia beli di perjalanan pulang,  sesampainya di depan unit apartemennya, tara memencet pin apartemennya dan berjalan masuk ke dalam "kok sepi" tara berjalan ke arah dapur untuk meletakkan kantong plastik yang ia bawa


tara mulai berjalan ke setiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan lensi yang harusnya sudah di rumah karena ini sudah waktu pulang kantor sedari tadi


tara berjalan ke arah kamar, masih tak mendapati keberadaan lensi, tara menajamkan pendengarannya apa ada suara air dari dalam kamar mandi, tapi tak ia dengar, tapi tetap saja tara memutuskan untuk mengecek keberadaan lensi di dalam kamar mandi karena hanya tempat itu lah yang belum ia lihat


"lensi" panggil tara mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan untuk mencari lensi


mata tara membelalak lebar "lensi" tara bergegas menghampiri lensi yang sedang terduduk di lantai sambil memegang perutnya "kamu kenapa" tanya tara dengan khawatir menghampiri lensi yang duduk di lantai dekat wastafel


lensi menggelengkan kepalanya "aku gak papa mas" balas lensi dengan suara lemah


"gak papa gimana, orang kamu lemas gini" tara jadi khawatir dengan keadaan lensi "yuk ke rumah sakit aja" tara memapah tubuh lensi untuk keluar kamar mandi


"gak usah ke rumah sakit, buat apa coba ke sana" balas lensi merasa tak perlu ke rumah sakit


"buat apa gimana sih lensi, ya buat periksa kamu, lihat deh kamu lemes kaya gini" balas tara sedikit kesal dengan pertanyaan lensi

__ADS_1


lensi menoleh ke arah tara walaupun masih terlihat jelas wajah pucatnya "aku hanya sedang dapat tamu bulanan mas, dan biasanya emang kaya gini, sakit dan lemas jadi gak usah berlebihan" ungkap lensi


"tamu bulanan macam apa itu? perasaan dulu qiran gak kaya gitu kalau dapat tamu bulanan" tanya tara tak percaya akan ucapan lensi jika mendapat tamu bulanan akan sesakit itu


 masih jelas dalam ingatan tara selama mengenal qiran, tak pernah qiran merasakan sakit seperti itu  jadi tentu saja tara tidak percaya bahwa lensi sesakit itu saat mendapat tamu bulanan


tara membantu lensi berbaring di ranjang "semua orang gak sama mas, ada yang beda, dalam kasusuku emang sakit banget saat datang bulan" jelas lensi dengan suara  lemahnya


tara mengerutkan dahinya "masa ia, kayanya selama bertahun-tahun kita kenal, aku belum lihat deh" tara masih tak percaya pada lensi


dengan setengah kesadarannya dan menahan sakit yang teramat sangat di perutnya, lensi menatap tajam  ke arah tara "mas lupa ya, setiap bulannya aku pasti minta izin satu hari" lensi kembali mengingatkan tara akan kebiasaannya yang selalu meminta izin di hari pertamanya datang bulan


tara nampak mengingat kilasan masa lalu "iya sih, kamu pasti minta izin gak masuk setiap bulannya di tanggal-tanggal yang berdekatan" ucap tara yang sudah mulai mengingat apa yang di ucapkan lensi itu adalah benar


tara menatap tak tega lensi "terus biasanya apa yang kamu lakuin buat ngurangin rasa sakit kamu itu" tanya tara


tara tentu tak puas akan jawaban lensi, alhasil tara menghubungi Jay untuk menyakan bagaimana mengatasi wanita yang sakit karena tamu bulanan. tara memilih menghubungi  jay karena pasti sahabatnya tahu akan hal itu, dia dulu sangat memperhatikan siklus bulanan qiran dan juga jay kan seorang dokter jadi harusnya ia tahu hal itu dengan baik


tara berjalan masuk ke dalam kamar dengan membawa alat kompres air hangat dan juga air jahe hangat "lensi" tara menepuk pelan lengan lensi agar bangun dari tidurnya


lensi membuka matanya dengan terpaksa "apa mas, aku lagi sakit banget ini" balas lensi memaksakan matanya untuk terbuka


"nih minum dulu, katanya bisa meredakan sakit kamu" tara menyerahkan air jahe hangat pada lensi


lensi menerima gelas yang di berikan tara "mas tahu dari mana hal ini" tanya lensi penasaran

__ADS_1


"dari jay, tadi sempat nanya katanya qiran kalau lagi sakit karena datang bukan di kasih minum ini" tara mengambil kompres air hangat yang sempat ia bawa


tara menyingkap baju lensi dan mulai mengompres perut lensi dengan telatennya untuk mengurangi rasa sakit yang di rasakan lensi


lensi begitu terenyuh tara bisa seperhatian ini padanya, padahal tara tak ada rasa sama sekali untuknya " gimana, enakan belum" tanya tara membuyarkan lamunan lensi


lensi tersadar dari lamunannya "lumayan kok mas, makasih" balas lensi dengan senyum tipisnya


"kalau sakit ngomong aja, jangan diam saja" ucap tara


"menurutku gak perlu, ya aku gak kasih tahu mas. lagian ini kan rutin aku rasain setiap bulannya" balas lensi


"jadi kamu setiap bulan sakit kaya gini dan hanya diam saja" tanya tara penasaran


"biasanya ibu yang selalu kompres perut aku, kalau aku lagi tidur jadi gak berasa sakit juga karena ibu selalu mantau tamu bulanan aku dan kasih air kaya gini, lebih seringnya sih teh hangat atau teh madu" balas lensi


"ibumu sayang banget sama kamu ya" tanya tara


"ya iya lah, aku kan anak satu-satunya ibu" balas lensi


"kayanya ibu kamu masih muda deh, gak pengen nikah lagi apa dia. kali saja kamu di kasih adik" ucap tara sedikit terkekeh


lensi langsung terdiam dengan kaku, tara yang melihat itu jadi tak enak hati "aku salah bicara ya" tara menggaruk tengkuknya yang tak gatal "maaf ya kalau ngomong gitu, pasti ibu kamu cinta banget sama ayah kamu sampai beliau memutuskan untuk tidak menikah lagi" ucap tara sedikit memelankan suaranya takut kembali menyinggung lensi


"jangan bahas itu lagi" lensi memalingkan tubuhnya ke samping

__ADS_1


"kamu marah lensi? maaf deh kalau mas salah ngomong" ucap tara


"aku mau tidur mas" lensi memejamkan matanya dan membelakangi tubuh tara


__ADS_2