
kini tara, qiran dan jay sedang duduk di sofa ruang tama apartemen qiran dengan saling melempar tatapan tajam. lebih tepatnya jay dan tara yang melempar tatapan tajam sedangkan qiran menatap keduanya dengan rasa khawatir yang besar
tara berkacak pinggang ke arah jay "ngapain kamu bisa di sini? " tanya tara ketus
"ngapain juga kamu bisa pagi-pagi begini ke apartemen qiran" balas jay tanpa menjawab pertanyaan tara terlebih dahulu
jay dan tara saling melempar tatapan tajamnya seperti sedang berduel
"sudah lah jangan marah-marah" ucap qiran menasehati dua orang di dekatnya
"diam! " sentak tara dan jay serempak
akhirnya qiran memilih diam saja karena percuma juga berucap kalau tara dan jay masih saling tarik urat begitu
"jawab pertanyaan ku " ulang jay
"aku sahabat qiran dan tinggal di sebelah. sekarang jawab aku" balas tara
"kami kembali bersama" jay memicingkan matanya ke arah tara "sahabat bukan berarti bisa tahu sandi apartemen qiran, aku yang kekasihnya saja gak tahu apa sandinya" kesal jay pada tara yang lebih tahu tentang qiran ketimbang dirinya
tara menunjuk wajah jay "kamu saja yang bodoh, masa tanggal pertemuan pertama kalian gak ingat" balas tara kesal
jay nampak berlari ke luar apartemen qiran dan menutup pintu apartemen qiran dengan gerakan cepat
"tit tit tit tit tit tit" pintu apartemen qiran langsung terbuka
jay tersenyum girang saat memasuki apartemen qiran
"cup" jay langsung mengecup bibir qiran saking senangnya bahwa qiran menggunakan tanggal pertemuannya sebagai sandi untuk akses tempat tinggalnya
"cih... dasar tak tahu diri" kesal tara melihat kemesraan jaya dan qiran
jay tersenyum sumringah ke arah tara "harusnya kau ikut bahagia jika temanmu bahagia kali" ungkap jay tanpa tahu malunya
"sapa juga yang sahabatan sama kamu" timpal tara tak mau mengakui jay sahabatnya
"kita lah, kan kita bertiga sudah saling mengenal hampir lima belas tahun" sahut jay
"sekarang saja bawa sahabatan" tara menatap jengah jay " kemarin kemana aja saat kamu marah-marah dan selalu mengajakku berdebat karena qiran hah! " kesal tara yang mengingat perdebatan mereka saat bertemu
"maafkan aku ya tara, jay" ucap qiran merasa bersalah pada jay dan tara
jay menghampiri tara dan langsung merangkul leher tara "kita baik-baik aja kok sayang" ucap jay
__ADS_1
"baik apaan" kesal tara dengan sikap jay yang sok akrab itu
jay mengode tara agar melihat qiran dengan lirikan matanya "bersahabat dulu napa" cicit jay dengan suara pelan
tara menghela nafas " iya kita baik-baik saja qiran" ucap tara dengan terpaksa
qiran langsung tersenyum bahagia "aku seneng deh dengarnya" balas qiran
"ngomong-ngomong kalian siap perang sama uncle attaf" tanya tara penasaran
"kenapa kamu tanya gitu" tanya jay
"plak" tara langsung menghadiahi bantal ke kepala jay saking kesalnya "wawancaramu kemarin songong" kesal tara mengingat isi wawancara jay yang jelas itu tertuju untuk qiran
"kali ini aku pasti berani melawan daddy" seru qiran
"aku gak ikutan ya qiran" ucap tara mengangkat dua tangannya
"kamu lupa siapa yang nyelamatin kamu dari ayahmu itu" sahut qiran
jay memicingkan matanya ke arah tara "iya juga" jay membenarkan posisi duduknya untuk menatap tajam tara "aku tahu sifat keras om revandra jadi bagaimana mungkin kamu masih bisa hidup setelah berhubungan dengan pram" tanya jay penuh selidik
tara menundukan kepalanya dan menunjuk qiran "karena dia lah, emang karena siapa lagi" balas tara jujur kenapa ayahnya masih melepaskannya
jay tersenyum menang "berarti kamu harus bantu kami dong" ucap jay
"jangan khawatir tara, kali ini aku ada dukungan keluargaku" ucap qiran menenangkan
"dan ada aku juga" sahut jay terkekeh
"emang kamu bisa bantu apa? " ejek tara pada jay
qiran tersenyum simpul jangan salah "dia cucu orang hebat loh" sahut qiran
"masa? " tara tentu tak percaya ucapan qiran
"Jung hyun jae" seru qiran
tara nampak menelisik nama yang ia dengar itu "bukannya anaknya sudah meninggal dan dia gak menikah lagi" ucap tara nampak berpikir orang itu tidak punya keluarga jadi bagaimana bisa jay jadi cucunya
"jadi kamu anak mendiang jung eun kyung uang katanya meninggal di bunuh itu" sahut tara yang teringat kisah keluarga jung
kisah itu cukup terkenal karena memang keluarga jung adalah keluarga cukup berada, walaupun tak sebesar ghazanfer tapi setidaknya ia punya pengaruh besar di negeri ginseng itu
__ADS_1
"iya, ibuku sudah lama meninggal karena menyelamatkanku" jay menunduk sedih mengingat dirinya di beritahu masih memiliki keluarga tapi sang ibu sudah meninggal karena menyelamatkan dirinya saat masih berusia tiga tahun
"maaf ya jay" tara jadi tak enak hati dengan jay karena membuka lukanya
tentu tara tahu betul betapa jay sedih karena tak memiliki orang tua dan harus hidup di panti asuhan
"kenapa kamu gak ambil alih bisnis kakekmu itu, kali aja uncle attaf akan berubah fikiran untuk menyetujui pernikahan kalian. keluarga jung kan cukup punya pengaruh di negara tempat kita bertiga lahir" usul tara
"ini gak semudah yang kamu bayangkan tara" ucap qiran
qiran akhirnya menceritakan semua permasalahan pokok kenapa qiran dan jay tak di izinkan bersama oleh daddy attaf tanpa di kurangi atau di lebihkan
"jadi apa rencana kalian sekarang" tanya tara
"menyelesaikan proyek drama kita dulu baru kita pikirkan kelanjutannya" balas qiran dengan entengnyan
jay tersenyum simpul ke arah perut qiran " aku sudah punya rencana sayang, rencana tertunda kita dulu" batin jay
"astaga" tara menepuk jidatnya kuat
"istriku belum makan" tara berlari mengambil selai cokelatnya dan kembali kembali ke apartemennya sendiri dengan berlari kencang
jay memandangi punggung tara yang sudah menghilang di balik pintu "jangan terlalu mendalami kemelut hubungan kita sayang, lebih baik kita nikmati kebersamaan kita dengan bahagia" jay mengusap lembut kepala qiran
qiran memeluk jay erat dan mencium aroma tubuh jay yang begitu menenangkan bagi qiran "lanjut yang semalam yuk" ajak jay
qiran nengerucutkan bibirnya "kan semalam sudah lima kali" balas qiran kesal dengan jay yang sepertinya tidak pernah lelah itu
"masih belum cukup" jay mengusap pipi qiran lembut
"boleh saja sih kalau mau lanjut" jay tertawa girang mendapat persetujuan qiran
"tapi kasih makan aku dulu, laper" qiran mengusap perutnya yang terasa lapar
"ya ampun, kita belum sarapan ya" jay melirik jam dinding dan menadapati sudah pukul 9
"ya sudah aku akan memasakan makanan untukmu" jay berniat ke arah dapur tapi di tahan qiran
"kali ini, biar aku yang masak" qiran berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan bahan dan memasak
"emangnya kau bisa masak" tanya jay tak percaya
qiran terkekeh "ada banyak hal yang kita lewatkan dengan terpisah jarak jay, jadi mari kita saling mengenal lagi" qiran memasak sarapan untuk jay dengan cekatan dan itu sungguh membuat jay begitu takjub
__ADS_1
"kamu makin cantik" jay memeluk tubuh qiran dari belakang
"biarkan aku memasak dulu jay" qiran melepaskan pelukan jay dan kembali konsen untuk memasak sarapan mereka