You Are My Regret

You Are My Regret
Setitik rasa


__ADS_3

"mas, sarapannya sudah siap" teriak lensi memanggil suaminya untuk sarapan


tara keluar dari kamar dengan setelan rapihnya menuju meja makan "widiiiiiih banyak juga masaknya" gumam tara takjub akan hasil masakan lensi yang terlihat begitu banyak di atas meja


"berhubung isi klukas itu dah lama jadi lensi masak aja semua, bisa buat nanti juga tinggal panasin. lagian nanti kan mau belanja bulanan sekalian belanja sayur aja" lensi mengambilkan makanan untuk tara dan menyodorkannya pada tara


tara pun mulai menyendokan hasil masakan istrinya ke dalam mulut "kalau gini kan enak, pagi-pagi makan masakan istri" sahut tara menikmati masakan lensi


"kan kemarin sudah lensi bilang, takut mas jatuh hati kalau tiap hari makan masakan lensi" balas lensi dengan santainya


"sekarang gak takut lagi kalau mas jatuh hati" tanya tara masih sibuk menikmati sarapannya


"deg" jantung lensi seakan berhenti dan sedang  tak baik-baik saja mendengar ucapan asal dari tara


lensi mendongak menatap tara yang masih sibuk makan, dan itu artinya tara hanya asal berucap dan tidak ada kesunggungan dari pertanyaannya


"lensi gak takut, kan kata mas tara, mas cinta banget sama dia jadi gak akan ada istilah berpaling" balas lensi ikut melanjutkan makannya


kali ini tara yang menoleh ke arah lensi dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan


"oh ya mas, bagi duit dong buat belanja bulanan nanti" lensi menengadahkan tangannya pada tara agar di berikan uang


tara mengernyitkan dahinya "bukannya ayah kasih kartu yang uangnya cukup banyak" tara ingat betul kalau ayahnya suah memberikan uang dalam jumlah yang tidak sedikit pada Lensi


"jelas itu beda dong mas, yang di kasih ayah kan buat aku. kalau urusan rumah yang minta sama mas lah, kan tanggung jawab mas buat nafkahin aku" balas lensi


"iya" tara mengambil dompetnya untuk mengambil kartu miliknya "nih, limitnya cukup besar kok jadi bisa buat beli keperluan kamu yang lain" tara menyodorkan kartu milknya pada lensi


lensi mengambilnya dan menyimpan dalam dompetnya "kartu itu hanya untuk keperluan rumah saja kalau untukku bisa aku urus sendiri, yang penting mas kalau isi kartu itu jangan sampai lupa karena kadang kalau urusan rumah lensi suka lupa diri" balas lensi dengan jujur


"terserah kamu saja mau belanja apa dan jangan khawatir setiap bulan pasti aku isi uang dalam kartu itu" balas tara


"oh ya mas, lupa aku" lensi menepuk keningnya

__ADS_1


"nanti aku mau ke rumah qiran, katanya bete dia di rumah sendirian, jadi paling aku pulang cepat, abis dari rumah qiran  baru belanja" ucap lensi


"iya" balas tara


***


lensi berjalan masuk ke rumah besar milik jay dan qiran " bik qiran ada" tanya lensi pada pekerja di rumah qiran yang bernama bik sari


"ada non, lagi di kamarnya, mau langsung masuk apa saya panggilin" balas bi sari


"biar saya saja yang kesana" lensi berjalan ke arah kamar qiran yang sudah lensi ketahui letaknya


"ceklek" lensi membuka pintu dengan pelan dan masuk ke kamar qiran


"katanya bosen, tapi malah ketawa-tawa gitu" lensi menghampiri qiran dan duduk di tepi ranjang melihat arah mata qiran yang tertuju pada layar besar di kamar qiran


"justru karena bosan aku hanya bisa lihat acara hiburan aja biar gak mati kutu" balas qiran mencebikkan bibirnya


"kenapa kamu gak nulis saja, itu kan hobi kamu" tanya lensi


"kenapa" tanya lensi bingung kenapa Jay tak mengijinkan qiran menulis, padahal itu kan hobi qiran dari dulu


"katanya sih kalau nulis aku bisa lupa diri, dan kalau sedang ada inspirasi kan aku gak mau berhenti takut aku kecapean katanya" balas qiran


"itu mah karena jay saja yang terlalu cinta sama kamu" balas Lensi


qiran membenarkan posisi duduknya "cerita dong sama aku gimana hubungan kamu sama tara" pinta qiran yang ingin tahu bagaimana kisah pernikahan tara dan lensi


"gimana apanya? ya gini-gini saja, tiap hari bikin anak. gitu saja" balas lensi


"gak gitu juga kali maksudku " kesal qiran


"terus gimana?" tanya Lensi

__ADS_1


"maksudku ada kemungkinan kalian jatuh cinta atau paling gak tertarik gitu" tanya qiran


"gak tahu" Lensi menundukan wajahnya


qiran mengernyitkan dahinya "kok gak tahu sih lensi kan kamu yang negerasain masa gak tahu" balas qiran


"kamu kan tahu alasan kami menikah, hanya ingin memiliki anak dan setelah kami memiliki anak nanti juga akan tetap saling melepaskan tapi akhir-akhir ini mas tara jadi aneh" ungkap lensi


qiran jadi makin penasaran "aneh gimana, coba ceritain" balas qiran


"masa dia ngajakin aku tinggal di rumah ibu" heran lensi


qiran menautkan kedua alisnya "tara kan orangnya agak susah dengan tempat tinggal dan maaf "qiran sedikit memilih kata yang lebih baik untuk di ucapkan "rumah kamu kan kecil walaupun ya halaman rumah kamu bisa bikin beberapa lapangan bola" balas qiran


"dia sudah nyuruh orang untuk bangun lagi rumah ibu" ungkap lensi dengan memejamkan matanya


qiran mulai memikirkan kembali akan perubahan sikap tara yang dapat juga ia rasakan karena mereka masih sering bertemu  "fix" sentak qiran "sudah pasti kalau tara ada rasa sama kamu" tebak qiran


lensi mengernyitkan dahinya "masa sih" lensi tentu tak percaya dengan ucapan qiran


bagaimana suaminya itu bisa ada rasa untuknya, padahal dia penyuka sesama batangan


"hei, aku yang secantik ini itu gak menarik sama sekali buat dia, dia malah milih pramudia yang jelas-jelas terlihat cowok banget tapi saat sama kamu, dia bereaksi bahkan setiap kamu datang bulan dia pasti selalu menggangguku dan jay" balas qiran


"kita juga baru nikah beberapa bulan kali, belum kelihatan lah" elak lensi tak mau percaya dengan apa yang qiran pikirkan


qiran jadi senyum-senyum sendiri, tentu ia ingin sahabatnya kembali ke jalan yang lurus, di jika ternyata itu benar bukankah itu sangat membahagiakan dan orang tua jay juga pasti akan sangat bahagi


"ini misalnya ya" qiran mengandaikan sesuatu yang mungkin akan terjadi "seandainya benar tara ada rasa sama kamu dan dia mau mempertahankan pernikahan kalian, kira-kira kamu gimana" tanya qiran


"aku gak tahu qiran" lensi menggelengkan kepalanya "tentu kamu tahu aku tidak ingin menikah, dan aku memilih menikah dengan tara karena pernikahan ini hanya akan bertahan sementara saja" balas lensi


"jangan karena kesedihanmu melihat ibumu yang mencintai satu orang pria dan menganggapnya suami seumur hidup kamu jadi takut untuk menikah lensi" ucap qiran

__ADS_1


"entah lah qiran, aku sendiri saja bingung" balas lensi


__ADS_2