
Lucas berjalan ke arah meja makan untuk sarapan bersama kedua orang tuanya "pagi mom, Dad" lucas mencium pipi mommy Qiran dan beralih memeluk Daddy nya sebelum duduk untuk sarapan bersama
"pagi anak mommy" balas mommy Qiran
Daddy Jay melirik ke arah Lucas "sudah selesai urusan pengalihan perusahaan orang tua Reagen" tanya Daddy jay
"beres Dad, gak terlalu ribet juga ngurusnya soalnya memang tante Brianna kan gak ganti kepemilikan aset dari kakeknya kak Reage" balas Lucas
"oh ya Lucas" Mommy Qiran menoleh ke arah puteranya dengan tatapan penuh harap "kamu sudah pernah bicara belum sama Reagen tentang adik kamu" tanya mommy Qiran penuh harap
Lucas mengehla nafas panjang "maaf mom untuk itu Lucas angkat tangan" Lucas mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah
Mommy Qiran memicingkan matanya ke arah Lucas "kamu gak mau bantu adik kamu" mommy Qiran di buat berkacak pinggang dan menatap tajam anak sulung
"sorry mom, masalah cinta itu urusan masing-masing orang jadi Lucas gak mau ikut campur" tegas Lucas yang tak ingin memaksakan cinta seseorang sebab Lucas tahu betul kalau Reagen meras risih pada Edeline yang terus menempel padanya
Daddy Jay menoleh ke arah istrinya "bener apa yang di bilang Lucas sayang, jangan terlalu ikut campur kalau memang Reagen ingin bersama Edeline pasti Reagen akan bertindak sendiri jangan terlalu ikut campur dan membuat Reagen merasa tidak nyaman, terlebih kamu tahu sendiri betapa keras kepalanya puteri kita dalam mendekati Reagen yang jelas-jelas menegaskan tidak tertarik pada Edeline
Mommy Qiran menatap iba pada Daddy Jay "mommy cuma kasihan sama Edeline dad saat dia cerita sangat menginginkan bersama Reagen tapi tidak di hiraukan" balas Mommy Qiran
"cinta tidak bisa di paksakan mom, kalau bisa nanti mantu mommy banayk banget karena yang antri jadi kekasih Lucas gak sedikit" nasehat Lucas untuk tidak memaksakan perasaan seseorang
"baiklah" mommy Qiran hanya bisa diam saja jika seperti ini karena memang apa yang di bicarakan suami serta anaknya adalah kebenaran
***
Lucas melajukan mobilnya menuju rumah sang kekasih karena hari ini kebetulan akhir pekan dan Lucas ingin mengajak kekasihnya itu kencan
"brak" Lucas turun dari mobilnya dengan membawa beberapa bingkisan dan berjalan masuk ke rumah kekasihnya itu dengan santai dan senyum mengembang
"pagi mah" sapa Lucas memeluk mama dari Nidya itu dan memanggil waita yang sudah melahirkan Nidya itu dengan panggilan mama juga karena memang hubungan Nidya dan Lucas sudahlah sangat dekat dan di setujui oleh dua keluarga besar mereka dengan baik
"hai lucas" Mama Lensi melirik ke arah tangan Lucas "kebiasaan bawain barang deh" ucap mama Lensi mencebikan bibirnya saat melihat Lucas yang selalu membawa tentengan saat datang
__ADS_1
"hanya makanan kesukaan mama sama Raymond aja kok mah kan kebetulan lewat tadi" Lucas memberikan paper bag berisi kue jajanan pasar yang di sukai mama Lensi dan juga Raymond
Lucas memindaai setiap sudut ruangan mencari keberadaan kekasih sekaligus tunangannya itu "Nidya mana mah kok gak kelihatan" tanya Lucas
"masih di atas, belum siap kayanya" balas Mama Lensi
"boleh samperin ke atas mah" tanya Lucas meminta izin unuk menghampiri Nidya di kamarnya
"tentu saja boleh, langsung saja ke kamarnya sekalian bangunin Raymond ya, tadi belum sarapan dan malah sibuk tidur mentang-mentang akhir pekan" balas mama Lensi
"oke mah" Lucas langsung saja naik ke lantai atas menuju kamar Nidya
"tok tok tok" Lucas mengetuk kamar Nidya sebelum masuk
"masuk aja mah, gak di kunci kok pintunya " Nidya mengira itu mamanya sehingga mempersilahkan Lucas masuk
"ceklek" Lucas membuka pintu kamar Nidya dan langsung melihat Nidya yang sedang memakai lipstiknya
Nidya menampilkan senyum termanisnya saat melihat wajah kekasihnya "mas kapan sampai" tanya NIdya
"barusan" Lucas menghampiri Nidya dan mengecup kening Nidya "kenapa kekasih kakak ini makin cantik setiap harinya ya" puji Lucas
"tentu Nidya harus terus cantik biar mas Lucas gak kepincut wanita lain" Nidya menyelesaikan dandanan akhirnya dan berajak dari duduknya menoleh ke belakang dan mengecup bibir lucas sekilas
"mau berangkat sekarang" tanya Nidya
"iya sayang tapi mas bangunin Raymond dulu ya, mama yang minta tadi" balas Lucas
"oke" Nidya melingkarkan tangannya di lengan Lucas menuju kamar Raymond yang terletak bersebrangan satu kamar dengan dirinya
"Nidya turun ke bawah duluan ya mas, mas bangunin Raymond sendiri gak masalah kan" tanya Nidya
"gak masalah sayang" Lucas melihat punggung Nidya yang mulai menghilang saat menuruni anak tangga dan ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar remaja berusia 19 tahun yang sedang kuliah di tahun keduanya itu
__ADS_1
"raymond" panggil Lucas yang tidak di gubris sama sekali oleh sang pemilik nama dan malah masih betah tertidur padahal gorden di kamar Raymond sudah terbuka lebar dan cahaya matahari sudah bisa menembus wajahnya
"woi" Lucas duduk di sebelah calon adik iparnya itu dengan gerakan kasar "bangun!" teriak lucas
"apaan sih kak, jangan ganggu Raymond deh" ketus Raymond masih memejamkan matanya dan hanya membalas asal saja
"kata mama nyuruh kamu bangun, kata mama kalau gak bangun mas Lucas boleh ambil motor yang warna merah itu loh, lumayan lah buat ngajakin kakak kamu jalan-jalan saat akhir pekan " bisik Lucas di telinga Raymond
Raymod langsung membelalakan matanya lebar "jangan ngada-ngada ya kak, itu aku dapat dengan perjuangan ekstra ya" ketus Raymond langsung duduk menghadap Lucas dengan tatapan tajamnya
"hahahaha" Lucas tertawa sambil memegang perutnya yang terasa sakit saking kerasnya ketawa "kakak ingat kok perjuangan kamu saat merajuk untuk dapatin motor itu, dan jangan lupa kalau kakak yang dapatin itu buat kamu" balas Lucas
"iya sih kak" Raymond mencebikkan bibirnya dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya
Lucas memandangi punggung Raymod dengan kekehan "cepat turun ya, mama sudah siapin sarapan tadi" Lucas berjalan turun ke bawah untuk menyusul sang kekasih dan berpamitan pada kedua orang tua Nidya
"ayah mana" tanya Lucas saat sudah di dekat Nidya
"di belakang mas" balas Nidya yang masih sibuk membantu mamanya membuat kue sebelum pergi
"mas pamit dulu sama ayah kamu ya" Lucas mengusap lembut kepala Nidya dan bergegas ke tempat pemancingan yang ada di taman belakang untuk berpamitan pada ayah Tara untuk mengajak Nidya jalan-jalan
ayah tara dan mama Lensi mengantar Lucas dan Nidya sampai teras rumah mereka "nanti sekalian mampir ke rumah tante Mika ya Nidya, suruh tante kamu mampir kemari mama kangen" ucap Mama Lensi
"kenapa gak telpon aja sih mah" balas Nidya
"sekalian kamu jenguk tante kamu lah, mastiin apa bener tante kamu hamil lagi" jelas mama Lensi
"hah" mulut Nidya menganga lebar "hamil mah" Nidya sangat terkejut akan kabar kehamilan tantenya yang kini sudah berusia 43 tahun itu, usia yang sudah tidak muda lagi tentunya
"iya, makanya pastiin dulu, mama cuma dapet kabar dari teman mama kalau kamu ke sana dan om kamu larang berarti bener tante kamu hamil jadi biar mama yang ke sana nanti" balas Mama lensi
"ya sudah nanti kami mampir sana deh" balas Nidya
__ADS_1