
seusai makan malam, tara menarik lensi ke halaman samping rumah qiran untuk bicara
"pelan sih pak, jangan asal narik gitu" keluh lensi yang tangannya di tarik paksa ke arah halaman
setelah sampai di bangku taman, tara melepas peganganya dari tangan lensi " apa maksudmu setuju menikah denganku" tanya tara penuh penuntutan
lensi mengusap tangan yang di tarik oleh tara "kan tadi aku sudah bilang kalau mau punya anak tapi tak mau terikat dengan seseorang" balas lensi
tara memicingkan matanya ke arah lensi "kalau cuma mau sekedar punya anak, pakai inseminasi buatan juga bisa" balas tara
"plak" lensi memukul lengan tara dengan kasar
"bapak lupa kita tinggal di negara mana?" tanya lensi dengan tatapan tajam
"ya enggak lah, kita tinggal di Indonesia" balas tara
" itu tahu kita tinggal di Indonesia. kalau aku punya anak tanpa suami gimana nasib anakku nanti, bisa di hujat habis-habisan sampai tua dia" balas lensi
"emang kalau kita cerai nanti gak gitu" tanya tara
" sekarang kan sudah banyak single parents karena bercerai jadi setidaknya walaupun ada yang hujat tapi gak banyak lah" balas lensi
tara menghela nafas panjang dan duduk di kursi taman di ikuti lensi yang duduk di sebelahnya "kamu yakin mau tetap nikah sama aku, kamu kan tahu kalau aku.... " ungkap tara menggantungkan ucapannya
"tahu, tapi gak masalah setidaknya kamu berasal dari keluarga baik-baik jadi saat aku di tanya anak kita nanti gak akan bingung aku jawabnya" balas lensi
tara terkekeh "anak kita? buat aja belum sudah di bilang anak kita" kekeh tara
"ya kan tujuan kita nikah buat punya anak" balas lensi dengan polosnya
tara mendekat ke arah lensi "tapi gimana kalau itu gak mau ON" tanya tara dengan suara lirih
lensi menoleh ke arah tara dengan cepat "apa yang on? " tanya lensi
"ya itu" tara menunjuk ke arah selangkangannya "aku loh gak pernah bereaksi saat dengan wanita" ucap tara dengan jujur
lensi menganga lebar tapi ia kembali bersikap biasa saja " gampang nanti aku bantu hidupkan" balas lensi dengan yakinnya
tara memicingkan matanya ke arah lensi dan memundurkan sedikit tubuhnya " kau sudah berpengalaman ya" tanya tara
"idiiiih, jangan asal nuduh ya pak, saya itu bukan wanita gampangan yang asal di celap-celup sama orang ya pak" lensi tentu tak Terima di katakan berpengalaman, karena pacaran saja belum pernah, ini di bilang pengalaman bikin anak
__ADS_1
"ya terus itu mau bantu saya biar ON sama kamu" tanya tara dengan terang-tetangan
"bapak gak bisa ya milih kata-kata yang lebih baik? ini kita belum nikah loh pak, tapi omongan bapak sudah mesum banget" tanya lensi
" ngapain juga sok jaim, menikah ya harus saling terbuka lah, biar gak ada masalah nantinya" balas tara
lensi menghela nafas " gak berpengalaman bukan berarti gak bisa belajar pak, kan sekarang banyak sumber belajar di internet, cari terus tonton nanti tinggal praktekin saja sama bapak, beres kan" balas lensi dengan entengny
"hah" tara tak menyangka lensi akan sevulgar itu dalam bicara padahal tadi lensi sendiri yang minta untuk menjaga kata-katanya
***
pernikahan yang di kira awalnya akan di gelar secara sederhana ternyata di gelar cukup mewah oleh om revandra
awalnya lensi dan tara tentu bersikeras menolak, tapi apa daya merek jika revandra tetap kekeh membuat acara perrnikahan itu cukup mewah
"ngapain sih yah, di gelar mewah gitu? lensi juga pengennya sederhana aja" tanya tara
"iya om, sederhana aja" sahut lensi
"gak bisa gitu dong, mungkin kita semua tahu rahasia pernikahan kalian tapi tidak dengan ibunya lensi" om revandra menatap lensi "kamu mau buat ibu kamu kecewa" tanya om revandra yang di jawab gelengan kepala oleh lensi
***
tara berdiri di altar menunggu lensi datang dengan di gandeng om revandra karena memang lensi hanya tinggal bersama ibunya dan ayahnya entah di mana. lensi juga tak mau mengabari ayahnya tentang pernikahannya itu
"saya harap kamu bisa bertahan lama menikah dengan anak saya" ucap om revandra penuh harap di sela ia mengantar lensi pada tara
"saya gak bisa janji itu om" balas lensi
om revandra dan lensi berhenti tepat di depan tara " ayah harap kamu menghargai pernikahanmu sampai batas waktu yang sudah kita sepakati" ucap om revandra menyerahkan tangan lensi pada tara
"aku harap juga ayah akan menepati janji setelah anak itu lahir" balas tara
tara dan lensi menghadap pendeta dan memulai janji pernikahan mereka
acara pernikahan di gelar cukup lancar dan khidmat sampai lensi di nyatakan sahabat menjadi istri tara
pernikahan itu cukup megah dan di hadiri oleh banyak pengusaha dan artis bahkan di liput oleh banyak media karena memang pekerjaan tara dan lensi tak jauh dari dunia hiburan jadi banyak dari kalangan itu yang mereka kenal
***
__ADS_1
"kalian gak mau bulan madu" tanya jay saat semua tamu sudah pamit pulang
"tidak, aku banyak pekerjaan " balas tara
"katanya mau cepat punya anak" tanya kau lagi
"punya anak bukan berarti harus bulan madu. kita bisa buat anak tanpa bulan madu" balas tara
"cih" jay berdecih atas ucapan tara "kaya bisa langsung buat aja" ledek jay
"gak usah terus ngingetin aku tentang itu jay" kesal tara
tante clarissa memberikan sebuah kotak besar pada tara "mungkin ini bisa membantumu" ucap tante clarissa dengan hati-hati
"apa ini mah" tanya tara
tante clarissa pun setengah berbisik pada tara "obat kuat" bisik tante clarissa
"mamah" tara tentu tak Terima dengan itu, walaupun mungkin benar dia sangat membutuhkan itu
"katanya mau cepat punya anak, ya sudah Terima aja" sahut qiran
"ya gak gitu juga kali" kesal tara
"sudah sih pak, tinggal si Terima saja, gak udah nolak niat baik orang lain" lensi mewakili mengambil hadiah dari tante clarissa
tara menatap tajam lensi "kebiasaan kamu suka asal saja ngambil pemberian orang" tara mengingat sesuatu "hei, saya bukan bapak kamu, masih saja manggil bapak" kesal tara yang masih di panggil bapak oleh lensi
"ya terus, saya harus manggil sayang gitu" balas lensi
"hahaha" pihak keluarga tara tertawa langang melihat perdebatan tara dan lensi
beruntung kondisi ibu lensi yang kurang fit sehingga menyebabkan pulang lebih dulu jadi mereka lebih leluasa untuk berdebat
"gak gitu juga lensi, manggil nama kan bisa" usul jay
"malas ah, kata orang Jawa jaman dulu gak sopan, manggil orang yang lebih tua pakai nama" balas lensi
"ya ampun lensi, kita cuma beda 2 tahun doang kali" sahut tara
"manggil mas aja deh" putus lensi
__ADS_1