You Are My Regret

You Are My Regret
Anak Rasa Sahabat


__ADS_3

Sinar mentari mulai menampakan sinarnya dan mulai mengusik setiap orang yang masih memejamkan mata untuk segera menyambut hari yang cerah dan segala hal baik yang akan terjadi dia hari itu


"eeeeeugggh" Jonathan meregangkan tubuhnya yang terasa pegal khas bangun tidur dan saat menoleh ke samping ia dapati wajah wanita cantik yang selama lebih dari seminggu ini menghiasi hari-hari indahnya


Jonathan menyunggingkan senyumnya saat melihat wanita itu masih memejamkan mata dengan begitu damainya membuat hati Jonathan begitu damai dan begitu nyaman karena harinya tak lagi sepi dan ada penyemangat untuk menyambut hari indah yang akan ia jalani setiap harinya


"CUP" Jonathan mencium kening Edeline Kylie Handerson yang kini resmi menjadi istrinya


merasa ada yang mengusik tidurnya Edeline pun segera membuka matanya "pagi om"sapa Edeline dengan suara khas bangun tidurnya saat melihat suaminya mencium keningnya dan masih berada tepat di sebelahnya


Jonathan kembali memeluk Edeline "pagi juga" Jonathan membawa tubuh mungil Edeline ke dalam pelukannya dan kembali mengecup kening Edeline, rutinitas yang baru beberapa hari mereka jalani dan Edeline tak pernah protes sama sekali dengan perbuatan Jonathan padanya yang mungkin bisa di bilang cukup intim tapi belum sampai hal yang lebih intim lagi


"kok malah meluk lagi sih om, emang gak kerja ya" tanya Edeline membiarkan Jonathan terus menggoyang-goyang tubuhnya saat Jonathan memeluknya


"kerja, tapi bentar lagi sih bangunnya" Jonathan sempatkan melirik jam dinding di kaamarnya "masih jam 05.45 jadi masih ada waktu lah sebentar lagi" balas Jonathan


"tapi edeline kan mau masak, nanti sarapan pakai apa kalau gak bangun " tanya Edeline


"panasin makanan yang semalam saja dan goreng telor jadi gak sampai butuh waktu 15 menit" balas Jonathan


Edeline mendongak dan menatap wajah Jonathan dengan tatapan yang sulit di artikan "kenapa om kelakuannya seperti anak kecil sih, manja!" tukas Edeline dengan raut wajah sebalnya


Jonathan terkekh "ya gak papa lah manja, kalau manjanya sama istri sendiri, kalau manja sama istri orang lain lah salah" balas Jonathan

__ADS_1


"oh ya, nanti mau belanja pakai taksi atau pakai mobil saja" tanya Jonathan


Edeline melingkarkan tangannya di pinggang Jonathan "mobil siapa yang mau di pakai coba" balas Edeline


"di garasi belakang ada mobil yang kadang di pakai ara kalau pergi, tinggal pakai saja tapi mesti di lihat dulu sih soalnya jarang di pakai, ara lebih suka di antar om atau sopir suruhan om ketimbang bawa mobil sendiri" balas Jonathan


Edeline nampak berpikir "punya SIM sih om tapi Edeline jarang bawa mobil, malas banget mau bawa. Mending pakai taksi aja atau nanti Edeline tanya ara mau pakai mobil sendiri atau taksi saja " balas Edeline


dan seperti Edeline yang malas membawa mobil, ara pun juga seperti itu, dia terlalu malas untuk membawa mobil sendiri karena menurutnya melelahkan harus membagi konsentrasi untuk jalanan dan untuk apa yang ia pikirkan saat itu


"kata ayah kamu bebas mau pilih apapun yang sekiranya kamu butuhkan " ucap Edeline ketika sudah sampai dalam mall


Ara melingkarkan tangannya di lengan Edeline "oke mama" balas ara dengan santainya


"iiiihhhhhhh sudah di bilang jangan panggil aku mama, aku bukan mama kamu ya" Kesal Edeline pada ara yang selalu memanggilnya mama saat tidak ada jonathan dan itu membuatnya sangat kesal


begitu banyak barang yang di beli oleh Edeline dan ara untuk keperluan kuliah mereka dan juga keperluan pribadai mereka  "kamu yakin mau beli laptop itu" tanya Ara saat edeline memilih laptop standar padahal di sana ada yang lebih bagus daan ia melihat edeline sempat tertarik tetapi setelah melihat hargnya Edeline nampak berubah pikiran


"ini juga sudah cukup, laptop ini masih bisa aku pakai kuliah dan membuat desain bangunan dengan cukup baik" Edeline tidak terlalu memperdulikan ucapan ara dan memberikan kartunya pada petugas toko agar bisa membayar laptopnya


"ayah gak akan marah kali kalau cuma beli laptop yang lebih bagusan" timpal Ara masih merasa tak setuju Edeline mengambil laptop yang biasa saja


"kita tuh sudah belanja banyak banget Ara, 200 juta... dan itu sudah cukup untuk hari ini" Edeline menyimpan kartu yang di berikan petugas toko di dompetnya dan mengambil laptop miliknya

__ADS_1


"200 juta, tapi aku ambil bagian 150 juta nya" Ara memang membeli barang-barang yang cukup mahal sebab kehidupannya tidak jauh dari Edeline yang biasa membeli barang dengan kualitas baik saja walaupun mungkin itu akan memakan uang yang cukup banyak


"50 juta juga sudah banyak ara, dan ini aku tambahin laptop seharga 10 juta kalau aku beli yang harganya 32 juta tadi kasihan ayah kamu dong, harus nabung lagi" balas Edeline


Ara menggelengkan kepalanya tidak percaya "kamu dari dulu seperti ini atau karena ayahku sih Edeline" tanya Ara tanpa memakai embel-embel mama seperti tadi


Edeline mengedikkan bahunya "entahlah yang aku tahu dulu mau apapun yang aku inginkan itu sangat mudah karena uang daddy dan mommy ku tidak berseri tapi beda dengan ayah kamu yang harus bekerja keras, kalau uang di tabungannya berkurang dia biasa ngitung banyak hal dan berakhir lembur jadi mending segini saja" jelas Edeline


ara tidak menyangka Edeline bisa tahu akan hal itu" kamu tahu dari mana" heran Ara


"aku tuh kenal ayah kamu dari aku lahir, dan kita biasa bareng jadi aku tahu kebiasaannya setiap kamu akan pulang dia pasti banyak menghitung, dan lembur kerja" Edeline masih mengingat jelas setiap liburan sekolah dan ara mampir ke indonesia untuk tinggal bersamanya jonathan selalu terlihat sibuk setelah kepulangan Ara


dulu memang ia belum paham, tapi saat sedikit-sedikit jonathan memberikan kepercayaan untuk mengurus keuangan jonathan barulah edeline sadari itu


wajah ara langsung tertunduk "apa ayah kesusahan setiap aku di sini" tanya Ara dengan suara lirih


"bukan itu maksudku ara" edeline tak ingin ara salah paham dan berakhir ia akan di salahkan jonathan "ini lebih ke seorang ayah bekerja keras untuk membahagiakan putrinya, kamu tuh gak tinggal dengannya sepanjang tahun hanya mengambil jatah liburanmu saja jadi tentu dia ingin memberika segala yang terbaik untuk kamu jadi jangan merasa kamu menghabiskan uang ayah kamu" jelas Edeline


"kalau gitu harusnya kamu juga gak masalah ambil uang suami kamu kan dia kerja buat anak istrinya" balas ara


"iya, aku tahu itu tapi aku gak mau terlalu membebaninya, toh dia masih rutin kasih uang donasi ke panti asuhan yang dulu di tinggali ayah kamu jadi aku gak mau terlalu membebaninya saja" balas Edeline


ara langsung memeluk edeline begitu gemas "ya ampun mamaku ternyata cinta banget sama ayah ya" gumam Ara begitu takjub dengan pandangan edeline

__ADS_1


"apaan sih ara" kesal Edeline sebab Ara memeluknya di tengan kerumunan orang-orang


ara dan edeline melanjutkan belanja mereka untuk mengisi dapur mereka, dan memaketkan barang-barang belanjaan mereka yang cukup banyak agar tidak kerepotan membawanya. Dari sana Ara kini mulai mengenali sosok Edeline yang tidak buruk menurutnya hanya saja dia memang orang yang cukup keras kepala dan tidak mau mengalah jika sudah meyakini sesuatu


__ADS_2