
Seusai membersihkan diri Jonathan berjalan menghampiri Edeline yang duduk di kursi teras rumah sembari melihat jalanan rumah Jonathan yang tidak terlalu ramai tapi Edeline berusaha tersenyum saat tetangga Jonathan menyapanya
"ayo berangkat" ajak Jonathan
"ayuk" Edeline langsung saja berdiri dan mengikuti langkah Jonathan masuk dalam mobilnya
Edeline masuk mobil dan langsung memasang sabuk pengaman sambil melirik Jonathan yang sedang menutup gerbang sebelum kembali masuk ke dalam mobil
"di sini rame ya om" tanya Edeline saat jonathan sudah masuk dan sedang memasang sabuk pengamannya
"lumayan, di sini bukan lingkungan orang kaya seperti tempatmu tinggal jadi lebih ramai" balas Jonathan
Edeline mengerutkan keningnya "emang kalau lingkungan orang kaya sepi" tanya Edeline
Jonathan terkekeh "di tempatmu bisa lihat orang lewat dan nyapa kamu gak" balas Jonathan dengan sebuah pertanyaan
"enggak sih om, lagian kalau mau lewat rumah juga gak akan kelihatan kali om kan antara rumah sama gerbang depan jauh mana kedengaran kalau ada orang nyapa" balas Edeline dengan begitu polosnya
"nah itu, makanya rame karena bukan lingkungan orang kaya. Kebanyakan yang tinggal di sini hanya pegawai rendah saja jadi rumah mereka tidak terlalu luas, rumah om saja dulu beli 5 lahan jadi sedikit lebih luas, tapi sengaja bikin sederhana di bagian depan biar gak terlalu berbeda dengan mereka saja" jelas Jonathan yang tanpa sengaja menjawab kebingungan Edeline kenapa rumah Jonathan luas di bagian belakang tapi terlihat sederhana di bagian depannya
"lima lahan?" heran Edeline
"iya, yang lahan sebelah itu juga punya om, sengaja gak om bangun karena mau om kasih buat Ara nanti saat ara sudah menikah" balas Jonathan
"pantas pagar yang sebelah kiri lebih rendah dari pada yang sebelah kanan" kini Edeline tahu alasan pemilihan pembuatan pagar rumah Jonathan padahal tadi ia sempat berpikir kalau arsitek yang dulu memmbuat rancangan bangunan rumah jonathan sedang khilaf karena tidak singkron saat membuat pagar
Jonathan terkekeh "pasti kamu bertanya-tanya alasan tinggi pagar itu berbeda ya" tanya Jonathan yang tahu rasa penasaran Edeline saat pembuatan pagar rumahnya sebab Jonathan tahu kalau saat Edeline memilih jurusan arsitek itu adalah atas keinginannya bukan atas usul atau keinginan orang lain
__ADS_1
"iya om, tadi Edeline sempat mikir keras filosofi pembuatan pagar itu yang perasaan masih ngeganjel aja" balas Edeline dengan jujurĀ akan pandangannya tentang rumah jonathan
tak lama berselang, Jonathan sudah sampai di sebuah mall besar yang ada di dekat rumah Jonathan "ingat ya Edeline, tidak lebih dari 10 juta, kalau dengan uang segitu kamu dapat dalaman saja berati untuk sehari-hari kamu pakai itu saja dan kalau kamu pakai itu maka om akan berteriak girang karena di beri pemandangan yang indah setiap hari" ucap Jonathan sebelum turun dari mobil
Edeline langsung mencebikkan bibirnya "ngeselin" umpat Edeline turun dari mobil dan berjalan dengan langkah lebar
"edeline" panggil Jonathan
"apa!" Edeline berbalik dan membalas panggilan Jonathan dengan kesal
'kamu yakin bisa pergi sendiri" tanya Jonathan saat langkah Edeline sudah begitu jauh darinya
"emangnya aku anak kecil" ketus Edeline merasa di sepelekan jonathan
"ya terserah kamu sih kalau merasa bisa pergi sendiri, tapi setahu om kamu belum pernah pergi ke mall kan, biasa kamu beli pakaian di butik dan itu selalu di temani oleh orang suruhan orang tua kamu" balas Jonathan
kalau dulu ia akan santai saja pergi karena jika sampai ia salah jalan maka anak buah orang tuanya akan menjemput, tapi beda dengan sekarang yang benar-benar di lepas oleh orang tuanya
"ya sudah" Edeline melangkah lebar menghampiri Jonathan dan menggandeng tangan Jonathan "ayo jalan om" ajak Edeline tak canggung sama sekali saat menggandeng tangan Jonathan
sejenak ia lupa kalau ia tidak suka statusnya yang sudah berubah menjadi seorang istri bagi Jonathan, langkahnya mengingat bahwa dulu ia juga biasa di gandeng oleh jonathan saat kecil
Jonathan dan Edeline mulai memilih baju yang di inginkan Edeline "bete deh" Edleine di buat kesal dengan harga setiap baju yang di inginkannya tapi itu terlalu mahal dan saat ia menghitung akan hanya mendapatkan pakaian sedikit saja jika nekat membeli
Jonathan duduk di bangku yang tak jauh dari Edeline memilih pakaian, dsn Jonathan hanya tersenyum simpul melihat Edeline yang terus menggerutu karena terlalu sulit mendapatkan pakaian yang sesuai seleranya tapi dengan budget yang ia miliki "lucu banget sih" gumam Jonathan merasa tingkah Edeline yang sedang menggerutu begitu menggemaskan
"pacar, atau istrinya mas" tanya seorang pria yang duduk di sebelah Jonathan
__ADS_1
Jonathan menoleh ke arah pria yang sempat bertanya dan ia rasa bertanya padanya "istri saya" balas Jonathan dengan senyuman tipisnya
pria itu melirik ke arah Edeline "kalian cocok, pasti baru menikah ya" tanya Pria tersebut
Jonathan mengerutkan keningnya "kok anda tahu kami baru menikah" tanya Jonathan pada pria yang baru ia temui tapi tahu kalau dirinya dan Edeline baru menikah
"itu jelas, soalnya ada senyum-senyum sendiri saat lihat istrinya lagi sibuk milih baju tapi gak dapat-dapat soalnya aku dulu gitu" pria itu menunjuk seorang wanita yang berada tak jauh dari Edeline "kami sudah menikah 8 tahun dan kadang malas saja menemani dia belanja begitu lama tapi karena cinta mau bilang apa" kekeh pria itu menertawakan dirinya sendiri
"oh" balas Jonathan
Setelah menunggu hampir 2 jam akhirnya Edeline berjalan ke arah Jonathan "sudah abis uangnya" ucap Edeline mengerucutkan bibirnya saat melihat kantung belanjaan yang ada di dekat Jonathan dan menurutnya belum banyak
"ya sudah kalau gitu kita pulang" balas Jonathan
"tapi belum cukup" protes Edeline
"gak ada lagi Edeline, kalau mau lagi tunggu bulan depan" tolak Jonathan dengan tegas
istri pria yang dari tadi ada di dekat Jonathan memicingkan matanya ke arah belanjaan Edeline yang menurutnya cukup banyak tidak seperti dirinya yang hanya bisa mendapatkan tiga kantong saja "harusnya mba bersyukur loh masih bisa belanja sebanyak itu" wanita yang berbicara itu mengangkat tiga paper bag di tangannya "saya aja cuma dapat tiga kantong masih bersyukur karena saat suami saya gajian masih menyempatkan memberi uang belanja" Wanita itu menunjuk ke arah kantong belanjaan Edeline yang begitu banyak "kalau saya belanja kaya gitu yang ada suami saya gak ngizinin saya belanja setahun kali" ucap wanita tersebut
Edeline melirik ke arah kantong belanjaan wanita itu dan kantong belanjaan miliknya "apa aku terlalu banyak belanjanya" tanya Edeline begitu polosnya
dan wanita itu mengangguk "iya lah, masih untung suami kamu cinta banget sama kamu jadi ngizinin aja belanja sebanyak gitu" balas wanita tersebut
"gitu ya" Edeline melirik ke arah Jonathan dengan tatapan yang sulit untuk di artikan
"sudah ah Edeline kita taro belanjaan kamu lalu kita belanja buat isi kulkas" ajak Jonathan tak ingin di pandang Edeline seperti itu karena itu membuatnya cukup gugup
__ADS_1