
Jonathan memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya seperti biasanya, hari ini rasanya begitu lelah saat ia harus menjalani beberapa meeting menggantikan Lucas yang sedang berbulan madu, rasanya ia ingin segera berbaring di atas kasur empuknya
"Edeline" panggil Jonathan saat memasuki rumahnya dan tidak mendapati keberadaan Edeline di sana
Edeline menghampiri Jonathan yang baru melewati ruang tamu dan akan sampai di ruang keluarga "ada apa om" tanya Edeline yang masih bangun padahal sudah jam 10 malam
"kamu masak tidak Edeline, om lapar banget" Jonathan menyandarkan tubuhnya di sofa ruang keluarga
Edeline melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam "om belum makan jam segini" heran Edeline pada Jonathan yang belum makan padahal sudah cukup larut malam
"belum, tadi terlalu sibuk ngomongin urusan bisnis dan kebetulan makanan yang di sajikan adalah makanan yang buat om alergi jadi gak om makan " balas Jonathan
"mereka masak kerang" tanya Edeline sambil berjalan ke arah dapur yang tepat berada di sebelah ruang keluarga
"iya mana kerang yang harganya mahal itu, mau ngomong tapi takut menyinggung jadi tadi alasan kalau sudah makan padahal lapar setengah mati" adu Jonathan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut
"Edeline masakin yang sederhana aja ya om, Edeline kira om sudah makan di luar soalnya samai jam makan malam belum ada tanda-tanda om mau pulang jadi Edeline biarin saja sih ara abisin makanan yang tadi sore Edeline masak" jelas Edeline
Jonathan langsung membuka matanya lebar mendengar nama putrinya di sebut "ara ke sini" tanya Jonathan
"iya, udah tidur paling dia soalnya sudah masuk kamar dari jam 8 tadi" Edeline membuat spagheti agar cepat bisa di nikmati oleh Jonathan sebab Edeline sudah menyetok saos untuk spaghetinya jadi tinggal memasak pastanya dan memanaskan saosnya saja
Jonathan berjalan menghampiri Edeline "kalian berantem enggak" tanya Jonathan begitu penasaran akan keduanya saat berkumpul
Edeline yang sedang merebus pasta menoleh ke arah Jonathan dengan tatapan tajamnya "berantem kenapa" tanya Edeline bingung akan pikiran Jonathan padanya dan juga Ara
__ADS_1
"kok kenapa sih" Jonathan duduk di kursi yang ad di dapur miliknya "kemarin kan kamu sempat minta Ara pergi dari rumah karena takut Reagen dan Ara akan ada hubungan kalau tinggal serumah jadi tentu om mikir kamu akan bertengkar dengan Ara" jelas Jonathan
"ih itu mah kalian yang mikir kejauhan" kilah Edeline
Edeline mulai memanasakan saos spagheti yang sudah pernah ia buat dan meniriskan air rebusan pastanya dan meletakan pada wajan berisi saos spagheti dan mengaduk-aduknya
"lagian ya om, harusnya mikir geh bener gak apa yang aku omongin, kak Reagen dan Ara itu gak ada hubungan darah sama sekali dan kak Reagen itu belum pernah sama sekali jatuh hati sama wanita manapun ya walaupun Ara ada rasa sama kakak Edeline tapi kan Kak Lucas cintanya sama kak Nidya jadi bukan gak mungkin dong mereka bisa jatuh cinta" Edeline mematikan kompornya dan menatap lurus ke arah Jonathan "dan gak salah dong kalau aku ngelindungin apa yang ingin aku miliki" tukas Edeline dengan begitu Lugas
"nih" Edeline menyodorkan spagheti yang sudah ia buat pada Jonathan
Jonathan mulai menyantap masakan Edeline "kok om gak pernah kepikiran sampai sana ya" gumam Jonathan merasa apa yang di pikirkan Edeline ada benernya
"ya karena pikiran om gak jauh kedepan, samping dan belakang" tukas Edeline begitu bangganya dengan jalan pikiran yang ia miliki "Edeline biasa mikirnya muter om jadi pasti nyampe sana" kekeh Edeline merasa pikirannya benar dan tidak ada yang bisa mengalahkan
Edeline memicingkan matanya ke arah Jonathan "kok om mikirnya gitu? aku cinta beneran sama kak Reagen kok" protes Edeline
Jonathan menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju dengan pandangan Edeline "kamu gak cinta sama dia Edeline, menurut om kamu hanya sebatas kagum karena menemukan sosok yang begitu sempurna melebihi kakak dan Daddy kamu, Om tahu sifat dan sikap Reagen yang begitu baik dan menjadi incaran banyak wanita dan om yakin kamu sebatas mengagumi saja bukan dalam tahap cinta" ucap Jonathan dengan begitu yakinnya
"sok tahu deh om" kesal Edeline
"bukannya sok tahu Edeline, tapi om itu kenal kamu dari kecil jadi om tahu bagaimana posesifnya kamu saat menyukai sesuatu dan posesifnya kamu ke Reagen tidak sampai ke tahap itu" jelas Jonathan
"ah terserah om saja deh" Edeline meninggalkan Jonathan dengan raut kesal
"ih tungguin om napa, jangan di biarin makan sendiri" protes Jonathan tidak ingin di tinggal sendirian
__ADS_1
"ya ampun om" Edeline menggelengkan kepalanya "om sudah tua kali anaknya aja sudah gadis dan bisa sewaktu-waktu dapat cucu jadi jangan manja" tegur Edeline
"ya kan gak enak kalau sendirian" timpal Jonathan
Edeline kembali melangkah mendekati Jonathan dan duduk di samping Jonathan untuk menemani Jonathan makan sambil mengobrol ringan tentang banyak hal
"tapi nanti om yang cuci piring ya, Edeline capek om seharian bikin kerangka buat taman belakang"keluh Edleine memijat pundaknya yang terasa pegal
"ya sudah nanti om pijitin deh biar gak pegal-pegal" tawar Jonathan begitu baik hatinya
wajah Edeline langsung berseri "beneran ya om" tunjuk Edeline pada Jonathan karena tidak ingin di bohongi
"tapi ada syaratnya" tukas Jonathan ingin mengajukan syarat pada Edeline jika ingin di pijat
"apa" Tanya Edeline menautkan kedua alisnya ingin tahu apa syarat yang akan di ajukan oleh Jonathan padanya
"gantian pijitnya, om juga pegel soalnya" balas Joanathan mengangkat bahunya yang juga meras pegal karena bekerja seharian
Edeline memandangi wajah Jonathan yang memang nampak lesu dan kelelahan "deal" Edeline mengajak Jonathan untuk berjabat tangan sebagai tanda persetujuan kalau akan bergantian dalam memijit
dan tanpa mereka sadarai ada sepasang mata yang terus mengamati keduanya dan menyunggingkan senyum tipisnya "ternyata orang-orang hanya belum memahamimu saja" gumam Ara yang mendengar semua obrolan ayahnya dengan istri barunya
kini ia tahu kalau ada alasan kuat kenapa Edleine melararang Ara untuk tinggal bersama Reagen dan hal itu memanglah benar, seroang wanita dan laki-laki yang tidak memiliki hubungan darah sebaiknya jangan tinggal serumah
Ara menutup pintu kamarnya dengan pelan "aku harus dekat denganmu karena sekarang kamu ibu sambungku" kekeh Ara meras lucu memiliki ibu yang jauh lebih muda darinya dan mungkin lebih cocok jadi adiknya ketimbang jadi ibunya
__ADS_1