
***
“tara kamu jadi kuliah ke amerika?” Tanya qiran yang kini sudah duduk di bangku kelas 3 SMA begitupun jay dan tara
“jadi dong. Ayahku sudah ngijinin soalnya” tara begitu bahagia dirinya di ijinkan untuk kuliah di luar negeri setelah sekian tahun lamanya ia ingin hidup terpisah dari ayahnya yang begitu mengekang dirinya
“kamu gimana, jadi kuliah di inggris?” Tanya tara
“iya, aku sudah keterima di kampus yang aku inginkan” balas qiran
tentu tara tahu di mana qiran mendaftar kuliah, salah satu kampus besar di Inggris
Tara berdecih “iya sih yang anak pintar, keterima di kampus bagus begitu mana mungkin orang tua kamu bisa nolak” sahut tara sedikit kesal akan kecerdasan sahabatnya sedangkan dirinya kategori anak yang susah dalam belajar dan selalu mendapat peringkat rendah, beruntungnya dia dari kalangan keluarga kaya jadi tak begitu kesulitan saat mengeyam pendidikan di sekolah favirit
“Jay, juga ikut mendaftar beasiswa di kampusku” ucap qiran dengan senyum simpul mengingat rencana jay mendaftar beasiswa di kampus tempat qiran akan menempuh pendidikan
"tambah di manjain kamu nanti sama dia” ledek tara yang tahu jay begitu memanjakan qiran karena qiran menjadi donator tetap di panti asuhan tempat ia tinggal
"iya dong” balas qiran dengan bangganya
“tapi ya qiran” tara menoleh ke arah sahabatnya “ kamu gak bosen jadi sasaran tatapan tajam wanita penggemar jay, ngeri tahu” tara bergidik ngeri akan tatapan mata wanita penggemar jay saat melihat qiran berjalan di samping jay
Jay memang terbilang tampan karena wajah campuranIndonesia-korea dan ada tambahan wajah kebaratan walaupun identitas jay tak di ketahui pasti karena jay yang di tinggalkan di panti semenjak ia masih bayi. tubuhnya tinggi, kulitnya butih, matanya yang berwarna cokelat jernih seperti kebanyakan orang korea membuat dia terlihat begitu sempurna di tambah lagi dirinya yang selalu bekerja di berbagai tempat membuat jay memiliki tubuh proporsional bagi model dan juga memiliki otot perut yang terlihat begitu muda di usianya yang masih 17 tahun
“mereka tak akan berani mengusikku” qiran memberikan tatapan penuh bangga akan dirinya “kamu lupa siapa aku,aku atlet taekwondo professional” seru qiran menunjuk dirinya sendiri dengan bangga
“bukan itu yang jadi focus ketakutan mereka untuk mengganggumu tapi keluargamu” tara berdecih pada qiran
Qiran memang berasal dari keluarga yang cukup berada dan terbilang punya kekuasaan yang cukup besar di negeri ginseng itu
“sudahlah jangan bahas orang tuaku” kesal qiran yang terkadang tak suka saat orang tuanya
di sebut-sebut
__ADS_1
“iya sih” balas tara yang paham betul perasaan sahabatnya karena ia juga mengenal orang tua qiran dengan baik dan paham betul bagaimana tabiat orang tua qiran
*
“triiiiiiiiing” terdengar suara bel istirahat berbunyi menandakan jam istrirahat
“yuk qiran makan siang” jay menunjuk kotak bekal yang ia bawa dari panti asuhan, masakan ibu yoon
Tara mengerucutkan bibirnya “yang di ingat qiran doang nih” kesal tara
“kan biasanya kamu lebih suka makan di kantin, tapi kalau kamu mau ikut makan, ini masih cukup untuk kita bertiga” ucap jay
“oke, kali ini aku ikut dengan kalian” tara menggandeng lengan jay dan qiran menuju halaman samping seklah mereka yang terdapat bangku taman dan kumpulan pohon besar yang di jadikan tempat makan siang mereka saat jam istirahat
Jay dan qiran hanya tersenyum simpul melihat kelakuan abstrak sahabat mereka yang suka berubah-ubah sepanjang waktu
“kamu yakin mau makan, ini hanya makanan rumahan nanti kamu bilang gak enak kaya biasanya”
qiran tak ingin sahabatnya seperti biasa yang selalu mengatakan makanan rumahan itu tidak enak karena hambar dan kurang rasa
‘tumben sekali kau diet?” jay memicingkan matanya ke arah tara
“udah kaya perempuan saja sih diet?” ledek qiran
Tara menghentikan langkahnya menatap tajam qiran “kalau ngomong itu di saring dulu qiran, jangan asal berucap yang bikin aku kesal sama kamu” kesal tara
Qiran mengalungkan tangannya di lengan tara “iya sih maaf tara” ucap qiran dengan nada manja pada sahabatnya
“hehhhh” tara membuang mukanya kasar “kaena kau sahabatku sejak kecil, aku maafkan” balas tara
Jay hanya tersenyum melihat kelakuan qiran dan tara yang memang sudah sering bertengkar dan begitu cepat berbaikan
Tara menoleh ke arah jay “oh ya aku dengar kau sedang daftar beasiswa di kampus tempat qiran akan kuliah” Tanya tara
__ADS_1
“iya aku sedang mengurusnya” balas jay
jay membuka rantang yang ia bwa dan menyususnnya di atas rumput hijau yang ada di sekolah mereka “kalau kau pergi bagaimana dengan adik-adikmu?” Tanya tara
“aku sudah membuat café kecil-kecilan sebagai pemasukan untuk panti, jadi tak akan ada masalah saat mereka nanti aku tinggal” balas jay yang sudah memiliki rencana untuk membantu keuangan panti asuhan
Tara membelalakan matanya lebar sembari mengacungkan kedua jempolnya pada jay “kau hebat” tara begitu takjub dengan jay yang selalu bekerja keras menghidupi adik-adiknya dan bisa membuka usaha walaupun terbilang kecil tapi tentu itu cukup sulit karena mereka tinggal di Negara yang daya saingnya cukup ketat
“doakan saja semua usahaku untuk meraih impianku tercapai” balas jay
“memang kau mau mengambil jurusan apa nantinya?” Tanya qiran
“kedokteran” balas jay dengan yakin
“wah hebat” tara kembali mengacunkan jempolnya
jay menoleh ke arah qiran “kalau kau qiran, akan mengambil jurusan apa?” Tanya jay
“aku mengambil dua jurusan manajemen bisnis dan jurusan sastra” balas qiran
“kau yakin mengambil keduanya?” Tanya jay yang begitu takjub dengan kemampuan sahabatnya yang ingin mengambil dua jurusan sekaligus yang itu artinya akan menyita waktu dan pikirannya
“kalian tahu sendiri orang tuaku mana membolehkan aku mengambil jurusan sastra jadi aku mengambil dua jurusan tanpa sepengetahuan orang tuaku” balas qiran
“mereka pasti menginginkan kau mengelola perusahaan kalian” ucap jay yang tahu qiran berasal dari keluarga konglomerat dan memiliki banyak perusahaan
“tapi aku malas mengelolanya, membuatku bosan nanti, aku kan lebih suka menulis” balas qiran datar
Jay menatap qiran lekat “semoga kau bisa jadi penulis seperti yang kau inginkan” jay menatap lekat qiran “my haesbich” lirih jay membuat qiran tersenyum bahagia akan panggilan jay untuknya yang sudah sering ia lontarkan sejak mereka dekat dan bersahabat saat kelas 1 SMA
“masih saja kau memanggilnya haebich, membuatku geli saja” ungkap tara bergidik ngeri
“pluk” qiran langsung memukul tenguk tara yang membuatnya kesal “bilang saja iri” umpat qiran yang di hadiahi tatapan tajam tara
__ADS_1
"gak salah lagi aku memanggilnya my haesbich, karena dirinya lah yang paling banyak memberiku motivasi untuk jadi lebih baik dan tak mudah menyerah" sahut jay menjadikan qiran panutan dalam elajar dan bekerja keras