You Are My Regret

You Are My Regret
Aku Akan menikahinya secepatnya


__ADS_3

Zahira tak percaya apa yang lihat saat ini. Bagaimana bisa pria itu mengajaknya menikah begitu saja di depan ayahnya. Apalagi tak pernah ada pembahasan ini antara mereka berdua selama ini terutama perbedaan mereka


Perbedaan, yang selama ini jadi benteng kuat di antara mereka berdua yang sangat sulit Zahira lewati maupun abaikan "Mas Reagen" gumam zahira saat melihat Reagen lah yang menawarkan menikahinya secepatnya pada sang ayah


Reagen tersenyum manis ke arah Zahira dan berdiri di samping Zahira agar bisa berhadapan dengan ayah dari Zahira "kenalkan om, saya Reagen calon suami Zahira" Reagen mengangkat satu tangannya untuk berjabat tangan ke arah Ayah Arman


Ayah Arman menyipitkan matanya ke arah tangan Reagen yang masih menggantung ke arahnya "bagaimana bisa kamu bilang sebagai calon suami anak saya" tanya Ayah Arman


Reagen tersenyum simpul "tidak baik menolak salam perkenalan seseorang bukan" Reagen menggoyang tangannya masih menunggu Ayah Arman membalas jabatan tangannya


dengan Terpaksa ayah Arman menjabat tangan Reagen " Arman Malik Ja'far, ayah dari Zahira" ucap Ayah Arman


"bisa kita duduk agar bisa bicara dengan nyaman" Reagen menunjuk ke arah meja dalam ruangan agar bisa bicara dengan nyaman


Ayah Arman dan sari duduk sesuai arahan ReagenĀ  "ayo Zahira" ajak Reagen menggandeng tangan Zahira agar duduk berhadapan dengan ayahnya


"sejak kapan kamu berhubungan dengan anak saya, dan bagaimana bisa kamu mengajak anak saya menikah padahal anak saya baru lulus SMA" tanya Ayah Arman langsung pada intinya


"nama saya Reagen Javerson, kami sudah mengenal kurang lebih dua tahun. Awalnya saya mau saja menunggu Zahira menyelesaikan kuliahnya tapi sepertinya tadi saya mendengar perdebatan kalian bahwa Zahira harus menunggu menikah untuk mengambil haknya" jelas Reagen


Ayah Arman memicingkan matanya ke arah Reagen "kamu mau ngeruk harta anak saya" tuduh Ayah Arman


"ayah!" Zahira tentu saja tidak terima jika Reagen di hina oleh Ayahnya


Reagen mengusap punggung tangan Zahira "maaf tuan Arman, bukankan tadi di awal saya mengenalkan diri sebagai Reagen Javerson. Menurut anda dengan nama belakang itu di nama saya, apa harta peninggalan mamnya Zahira, membuat saya tergiur" tanya Reagen masih dengan pembawaan tenangnya

__ADS_1


mata Ayah Arman membelalak lebar saat menyadari sesuatu "kamu anak Thomas" tanya Ayah Arman


Reagen mengangguk "iya, harusnya anda tahu siapa ayah saya karena anda kan kuliah bersama uncle Jay dan Aunty Qiran, menjadi adik tingkat Daddy Saya" balas Reagen


Ayah Arman mengerutkan keningnya "kalau kamu memang benar anak kak Thomas, mana mungkin kamu bisa menikahi anak saya, saya ingat dengan jelas kalau kak Thomas beragama kristiani. Di keluargaku tidak di izinkan menikah dengan orang yang berbeda agama" tegas Ayah Arman


"saya tahu itu tuan, saya juga tidak akan berani menikahi anak anda jika saya masih memiliki agama yang sama dengan Daddy saya" Reagen mengambil sertifikat yang ada dalam map di tas kerjanya


"ini adalah sertifikat yang menunjukkan saya sudah menjadi Muallaf bulan lalu, dan di situ yang menjadi saksi adalah ulama yang cukup di kenal di Indonesia" Reagen menyodorkan itu pada Ayah Arman agar bisa di lihat denagn mudah


Zahira menatap tak percaya ke arah Reagen, ingin berucap tapi lidahnya sungguh terasa kaku dan tak bisa berucap apapun untuk menanggapi keterkejutannya kali ini


Ayah Arman membacanya secara seksama dan emamng ebnar di situ tertera Reagen yang sudah emnjadi muallaf "baru mualaf selama satu bulan bukan berarti kamu sudah bisa menikahi putriku begitu saja, dengan waktu yang singkat bagaimana kamu mempin sholat anak saya nanti" protes Ayah Arman


"saya gak percaya" Ayah arman menggelengkan kepalanya tak percaya akan ucapan Reagen


"kalau anda gak percaya akan ucapan saya, saya siap kapanpun untuk anda tes" balas Reagen dengan begitu yakin


dan saat itu ayah Arman langsung mengetes apakah Reagen bisa menjadi imam shalat dengan memeriksa setiap bacaan serta gerakan Reagen yang memang ternyata benar dan tidak ada kesalahan bahkan bacaan Reagen temasuk kategori cukup baik bagi orang yang baru saja menjadi mualaf


Zahira memang tahu kalau Reagen sudah belajar hal ini sejak lama, tapi ia benar-benar terkejut saat Reagen mengatakan sudah menjadi mualaf dan tega-teganya Reagen tidak memberitahunya sama sekali dan memberikan kejutan untuknya seperti ini


"sekarang saya percaya kalau kamu memang benar kalau benar-benar bisa menjadi imam untuk Zahira, tapi tetap saja saya ingin kamu melamar Zahira dengan jalan yang benar, orang tua kamu harus datang ke rumah untuk melamar Zahira dengan saya" ucap Ayah Arman


"baik tuan, nanti saya akan minta Daddy untuk segera datang kemari dan melamar Zahira pada anda" balas Reagen

__ADS_1


Ayah Arman melirik ke arah Zahira "ayah pulang terlebih dahulu, tapi saat lamaran kamu harus pulang ke rumah dan setelah menikah, ayah janji akan mengembalikan semua warisan kamu" ucap Ayah Arman segera pamit pergi dengan di susul Sari di belakang ayah Arman


Zahira masih diam mematung tak angkat bicara walaupun sudah jelas ayahnya dan Sari sudah tidak ada di tokonya. Rasanya masih sulit percaya dengan apa yang ia alami saat ini


Reagen jadi takut sendiri saat Zahira diam saja dan tidak bicara sama sekali " Zahira gak nanyain kabar mas" tanya Reagen memulai obrolan


Zahira menoleh ke arah Reagen dengan tatapan penuh kekecewaan "bagaimana bisa mas mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya sama Zahira " terlihat sekali kekecewaan dari mata Zahira


Reagen jadi menyadari kesalahannya "maafin mas Zahira, mas tadi refleks" Reagen berusaha mengambil tangan Zahira tapi langsung di tepis oleh Zahira


"sebaiknya kita pulang dulu, mas pasti lelah karena baru sampai kan" Zahira berjalan ke arah luar dan di ikuti oleh Reagen


setelah Reagen keluar, Zahira langsung saja mengunci pintu dan Reagen hanya melihatnya saja sebab ia tahu kalau Zahira sedang marah jadi ia pikir lebih baik diam untuk saat ini


"buka pintunya" titah Zahira saat sudah sampai di dekat pintu mobil Reagen


"ya" Reagen langsung membuka kunci mobilnya sehingga Zahira langsung membuka pintu dan duduk di kursi penumpang bagian depan


Reagen bergegas memutar dan masuk ke kursi kemudi segera melajukan mobilnya membelah jaanan menuju apartemennya yang selama ini di tinggali oleh Zahira


selama perjalanan Zahira hanya diam saja, tak mengeluarkan sepatah kata apapun dan itu makin membuat Reagen tak karuan rasanya "apa dia kesal denganku ya" bati Reagen terus melirik ke arah Zahira sesekali


"bagaimana ini" teriak Reagen dalam hatinya


baru kali ini ia bingung harus apa untuk meredakan amarah seseorang, Reagen begitu takut jika Zahira akan marah lama dengannya dan tak mau bicara dengannya lagi

__ADS_1


__ADS_2