
Qiran sudah mulai kepayahan untuk beraktivitas karena memang ini sudah bulannya untuk melahirkan dan qiran juga sering mengalami kontraksi palsu
Jay yang punya tanggung jawab sebagai seorang dokter, apalagi ia belum lama kembali bertugas jadi membuatnya tidak bisa meminta izin terus menemani qiran walaupun rumah sakit tempatnya bekerja milik keluarga istrinya. alhasil lensi yang di minta cuti kerja dan menemani qiran di rumah
"hei qiran" panggil lensi menepuk pelan bahu qiran yang sedang rebahan di atas ranjang
"baju bayi kamu mana? mau aku masukin mobil biar gak gugup kalau tiba-tiba mau brojol" lensi memang di minta untuk membantu mengurus persiapan lahiran qiran dan sudah di wanti-wanti oleh mommy asmira agar tidak ada yang kelupaan
"di kamar bayi sana" tunjuk qiran pada kamar tepat di sebelah kamarnya yang di jadikan kamar anaknya nanti saat dia sudah lahir
lensi mulai memasukan keperluan qiran " mommy sama daddy kamu kapan ke sini, katanya mau nemenin kamu lahiran" tanya lensi setengah berteriak karena jarak mereka agak jauh akibat ukuran kamar keduanya sama-sama besar
"katanya sih sudah jalan tadi pagi, berarti berapa jam lagi juga sampai" qiran bangun untuk duduk lalu memijit kakinya yang rasanya begitu pegal
"kamu sudah siapin nama belum buat anak kamu nanti? " tanya lensi
"Jay yang siapin, aku gak tahu mau di kasih nama apa" balas qiran
setelah selesai membereskan keperluan qiran, lensi kembali menghampiri qiran "hei qiran" lensi menepuk pelan lengan qiran "nanti pakai nama belakang siapa anak kamu, secara Jay kan masih bete sama ayahnya, atau mau pakai nama belakang kakeknya" tanya lensi penasaran akan di beri nama belakang siapa anak qiran nanti
"entahlah, aku gak nanya itu ke jay" balas qiran
"ah, pakai nama keluarga kamu saja" usul lensi
"hei aku saja gak pakai nama belakang keluargaku, jadi terserah jay ajalah, gak usah masalahin yang gak penting, yang penting dia kan anak aku dan jay" qiran gak mau masalahin anaknya harus memakai nama belakang siapa, yang penting baginya anaknya lahir dengan sehat dan tak kurang suatu apapun
"iya sih" balas qiran
Lensi melirik qiran yang masih sibuk memijit kakinya "sini aku yang mijit aja"lensi mengambil alih memijit kaki qiran karena kasihan melihat lensi yang sedikit kepayahan saat memijit kakinya
"terima kasih ya" qiran menyandarkan tubuh di kepala ranjang dan sedikit ngilu akan perutnya yang sudah sering mengalami kontraksi palsu
tangan lensi sibuk memijit kaki qiran tapi matanya tertuju ke arah qiran "kontraksi palsu lagi atau beneran" tanya lensi
"sepertinya sih masih palsu"qiran mengusap perutnya dan terus emngatur nafasnya
"apa kalau aku hamil akan seperti itu ya" tanya lensi sedikit ngeri jika dirinya hamil nanti
__ADS_1
"mungkin saja" balas qiran
"kok jadi ngeri ya " lensi bergidik sendiri membayangkan dirinya yang akan begitu kesulitan saat hamil
"kamu kan ada ibu kamu yang dekat, jadi kalau kamu hamil bisa manja-manjaan sama ibu kamu saat tara kerja" sahut qiran
lensi tersenyum sumringah "iya juga, ibuku kan sayang banget sama aku, dia pasti akan manjain aku kalau aku hamil nanti" lensi jadi membayangkan sendiri bagaimana ibunya akan memanjkannya nanti
"maafin aku ya lensi, gara-gara suamiku yang sibuk kamu jadi di paksa tara cuti buat nemenin aku di rumah" qiran merasa bersalah karena membuat lensi terpaksa cuti
"ih aku nemenin kamu malah seneng banget tau, gak harus rayuin penulis kita yang sedang ngambek, semuanya ada yang gantiin. aku jadi santai banget. nemenin kamu mah bukan hal sulit" balas lensi
"aku pengen makan buah di luar deh, bosen di kamar melulu" pinta qiran
"oke" lensi membantu qiran berjalan ke arah ruang tengah
"bik, ambilin buah potong yang di kulkas ya, nyonya mau makan buah"teriak lensi
qiran mengusap telinganya yang sedikit berdengung "kebiasaan teriak-teriak deh" kesal qiran merasakan sakit di telinga karena teriakan lensi
"oh ya len, kamu belum ada tanda-tanda hamil apa" tanya qiran
lensi menunduk lesu "padahal suah rajin buatnya tapi masih belum juga, bulananku masih rutin jalannya gak pernah telat" lensi juga bingung kenapa belum juga hamil padahal dia dan tara sudah sering membuat adonan tapi kujung jadi-jadi
"itu tandanya kamu masih di suruh nikmatin pernikahan kalian, kan kalau ada anak jadi keganggu keromantisannya " ucap qiran
"bukan keganggu qiran, tapi yang ada kita akan berpisah" lensi meluruskan apa yang akan terjadi setelah mereka memiliki anak
"aduh" qiran meemgang perutnya yang terasa begitu sakit
"yang beneran apa bohongan" tanya lensi berusaha tenang
"gak tahu, tapi kok ini sakit banget ya" qiran merasa perutnya makin melilit dan terasa di putar
lensi jadi teringat ucapan jay yang harus rutin memeriksa apakan ketuban qiran pecah atau belum, kalau sudah pecah itu tandanya qiran akan segera melahirkan
"coba periksa ketuban kamu pecah atau belum" lensi membantu qiran berdiri untuk melihat tubuh bagian bawah qiran
__ADS_1
"ah basah" sesuai tanda yang sudah di berutahukan jay, lensi jadi tahu kalau ketuban qiran sudah pecah dan ia akan segera melahirkan
"bik, panggil sopir buat siapain mobil, sama bibik ambil tas yang sudah saya siapain di kamar qiran dan cepat taro di mobil ya bik" teriak lensi dengan suara ekstra kerasnya
"sakit lensi" qiran terus memegang perutnya
"kita ke rumah sakit sekarang ya" lensi membantu memapah qiran untuk berjalan ke depan
"hati-hati ya" lensi membantu qiran berjalan menuruni tangga undakan di teras rumahnya
"bukan pintu pak" pinta lensi pada sopir qiran
lensi membantu qiran untuk duduk "jangan buru-buru kahir ya qiran, tunggu sampai di rumah sakit ya, aku gak bisa banu melahirkan" seru lensi yang sudah mulai gugup
"jangan nakutin aku lensi, aku gak mau melahirkan di mobil" kesal qiran sambil menahan sakit di perutnya
tak sampai setengah jam qiran sudah sampai rumah sakit dan di bawa ke ruang persalinan, di mana jay sudah menunggu di sana untuk menemani qiran melahirkan
proses pembukaan jalan lahirnya berjalan cukup lama, tapi jay dengan setia menemani qiran yang terus mengeluh sakit dan tak jarang terus menangis. jay yang melihat qiran kesakitan hanya bisa meminta maaf pada qiran dan bilang ini adalah anak pertama dan terakhir mereka karena jay tak ingin qiran merasakan sakit kembali
daddy attaf dan mommy asmira sudah sampai di rumah sakit setelah mendapat kabar qiran akan melahirkan saat baru turun dari pesawat "lensi" mommy asmira menghampiri lensi "gimana qiran" tanya mommy asmira
"ada di dalam tante, sudah 4 jam, tapi kayanya belum ada tanda-tanda mau lahir deh" balas lensi
mommy asmira memeluk daddy attaf "kasihan anak kita pasti kesakitan dad" mommy asmira menangis emmbayangkan qiran yang sedang keskitan
"tenang mom, jay kan sudah ada di dalam buat kasih dukungan ke qiran" balas daddy attaf
5 jam kemudia terdengar suara tangisan bayi "itu cucu kita lahir dad" seru mommy asmira yakin itu suara anak qiran dan jay
"iya mom, akhirnya kita jadi kakek dan nenek" balas daddy attaf begitu bahagia menyambut kelahiran cucu pertamanya
jay memandangi anaknya yang baru di bersihkan "hai jagoan daddy" jay menyambut kelahiran anaknya yang sudah sangat lama ia tunggu
jay mengecup kening qiran dalam-dalam "terima kasih sayang, terima kasih sudah memberikan hal yang begitu berharga untukku" ungkap jay
"iya jay" balas qiran merasa begitu bahagia dan haru saat melihat anaknya yang baru lahir
__ADS_1