
Reagen masih membaca setiap detil yang berkaitan dengan Sari, ia akan menyerahkan pada sang istri jika pulang dari kantor nanti
"oh ya kak, ngomong-ngomong kapan mulai suka sama Zahira, aku sampai gak nyangka loh kalian sudah berhubungan lama, dan tinggal bersama di apartemen ini selama dua tahun pula" Lucas sebenarnya penasaran akan cerita yang ia dengar dari Tante kassy kemarin saat di pesta pernikahan Reagen
Reagen menyudahi kegiatan membacanya dan tersenyum tipis ke arah Lucas "kalau di bilang kapan jatuh cintanya, kakak sendiri gak yakin sih tapi yang pasti pertemuan dengannya sungguh menghibur hati kakak saat itu apalagi kamu tahuwaktu itu kakak baru patah hati gara-gara adik kamu" balas Reagen
Lucas berdecih "patah hati kan gara-gara kakak nolak adik aku dulu, jadi keburu di ambil orang" kelakar Lucas
"untuk itu, saat kakak denger obrolanya bersama ayahnya, kakak langsung gerak cepat, gak mau dong kakak kehilangan Zahira, apalagi kakak sudah terlanjur nyaman bersama Zahira, bahkan kakak sampai rela saat libur tiga hari pasti kesini, padahal kamu tahu sendiri perjalanan dari Inggris ke sini saja sudah berapa jam" balas Reagen
"tapi aku gak nyangka loh, kakak jadi muslim sekarang dan langsung nikah dalam kurun waktu tiga hari saat aku di beri kabar" heran Lucas
"kakak juga gak nyangka, padahal dulu kakak gak terlalu peduli dengan agama Islam saat tahu mommy Brianna memeluk agama ini dan kakak juga sempat gak percaya kalau mommy bilang sudah terlanjur nyaman menjadi Muslim, dan sekarang aku ngerasain sendiri kalau aku nyaman setelah menjadi Mualaf, hatiku jauh lebih tenang apalagi saat ada masalah kakak lebih bisa menyikapi dengan kepala dingin" jelas Reagen
"syukur deh kalau kakak merasa gitu, aku turut bahagia dengan pernikahan kakak" ucap Lucas dengan tulus
"oh ya Lucas" Reagen menatap lurus ke arah Lucas "kakak juga dengar sesuatu dari kamu loh, jangan sampai desas-sesus itu benar" sergah Reagen
Lucas menghela nafas kasar "aku tuh gak ada apa-apa sama Ara, kak Reagen, yang milih Sekertaris juga pihak HRD dan entah kenapa mommy gak ngebolehin aku buat gantiin Ara dengan yang lain" jujur Lucas
"hati-hati hal ini akan jadi bumerang buat kamu Lucas, Nidya sudah menunjukkan ketidaksukaannya dengan posisi Ara yang jadi sekertaris kamu di tambah lagi Nidya yang mungkin tertekan karena terus di tanya kapan hamil" ucap Reagen memperingati Lucas
"aku juga tahu itu kak, rasanya aku pengen pindah dari rumah deh, gak tahu kenapa mommy ku terlalu ikut campur, bahkan Edeline saja masih di minta bercerai dari om Jo padahal Edeline sudah memiliki anak" balas Lucas
Reagen memicingkan matanya ke arah Lucas "aunty Qiran kenapa, bukannya dia sayang banget sama Nidya ya, secara dia anak sahabat baiknya" tanya Reagen heran
"sayang sih sayang, tapi mommy selalu nyinggung teman-temannya yang sudah punya cucu dan sering bawa cucunya ke acara arisannya, itu kan pastu menyakiti hati Nidya kak" balas Lucas
__ADS_1
"masa sih, aunty Qiran begitu" rasanya sulit sekali Reagen percaya hal itu di lakukan mommy dari Lucas yang ia kenal baik sejak kecil
"aku juga gak tahu kenapa mommy makin tua, makin banyak ulah, padahal Daddy sudah beberapa kali menegur bahkan Kakek dan Nenek yang sekarang tinggal sama kita ikut negur mommy tapi mommy selalu bilang kalau dia hanya cerita loh bukan maksud apa-apa sama Nidya yang belum hamil" jelas Lucas
"sudah periksa ke dokter tentang kesuburan kalian" tanya Reagen
"belum kak, aku takut ngajak Nidya, takut dia tersinggung" balas Lucas
"mending kamu beraniin saja untuk ajak Nidya, tapi sebelum itu kamu yakinin ke Nidya kalau apapun hasilnya, kamu akan tetap sayang sama Nidya dan gak akan berpaling darinya ataupun cari wanita lain" Reagen memberikan pendapatnya pada Lucas
"iya kak, nanti aku bicarain deh sama Nidya" balas Lucas
"dan untuk Ara mending kamu minta bantuan Daddy kamu deh untuk ganti kerjaan ara yang jadi sekertaris kamu, perasaan kakak gak enak, kakak masih lihat tatapan mata ara ke kamu masih sama seperti dulu gak ada yang berubah" nasehat Reagen lagi
"iya kak, aku juga sudah antisipisai dengan minta Nidya ikut aku bekerja selama beberapa hari ini, apalagi perusahaan ayah sudah di ambil alih Raymond jadi Nidya sudah tidak bekerja" balas Lucas
"iya kak, aku tahu itu" balas Lucas
"ya sudah aku pulang dulu ya kak" pamit Lucas
"iya Lucas, Terima kasih atas bantuannya" balas Reagen
Lucas segera keluar ruangan Reagen dan akan pergi menjemput istrinya yang sedang bertemu salah satu temannya di salah satu cafe di Jakarta
"Sayang" Lucas menghampiri Nidya dan mencium keningnya
"sudah selesai" tanya Nidya
__ADS_1
"sudah mas" balas Nidya
"ya sudah yuk pulang" Lucas meraih tangan Nidya untuk beranjak pergi
"tunggu mas" Nidya menahan tangan Lucas
"ada apa sayang" Lucas kembali duduk di hadapan Nidya
"kita ke rumah sakit yuk mas, kita periksa apa ada yang salah dengan tubuh kita sampai kita belum punya anak" tanya Nidya dengan hati-hati
"kamu yakin mau periksa" tanya Lucas memastikan
"iya mas, Nidya yakin" balas Nidya
Lucas menggenggam tangan Nidya dengan erat "sebelum kita periksa, mas mau bicara hal penting sama kamu" Lucas menatap penuh kesenduan ke arah Nidya "apapun hasilnya nanti mau kemungkinan yang terburuk pun, tolong jangan sampai memperngaruhi pernikahan kita, kalau misal salah satu di antara kita ada yang bermasalah tolong saling menerima ya sayang" pinta Lucas
"iya mas, tapi kalau sampai aku yang ada masalah, kita pindah ya mas dari rumah itu. bukannya aku mau misahin kamu sama orang tua kamu tapi Nidya gak sekuat itu mas" Nidya rasa harus menyampai akan isi hatinya pada sang suami
"iya sayang, mas juga kepikiran itu" balas Lucas
Singkat cerita Nidya dan Lucas langsung memeriksakan kesuburannya di rumah sakit keluarga Lucas dan kini Nidya dan Lucas sedang menunggu hasil tes yang mereka lakukan
"apa begitu hasilnya dok" tanya Lucas
"iya tuan, tapi ini masih bisa di sembuhkan dengan rutin meminum obat" balas wanita memakai setelan putih sebagai baju kebesarannya
"Nidya memeluk Lucas dengan erat " mas.... " gumam Nidya tapi Lucas hanya diam mematung .....
__ADS_1