
Zahira memarkirkan mobilnya di halaman luas sebuah rumah mewah yang menurut Zahira sangat besar "ini rumah kamu" takjub Zahira akan rumah mewah milik Mila
"bukanlah, ini rumah orang tuaku bukan rumahku" balas Mila dengan tegas
"ya sama saja lah Mila, kamu kan anak tunggal jadi rumah ini pasti buat kamu" menurut Zahira sama saja ini milik Mila, secara Mila adalah anak tunggal jadi buat siapa lagi coba kalau bukan untuk Mila
Mila melangkah masuk ke dalam rumah di ikuti Zahira di belakangnya "pantesan kamu bilang bosan di rumah sendiri dan milih jadi guru SD biar gak kesepian" ucap Zahira dengan polosnya saat mendapati rumah besar itu terasa begitu kosong dan sepi
"iya sepi banget kan sering sendirian di rumah sebesar ini" tentu Mila mengiyakan hal itu
Mila mengajak Zahira berjalan menuju lift menuju kamarnya "kedua orang tuamu sering keluar ya" tanya Zahira
"iya" balas Mila
"orang tuamu gak marah kamu milih jadi guru SD bukannya nerusin usaha mereka " tanya Zahira penasaran apakah orang tua Mila yang jelas orang kaya setuju dengan pilihan Mila yang hanya ingin jadi guru SD saja
"tentu saja marah, tapi biarin saja biar mereka tahu kalau aku gak mau hidup kaya, tapi lebih butuh perhatian" balas Mila dengan tegas
Zahira tak menimpali dan hanya diam saja sebab Mila pasti punya jalan pikirannya sendiri tentang apa yang ia pilih untuk masa depannya
Mila mengajak Zahira duduk di sofa kamarnya yang begitu luas "kamar kamu gede banget, sudah kaya ruang tamu apartemen ku" puji Zahira akan kamar Mila yang luas
(ini apartemen Zahira dan Reagen, apartemen mewah ya jadi model ruang tamunya luas karena tergabung sama ruang baca, dan dapur yang jadi satu)
"hmmm" Mila melepas kacamata tebalnya dan mengikat asal rambutnya menunjukan leher jenjangnya
"kamu tuh kalau gak pake kacamata cantik tahu Mil" ucap Zahira yang kini merebahkan tubuhnya di ranjang milik Mila
"lebih nyaman pakai kacamata aja, aku paling malas berurusan dengan orang yang mendekati kita karena melihat penampilan luar kita" balas Mila
"ngomong-ngomong kenapa kamu ngajakin aku keluar, ada masalah" tanya Mila
Zahira tersenyum simpul ke arah Mila "kangen saja mas Reagen, dia lama banget di Inggrisnya " balas Zahira yang tak menceritakan keseluruhan masalahnya sebab permasalahannya dengan Reagen bukanlah hal yang ingin ia bahas dengan orang luar
"emang menyenangkan kan ya punya suami" tanya Mila
"ada yang nyenengin tapi ada juga yang gak, tapi secara keseluruhan lebih baik sih soalnya ada teman hidup" balas Zahira
Jika di tempat Mila, Zahira mengobrol banyak hal berbeda dengan Reagen yang masih uring-uringan karena Zahira yang belum mengaktifkan ponselnya padahal tadi Reagen senang sekali saat melihat pesannya sudah terbaca oleh Zahira tapi saat ia kembali menghubunginya malah ponselnya kembali mati
__ADS_1
"Kemana kamu sih sayang" bingung Reagen yang tak kunjung mendapat kabar dari istrinya
***
Ara kini sudah sampai di Semarang. Orang suruhan Nidya yang di minta Nidya untuk mengantar Ara ke Semarang membawa Ara menuju apartemen yang akan di jadikan sebagai tempat tinggalnya selama di Semarang
"aaaah" Ara menghela nafas kasar "aku akan sendirian" gumam Ara
tak lupa Ara mengabari mommy Kassy bahwa sekarang ia tinggal di Semarang
"mommy tidak kaget kalau Ara pindah ke kantor cabang di Semarang" heran Ara saat ia memberitahu mommy nya bahwa mulai hari ini Ara tinggal di Semarang dan bekerja di sana tapi mommy nya tidak terkejut sama sekali
"kamu pikir mommy tidak tahu kelakuan kamu" sentak mommy Kassy
"mo.. mmy tahu.. " ucap Ara dengan terbata
"tentu mommy tahu, adikmu sudah kasih tahu kelakuan kamu yang gak bener dan mommy malah berterima kasih dengan hukuman Nidya yang di berikan untuk kamu, kalau itu terjadi sama mommy, mommy akan buat kamu sehancur-hancurnya karena sudah mengusik suami mommy " balas Mommy Kassy dengan tegas
"mommy... " protes Ara
"gak usah mengeluh Ara, jalani saja hidupmu di sana toh Nidya sudah memberikan tempat tinggal serta posisi yang nyaman di sana bukan" tanya Mommy Kassy
"jadikan hidup di sana sebagai pembelajaran Ara, jangan kamu bertindak gila karena kalau sampai Lucas bertindak kejam padamu, mommy akan membiarkannya saja dan mommy akan melarang daddy kamu buat nolongin" tegas mommy Kassy
ara mengerutkan keningnya "apa benar yang di ucapkan kak Nidya kalau kak Lucas itu punya emosi yang sulit terkontrol" tanya Ara dengan hati-hati
Mommy Kassy tahu perihal keluarga Lucas terutama Mommy Qiran karena memang keluarga mereka cukup dekat apalagi Mommy Qiran menganggap Mommy Kassy seperti adiknya sendiri begitupun Damian,. adik bungsu dari Tara
"iya, mommy kan sudah pernah cerita masalah aunty Qiran ke kamu dan itu bisa di turunkan, ya itu Lucas mirip dengan aunty Qiran tapi mommy gak tahu separah apa sebab Nidya bisa mengontrol Lucas selama ini, sama dengan uncle Jay yang bisa mengontrol aunty Qiran" balas Mommy Kassy perihal penyakit yang di derita Mommy Qiran dan Lucas
Ara kini paham bahwa memang Nidya meminta dirinya menghindar untuk keselamatan dirinya bukan hanya karena rasa cemburu
"iya mom, Ara akan berusaha beradaptasi di sini dan akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik" balas Ara
"ya sudah mommy mau urus daddy kamu dulu" Mommy Kassy mengakhiri panggilannya untuk mengurus Daddy Thomas yang mulai menurun kondisi kesehatannya sebab faktor usia yang mulai makin bertambah
Ara merapihkan pakaiannya dalam lemari dan bersiap keluar untuk membeli keperluannya selama di Semarang
Ara yang tidak membawa Kendaraannya ke Semarang memilih berjalan kaki menuju Supermarket sebab supermarket yang akan di datangi Ara tepat bersebelahan dengan unit apartemen miliknya
__ADS_1
Ara terus memasukan semua keperluan yang ia butuhkan dalam troli besar
" Ara" panggil seseorang
Ara menoleh ke arah sumber suara "Tio" gumam Ara saat melihat pria yang di kenalnya bisa bertemu dengannya padahal baru sehari saja Ara sampai di Semarang tapi ia sudah bertemu dengan pria yang ia ketahui tinggal di Semarang selama ini
Pria yang di panggil 'Tio' adalah pria bernama lengkap Anantio Pradana Kusuma, pria berusia 29 tahun yang kini menjabat posisi Direktur pemasaran di kantor cabang Prabaswara Group di Semarang
Ara dan Tio saling mengenal sekitar setahun lalu sebab mereka pernah beberapa kali bertemu karena urusan perusahaan mereka yang sama walupun berbeda cabang
Dulu sebelum Ara bekerja di kantor pusat, Ara bekerja di kantor cabang Bandung, dan Ara beberapa kali bertemu Tio saat ada pekerjaan yang kebetulan berkaitan
Seperti saat kejadian saat Ara menjebak Lucas tapi tidak berhasil dan Ara malah berakhir menghabiskan malam bersama Tio karena kebetulan saat Lucas pergi dari kamar Nidya, Tio melihatnya dan memeriksa keadaan Ara sebab ia melihat kondisi Lucas yang acak-acakan saat keluar dari kamar Ara membuat dirinya mengkhawatirkan Ara
flash back on
"Ara kau tidak apa-apa" tanya Tio langsung memberondong masuk kamar Ara tanpa meminta izin
mata Tio langsung membelalak lebar kala melihat Ara hanya memakai benda berkacamata dan segitiga bermuda yang menutupi bagian tubuhnya sehingga bagian lainnya terksplor sempurna
Ara yang menangis mendongak ke arah Tio "kamu mau menertawakan aku karena dia menolak ku padahal aku sudah sampai seperti ini" tanya Ara tanpa sadar
Tio berjongkok di hadapan Ara yang terduduk di lantai "gak gitu Ara, aku cuma khawatir sama kamu" balas Tio dengan jujur
"bohong, kamu gak khawatir sama aku" balas Ara makin terisak
Tio langsung mbawa Ara ke dalam pelukannya "Tenang Ara" Tio mengusap punggung Ara membiarkan Ara menangis sejadi-jadinya
sampai keesokan harinya Ara berteriak kencang saat mendapati Tio tidur di sampingnya dalam kondisi tubuh tak tertutup sehelai benang pun begitu pun Ara yang tak memakai sehelai benang pun pada tubuhnya
"apa yang kamu lakukan Tio" tanya Ara dengan tatapan tajamnya
Tio mengusap telinganya yang berdengung "Aku gak maksa kamu ya ra, kamu yang menyerahkan keperawanan kamu sama aku dengan sukarela karena kamu di tolak dengan Lucas" balas Tio dengan santai karena memang dirinya tidak maksa Ara sama sekali
"jangan bohong kamu ya Tio" tuduh Ara
Tio menunjuk ke arah meja yang ada di sudut ruangan "kamu bisa periksa di sana apakah kau memaksamu atau kamu yang dengan sukarela menyerahkan diri" tutur Tio
Ara melirik ke arah meja rias di dalam kamarnya, dan di sana adalah posisi Ara meletakan kamera tersembunyi dan Tio tahu hal ini membuat Ara tak bisa berucap apapun lagi
__ADS_1