You Are My Regret

You Are My Regret
Memaklumi


__ADS_3

Lensi melihat raut kesedihan di wajah mika dan timbul rasa tak tega melihat wajah mika yang begitu merasa bersalah pada dirinya


hidup mika memang baik karena ada kedua orang tuanya ada untuk menemani tumbuh kembangnya tapi tetap saja anak itu terluka karena dijauhi keluarga besar ayahnya, dan keluarga mamanya yang entah di mana karena mama mika tak pernah mengenalkan pada mika sedari mika kecil


lensi memang kehilangan sosok ayah, tapi dari segi lain dia tak kehilangan sedikitpun, ada ibunya yang begitu mencintainya dan selalu fokus penuh mengurus dirinya dan ada keluarga besar ayahnya yang menerima lensi dengan begitu baik


"kamu begitu karena tidak tahu kenyataannya jadi jangan merasa bersalah, aku memaklumi tindakanmu, aku mungkin akan melakukan hal sama jika ada di posisimu jadi aku memaklumi nya" ucap lensi pada mika


"Terima kasih untuk pengertianmu" balas mika


mika menoleh ke arah tara "dan maaf jika mama dulu meninggalkan anda saat anda masih begitu membutuhkan mama" ucap mika pada tara


"saya mungkin kecewa dengan mamamu karena meninggalkanku dulu tapi aku tak membencimu sama sekali karena ini bukan salahmu" ungkap tara mengerti bahwa semua yang terjadi pada dirinya bukanlah salah mika


"jadi kalian tidak membenciku" tanya mika lagi


"tidak" balas tara dan lensi serempak


"Terima kasih" ucap mika dengan tulus


"kamu itu jauh lebih muda dari kami jadi panggil kakak saja" usul lensi agar mika bisa memanggilnya kakak, karena biar bagaimanapun mereka berbagi orang tua dan Mika adalah adik lensi dan tara


mika tersenyum lega "iya kak" balas mika


"dan maaf dulu aku merayu kekasihmu hanya karena merasa iri dengan dirimu yang lebih di sayangi kakek dan nenek" ucap mika merasa bersalah karena merebut ditto darinya


"sudahlah, itu juga sudah berlalu dan dia memang bukan orang yang baik buktinya dia jalan dengan wanita lain saat bersamamu" balas lensi


"lebih baik kamu putus saja dengannya, toh dia sudah tidak menginginkanmu, nanti biar kakak carikan pria untukmu" ucap tara


"tidak perlu, mungkin benar dia bukan pria baik, lebih baik konsen menyelesaikan magangku dan untuk sidang skripsiku yang semoat tertunda" ucap mika


"semoga lancar ujiannya" ucap lensi


"iya kak" balas mika dengan senyum hangat


"enak bukan, kakakmu dan kakak iparmu punya hubungan darah denganmu jadi gak ada istilah pilih kasih antara istri/suami dengan adik ipar" gurau tara mengajak mika tertawa


mika tertawa kaku "iya" kekeh mika


"ya sudah kamu istirahat saja, kami juga mau istirahat" pinta lensi

__ADS_1


"iya kak" mika berjalan ke arah kamar yang ada di ujung kanan villa


"mas cuci piring bentar, kamu ke kamar saja dulu ya" ucap tara


"iya mas" lensi berjalan ke kamar yang akan di tempatinya selama di villa


 lensi memutuskan untuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berendam di bath up untuk merileksikan pikirannya "aku hamil" gumam lensi memejamkan matanya memikirkan dirinya yang sedang hamil sekarang


entah kenapa kabar kehamilannya tak emmbuatnya bahagia padahal ini adalah tujuannya menikah dengan tara, menikah dan memiliki anak dan setelah itu akan hidup membesarkan anaknya tanpa seorang suami


di tempat lain, lebih tepatnya di dapur. Tara mencuci piring dengan gerakan lambat, ia mencuci piring dengan pikirannya yang entah lari kemana "ah" tara menghela nafas panjang dan menyelesaikan pekerjaannya untuk mecuci piring


seusai mencuci piring, tara masuk kamar lensi dan tak mendapati lensi di sana. Tara berjalan ke arah kamar mandi dan mendapati lensi yang sedang berendam sambil memejamkan matanya


tara membuka semua pakaiannya dan hanya menyisakan boksernya saja lalu ikut berendam bersama lensi. merasa ada yang menggangu acara berendamnya, lensi menoleh ke belakang di mana kini tara memluk dirinya dari belakang "memikirkan apa" tanya tara mengecup pundak lensi


"entahlah mas, harusnya aku bahagia mendengar kehamilanku karena ini yang jadi tujuan kita menikah dan kita juga sudah setahun menikah tapi entah kenapa rasanya ada yang mengganjal di hatiku dan itu membuatkan tak bahagia" ungkap  lensi


"maaf" ucap tara memeluk tubuh kensi dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher lensi


"jangan minta maaf mas, ini kan perjanjian kita dari awal berpisah setelah aku melahirkan" ucap lensi memaksakan senyumnya


tara hanya bisa diam saja dan tak bisa menjawab apapun, dalam hatinya dia juga tak ingin berpisah dari lensi tapi bagaimana hubungannya selama 8 tahun itu, apakah dia bisa melupakannnya begitu saja dan bersama lensi dan anaknya nanti


"kita nikmati saja waktu berdua kita sampai anak kita lahir mas" ucap lensi dengan berat hati


tara terisak di ceruk leher lensi dan terus memeluk lensi dengan erat


***


"kamu yakin mau pulang sendiri" tanya tara saat mengantar mika mengambil mobilnya yang masih ada di resort


"iya kak, kalian pulang saja lagian mau ad pertemuan keluarga dengan calon ayah baru kak lensi kan" balas mika


"iya nanti sore mau ad pertemuan keluarga di rumah" sahut lensi membenarkan


"ya sudah gak papa kak, aku bisa sendiri" mika langsung masuk mobilnya dan melajukan mobilnya terlebih dahulu


tara pun ikut menyusulnya untuk pulang ke rumah "nanti saat ibu sudah menikah aku mau nambah satu lagi pelayan untuk membantumu memasak nanti jangan turun ke dapur selama hamil ya" ucap tara


"iya mas" balas lensi dengan seutas senyuman

__ADS_1


1 jam perjalanan, mereka pun sampai rumah dengan selamat "hati-hati sayang" tara membantu lensi turun dari mobil dan menuntunya masuk ke dalam rumah


ibu dhira yang melihat lensi di jaga tara dengan begitu hat-hati saat berjalan menjadi panik "lensi kenapa tara" tanya ibu dhira begitu khawatir dengan keadaan anaknya


"gak papa bu, cuma butuh banyak istirahat saja" tara mendudukan lensi di sofa dengan perlahan


"kenapa? sakit apa" tuntut ibu dhira


lensi tersenyum tipis pada ibunya "lensi hamil bu jadi mas tara khawatir aku kecapean " ungkap lensi dengan sebuah senyuman tipis


"kamu hamil lensi" ibu dhira jadi heboh sendiri dan langsung memeluk lensi "ibu mau jadi nenek dong" seru ibu dhira begitu bahagia


"iya bu, ibu akan jadi nenek kurang dari sembilan bulan lagi" balas lensi


"selamat ya nak, atas kehamilan kamu" ucap ibu dhira


"iya bu" balas lensi


"ya sudah bu lensi biar istirahat dulu ya, biar nanti bisa ketemu keluarga om jovan" ucap tara


"iya nak tara" balas ibu dhira


tara membawa lensi untuk beristirahat sejenak di kamar mereka yang berada di lantai atas "nanti kita pindah kamar di bawah saja ya sayang, biar kamu capek naik turun tangga" ucap tara


"iya mas" balas lensi


acara pertemuan keluarga berjalan dengan cukup lancar, apalagi kedua putri jovan tidak ada yang keberatan dengan pernikahan jovan dan ibu dhira. setelah menikah ibu dhira akan ikut om jovan karena memang om jovan yang tinggal sendiri semenjak kedua putrinya sudah menikah dan ikut suami mereka yang bekerja di jepang dan di surabaya


acara pernikahan ibu dhira dan jovan juga di gelar dengan sederhana dan hanya di hadiri kerabat dekat saja "selamat ya mba sudah menikah, dan maafkan kelakuan kakak sinta" ucap sinta adik dari tuan adnan yang ikut hadir di acara pernikahan ibu dhira


"terima kasih sinta, sudah jangan di bahas lagi, itu hanya masalalu jadi tak perlu di bahas" ibu dhira sudah tidak ingin membahas masa lalu yang tak ingin di ingat oleh ibu dhira sama sekali


rima adik bungsu tuan adna ikut memeluk ibu dhira "dan maaf ya mba kalau ayah dan ibu gak bisa datang katanya mereka gak sanggup melihat mba menikah dengan orang lain" ucap rima dengan suara lirih saat memeluk ibu dhira agar jovan tidak mendengar perkataannya dan tersinggung akan ucapnnya nanti


"gak papa kok, mba ngerti" balas ibu dhira


sinta memicingkan matanya "rim, mba salah lihat gak sih" ucap sinta saat melihat ada yang berjalan mendekat ke arah pelaminan ibu dhira


"siapa" rima menoleh ke belakang "ngapain dia kesini" ucap rima dengan nada tak suka


"mba yang undang kok" ibu dhira tahu siapa yang kedua adik tuan adnan maksud

__ADS_1


"mba gak salah" tanya rima dengan nada tak suka


__ADS_2