
Angel dan Nidya berbincang cukup banyak dan semua cerita Angel membuat dirinya takjub akan cara berpikir Angel "aku tuh salut loh sama cara berpikir kamu" ungkap Nidya jujur
"salut kenapa, perasaan aku biasa aja deh. Hebatan juga kamu ketimbang aku" balas Angel
Nidya mengerutkan keningnya "hebat kenapa, perasaan aku juga biasa saja " heran Nidya
"melahirkan anak kembar setampan Bernard dan Ailey itu adalah hal yang luar biasa bagiku dan aku belum tentu bisa melakukannya " balas Angel
Nidya menoleh ke arah dua puteranya yang sedang sibuk berbincang dengan ayah mereka "kalau itu aku juga takjub akan diriku sendiri karena bisa melahirkan keduanya" balas Nidya
senyum indah terpancar begitu nyata saat Nidya memandangi senyum kedua puteranya, harta terindah yang tuhan berikan untuknya, dua anak yang begitu tampan dan juga pria yang begitu mencintai dirinya
"kamu memang harus banyak bersyukur karena tuhan memberikan kebahagiaan yang begitu besar dengan menghadirkan ketiga pria itu" Angel menunjuk suami dan kedua anak Nidya dengan dagunya "karena kehadiran mereka tidak ternilai dengan harta seberapapun banyaknya" ucap Angel
"iya angel" balas Nidya
***
teman-teman Raymond mulai berpamitan pulang setelah di rasa waktu cukup malam, Angel beranjak dari duduknya dan menoleh ke arah Nidya "karena semua sudah berpamitan, aku juga pamit pulang ya" pamit Angel
"yah kok pulang angel" Nidya merasa tidak enak pada Angel karena sedari tadi Raymond sibuk bercengkerama dengan teman-temannya membuat Nidya tidak ada kesempatan mendekatkan Angel pada Raymond
"aku bukan pengangguran Nidya, aku punya banyak pekerjaan di kantor, jika aku pulang makin malam itu membuat waktu istirahatku berkurang dan kinerjaku nanti ikut berkurang" jelas Angel panjang Lebar
"oke baiklah kalau begitu" Nidya hanya menunduk saja, sadar bahwa ia sudah menyia-nyiakan waktu Angel
Angel bisa melihat Nidya tak enak dengannya "come on Nidya, aku baik-baik saja jadi tolong jangan bermuka seperti itu" pinta Angel
"aku hanya tak enak denganmu karena sudah menyita waktumu" balas Nidya
"kamu tidak menyita waktuku Nidya" elak Angel
Nidya tersenyum kembali "benarkah" tanya Nidya memastikan
__ADS_1
"tentu benar" balas Angel
Nidya menoleh ke arah Raymond "Raymond kamu antar Angel pulang ya" pinta Nidya dengan wajah memohonnya
Raymond yang tadinya asyik mengobrol dengan dua keponakannya, menoleh ke arah Nidya "loh kenapa aku yang di suruh antar dia pulang, sopir kan banyak" tolak Raymond
"tidak perlu repot Nidya, aku biasa menyetir sendiri dan jangan lupa kalau aku bawa mobil" sahut Angel tak ingin Nidya memaksa orang lain untuk mengantarnya pulang, dia juga bisa pulang sendiri
"tapi kan kamu seorang perempuan Angel" protes Nidya
"memangnya kenapa kalau aku perempuan, walaupun aku perempuan, aku bisa melindungi diriku sendiri, Nidya" balas Angel dengan tegas
"maaf Angel" sesal Nidya akan perkataan yang mungkin menyinggung Nidya
Angel menghela nafas panjang "aku tidak marah padamu Nidya, aku hanya tidak suka memaksa orang lain karena aku pun bisa sendiri" Angel memeluk Nidya dan bergegas pamit pulang pada anggota keluarga Nidya termasuk dengan si kembar Bernard dan Ailey
Angel berjalan cepat menuju parkiran kediaman Ghazanfer "tunggu" seru seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Raymond
Raymond menengadahkan tangannya "mana kunci mobilmu" tanya Raymond
"untuk apa" tanya Angel
"aku akan mengantarmu pulang karena aku tidak mau membuat kakakku bersedih" balas Raymond
"tidak perlu, aku bisa pulang sendiri" tolak Angel
Angel mengambil kunci mobilnya dan berniat membuka pintu mobilnya tapi "sreet" dengan gerakan cepat kunci mobil Angel berpindah tangan
"sudah masuk lewat pintu sebelah sana, aku akan mengantarmu pulang" ucap Raymond setelah mengambil kunci mobil Angel secara paksa
angel menatap tidak suka ke arah Raymond "sudah aku bilang aku bisa pulang sendiri" Angel menarik paksa kunci mobilnya kembali dan mendorong tubuh Raymond agar menjauh darinya
Angel melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan pelataran rumah keluarga Ghazanfer
__ADS_1
"waauww baru kali ini ada yang lebih galak dari aku" puji Raymond akan Angel yang tidak mudah di paksa
selama seminggu Raymond tinggal di Ingris, selama itu lah Nidya membuat momen di mana Angel dan Raymond bisa saling bertemu. melihat itu tentu Raymond tahu maksud Nidya yang ingin menjodohkan dirinya dengan Angel dan hal itu tentu membuatnya tidak suka
seperti sekarang ini, Nidya membuat momen Angel. dan Raymond kembali bertemu di sebuah restoran tanpa angel dan Raymond ketahui
"Angel aku pulang dulu ya, anak-anak pasti sudah nungguin aku" pamit Nidya
"loh kok kakak pulang, katanya mau ajak aku makan" protes Raymond saat Nidya akan pergi meninggalkannya bersama Angel
"kamu sama angel aja deh, kakak buru-buru, sudah kakak bayar kok jadi makan saja" tolak Nidya dan bergegas pergi dari sana agar Angel dan Raymond bisa berduaan
Raymond menatap sinis Angel "kamu sengaja ya minta kakakku buat bikin kita dekat" tanya Raymond penuh selidik
Angel mengerutkan keningnya "emangnya aku kurang kerjaan" angel mengabaikannya dan kembali menyeruput jus jeruk miliknya
"kamu harusnya ingat kalau masih punya tunangan, ya walau tunangan kamu itu sudah punya anak dengan wanita lain tapi kan sebagai seorang wanita yang baik harus mengedepankan kesetiaan" lanjut Raymond
Angel membanting sendok yang ada di tangannya dan menatap tajam Raymond "kalau kamu gak tahu tentang hidupku jangan sok berkomentar dengan hidupku, jika tak mau menuruti keinginan kakakmu tinggal tolak saja, jangan menyalahkan orang lain atas ketidakmampuan kamu itu" Angel menatap kesal ke arah Raymond karena sudah menghinanya padahal dia tidak ada keinginan untuk bertemu Raymond, ia hanya menghargai Nidya saja, tidak lebih
Angel menyudahi makannya dan bergegas meninggalkan Raymond karena mood makannya sudah hilang tertelan angin "benar-benar merusak mood ku" gerutu Angel
Raymond yang merasa bersalah mengejar Angel "tunggu angel" teriak Raymond tapi di abaikan oleh Angel
mati-matian Raymond terus mengejar angel yang berjalan dengan cepat, Raymond begitu kesulitan mengejar Angel apalagi saat angel sudah melajukan mobilnya dengan begitu cepat "sial wanita itu menantang ku rupanya" Raymond menaikan kecepatannya mobilnya di atas rata-rata dan mengejar mobil angel sampai dapat
Angel terus memacu kecepatannya, jelas ia tidak mau kalah dari Raymond"jangan kira wanita bisa kalah dengan mudah" gumam Angel yang tidak mau mengalah sama sekali pada Raymond
melihat Angel yang tidak menurunkan kecepatannya sama sekali tentu membuat Raymond tertantang "kamu pikir aku akan kalah" Gerutu Raymond mengejar Angel sampai ke perusahaan milik Angel
baca juga cerita nerissa yang baru 'Ajari Aku Mencintaimu' ya
semoga suka dengan karya Nerissa yang baru
__ADS_1