
Lensi berjalan mengekori tara berjalan di sebuah lorong menuju apartemen miliknya "wah, apartemen mas di tempat yang bagus ya" lensi tentu tahu kawasan apartemen tempat tara tinggal adalah kawasan apartemen elit, yang hanya segelintir orang saja yang sanggup membeli ataupun menyewanya
"ya iyalah, masa mau tinggal di tempat yang ecek-ecek" balas tara dengan pongahnya
lensi mengerucutkan bibirnya sebal "ecek-ecek" lensi komat-kamit tak jelas "biarpun lingkungan rumahku kurang elit, tapi rumahku bagus kok dan punya halaman yang sangat luas" sahut lensi membanggakan rumahnyan
rumah lensi memang terbilang berada di kawasan keluarga menengah ke bawah, tapi karena mendiang kakek lensi dulunya juragan tanah, rumah lensi terbilang memiliki tanah yang cukup luas walaupun ukuran rumahnya terbilang kecil karena, ibu lensi dulu anak tunggal dan di tambah sekarang lensi hanya tinggal bersama ibunya jadi mereka membangun rumah yang tidak terlalu luas agar tidak repot mengurusnya
rumah mereka di bangun kecil karena lensi tak ingin merepotkan ibunya dalam mengurus rumah, sebenarnya bisa saja lensi mengambil jasa asisten rumah tangga karena penghasilan lensi yang terbilang cukup besar apalagi lensi masih memiliki beberapa kontrakan, warisan dari kakeknya, tapi ibu lensi yang begitu hemat dan tak ingin memberatkan keuangan lensi pun bersikeras tak mau mengambil jasa ART dan hanya ingin mengurus rumah seorang diri
tara membawa masuk lensi ke dalam apartemen miliknya "kamu tinggal di sana saja, aku ingin istirahat " tara menunjuk kamar di sebelah kanan sedang tara berjalan ke arah kamar sebelah kiri
"lah mas mau kemana, kalau bilang suruh istirahat di sana" tanya lensi heran
"ya ke kamarku lah, kamarmu di sana" tunjuk tara pada kamar di sebelah kanan
"ya gak bisa gitu" lensi berjalan mendahului tara untuk masuk kamar tara
tara memicingkan matanya ke arah lensi "ngapain kamu masuk ke sini, kan aku sudah bilang kamar kamu di sana" kesal tara yang sudah begitu lelah dan segera ingin istirahat
"kamu jangan aneh deh mas, kita kan sudah nikah" balas lensi
"menikah kan gak harus sekamar" balas tara
"ya gak bisa gitu dong, nanti aku kapan hamilnya coba kalau kita pisah kamar" lensi berkacak pinggang di hadapan tara "aku gak mau ya lama-lama jadi istri mas" ucap lensi
"terserahlah" tara yang sudah begitu lelah memilih masuk kamar mandi untuk membersihkan diri
"ada-ada aja suruh pisah kamar, lupa kali dia tujuan nikah kita buat apa" gumam lensi mulai merapihkan pakaiannya di lemari milik tara
"ceklek "tara keluar kamar mandi dengan memakai handuk yang di lilitkan di pinggang
"sudah selesai" tanya lensi dengan santainya
"sudah lah" balas tara mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil
__ADS_1
"ya sudah aku yang mandi sekarang" lensi berjalan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri
tara membuka lemarinya "rapih juga " gumam tara melihat lemarinya yang sudah rapih dan bersebelahan dengan pakaian milik lensi
tara mengambil pakaian tidur dan langsung mengenakannya . setelah memakai pakaian tidur tara naik ke atas ranjang untuk membuka ponselnya "ayah sih bikin acara pernikahan yang besar " gumam tara melihat banyaknya ucapan selamat atas pernikahan tara dan juga lensi
di bagian komentar ucapan selamatnya, ternyata juga ada ucapan selamat dari pramudia
"selamat atas pernikahanmu dan semoga cepat di beri momongan " tulis pramudia di akun sosial media milik tara
"ceklek" lensi keluar kamar dengan memakai pakaian dinas khas malam pertama, lensi begitu santai berjalan ke arah ranjang
"kamu gak mampu beli pakaian apa?" tanya tara
lensi memicingkan matanya "maksud kamu apa? ini brand mahal kali, hadiah dari qiran buat malam pertama" balas lensi
"buat malam pertama kaya gitu" heran tara
"iya, emang kamu gak tahu kalau malam pengantin biasanya yang cewe pakai kaya gini" tanya lensi
"kalau kaya gitu mending gak usah pakai baju aja" tukas tara
"oke" lensi bersiap membuka pakaian miliknya
buru-buru tara menahan tangan lensi "mau ngapain" tanya tara heran melihat lensi yang dengan santainya membuak pakaian di depan seorang pria
'ya buka bajulah, katanya lebih baik gak usah pakai baju dari pada pakai kaya gini' balas lensi
"kamu kok vulgar kaya gini sih lensi, dulu kayanya gak kaya gini deh' ucap tara
"ya kan posisinya sekarang kita sudah nikah, dan mau cepat punya anak kalau main jaim-jaiman kapan juga punya anaknya coba" tanya lensi tanpa ada beban sama sekali di setiap ucapannya
tara melepaskan tangannya pada tangan lensi "tapi aku sudah bilang gak jamin bisa ON" ucap tara mengingatkan
"kalau belum di coba, mana tahu. lagian aku gak minder-minder amat sama bentuk tubuhku" lensi membuka selimutnya dan membuangnya secara kasar
__ADS_1
lensi melangkahkan satu kakinya untuk duduk di pangkuan tara "ngapain kamu kaya gini" tanya tara heran dengan kelakuan lensi
"mau buat anaklah" tukas lensi dengan entengnya
lensi melahap benda kenyal milik tara dengan rakusnya, awalnya tara terdiam tapi lama kelamaan dia juga terbawa suasana dan membalas pangutan lensi
cukup lama mereka berpangutan sampai terasa pasokan oksigen itu berkurang, lensi menguraikannya
tara menatap tak percaya ke arah lensi dengan deru nafas masih memburu "jangan bilang kamu belum pernah pacaran lensi" tanya tara tak percaya dengan ucapan lensi yang bilang pernah pacaran tapi kenapa pro sekali dalam melakukan kissing
"pacaran memang belum pernah tapi kalau sekedar kissing, of course ever" balas lensi
tara menatap tak percaya pada wanita di hadapannya ini yang sekarang sudah resmi jadi istrinya "itu artinya kamu mungkin sudah pernah melakukannya" tanya tara lagi
lensi menajamkan pandangannya ke arah tara "aku kan sudah bilang, bukan wanita yang suka asal di celap-celup sama orang" kesal lensi
tara langsung kicep diam karena tatapan lensi "maaf kalau aku salah bicara" ucap tara
"sudahlah, kita mulai lagi" lensi mulai mengarahkan tangannya ke arah benda keramat milik tara "ah masih tidur" lensi berdecak gemas dengan benda keramat tara yang masih tertidur padahal biasanya dengan ciuman panas saja sudah bisa membangunkan benda keramat itu tapi nyatanya tak segampang itu
"aku kan sudah bilang, belum tentu itu bisa ON" sahut tara melihat raut wajah lensi yang terlihat lesu karena benda itu masih anteng tertidur
"ini kan baru permulaan, masih banyak cara lain" lensi mulai memasukan tangannya agar bersentuhan langsung dengan benda keramat itu
"apaan kamu lensi" tara ingin menahan tangan lensi tapi langsung di halangi lensi
"hust, diam" ucap lensi
lensi mulai menggerakannya naik turun, membuat benda keramat itu sedikit bereaksi "ah ada perubahan dikit" gumam lensi senang karena milik tara sedikit menegang
"ya kamu agresif gitu" balas tara berusaha kuat menahan desahannya
"itu harus, kalau mau cepat punya anak" lensi dengan gerak cepat menurunkan celana boxer milik tara dan mulai mengarahkan mulutnya ke arah benda keramat itu "kamu ngapain lensi" tanya tara heran dengan arah wajah lensi
"diam saja" lensi kembali melanjutkan kegiatannya yang membuat tara jadi panas dingin akibat ulah lensi yang begitu berani
__ADS_1
"ah ON" teriak lensi begitu girang dengan usahanya yang membuahkan hasil